Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Menggadaikan Mahar


__ADS_3

"Pak, kok ibu lama sekali?" Tanya Naufal kepada Bapaknya, Dia khawatir karna mereka baru sampai ke rumah sakit dengan berjalan kaki, belum istirahat Buk Rita langsing pergi lagi, jadi dia takut Buk Rita kelelahan.


"Mungkin masih ada urusan Nak, kita tunggu sebentar lagi, kalau Ibu belum kembali baru kamu cari!" Ucap Pak Heru yang sebenarnya juga bertanya-tanya kenapa Buk Rita sangat lama sekali, jika hanya menanyakan biaya tidak mungkin selama itu.


Tidak lama, Buk Rita muncul dengan wajah yang tidak bersemangat.


"Bagaimana Buk?" Tanya Pak Heru.


"Alhamdulillah Pak, sudah ibu tanyakan". Jawab Buk Rita yang masih bingung harus dikatakan di depan anak-anak atau tidak karna dia khawatir akan membebani mereka.


"Jadi berapa biayanya Buk?" Tanya Nadira.


"Tujuh belas juta lima ratus empat puluh lima ribu rupiah". Buk Rita memilih mengatakan yang sebenarnya, kalau berbohong malah akan lebih sulit menutupinya.


"Mereka semua terdiam begitu mendengar jumlah yang disebut Buk Rita.


"Semalam Ibu sudah menghitung jumlah dari sumbangan sekolah, dengan yang dari guru berjumlah empat juta lebih sedikit, digabung tabungan Naufal jumlahnya Sembilan Juta pas".


Lanjut Buk Rita.


"masih kurang separuh Buk!" Seru Pak Heru.


"iya tadinya Ibu mau membayar separuh dulu, tapi kata petugas administrasinya, kalau mau keluar harus dibayar penuh". Jelas Buk Rita.


Mereka terdiam lagi, karna 8 juta juga bukan jumlah yang sedikit.


"Pak, ibu berencana menggadaikan mahar pernikahan kita dulu, Boleh yah?" Tanya Buk Rita.


"sebenarnya bapak tidak enak Buk, karna mahar itu punya Ibu, tapi kalau sudah tidak ada jalan lain, yah apa boleh buat, insyaallah setelah sembuh, bapak akan berusaha mencicilnya". Jawab Pak Heru sedih.


Buk Rita senang karna mendapat izin dari suaminya, walaupun dia juga belum tahu berapa harga yang di dapat dari menggadaikan dua suku emas mahar mereka, jika di konversi ke waktu sekarang, bisa sampai 8 juta, jadi bisa pas untuk menutupi kekurangan biayanya.


"Besok ibu dari rumah langsung ke toko pegadaian setelah itu langsung ke mari untuk mengurus kepulangan bapak, jadi malam ini kamu gak apa-apa kan Nak, menunggu Bapak lagi disini?" Tanya Buk Rita kepada Nadira.


"Insyaallah Buk, ibu jangan khawatir" Jawab Nadira.


Menjelang Sore, Buk Rita dan Naufal, pulang ke rumah, dia menitipkan uang lima puluh ribu rupiah, untuk membeli makan malam, karna tadi bekal yang dia bawa tadi hanya cukup untuk makan siang Nadira.


Nadira berencana untuk makan roti saja, karna sayang harus membelanjakan uang pemberian Buk Rita, Roti juga masih banyak dan bisa untuk menegakkan punggung Nadira, jadi menurutnya sama saja makan nasi atau makan roti, yang penting perutnya terisi.

__ADS_1


Setelah sholat maghrib, ketika sedang menyuapi Pak Heru, Nadira dikejutkan dengan kedatangan Farhan, Reza dan Sam.


"Assalamualaikum Nadira" Sapa Reza.


Nadira menjawab salam dan menoleh.


"Eh Kak Farhan, Kak Reza dan Kak Sam".


"Yoi Nadira, kok gak mengabari kita nih kalau di rumah sakit?" Tanya Sam.


"Iya Nih, kan ada handphone, harusnya bisa memberi kabar!" Ucap Reza dengan gaya Merajuk.


"Maaf Kak, gak kepikiran, Kemarin kalau gak ada kak Farhan Nadira seperti orang linglung diruang UGD sendirian". Jawab Nadira nyengir.


"Yah setidaknya walaupun kami tidak bisa menolong, paling tidak kami bisa gitu membawa barang" Ucap Sam dengan gaya sok-sokannya.


"Terima kasih Kak, atas perhatian kalian" Nadira mengucapkan rasa terima kasihnya dengan tulus karna orang yang baru di kenal bisa seperhatian itu kepada mereka.


"Kamu pasti belum makan kan?" Tanya Farhan.


Nadira hanya tersenyum.


"Ya allah Kak repot-repot, padahal Nadira pingin makan Roti aja tadi!" Jawa. Nadira.


"Eh emang kenapa makan roti, kamu mau diet Nadira, udah deh gak usah diet-dietan segala, kamu kayaknya butuh tambahan asupan biar sedikit berisi" Ucap Sam nyerocos, dia lupa kalau disana ada Pak Heru.


Farhan langsung melotot ke arah Sam, dan Reza menyikut lengan Sam.


"Ups Maaf Nadira, just kidding!" Ucap Sam yang menyadari ucapannya sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya ke atas.


"Gak apa-apa Kak, Nadira gak diet kok, tadi Nadira males aja mau keluar jauh soalnya" Ucap Nadira sambil tersenyum, dia tidak ingin Sam menjadi terbebani.


"Ya udah Dek, sekarang kamu makan dulu, biar kami ngobrol sama Bapak!" Ucap Reza yang memang paling perhatian di antara mereka bertiga.


Nadira makan di ranjang kosong di sebelah Pak Heru, Farhan, Reza dan Sam mengobrol dengan pak Heru.


Setelah mengobrol beberapa waktu, mereka izin pamit kepada Pak Heru dan Nadira, mereka memberikan sebuah amplop kepada Nadira.


"Ini apa Kak?" Tanya Nadira menerima amplop dari Farhan.

__ADS_1


"Ini dari kita, sama sarah dan Evi" Diterima yah Nadira, walaupun tidak banyak tapi berharap bisa membantu meringankan sedikit. Ucap Farhan.


"Sarah dan Evi?" Tanya Nadira dengan ekspresi bingung.


"Iya Nadira, kamarin kami VC sama mereka, tapi memang benar-benar itu si ember bocor, di tlpon aja mulutnya gak bisa berhenti merembes aja!" Jawab Sam.


"Ih kamu Sam, kayak beda aja sama Si Evi, orang sama aja, tahu gak Nadira, aku, Farhan sama Sarah menjadi pendengar yang baik untuk mereka, karna kita gak sempat untuk berbicara.


Nadira hanya tertawa membayangkan Sam dan Evi kalau bertemu, yang satu ember bocor yang satu mulut bebek Yah cocok deh.


Setelah itu mereka mencium tangan Pak Heru dan benar-benar keluar dari ruang tersebut. Suasana kembali sepi, karna hanya ada Pak Heru dan Nadira.


"Simpan dulu aja Nak, besok baru diberikan sama Ibu". Perintah Pak Heru.


"Nadira menyimpan amplop itu tanpa menghitungnya lagi.


Keesokan harinya sekitar pukul 10 pagi Buk Rita sudah datang ke rumah sakit untuk mengurus kepulangan Pak Heru.


Dia ke ruang Pak Heru dulu, untuk menyuruh mereka bersiap-siap. Setelah itu dia langsung menuju ruang administrasi untuk membayar biaya perawatan Pak Heru.


Saat datang ke ruang Pak Heru lagi, sudah ada Farhan Cs di sana.


Farhan membawa mobil untuk mengantarkan Pak Heru pulang.


"Bagaimana Buk?, Sudah selesai?". tanya Pak Heru.


"Alhamdulillah Pak, tinggal menunggu perawat melepas infus di tangan Bapak, setelah itu kita bisa pulang". Jawa. Buk Rita.


"Nadira sudah selesai bersiap-siap Nak?" Tanya Buk Rita.


"Sudah Buk, tinggal angkat aja!" Jawab Nadira.


"Bapak, sudah bisa berjalan?" Tanya Buk Rita.


"Nanti bapak coba aja Buk, kalau ke toilet bisa pelan-pelan". Jawb Pak Heru.


"Nanti Farhan meminjam kursi roda rumah sakit aja Buk, lumayan jauh ke depan". jawab Farhan.


Mereka menoleh serempak ke arah Farhan, Reza dan Sam, yang mereka lupakan keberadaannya.

__ADS_1


__ADS_2