
Nadira membantu memijat kaki Evi yang kesemutan, "Alhamdulillah Ra uda mendingan uda cukup, kayaknya kamu berbakat untuk jadi tukang pijat Ra, kwkwkw" Evi tertawa setelah berkata.
"Oh begitu Vi?, sini kakinya aku pijitin lagi" Nadira berkata dengan Ekspresi kesal dengan ucapan Evi, "Maaf Ra, maaf, bercanda, bercanda, hihihi" Evi berdiri menghindari Nadira yang memaksa ingin memijat kan kakinya, dia merasa Nadira ingin membalas candaannya barusan.
Mereka tertawa bersama dan menjauh dari mushollah karna banyak orang yang sudah berkumpul disana.
"Ra kamu belum makan kan?" tanya Evi.
"Iya, aku bingung mau makan dimana, mau makan di kelas, nanti di pakai sama yang kuliah siang, mau makan di mushollah karna ada kegiatan jadi banyak orang." Nadira menjawab sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari
tempat yang bisa di gunakan untuk makan.
"Nadira, Evi" terdengar suara sarah memanggil mereka berdua.
"Loh Sar kirain sudah pulang?" Tanya Evi.
"belum Vi, tadi dosennya kelupaan sama waktu , hehehe" Sarah nyengir menjawab pertanyaan Evi.
"Kalian mau kemana?" Sarah bertanya.
"Kami sudah pulang, tapi Nadira mau mencari tempat makan dulu." Evi yang menjawab.
"Biasanya kamu makan di Mushollah Ra?"
"Iya tapi hari ini ada pengajian yang di adakan oleh LDK kampus, jadi mushollah agak ramai"
"Pengajian?... biasanya gak ada?...." tanya Sarah lagi, karna dia tidak pernah mendengar ada pengajian di kampus.
"Iya baru mulai hari ini, Yang mengadakan LD.... LD... LD..."
"LDK Vi" Nadira membantu mengingatkan Evi yang lupa.
__ADS_1
"LDK apa Ra?" tanya Sarah lagi.
"Lembaga Dakwah Kampus, seperti rohis kalau kita MA dulu".
"Wah kayaknya seru Ra, aku mau ikut bisa gak yah?" tanya sarah. Ketika SMA Sarah memang aktif di Organisasi Rohis, dia menyukai pengetahuan-pengetahuan tentang agama. Saat sekolah bersama Nadira, cukup banyak pelajaran agama yang dia pelajari, dan dia jatuh cinta dengan ilmu agama, namun ketika pindah, dia masuk SMA, jadi ilmu agama hanya 2 jam pelajaran, jadi untuk belajar ilmu agama lebih dia ikut organisasi Rohis di SMA-nya kala itu.
"Bisa Sar, karna acaranya terbuka untuk umum, aku juga rencana ikut hari ini, kalai kamu mau yuk ikut bareng. Nanti kita ke sananya bareng aja!" Ajak Nadira.
"kutahu hadirku antara ada dan tiada" Evi bernyanyi karna merasa terabaikan.
Sontak Nadira dan Sarah menoleh ke arah Evi, lalu tertawa "Hahahaha".
"Kamu kenapa Vi?" tanya Nadira sambil tertawa.
"Kalian bicara berdua aja, aku dilupakan" Evi bicara dengan ekspresi sedih ala anak-anak.
"Hahaha maaf Vi, aku excited banget pas denger ada acara keagamaan juga di kampus ini, jadi aku bersemangat ingin ikut, kamu mau gak ikut juga?"
"Hmmm aku enggak deh kayaknya, males ikut pengajian yang ada ntar aku malah tidur pas dengerin ceramahnya. Enakan di kosan aja bisa rebahan bisa tiduran ataupun tidur beneran". jawab Evi sambil nyengir.
"Ish Sarah apaan sih" Evi menjawab dengan sebal.
"Hahaha habisnya kamu sih, tidur mulu kerjaannya, gak malam gak siang tidu...r aja".
"Iya ya" Evi berkata sambil menggaruk kepalanya. Evi bingung dengan dirinya sendiri, gak di rumah, gak di kosan memang kerjaannya tidur aja, sampai ibunya sering mengomel karna dia kalau ketemu bantal matanya langsung terpejam, sampai saudara-saudaranya memberi dia julukan Muka Bantal.
"Kenapa yah Ra, Sar aku kok suka banget tidur, rebahan sebentar aja mataku langsung terpejam?" Evi bertanya dengan sendu. Karna sebenarnya dia pun tidak ingin seperti itu.
"Oh begitu Vi, pantesan tadi rebahan sebentar di mushollah kamu langsung tertidur!"ucap Nadira.
Evi tersenyum menampakkan giginya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Sudah yuk kebanyakan ngobrol kitanya, memang acaranya mulai jam berapa Ra?" Sarah bertanya untuk menghentikan obrolan mereka, jika tidak maka obrolan mereka akan berlanjut sampai sore.
"Tadi kakaknya bilang sekitar pukul 2 siang Sar". Jawab Nadira.
"Sekarang uda hampir pukul 1 siang, aku belum sholat, belum makan, di mushollah ramai, gak enak kalau mau sholat disana, gimana yah?"
"Kita pulang ke kosan aja yuk, Nadira juga gak ada tempat makan, makannya di kosan kita aja, jadi ntar kalian berangkat bareng aja dari kosan." usul Evi.
"Nah kalau itu aku setuju, mau yah Ra?" Sarah bertanya kepada Nadira dengan ekspresi memelas.
"Tapi Sar, aku gak enak nanti apa kata orang tua kalian kalau tahu aku numpang di kosan kalian". Jawab Nadira. Nadira adalah orang yang traumatis, jika dia merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan maka sebisa mungkin dia akan menghindari hal yang sama.
"Ra, kamu kan cuma makan aja di kosan kita, jadi gak bakalan merugikan kami ataupun orang tua kami, lagian yah, kami senang jika kamu ke kosan kita, jadi kita ada temen untuk belajar bersama lagi, iya kan Vi?" Sarah meminta persetujuan Evi.
"Betul banget Ra, lagian aku kan uda sering ngajakin kamu main ke kosan aku, kam unya aja yang selalu gak mau, alasan kamu gak enak sam teman satu kosan yang sama aku, nih sekarang teman aku yang ngajakin kamu, mau yah!" Evi meyakinkan Nadira.
"Hemm" Nadira berfikir sejenak. "Yah mungkin ini waktu ku untuk mencoba mengobati dan mengubur luka itu, aku harus mencobanya." Nadira meyakinkan dirinya.
"Boleh deh, tapi aku juga punya permintaan, Evi mau yah ikut kita pengajian, gak enak nanti kalau kami pergi, kamu tinggal di kosa, mau yah!" pinta Nadira.
"Yah kok gitu sih, kenapa aku yang kena sih Ra?" protes Evi.
"Nah Nadira memang cerdas" Sarah berucap sambil mengangkat tangannya untuk mengajak Nadira TOS.
"Yuk jalan!" Sarah menggandeng tangan Evi dan Nadira, mereka berjalan dengan Sarah berada di tengah.
Setelah 5 Menit mereka sampai di warung bik Sumi, Sarah den Evi membeli makan siang, mereka menawari Nadira, tapi Nadira menolak karna dia sudah membawa bekal dari rumah.
Dan tidak sampai 10 menit mereka pun sampai di kosan Evi dan Sarah.
"Tuh kan deket Ra?" Seru Evi kepada Nadira setelah mereka masuk ke dalam kosan.
__ADS_1
"Iya Vi, terima kasih yah sudah mengajak aku mampir di kosan kalian".
"Udah Ra gak usah sungkan, disini cuma ada kita bertiga, jadi anggap aja ini kosan kamu juga". Ucap sarah sambil berlalu ke dalam kamar.