Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Mengagumi Dalam Diam


__ADS_3

Nadira dan Naufal pergi ke rumah Reihan untuk mengajari Reihan mengaji, seperti permintaan Mama Reihan.


Mereka merasa takjub dengan rumah Reihan, karna mereka tidak pernah melihat rumah besar dan mewah seperti itu.


"Assalamualaikum" Nadira dan Naufal menyapa Reihan yang sedang menonton Televisi.


Reihan menoleh dan tersenyum.


"Ye Kak Dira sama Naufal sudah datang". Dia berkata dengan penuh semangat dan rasa bahagia.


"Rei, lupa jawab salam kita nih!" Ucap Nadira mengingatkan!


"Hehehe, maaf Kak, waalaikum salam" Jawab Reihan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem, kamu harus terbiasa yah Rei, kalau udah sering sama Kak Dira, bakalan sering juga mendengar Kuldak!" Ucap Naufal.


"Kuldak" Reihan berkata sambil mengerutkan keningnya.


"Kuliah dadakan" Jawab Naufal.


"Ih kamu Dek, memang paling suka yah mengejek Kakak" Omel Nadira.


"Kakak selalu berfikiran buruk sama Naufal, Naufal tidak pernah mengejek Kakak, Naufal hanya mengatakan kebenaran!" Kilah Naufal.


Perdebatan mereka terhenti saat Bi Ijah datang membawa 3 gelas es jeruk.


Melihat orang yang lebih tua membawa nampan Nadira segera beranjak dan hendak membantu membawakan nampannya


"Sini biar Saya bantu bawa Bu!" Tawar Nadira.


"Tidak apa-apa Mba, biar bibi saja!" Tolak Bi ijah.


"Gak apa-apa Kak, Kak Dira duduk aja, memang itu tugasnya Bi ijah." Ucap Reihan.


"Jangan begitu Rei, kan Kakak lebih muda, lagi gak sibuk juga, gak enak kalau melihat orang yang lebih tua bekerja sedang kita duduk-duduk aja". Jawab Nadira sambil memaksa mengambil nampan dari tangan Bi ijah.


Nadira meletakkan nampannya di meja dan memindahkannya dari atas nampan ke atas meja, setelah itu dia membawa nampannya mengikuti arah Bi ijah.


"Lain kali biar bibi aja Mba, Bibi ART di rumah ini, jadi sudah tugas Bibi melakukannya!" Bi ijah menjelaskan siapa dirinya kepada Nadira.


"Gak apa-apa Bik, kalau saya bisa membantu mengapa harus berdiam diri". Jawab Nadira.


Setelah meletakkan nampannya di tempatnya Nadira kembali ke tempat Reihan dan Naufal di ruang keluarga.


Saat berjalan, Mama Reihan yang baru turun dari lantai dua menyapa Nadira.


"Kamu sudah datang Nadira?"

__ADS_1


"Alhamdulillah Tante" Jawab Nadira sambil menyalami tangan Mama Reihan.


"Kamu dari toilet?" Tanya Mam Reihan lagi.


"Enggak Tante, dari dapur meletakkan nampan" Jawab Nadira jujur.


"Loh, Nampan apa?" Tanya Mama Reihan bingung


"Tadi, ada Bibi yang membawakan minuman, jadi Nadira bantu aja" Jawabnya.


"Aduh Nadira, lain kali gak usah lagi yah, kamu duduk aja sama Naufal dan Reihan, urusan seperti itu biar Bi Ijah saja yang mengerjakannya" Jawab Mama Reihan.


Nadira hanya tersenyum mendengar jawaban Mama Reihan, karna dia tidak ingin berdebat dengan orang yang lebih tua, untuk selanjutnya dikerjakan atau tidak, itu urusan nanti yang terpenting saat orang tua berbicara dia tidak mendebatnya jadi orang tua tidak akan merasa jengkel dengan jawabannya.


Nadira dan Mama Reihan duduk bergabung bersama Reihan dan Naufal.


"Ayuk diminum dulu, kalian pasti haus dari jalan tadi kan!" Tawar Mama Reihan kepada Naufal dan Nadira.


"Terima Kasih Tante!" Jawab mereka.


"Hari ini kalian mau langsung belajar mengaji?" Tanya Mama Reihan setelah mereka selesai minum.


"Iya Tante, lebih cepat lebih baik" Jawab Nadira.


Sedang Naufal hanya diam, dia menyerahkan segala keputusan kepada Nadira.


"Belum Kak, dulu pas SD pernah belajar huruf hijaiyah, tapi sekarang sudah banyak lupa karna hak pernah belajar lagi" Jawab Reihan jujur.


"Kalau begitu kita mulai dari iqro yah!" Jawab Nadira.


"Iqro apa Kak?" tanya Reihan.


"Iqro itu salah satu buku panduan untuk belajar membaca al-quran!" Jawab Nadira


"Kamu punya bukunya?" Tanya Nadira lagi.


"Enggak punya." Jawab Reihan.


"Kamu bawa Dek?" Tanya Nadira kepada Naufal.


"Hehe, Naufal gak kepikiran Kak" Jawab Naufal cengengesan.


"Kak Dira gak bawa, karna Kak Dira tadi dari kampus, gimana yah, kita gak bisa belajar kalau gak ada bukunya!" Nadira berkata sendiri.


"Tante ada simpanan gak? Soalnya Nadira sama Naufal gak bawa". Tanya Nadira kepada Mama Reihan.


"Tante gak punya Nadira". Jawab Mama Reihan jujur.

__ADS_1


Mereka terdiam beberapa saat.


"Gini aja deh, hari ini kita ke toko buku dulu, kita beli dulu bukunya, habis itu kita anterkan kalian pulang, besok baru kita belajar mengajinya?" Usul Mama Reihan.


"Asyik, bisa jalan-jalan sama Naufal!" teriak Reihan girang seperti anak kecil yang baru dapat mainan.


"Ih kamu Rei, kita gak bisa lama-lama karna Reihan harus mengajar ngaji di mushollah, jadi sebelum maghrib kita sudah harus mengantarnya pulang." Tegur Mamanya.


" Gimana kalau mengantar kami pulang aja dulu tante, habis itu baru tante sama Reihan ke toko buku, jadi gak terburu-buru" Usul Nadira yang melihat wajah kecewa dari Reihan mendengar ucapan mamanya.


"Loh, kita kan gal tahu bukunya Nadira!" Jawab Mama Reihan.


"Lagian kita juga uda sering jalan-jalan, dasar si Reihan aja tu". Lanjut Mama Reihan.


"Iya Seringnya sama Mama, tapi kalau sama Naufal kan baru kali ini, beda dong Ma!" Jawab Reihan.


"Tenang aja Rei, nanti kalau kamu sudah lancar mengaji, kita bisa jalan-jalan seharian!" Ucap Naufal untuk memberi semangat kepada Reihan.


"Janji Ya Fal?" Seru Reihan bersemangat.


"Insyaallah Rei". Jawab Naufal.


"Oke, kalau begitu Mama siap-siap dulu yah!" Mama Reihan pamit sambil berlalu ke atas.


"Kamu gak mau siap-siap Rei?" Tanya Naufal yang melihat Reihan masih mengenakan kaos oblong rumahan.


"Oh iya, mau bantuin aku ke kamar Fal?" Ajak Reihan.


"oke" Jawab Naufal.


"Kak Dira kami permisi dulu yah, kakak gak apa-apa kan sendirian disini?" Tanya Reihan.


"Gak apa-apa lah Rei, rumah kamu kan aman, jadi jangan khawatir, cepatlah, nanti Mama kamu uda siap, kamu masih belum apa-apa!" Jawab Nadira.


Ketika sendirian, Nadira mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan membacanya, karna sayang jika waktunya menunggu hanya digunakan untuk melamun.


"Assalamualaikum" terdengar suara salam dari orang yang memasuki rumah.


Nadira menjawab salam tanpa menoleh ke arah orang yang masuk, karna dia masih asyik dengan bacaannya.


Tanpa dia sadari orang yang masuk, diam terpaku karna terkejut melihat Nadira duduk di rumahnya, dia meraba dadanya yang berdegup dengan kencang, dia merasa seperti bermimpi melihat gadis yang dikaguminya dalam diam, duduk manis di rumahnya.


Dia membayangkan jika Nadira duduk menunggunya pulang, dan saat dia datang Nadira menyambutnya dengan senyuman ramah.


"Eh Abang, tumben sudah pulang" suara Bi ijah, menyadarkannya dari lamunannya.


Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu berlalu ke lantai dua, dia tidak ingin Nadira melihatnya, karna saat ini dia masih hanya ingin mengagumi Nadira dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2