
Mama Reihan menceritakan kejadian hari minggu saat Reihan kambuh.
"Saat Reihan sudah beristirahat, tante menelpon dokter yang biasa menangani Reihan dan menceritakan kejadian itu. Dokter itu bilang itu bagus, dengan begitu Reihan bisa terlepas dengan obat-obatan, sebab jika terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan ada banyak efek samping untuk tubuh".
"Alhamdulillah Buk, semoga Reihan bisa secepatnya pulih!" Do'a Nadira dengan tulus.
"Nadira, sebenarnya ada yang ingin tante minta dari kamu?" Mama Reihan menghentikan kata-katanya sejenak melihat raut wajah Nadira.
Nadira tersenyum dan menjawab dengan tulus
"iya tante, kalau Nadira bisa, Insyaallah Nadira bantu".
Mama Reihan tersenyum mendengar jawaban Nadira.
"Mungkin ini akan memberatkan kamu, tapi jika kamu bersedia tante sungguh akan senang sekali, dan semoga bisa menjadi wasilah untuk kesembuhan Reihan!" Sambung Mama Reihan.
Nadira menangkap rasa sungkan dari nada Mama Reihan.
"Gak apa-apa tante, jika memang Nadira mampu insyaallah Nadira akan bantu" Jawab Nadira meyakinkan.
"Begini, dokter bilang jika Reihan bisa di tenangkan oleh seseorang, maka akan lebih baik jika dia selalu dekat dengan orang tersebut, agar bila saat trauma nya kambuh, orang tersebut bisa menenangkan Reihan, dan dari cerita Reihan kemarin kamu adalah orang yang bisa membantunya tenang, bahkan tante sebagai mamanya belum pernah bisa menangkan Reihan saat dia sedang trauma". Mama Reihan menjelaskan panjang lebar karna dia begitu sulit untuk mengungkapkan maksudnya.
"Tante tahu Nadira mempunyai kesibukan tersendiri, tapi jika bisa meminta, tante meminta bantuan Nadira untuk lebih sering menemani Reihan, agar saat trauma Reihan kambuh, kamu bisa menenangkan dia". Akhirnya Mama Reihan mengungkapkan keinginannya kepada Nadira.
Nadira bingung, dia terdiam karna dia tidak tahu harus menjawab apa. Sungguh dia ingin membantu Reihan tapi untuk menemani Reihan, banyak hal yang harus dipertimbangkan.
"Tante tidak langsung meminta jawabannya sekarang Nadira, kamu bisa memikirkannya terlebih dahulu!, tante hanya ingin menyampaikan isi hati tante saja, sebab jika tidak di sampaikan sama kamu, ada rasa yang mengganjal gitu di hati tante!". Lanjut Mama Reihan.
Nadira menarik Nafas lega "Insyaallah Nadira mau membantu tante, tapi paling pas hari minggu seperti ini dan sama Naufal juga, karna tidak enak kalau saya sendirian"! Jawab Nadira berusaha membantu.
"syukurlah kalau begitu, tapi tante berharap kamu bisa meluangkan waktu lagi selain hari minggu, jika memang kamu butuh uang, tante akan berikan, asalkan kamu mau!" Ucap Mama Reihan tanpa berfikir.
__ADS_1
"Maaf tante, bukan Nadira mengharapkan imbalan, Nadira ikhlas dan dengan senang hati bisa membantu Reihan, karna dalam waktu sehari saja kami bisa merasakan bahwa Reihan adalah anak yang baik dan menyenangkan, tapi memang kami masih punya banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan". Jawab Nadira yang merasa tidak enak.
"Maaf tante seperti memaksa yah!, tapi sungguh tante berharap Nadira bisa meluangkan lebih banyak waktu" Mama Reihan masih kuat dengan keinginannya, rasa sungkannya sudah hilang saat sudah berkata panjang lebar.
"Mama ngomong apa sama Kak Dira, kayak serius amat?" Tiba-tiba Reihan sudah berada di dekat mereka dengan Naufal yang mendorong kursi rodanya.
"Emmm" Mama Reihan bingung harus menjawab apa.
"Gak ada Rei, Mama Reihan cuma ingin agar setiap minggu kita jalan-jalan disini, biar kita bisa menghirup udara pagi, dan biar tubuh kita bisa lebih segar!" Jawab Nadira menanggapi pertanyaan Reihan.
"Beneran Ma?" Tanya Reihan memicingkan matanya, dia yakin pasti mamanya meminta yang tidak-tidak kepada Nadira.
Mama Reihan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Kalian pasti haus dan lapar kan, habis keliling taman, Mama cari makan dulu yah ke pasar, kamu sama Nadira dan adeknya dulu ya Rei?" Mama Reihan mengalihkan pertanyaan Reihan yang seperti tidak mempercayai jawaban Nadira.
Tanpa menunggu jawaban Mama Sarah pergi meninggalkan Reihan, Naufal dan Nadira pergi ke pasar untuk membeli makanan dan minuman.
"Banyak Rei, masa harus diceritakan semua, Kakak lupa lah!" Jawab Nadira.
"Kak Dira, masa lupa, orang baru juga!" Jawab Reihan.
"Kamu gak usah banyak tanya deh Rei, emang Kak Dira itu orangnya pelupa, terkadang dia mau ngomong aja dia lupa, jadi kalau dia tidak ingat omongan Mama kamu itu uda hal biasa untuk Kak Dira, Jadi kamu gak usah heran deh!" Jawab Reihan menceritakan sifat buruk kakaknya.
"Ish Kamu Naufal, senang banget yah, mengumbar keburukan Kakak, kakak jadi malu tau!" Omel Nadira.
"Maaf Kak Dira, aku tidak mengumbar keburukan kakak, aku hanya mengatakan kebenarannya saja!" Naufal berkilah.
"Yah kalau yang dikatakan merupakan kekurangan orang lain, itu sama saja dengan mengumbar keburukan orang lain Naufal!" Nadira geram kepada Naufal.
"Hahaha" Reihan tertawa.
__ADS_1
Nadira dan Naufal melihat ke arah Reihan yang tertawa.
"Ternyata benar omongan kamu ya Fal, kamu sama Kak Dira kalau sudah berdebat bakalan panjang kalo lebar, kayaknya gak bakalan selesai kalau gak di setop!" Ucap Reihan sambil tertawa.
Nadira dan Naufal ikut tertawa.
Mereka duduk sambil mengobrol, walaupun mereka baru bertemu, tapi mereka sudah seperti kenal lama karna keakraban mereka.
Tidak lama setelahnya Mama Reihan datang dengan membawa berbagai macam makanan, ada gorengan dan kue serta beberapa camilan dan minuman dingin.
"Kalian mau piknik kan, tante sama Reihan ikut yah?" Mama Reihan duduk di tikar yang di bawa Nadira dan Naufal dan meletakkan makanan yang tadi dibelinya.
"Yuk sini kita makan!" ajak Mama Reihan.
Nadira membantu Mama Reihan mengeluarkan makanan dan menyusunnya di atas tikar.
Naufal mendekatkan kursi roda Reihan ke arah tikar.
"Kamu duduk juga dong, adeknya Nadira!" Ajak Mama Reihan!" Mama Reihan belum tahu nama Naufal, karna mereka belum berkenalan, Reihan pernah menceritakan tentang Naufal tapi Mamanya tidak ingat dengan nama Naufal.
"Panggil Naufal aja tante!" Ucap Naufal memperkenalkannya dirinya.
"Oh iya, nama kamu Naufal, maaf waktu itu Reihan pernah menyebutkan nama kamu tapi tante lupa". Mama Reihan meminta maaf karna lupa dengan nama Naufal.
"Tidak apa-apa Tante, yang penting tante ingat kalau aku adeknya kak Nadira dan temannya Reihan, nama hanya panggilan saja, tante sebut adeknya Nadira ataupun temannya Reihan juga gak masalah!" ucap Naufal.
"Hehe, ya udah, ayuk sini duduk di tikar!" Ajak Mama Reihan lagi.
Naufal lalu duduk di atas tikar bersama Mama Reihan dan Nadira, sedang Reihan masih duduk di atas kursi roda karna akan sulit memindahkannya turun ataupun naik dari kursi roda.
Hari itu,mereka makan dan bercerita, impian piknik Nadira dan Naufal terlaksana hati itu bersama Mama Reihan dan Reihan.
__ADS_1