Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Mengunjungi


__ADS_3

Waktu istirahat telah di mulai, Kantin sudah mulai ramai oleh siswa yang akan membeli makanan dan minuman.


Nadira berjalan ke arah kelas Naufal


"Naufal!" Panggil Nadira saat audah sampai di depan kelas Naufal.


Naufal mengambil barang yang diletakkannya di samping mejanya, dan menyerahkannya kepada Nadira


"Kakak baru mau ke rumah sakit sekarang?" tanya Naufal.


"Iya, habis dari ruang Pak Anwar kakak mencari-cari kelas kami tapi gak ketemu, malah ketemu Pak Anwar lagi, karna kelas ibu ga ada yang mengajar jadi kakak di minta Pak Anwar menggantikan Jam ibu mengajar" Jawab Nadira.


"Wah Kakak Hebat, baru datang ke sekolah udah jadi Ibu guru aja!" Seru Naufal.


"Apaan sih Dek, masih lama kalau mau jadi guru, ilmu aja masih cetek, pengalaman gak ada, kalau gak diminta Pak Anwar ogah lah Kakak, Kasihan sama siswanya kalau diajari guru yang gak profesional" Nadira berkata panjang lebar.


"Ish Kakak nih, orang ngomong dikit aja, jawabannya panjang banget uda kayak satu jam pelajaran aja!" Jawab Naufal cengengesan.


"Udah Dek, mending kakak berangkat sekarang, bisa lama kalau kita debat disini!" Jawab Nadira yang berdiri lalu berlalu untuk pergi ke rumah sakit.


Dalam perjalanannya Nadira teringat dia belum izin pamit kepada Pak Anwar, bahkan tadi setelah dari kelas dia tidak melapor lagi kepada Pak Anwar.


Nadira berbelok ke ruang kantor untuk izin kepada Pak Anwar.


Sesampainya di sana dia mengucapkan salam dan menanyakan keberadaan Pak Anwar, tapi Pak Anwar tidak ada di sana karna ada rapat di sekolah lain, akhirnya Nadira pamit kepda para guru yang ada di sana.


Nadira pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki, karna belum terlalu panas, jadi dia bisa berjalan tanpa garus berhenti di tengah jalan.


Sekitar pukul 11 dia datang ke rumah sakit, dan langsung menuju ke ruang rawat Pak Heru, Dia bisa langsung masuk karna saat itu adalah jam besuk.


Pak Heru sudah bangun dan sedang berbicara dengan Buk Rita, Nadira mengucapkan salam dan mencium tangan Buk Rita dan Pak Heru bergantian.


Dia meletakkan bawaannya di atas lemari di samping ranjang

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bapak?" Tanya Nadira kepada Pak Heru.


"Alhamdulillah Bapak gak merasakan sakit lagi Nak, cuma agak sedikit perih di bagian yang luka bekas operasinya". Jawab Pak Heru sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, semoga allah segera memberi kesembuhan untuk bapak!" Nadira bersyukur dan mendoakan kesembuhan Pak Heru.


"Ibu, sudah makan?, itu Nadira membawakan nasi dan lauk, tapi tadi Nadira masaknya pagi, langsung ke sekolah dan setelah itu langsung ke sini!" Nadira memberitahu Buk Rita.


"Jadi kamu sudah meminta izin untuk Bapak sama Ibu?" Tanya Buk Rita lagi.


"Iya Buk, tadi Nadira langsung berbicara kepada Pak Anwar, dan beliau mengizinkan dan mendoakan untuk kesembuhan Bapak, tadi juga beliau berkata akan menjenguk bapak kemari". Nadira menceritakan pertemuannya dengan Pak Anwar di sekolah tadi.


"Alhamdulillah, terus kenapa kamu baru sampai sekarang?" Tanya Buk Rita yang bingung karna Nadira datangnya agak terlambat.


"Hehe, Nadira lupa keranjang ini radi di bawa adek masuk kelas, jadi Nadira mencari adek dulu, pas di jalan mau ke kelas adek, ketemu Pak Anwar lagi, beliau meminta Nadira untuk menggantikan kelas yang seharusnya jam Ibu, karna guru piket nya cuma satu, jadi satu kelas lagi kosong, Nadira tidak enak untuk menolak jadi ya Nadira masuk aja ke kelas, Heheh?" cerita Nadira sambil tersenyum.


"Terus kamu mengajar apa di kelas tadi?" Tanya Buk Rita yang penasaran.


"Hehe, Gak apa-apa Nak, setidaknya kamu ada pengalaman bagaimana rasa berdiri di depan kelas!" Jawab Buk Rita sambil tertawa.


"Hem" Pak Heru mendesah. "Bingung juga Buk, kalau kita berdua izin terus, pasti Pak Anwar bingung untuk mencari guru yang bisa menggantikan, karna kan guru-gur di sana punya tugas masing-masing. Selain itu kasihan juga anak-anak, Mana sebentar lagi akan ada ujian tengah semester, biasanya pekerjaan Bapak, bakal menumpuk kalau menjelang ujian" Pak Heru memikirkan pekerjaannya di sekolah.


"Bapak tidak usah banyak pikiran duku, fokus aja sama kesembuhan Bapak, kan Nadira lagi libur kuliah, Nadira bisa menemani bapak, jadi ibu bisa mengajar di sekolah jadi yang izin cuma bapak saja". Jawab Nadira yang mengerti kekhawatiran Pak Heru.


"Ya sudah, Ibu mau ke toilet dulu!" Buk Rita yang kebelet segera pergi ke toilet yang ada di luar ruangan.


Nadira melihat sekelilingnya, banyak juga orang yang mengunjungi sanak, saudara atau teman mereka yang sedang di rawat, ada rasa sendu di hati Nadira, melihat orang lain yang sakit banyak yang di jenguk, sedang Pak Heru, hanya bertiga dengan dirinya.


Di saat Nadira sedang melamun, Farhan dan Kakeknya masuk mendekati mereka, namun karena Nadira melamun dia tidak menyadari kedatangan Farhan dan Kakeknya.


"Nadira!" Suara Pak Heru menyadarkan Nadira dari lamunannya.


"Ah, iya Pak!" Nadira menjawab dengan nada terkejut

__ADS_1


"Assalamualaikum" Kakek Farhan mengucapkan salam kepada Nadira.


Nadira menjawab salam dan menoleh


"Eh ada Kakek sama Kak Farhan" Ucap Nadira kemudian berdiri memberikan kursi yang di dudukinya untuk Kakeknya Farhan.


"Bagaimana keadaan Bapak?" Farhan bertanya sambil mencium tangan Pak Heru.


"Alhamdulillah Nak, sudah tidak sakit lagi, cuma sedikit perih di area yang di operasi" Jawab Pak Heru.


"Terima Kasih Kek, Kak Farhan sudah bersedia menjenguk ke sini" ucap Nadira.


"Sama-sam Nadira, tapi maaf kami tidak membawa apa-apa hanya ini saja." Farhan menyerahkan sekantong roti-rotian dan sekantong buah-buahan.


"Ya Allah Kak, repot-repot!" Ucap Nadira sambil menyambut kantong yang di bawa Farhan.


"Syukurlah kalau Bapak, sudah lebih sehat, kasihan kemarin ada yang nangis sendirian bersandar di tiang rumah sakit, Hehe" Kakek Farhan berkata sambil menggoda Nadira.


"Hehe" Nadira tersenyum dan langsung menjawab "Terima kasih Kek, karna sudah meminta Kak Farhan membantu Nadira, kalau tidak bakal gak ketemu saya sama bapak!".


"Sama-sama Nadira, tapi walaupun gak diminta, insyaallah Farhan akan tetap membantu kok!"Jawab Kakeknya Farhan.


"Hahaha" Mereka tertawa.


"Oh ya Pak perkenalkan saya Suryo, Kakeknya Farhan" Kakek Farhan mengemalkan dirinya kepada Pak Heru.


"Saya Heru, Pak Suryo". Jawab Pak Heru.


"Kata Dokter apa yang menyebabkan penyakit Bapak?" Tanya Kek Suryo memulai obrolan.


"Penyebabnya bisa bermacam-macam Pak, tapi dalam kasus saya ini mungkin penyebabnya adalah membawa beban berat Pak, karna memang saya sedang bekerja menagngkut barang di pasar" Jawab Pak Heru jujur.


"Oh begitu, yah seperti itulah Pak usaha kita dalam mencari nafkah untuk keluarga, anggap saja ini sebahai ujian kita sebagai hambaNya dan semoga ada hikmah setelah ini" Kek Suryo mencoba memberikan dukungan untuk Pak Heru, walaupun dia orang yang punya, tetapi tidak sedikitpun Kek Suryo memandang rendah Pak Heru meski hanya sebagai kuli angkut.

__ADS_1


__ADS_2