Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Fisik Vs Hati


__ADS_3

Nadira, Sarah dan Evi mendapat tawaran dari Farhan untuk menjadi anggota BEM secara gratis, Namun mereka memutuskan untuk tidak ikut organisasi dulu, karna mereka masih ingin fokus ke kuliah dulu.


"Ya sudah kalau begitu, aku beri tahu Kak Farhan dulu yah!" Nadira beranjak untuk memberi tahu Farhan bahwa mereka belum mau ikut organisasi dulu.


"Maaf Kak, kami belum dulu mau mendaftar, kami masih ingin fokus kuliah dulu, mungkin kalau semester depan akan kami fikirkan lagi, tapi kalau untuk membantu sekali-kali insyaallah kalau kami tidak ada pekerjaan, kami bersedia untuk membantu walaupun kami bukan anggota BEM" Nadira menolak dengan kata-kata yang diusahakan untuk tidak menyinggung Farhan yang memberi tawaran.


"Baiklah, terserah kalian!" Farhan hanya menjawab pendek.


Sebenarnya Nadira merasa tidak enak karena menolak niat baik Farhan, tapi dia juga tidak ingin memaksakan diri, jika dia tidak nyaman.


"Karna pekerjaan kami, sudah selesai, kami pamit mau langsung pulang Kak". Nadira pamit untuk pulang kepada Farhan dan Reza dan Sam.


Saat keluar dari ruangan mereka berpapasan dengan Sasa dan gengnya.


"Hei bibik mahasiswa, ngapain kalian dari ruang BEM hah?" Sasa bertanya kepada Nadira dengan angkuh.


Nadira tahu kalau Sasa berbicara padanya, tapi dia sengaja berpura-pura tidak mendengar karna dia merasa itu bukan namanya.


Melihat Nadira yang langsung pergi tanpa memperdulikan dirinya, Sasa langsung mengejar Nadira dan memegang bahu Nadira dengan kuat sampai Nadira berbalik.


"Astaghfirullah", Nadira memegang bahunya yang agak sedikit Sakit, setelah menyusun kertas hampir satu jam dan sekarang ditarik Sasa dengan kuat.


"Kak Sasa yang terhormat, bisa gak yah gak usah memakai kekerasan", Evi berbicara dengan suara khasnya yang melengking, Diak kesal melihat Sasa yang menarik bahu Nadira dengan kasar.


"Kamu gak usah ikut campur yah!" Sasa menunjuk Evi.


Evi ingin menjawab, namun Nadira memegang tangannya.


"Maaf Mba' Sasa, kami ingin pulang, jika mba' Sasa ada urusan dengan kami, silahkan ditanyakan dengan baik!" Nadira masih berusaha berkata dengan lembut dan sopan.


"Kamu gak usah sok-sokan mengajari kami cara yang baik, kalau kamu tahu cara yang baik, seharusnya kamu dari tadi sudah jawab pertanyaan saya sama kamu!" Jawab Sasa yang masih marah-marah.

__ADS_1


"Maaf Mba, kapan Mba bertanya sama saya, karna saya tidak mendengar ada yang memanggil nama saya!" Nadira masih berkata dengan ramah.


"Dasar kamu yah anak baru aja belagu, apakah kamu tidak pernah berkaca, kamu bisa lihat gak kalau penampilan kamu itu seperti bibik bibik, atau mata kamu sudah kabur, jadi kamu gak sadar kalau kamu itu seperti bibik!" Sasa berkata sambil menoyor-noyor kepala Nadira dengan telunjuknya.


"Maaf mba, bagi saya penampilan hati lebih penting dari pada sekedar penampilan fisik, penampilan fisik bisa diperbaiki dengan mudah, hanya perlu berdandan dan memakai pakaian yang bagus, maka penampilan fisik akan berubah, tapi penampilan hati walaupun menghabiskan biaya yang banyak, tapi hatinya tidak baik maka penampilan hati tidak akan berubah. Saya Rasa urusan kita sudah selesai mba, kami pamit pergi!" Nadira berbalik dan hendak pergi.


Sasa yang masih kesal,mengejar dan menarik kerudung Nadira.


Merasa kerudungnya akan terlepas Nadira berusaha sekuat tenaga memegangnya agar kerudungnya tidak terlepas, karna disana adalah jalan umum dan sudah banyak orang yang melihat perdebatan mereka, jika kerudungnya terlepas, Nadira takut auratnya akan dilihat banyak orang.


"Sasa!" Suara Farhan terdengar keras dan tegas. Bahkan Reza dan Sam disampingnya terkejut mendengar suara Farhan.


Sasa menoleh dan melepas tarikannya di kerudung Nadira.


"Far...han..." suara Sasa tercekat menyadari Farhan yang sudah memerhatikan dan melihatnya dengan kemarahan.


Evi dan Sarah menenangkan Nadira yang sudah hampir menangis. Nadira berusaha memperbaiki kerudungnya yang hampir terlepas.


Farhan mendekat ke arah Sasa dan berkata,


"Bukan begitu Han, si bibik itu yang mulai duluan!" Bela Sasa.


"Dari kata-katamu sudah menunjukkan mana yang benar Sa!, aku tidak perlu mencari tahu lebih jauh!" Ucap Farhan tajam.


Sasa hanya terdiam dan merutuki kesalahannya yang masih menyebut Nadira bibik di depan Farhan.


Nadira langsung pergi dari sana karna dia merasa malu, bukan karena hinaan Sasa bagi Nadira tidak akan rendah hanya karena hinaan orang lain, dan tidak akan mulia hanya karena sanjungan orang lain. Dia malu karna kerudungnya hampir terlepas, dan auratnya hampir terlepas dari kepalanya.


Farhan merasakan perasaan yang sulit dia artikan ketika melihat Nadira berjalan dengan menundukkan kepalanya.


Sedang Sasa, merasa bertambah dendam dengan Nadira, karna itu kedua kalinya dia melihat Farhan marah kepadanya bahkan kali ini di depan orang banyak.

__ADS_1


"Sa, aku harap ini yang terakhir kalinya, dan aku berharap setelah ini kamu meminta maaf kepada Nadira." Farhan berkata dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya.


"Baik Han". Jawab Sasa, di depan Farhan, namun di dalam hatinya dia berniat membalaskan rasa malunya hari ini.


Sarah dan Evi, mengajak Nadira ke kosan mereka dulu, untuk menenangkan diri.


Sampai di kosan, mereka menyuruh Nadira untuk beristirahat dan mengambilkannya minum.


"Aduh kalian ini lebay deh!, aku gak apa-apa kok!" Dia berkata kepada Sarah dan Evi yang sangat menghawatirkan dirinya.


"Gak apa-apa gimana sih Ra?", orang muka kamu pucat gitu!" omel Evi.


Nadira memang terkejut karna seumur hidupnya baru kali ini dia diperlakukan orang lain dengan kasar.


Di rumah Nadira anak yang patuh dan suka membantu kedua orang tuanya, jadi baik Buk Rita maupun Pak Heru tidak pernah marah kepada Nadira.


Di Sekolahpun Nadira anak yang Rajin dan pintar, jadi semua guru menyukainya. Dan dengan temannya Nadira tidak terlalu bergaul jadi dia tidak pernah punya masalah dengan temannya.


Dia hanya pernah bermasalah dengan Emak Susi, itupun tidak sampai diperlakukan kasar oleh Emak Susi.


"Ini efek terkejut aja Vi, beneran aku gak apa-apa". Nadira meyakinkan Evi dan Sarah.


"Iya kami percaya kamu gak apa-apa, tapi sekarang mending kamu lepas dulu kerudungnya dan istirahat dulu." Ucap Sarah kepada Nadira.


"Ih rasanya pingin aku pejek-pejek pakai ulekan sambal tuh, si kakak songong, kamu sih Ra pakai pegang tanganku, jadi gak bisa balas perbuatannya tadi ke kamu." Omel Evi yang sangat kesal dengan kelakuan Sasa.


"Sudah Vi, jangan biarkan kekesalan kita, menutupi hati kita, kalau kita balas perbuatan mereka dengan cara yang sama, lalu apa bedanya kita dengan mereka." Nadira menyabarkan Evi yang terlihat kesal.


"Oke sekali ini aku diem deh Ra, tapi lain kali, kalau si kakak songong itu gangguan kamu lagi Ra, aku gak bakalan sabar lagi, harus dikasih pelajaran tuh orang, jangan mentang-mentang cantik dan senior bisa berbuat seenaknya begitu".


"Iya, Iya, kita doakan saja semoga kedepannya Mba Sasa gak cari gara-gara lagi sama Nadira!" Sarah berusaha menghentikan omelan Evi.

__ADS_1


"Aamiin" Jawab Nadira.


Sedang Evi hanya manyun karna hatinya masih merasa kesal.


__ADS_2