Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Keripik Singkong


__ADS_3

Nadira meletakkan keripik singkong yang dia buat ke dalam plastik lalu mengikatnya. Setelah keluarganya pulang, dia menghidangkan keripik buatannya kepada mereka.


"Ini apa Nak?" tanya Buk Rita


"Ini keripik singkong Buk, tadi Nadira bingung mau ngapain, Nadira melihat singkong yang kemarin bapak panen jadi Nadira putuskan untuk membuat keripik singkong" Jawab Nadira.


"Ayuk Buk, Pak di cicipi!" Tawar Nadira.


Naufal yang baru datang protes kepada Nadira


"Kak aku gak ditawari ini"


"Enggak, kamu itu sukanya mengolok-olok masakan kakak, jadi lebih gak kasih kamu dari pada kamu olok!" Jawab Nadira


"ye, aku kan bukan mengolok kak, cuma memberikan sedikit kritikan agar kakak bisa menjadi lebih baik" Elak Naufal.


"Sama aja, kamu kalau kasih kritik itu menjatuhkan, gimana bisa menjadi lebih baik, orang itu kalau memberi kritik, kritik yang membangun, bukan kritik yang menjatuhkan!" Jawab Nadira lagi.


"Mau terus debat, Kak, Dek?, Kami habisin yah keripiknya, anggap saja cemilan menonton debat!" tanya Buk Rita dengan nada jengkel.


"Hehe" Mereka tertawa dan menikmati keripik buatan Nadira.


"Emh enak ini Kak kripiknya!, gurih dan renyah, Tapi sayang cuma sedikit, baru juga mau makan uda habis aja!"ucap Naufal yang kecewa.


"Buat lagi dong Kak!, Adek baru makan sedikit nih!" Pinta Naufal.


"Boleh, tapi bantuin mengiris singkongnya yah!" Jawab Nadira.


"Oke!, Kalau cuma mengiris singkong sih, gampang!" Jawab Naufal.


"Beneran, emang kamu pernah mengiris singkong?" Tanya Nadira sambil memicingkan matanya.


"Hehe, belum pernah sih Kak, cuma kayaknya gak sulit deh!" Jawab Naufal.


"Oke, kalau begitu mari kita mulai!" Seru Nadira.


Nadira menyiapkan beberapa wadah, satu wadah dia gunakan untuk meletakkan singkong yang sudah dikupas, dia mulai mengupas sedang Naufal hanya melihat, Setelah selesai dia meminta Naufal untuk mencuci singkongnya dulu.


Saat Naufal mencuci singkong, Nadira menyiapkan talenan, pisau dan wadah yang telah diisi air garam untuk merendam singkong yang telah diiris.


"Nih, udah bersih kak!" Naufal yang baru selesai mencuci singkong memberikan singkongnya kepada Nadira.


"Sini Dek!, letakkan disini! lihat dulu yah kakak yang mengerjakannya!" perintah Nadira.

__ADS_1


Naufal melihat Nadira mengerjakannya dan berkata " Begitu aja Kak!, Mudah itu!"


"Yah uda kerjakan kalau mudah!" Jawab Nadira.


Naufal mulai mengiris singkongnya, Namun setelah dia mencoba ternyata tidak semudah kelihatannya, dia harus menjaga jangan sampai pisaunya terkena tangannya.


"Dek!, Itu terlalu tebal, nanti gak renyah loh keripiknya!" Nadira memberi tahu Naufal.


"Hehehe, Kirain mudah Kak, ternyata sulit juga!" ucap Naufal sambil tersenyum karna malu dengan ucapannya sebelumnya.


"Iya Dek, kalau baru pertama mengerjakannya memang terasa tidak mudah, tapi kalau sudah terbiasa insyaallah akan mudah, Semangat Dek yah, harus tanggung jawab loh banyak ini singkong yang sudah di kupas!" Ucap Nadira antara memberi semangat dan mengejek Naufal.


Naufal ingin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tapi satu tangannya memegang singkong dan tangan lainnya memegang pisau, akhirnya dia hanya nyengir mendengar ucapan Nadira.


"Dek, tadi kamu ke taman?" Tanya Nadira kepada Naufal yang sedang fokus mengiris singkongnya.


"Iya Kak, aku disana sambil baca" Jawab Naufal.


"Reihan ke taman juga gak?" Tanya Nadira lagi.


"Enggak Kak, tadi aku hanya sendirian di taman". Jawab Naufal yang sebenarnya juga penasaran tentang keadaan Reihan, tadi sebenarnya dia ke pasar untuk bertemu Reihan, tapi ternyata Reihan tidak datang ke sana.


"Kira-kira bagaimana keadaan Reihan yah Dek, apakah dia sehat atau tidak?, Kakak penasaran, jika tahu alamat rumahnya rasanya Kakak ingin menjenguknya!" Nadira mengungkapkan rasa penasarannya kepada Naufal.


"Iya Kak, Naufal juga penasaran, minggu depan kita ke taman lagi aja, semoga bisa ketemu Reihan lagi di sana!" Ucap Naufal penuh harap.


Melihat anaknya yang kompak mengiris singkong, Buk Rita mendekat dia membantu Nadira dan Naufal mengiris singkongnya, sedang Pak Heru tertidur karna dia mengerjakan pekerjaan yang cukup berat, jadi dia merasa sangat lelah.


"Sudah hampir ashar Nak, kamu cuci tangan siap-siap ke masjid sekalian bangunkan Bapak untuk sholat, biar ini, ibu dan Kak Dira yang menyelesaikan" Perintah Buk Rita kepada Naufal.


"Baik Buk!" Jawab Naufal, diapun beranjak dan mengerjakan perintah Buk Rita.


"Ini keripik singkong banyak banget Nak, untum apa?" Tanya Buk Rita kepada Nadira.


"Yah untuk cemilan kita Buk, lumayanlah untuk di bawah ke sekolah atau ke kampus!" Jawab Nadira.


"Hem, ide yang bagus, sekalian aja kamu bawa untuk teman-teman mu yang kemarin mengunjungi kamu Nak!" Usul Buk Rita


"Iya juga yah Buk!" Nadira menyetujui ide Buk Rita.


"Nanti habis ashar kami ke warung beli plastik bening yang ukuran seperempat, nanti kita rekatkan dengan api, agar sedikit rapih, gak enak kalau memberi orang dengan penampilan yang kurang baik!" Perintah Buk Rita kepada Nadira.


"Baik Buk!" Jawab Nadira.

__ADS_1


Mereka selesai mengiris singkong berbarengan dengan suara adzan dari mushollah, mereka segera melaksanakan sholat ashar, sembari sholat mereka membiarkan singkongnya terendam air garam, agar memberi rasa yang meresap ke dalam irisan singkongnya.


Seperti perintah Buk Rita, Nadira membeli plastik di warung, setelah itu batu mulai menggoreng keripik singkongnya.


Nadira langsung mengerjakan semuanya, agar dapat selesai dengan cepat karna kompor yang digunakan akan dipakai juga untuk memasak.


Naufal pulang dari mushollah langsung mendekat ke arah Nadira yang sedang menggoreng


"Udah ada yang mateng Kak?" Tanyanya.


"Alhamdulillah Dek!, itu ada di nampan yang dilapisi koran!". Jawab Nadira, dia melapisi dengan koran agar minyak dari gorengan singkongnya terserap oleh korannya.


Naufal mengambil segenggam keripik dan memakannya.


"Wah masih enak Kak, gurih dan renyah!" Ucap Naufal dengan mulut yang mengunyah keripik singkongnya.


Sore itu Nadira menghabiskan waktunya untuk menggoreng keripik singkong, dan setelah selesai dia lanjut untuk memasak untuk makan malam mereka.


Malamnya setelah sholat dan makan Buk Rita bertanya kepada Nadira


"Tadi keripiknya sudah di bungkus untuk dibagi ke teman-teman kamu Ra?"


"Astaghfirullah Nadira lupa Buk, Soalnya tadi ingin cepat-cepat masak, jadi keripiknya masih di plastik besar!" Jawab Nadira yang lupa.


"Baiklah kalau begitu ayuk kita bungkus biar ibu bantu!" Ajak Buk Rita.


Pak Heru dan Naufal mulai membaca seperti biasanya.


"Kak, minta keripiknya dong untuk cemilan!" Pinta Naufal.


Nadira meletakkan sepiring keripik di atas meja, lalu mendekat lagi ke dapur.


" Nyalakan lilinnya Nak!" Perintah Buk Rita


Nadira menyalakan lilin tanpa banya bertanya, begitulah Nadira, ketika menerima perintah dari orang tuanya dia tidak akan banyak pertanyaan, karna dia teringat kisah di dalam al-qur'an.


kisah tentang sebuah kaum yang mendapat perintah untuk menyembelih sapi, tapi karna mereka enggan melaksanakan perintah tersebut, mereka bertanya sapi seperti apa, warnanya apa, sapi untuk apa.


Dan pada akhirnya pertanyaan-pertanyaan mereka itu membuat mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan sapi dengan ciri-ciri tertentu, padahal jika mereka tidak bertanya, mereka hanya perlu menyembelih sapi yang ada tanpa harus mempunyai ciri-ciri khusus.


Berdasarkan cerita itu, jika mendapat perintah maka Nadira akan segera melaksanakannya tanpa banyak pertanyaan.


Setelah lilinnya menyala Buk Rita mendekatkan ujung plastik yang sudah diisi keripik singkong ke api lilin tersebut, agar apinya dapat merekatkan ujung dari plastik, sehingga kedap udara dan dpat mempertahankan kerenyahan dari keripiknya.

__ADS_1


Nadira dan Buk Rita dapat membuat 6 kantong plastik keripik singkong, dan masih tersisa sedikit untuk mereka makan sebagai cemilan.


Nadira lalu menyatukannya di dalam plastik hitam besar dan menggantungnya. Setelah itu dia ikut belajar bersama Naufal Pak Heru dan Buk Rita.


__ADS_2