Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Reihan


__ADS_3

Naufal masih mendengarkan tangis Nadira dan sambil mengusap-usap punggung kakaknya, tiba-tiba ada seseorang yang mendekat,


"Hei kalian ini pacaran sampai nangis-nangis gitu, ini tempat umum, gak malu dilihatin orang? atau kamu menghamili wanita itu dan menolak bertanggung jawab? Dasar lelaki tidak tahu diuntung enaknya aja mau, giliran tanggung jawab gak mau" Orang itu berbicara tanpa jeda, dan menatap tajam ke arah Nadira dan Naufal.


Seketika Nadira menghentikan tangisnya walaupun masih terdengar sesenggukan nya.


"Hei Adik kecil, sebelum menuduh panjang lebar, coba tanya dulu apakah kami ini masih pacaran atau sudah menikah!" Jawab Naufal sambil menahan tawanya, sungguh perutnya sudah sangat sakit menhan tawa, radi menahan diri untuk menertawai kakaknya, sekarang juga ada orang datang-datang menuduh yang tidak-tidak.


"Enak saja panggil aku anak kecil, Aku Sudah SMA tau" Orang itu marah karna Naufal memanggilnya anak kecil.


"Oh emang kamu kelas berapa?" tanya Naufal


dan dengan polosnya dia menjawab "kelas satu, kenapa?"


"Nah berarti kita seumuran, aku juga baru kelas satu". Jawab Naufal.


"Nah artinya beneran kalian pacaran kan?, masa anak kelas satu SMA sudah menikah!" seru orang tersebut.


"Woi Bro, dari mana sih kamu bisa menebak kami pacaran?" Jawab Naufal yang sudah mulai kesal.


Nadira yang sudah bisa mengendalikan tangisnya akhirnya bersuara, "Adek, ini Naufal adek kandungku, sekarang coba kamu perhatikan apakah kami terlihat mirip?" Nadira bertanya seperti itu, karna banyak orang yang berkata bahwa mereka mirip, jadi kalau mata adek itu sehat dia pasti bisa menilai.


"Tapi sebenarnya juga, gak masalah kalau kamu melihat kami seperti pasangan, berarti adikku ini bisa diandalkan untuk menjaga kakaknya yang melow ini, jadi aki tidak perlu khawatir kalau mahramku ini tidak bisa mengayomi ku walaupun umurnya lebih kecil dari aku".


Mendengar jawaban Nadira, orang itu terdiam dan wajahnya berubah sendu, "kalau begitu saya minta maaf kak, karna sudah berburuk sangka sama kalian, saya permisi dulu!" Anak itu pergi dengan menunduk sambil memutarkan kursi roda yang dia gunakan untuk berjalan.


Nadira dan Naufal merasa bingung dengan perubahan sikap anak tersebut, Naufal berinisiatif mengejarnya, sedang Nadira hanya melihat dan memperhatikan mereka.


"Hai aku Naufal" Naufal berdiri di depan kursi rodanya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

__ADS_1


Orang itu terdiam dan mendongak melihat Naufal, dia melihat ketulusan dan keceriaan di wajah Naufal lalu diapun mengulurkan tangannya untuk membalas salam Naufal, "Reihan" dia. mengenalkan dirinya dengan singkat.


"Hai Rei, kamu masih 1 SMA kan, berarti kita seumuran, mau jadi temanku?" Tanya Naufal, Naufal memang orang yang mudah bergaul dan terbuka, jadi dia lumayan banyak teman jika dibanding Nadira.


"Kamu mau temenan sama aku?, serius?" Tanya Reihan antusias.


"Iya, aku serius?" Jawab Naufal.


"Kamu gak malu temenan sama aku yang gak bisa jalan begini?" Reihan merasa minder dengan kondisinya, bahkan dia memilih untuk home schooling karna di sekolah semua orang menjauhinya karna kebanyakan mereka merasa terganggu dengan keadaan Reihan yang menggunakan kursi roda.


"Memang kenapa harus malu Rei?, bagi aku malu itu ketika kita melakukan sesuatu yang tidak baik, atau sesuatu yang tidak sopan, nah itu harus malu, selama kami orang yang baik dan sopan maka aku akan sangat senang berteman dengan kamu" Naufal meyakinkan Reihan.


"Memang kamu tahu dari mana kalau aku orang baik atau bukan?" Tanya Reihan lagi, mencari kejujuran dari Naufal.


"Yah... menurut feeling aku aja sih, hanya orang yang baik yang mau menegur orang yang berbuat tidak baik seperti yang kami lakukan tadi, dan hanya orang yang baik yang mau meminta maaf dan mengakui kesalahan seperti yang kamu lakukan tadi, jadi bagi aku kamu adalah orang yang patut dijadikan teman Rei". Naufal mengungkapkan apa yang dia rasakan terhadap Reihan.


"Tapi aku malu untuk berteman sama kamu Fal, aku takut orang lain menganggap aku memanfaatkan kamu untuk menolong aku" Reihan masih merasa minder.


"Tidak peduli bagaimana fisik kita, bagaimana pakaian kita, asalkan kita selalu berbuat baik maka cukuplah allah yang akan menilai" Naufal melanjutkan kata-katanya.


Reihan terpana mendengar penjelasan Naufal, dan dia merasakan ketulusan dari kata-katanya.


"Baiklah kalau kamu memang ingin menjadi temanku, terus tadi kakakmu kenapa menangis?" Reihan menanyakan Nadira yang tadi dilihatnya menangis pilu.


"Oh biasa itu kakakku lagi melow aja, mungkin lagi dapat siklus bulanan jadi bawaannya baper mulu". Jawab Naufal yang enggan menceritakan yang sebenarnya.


"Senang lihat kalian, kamu begitu perhatian sama kakakmu bahkan kamu mau mendengar keluh kesah kakakmu, dan tadi kelihatan banget kalau kamu bisa diandalkan sebagai adiknya, gak kayak aku yang hanya bisa menyusahkan kakakku saja." Reihan sedikit curhat kepada Naufal karena walaupun pertama bertemu tapi dia merasa nyaman dengan Naufal, ditambah dia tidak pernah menemukan orang yang tulus, yang mau berteman dengannya.


Sebenarnya Naufal ingin menanyakan maksud Reihan berkata seperti itu tapi dia tidak ingin pertanyaannya malah akan membuat Reihan tersinggung, karna biasanya orang yang mempunyai keistimewaan seperti Reihan cenderung lebih sensitif.

__ADS_1


"Ah, gak juga Rei, malah setiap hari tu aku sukanya ngerecokin kakakku, kami itu selalu berdebat, kalau gak di tengahi bapak atau ibu, bakal gak selesai-selesai perdebatan kami". Naufal mengatakan hal-hal yang juga tidak baik darinya, agar Reihan tidak terlalu minder.


"Oh ya?". Tanya Reihan penasaran.


"Iya, bahkan tadi tau gak, sambil nangis gitu, kakakku itu masih sempat-sempatnya aku ajakin debat, sebenernya tadi mau ketawa cuma kasihan aja orang nangis diketawain, hehehe". Naufal berkata sambil tertawa mengingat saat Nadira menangis tadi.


"Ah Kamu Naufal, masa orang nangis diketawain?"


"Gimana gak ketawa coba, tadi dia tu nangis tapi sambil mengomel, kan aku diemin aja biar puas gitu nangisnya, aku diem eh malah diomelin, terus aku kasih pilihan aja, dia mau nangis dulu atau mau mengomel dulu, dia diem sebentar lalu menjawab kalau dia mau nangis dulu, setelah ngomong beneran dia nangis lagi, hahaha" Naufal masih tertawa sambil bercerita.


Reihan pun ikut tertawa mendengar cerita Naufal.


"Kamu sendirian disini Rei?" tanya Naufal.


"Enggak kok tadi aku sama kakakku, kami biasa jalan-jalan disini, di taman ini agak sepi jadi aku suka, karna kalau tidak banyak orang, aku merasa bebas, tidak khawatir dilihatin orang". Jawab Reihan.


"Sekarang kakakmu kemana?" tanya Naufal yang tidak melihat orang lain kecuali mereka.


"Ke pasar kayaknya tadi aku kepingin minum es kelapa muda, jadi dia pamit ke pasar bentar buat beli". Jawab Reihan.


"Sekarang kamu masih mau jalan-jalan?, sini biar aku bantu dorong kamu?" tawar Naufal yang melihat Reihan seperti sulit menggerakkan kursi rodanya.


"Jangan Fal, aku tidak mau merepotkan orang lain." Reihan merasa sungkan.


"gak apa-apa Rei, masa cuma dorong aku repot, lagian juga kan kita berteman, wajarlah kalau saling repot merepotkan ataupun tolong menolong, mungkin kali ini aku yang menolong, tapi lain waktu mungkin aku yang butuh pertolongan kamu, jadi janganlah merasa sungkan oke!"


Reihan luluh, dan mau di dorong oleh Naufal.


Mereka berjalan-jalan mengelilingi taman dengan saling bercerita.

__ADS_1


Dari kejauhan kakak Reihan memperhatikan Reihan dan Naufal yang sedang bercerita dan tertawa.


__ADS_2