Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Tangis Nadira


__ADS_3

Di pasar Nadira memperingati Naufal untuk berhati-hati kala berjalan, dan baru selesai Nadira memberi peringatan, Naufal ditabrak orang yang tergesah-gesah karna mencari sesuatu.


Setelah orang itu pergi Nadira kembali mengomeli adiknya. "Nah kan baru selesai kakak bicara, kena tabrak kan, lain kali kalau dibilangin tuh yah jangan ngeyel, gini-gini aku ni kakakmu dek!"


"Iya kakakku yang cerewet satu komplek, tapi kan tadi yang salah bukan Naufal, orang dia yang nabrak dari belakang, meski adek lihatnya ke depan tetap di tabrak sari belakang!" Naufal masih membela diri.


"Iya dek, tapi setidaknya kalau kamu fokus, pikirannya gak kemana-mana, kan bisa waspada, Jadi walaupun tertabrak gak terlalu terkejut!" Nadira masih mengomel.


"Loh tadi kan,adek gak terkejut, terdorong sedikit aja ke depan!" Bela Naufal lagi.


"Alhamdulillah gak jatuh dek!, Terus ada yang sakit ga'?, Kalau ada yang sakit, yuk kita istirahat dulu jangan ditahan, biar kakak pijitin sebentar." Tawar Nadira


"Enggak apa-apa Kak, cuma ditabrak dikit aja, Naufal kan cowok, masak gitu aja sakit, yuk jalan aja, kasihan nanti bapak haus!" Ajak Naufal


"Alhamdulillah kalau begitu, yuk Jalan.


Mereka terus berjalan sampai di depan ruko tempat Pak Heru mengangkut barang.


Nadira terhenyak saat melihat Pak Heru mengangkut satu karung penuh isi plastik, dalam penglihatan Nadira, karung itu sangatlah berat, hatinya sungguh tak tega melihat bapaknya bekerja keras seperti itu.


Nadira masih terpaku, sedang Naufal sudah mendekat ke arah Pak Heru,


"Sini Pak, Naufal bantu!" Ucap Naufal saat sudah berada di dekat Pak Heru.


Pak Heru menoleh ke arah Naufal


"Oh kamu nak!" Pak Heru melanjutkan mengangkut karungnya tidak mengacuhkan Naufal, dia segera ke arah mobil dan meletakkan karungnya.


"Kamu tunggu aja dulu di sana Nak, setelah selesai Bapak ke sana juga!" Perintah Pak Heru kepada Naufal dan Nadira.


Akhirnya Naufal mendekati Nadira dan mengajaknya duduk di tempat yang tadi ditunjuk Pak Heru.


Mereka duduk dan terdiam tanpa ada kata, mereka hanya melihat Pak Heru mengangkat karung plastik dann tanpa sengaja mereka menghitung di dalam hati, dan setelah karung yang kelima Pak Heru diberi beberapa lembar uang.

__ADS_1


Pak Heru mendekat ke arah anak-anaknya duduk di bawah pohon.


"Kalian jalan kemana aja, sudah ketemu Ibu, apa Ibu membantu Mbah Wati?" Pak Heru bertanya mereka karna tadi Pak Heru dan Buk Rita berjalan sendiri-sendiri.


"Iya Pak, Mbah Wati masih sendirian jadi ibu masih membantu Mbah Wati" Naufal yang menjawab pertanyaan Pak Heru, sedang Nadira masih terdiam.


Nadira berfikir untuk meminta bapaknya berhenti saja, namun dia juga khawatir bapaknya akan merasa tidak dihargai usahanya, akhirnya dia hanya menawarkan minum kepada Pak Heru.


"Ini Pak minum dulu, Bapak pasti haus dan lelah, setelah mengangkat begitu banyak karung berat". Ucap Nadira sendu.


"Alhamdulillah terima kasih Nak, Bapak memang haus!" Jawab Pak Heru sambil mengambil botol minum dari tangan Nadira.


"Ini Pak singkongnya, buat menambah tenaga!" Nadira menyodorkan bungkusan singkong yang tadi mereka bawa.


"Nanti aja Nak, Bapak belum lapar, nanti kalau lapar baru bapak makan, kalau kalian lapar kalian buka aja dan makan!"


"Kita juga masih kenyang Pak, lagian kita cuma jalan, kalau bapak kan kerja pasti banyak tenaga yang terkuras!"


"Ya sudah kalau begitu diletakkan saja di sana, nanti Bapak ambil, bapak mau ke sana lagi, itu sudah ada pembeli barangkali butuh bantuan mengangkut barang!"


"Gak usah Nak, Kalian jalan aja, nih tadi Bapak dapat uang segini, kalian jalan bawa uang ini kalau kepingin beli sesuatu belilah jika uangnya cukup, maaf bapak cuma baru dapat segitu!" Ucap Pak Heru sambil menyerahkan uang 30 ribu yang baru dia dapatkan setelah membantu mengangkut barang dua pembeli.


Nadira menangis mendengar ucapan Bapaknya, betapa terharu hatinya, melihat perjuangan bapaknya dalam mencari nafkah, namun hasil yang tidak sebanding dengan kerja kerasnya dia berikan kepada anaknya tanpa memikirkan dirinya sendiri.


Dia segera menghapus air matanya dan berkat


"Gak usah Pak, kami gak mau beli apa-apa kan Dek, kita tadinya mau langsung pulang, tapi teringat Bapak sama Ibu lupa membawa botol minum, jadi kami berjalan mengitari pasar untuk mencari Bapak sama Ibu!" Nadira berkata sambil menoleh kepada Naufal agar mengiyakan perkataannya.


"Iya Pak, Sebaiknya uangnya dikumpulin aja, terus nanti Bapak sama Ibu pulangnya naik angkot aja, pasti cuacanya panas, selain itu biar bisa cepat sampai rumah, jadi kita bisa sholat di mushollah sama-sama lagi kayak kemaren". Naufal berkata mendukung perkataan Nadira.


"Kalau begitu kami langsung pulang yah Pak" Nadira dan Naufal pamit pulang dan menyalami Pak Heru.


Nadira ingin segera pergi, dia tidak tahan melihat perjuangan Bapaknya, dia berjalan dengan cepat, karna hatinya terasa tah tahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

__ADS_1


Naufal menyadari hati kakaknya yang melow, dia hanya mengikuti langkah kakaknya dari belakang, Nadira terus berjalan sampai keluar area pasar, dia lupa untuk pamit kepada ibunya.


"Kak duduk dulu yuk di taman itu!" Naufal mengajak Nadira berhenti di sebuah taman yang rindang.


Nadira menurut dan mereka memilih kursi yang di bawah pohon besar jadi tidak terlalu panas.


"Dek kasihan Bapak yah!" Nadira berkata dan air matanya mengalir begitu saja dari ujung matanya.


Naufal tidak menjawab, dia hanya mendengarkan Nadira berkata, karna dia tahu kalau di jawab nanti ujung-ujungnya mereka akan berdebat.


Jadi dia memilih diam dan mendengarkan isi hati Nadira.


"Begitu besar pengorbanan bapak untuk kita dek, tadi kita tawarin makan bapak gak mau, kakak tahu, karna bapak untuk makan siang, padahal tadi kan bapak makannya cuma sedikit di rumah, Bapak tahan-tahan gak makan tapi sempat-sempatnya bapak nyuruh kita jajan, bapak... hiks... hiks... " nadira berkata sambil terus menangis.


"Kenapa juga tadi Bapak gak mau dibantuin sama kamu Dek, kan kalau berdua, jadi gak terlalu berat , jadi cepat selesai juga!" Nadira terus mengeluarkan isi hatinya.


Naufal masih setia mendengarkan, dalam hatinya berkata "Nah keluar nih jiwa emak-emaknya Kak Dira, harus ekstra jaga mulut nih, kalau enggak bisa gak selesai-selesai ngomelnya".


Saat Naufal masih dalam pikirannya sendiri, dia terkejut mendengar panggilan Nadira.


"Dek, Dek, kamu kenapa sih, diam aja dari tadi, kamu gak setuju sama pemikiran kakak?... hiks hiks..." Nadira masih menangis.


Naufal hanya tersenyum.


"Kamu Dek, hiks.... hiks... ditanyain malah senyum, jawab kek... hiks ... hiks..."


Sebenarnya naufal ingin tertawa melihat Nadira yang menangis sambil mengomel, tapi ditahannya jangan sampai kakaknya malah mengomel lebih lama lagi.


"Kak kalau adek jawab nanti kakak gak selesai-selesai nangisnya, sekarang kakak pikir dulu, kakak mau nangis atau mau ngomong, satu-satu dulu jadi adek bisa tahu harus gimana?" Naufal memberi pilihan kepada Nadira, dengan susah payah dia menahan tawanya agar tidak terlihat oleh kakaknya.


"Ya udah kalau begitu kakak nangis aja dulu!"


Jawab Nadira, hiks hiks hiks.

__ADS_1


Naufal memalingkan mukanya ke arah lain karena dia sudah tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah Nadira.


__ADS_2