Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Nadira Sakit


__ADS_3

Buk Rita mengajak tamunya masuk ke dalam Rumah, beruntung, Naufal dan Pak Heru sudah berangkat ke mushollah, jadi mereka bisa leluasa.


"Sarah bawa kantong plastik hitam yang tadi ibu beli!" Mama Sarah meminta Sarah membawa belanjaannya tadi masuk ke dalam rumah.


"Semuanya Buk?" Tanya Sarah.


"Iya Nak!" Jawab Mama Sarah.


Sarah di bantu Evi dan Nadira membawa beberapa kantong plastik ke dalam.


"Ra itu dibawa aja ke belakang, sebagai oleh-oleh dari Mama". Rupanya tadi Mama Sarah belanja untuk membawa oleh-oleh untuk Nadira dan keluarganya.


"Apa itu mba kok banyak sekali?" Ucap Buk Rita yang merasa tidak enak hati.


"Cuma sedikit oleh-oleh Rita, jangan merasa tidak enak, karna kita sudah lama tidak bertemu, jadi aku pingin silaturrahmi sama kalian, sayang Papanya Sarah gak tahu, kalau tahu pasti dia juga mau bersilaturrahmi ke sini". Ucap Mama Sarah panjang lebar.


Karna kebiasaan keluarga Nadira yang ringan tangan, walaupun mereka tidak punya banyak uang, tapi banyak orang menyukai mereka, karna tidak perlu dimintai tolong mereka akan menolong dengan ikhlas.


Seperti saat keluarga Sarah di kampung Nadira dulu, Pak Heru dan Buk Rita sering menolong mereka, jadi mereka sangat senang bisa bertemu kembali dengan keluarga Nadira.


"Kalian masih mengajar di sekolah kemaren Ta?" Tanya Mama Sarah kepada Buk Rita.


"Alhamdulillah Mba" Hanya itu Jawaban Buk Rita, karna dia merasa tidak enak dulu, Saat Keluarga Sarah akan pindah, mereka menawari Pak Heru untuk bekerja di Bank, di tempat Papa Sarah bekerja, tapi mereka menolaknya.


Mereka terus mengobrol sampai waktu maghrib, lalu mereka sholat maghrib bergantian, karna mukena cuma ada dua dan tempatnya pun sempit.


Setelah selesai Buk Rita mengajak mereka untuk makan malam di rumah Nadira, semua makanan yang dibawa oleh Mama Sarah di hidangkan oleh Nadira.


"Yuk Mba, Sarah, Evi kita makan dulu, maaf tidak ada makanan yang mewah, hanya sambal terasi, rebusan daun singkong dan ikan asin!" Ajak Buk Rita.


"Wah kelihatannya lezat ini Rita, tapi kita gak menunggu Pak Heru sama Naufal dulu?" Tanya Mama Sarah.


"Gak usah Mba, biasanya mereka habis isya baru pulang". Jawab Buk Rita.


"Ya sudah kalau begitu, ayuklah kita makan." Seru Mama Sarah.


Selesai makan, Mama sarah mengobrol dengan Buk Rita, sedang Nadira Sarah dan Evi membersihkan sisa makanan mereka.

__ADS_1


"Alhamdulillah sholat sudah, makan juga sudah, kayaknya kami pamit dulu yah Rita, takut nanti kemalaman" Mama Sarah pamit kepada Buk Rita.


"Terima kasih Mba, masih ingat dengan kami dan bersedia mampir." Jawab Buk Rita.


"Sama-sama Rita, nanti kapan-kapan kalau ada waktu bolehlah untuk main ke rumah" Tawar Mama Sarah.


"Saya tidak bisa berjanji Mba" hanya itu jawaban Buk Rita.


Mereka bersalaman dan menuju ke mobil.


"Maaf mba kami tidak punya oleh-oleh, ini ada sedikit singkong yang baru dipanen pagi tadi, semoga berkenan membawanya". Buk Rita memberikan kantong plastik yang berisi singkong.


"Tanaman Heru kah?" Tanya Mama Sarah.


"Iya Mba" Jawab Buk Rita.


"Wah kalau tanaman Heru saya mau bawa, biasanya singkongnya empuk, langsung mau di rebus aja besok." Mama Sarah teringat saat di kampung dulu, Pak Heru sering memberi Singkong saat panen.


"Kami berangkat dulu ya Rita, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memberi tahu kami, nanti sampaikan saja sama Sarah biar dia yang menelpon kami!". Pamit Mama Sarah saat sudah di mobil.


"Insyaallah Mba, terima kasih". Jawab Buk Rita


"Waalaikum salam" Jawab Buk Rita dan Nadira bersamaan.


Setelah mobil Mama Sarah melaju Nadira dan Buk Rita masuk ke dalam rumah.


"Kamu kok pulang sore tadi Nak?, ibu khawatir karna tidak biasanya kamu pulang sore tanpa ijin dulu" tanya Buk Rita kepada Nadira, sebenarnya dia langsung ingin bertanya saat Nadira datang, cuma karena ada Mama Sarah, dia tidak enak untuk bertanya.


"Maaf Buk, tadi Nadira ketiduran di kosan Evi, terus ada Mama Sarah datang, jadi Nadira tidak enak kalau langsung pamit pulang, takut Mama Sarah tersinggung". Cerita Nadira jujur.


"Tumben kamu ke kosan Sarah Ra?" Tanya Buk Rita lagi karna dia merasa tidak biasanya Nadira mau ke kosan temannya.


Nadira lalu menceritakan semua kejadian saat di kampus, termasuk saat Sasa menarik kerudungnya. Karna Nadira dan Buk Rita memang seperti sahabat, dia selalu menceritakan apapun kepada ibunya, senang sedih, suka duka dan lain sebagainya.


"Astaghfirullah Nak, besok-besok kalau ketemu orang itu, kamu hindari saja Nak, dari pada kamu yang susah nantinya". Nasihat Buk Rita.


Tidak lama terdengar adzan isya berkumandang, mereka lalu melaksanakan sholat isya bersama.

__ADS_1


Saat Pak Heru dan Naufal pulang Buk Rita dan Nadira menghidangkan makanan yang mereka makan tadi.


"Masyaallah Buk, ini makanan sebanyak ini dari mana?" tanya Pak Heru yang heran melihat banyak makanan terhidang dengan lauk yang bermacam-macam.


Buk Rita lalu menceritakan kedatangan Mama Sarah ke rumah mereka tadi.


"Alhamdulillah mereka masih mengingat kita Buk, tapi terkadang bapak merasa tidak enak karna waktu itu menolak tawaran Mas Anton". Jawab Pak Heru.


"Iya Pak, tadi juga Mba Arma bertanya apakah bapak masih bekerja di sekolah, yah ibu jawab singkat, dan ibu tanya hal yang lain agar Mba Arma tidak bertanya lebih jauh dan mengungkit masalah itu lagi". Cerita Buk Rita.


Selesai makan, seperti biasa mereka belajar bersama dan tidur.


Saat bangun Nadira merasa kepalanya begitu berat, dia merasa sangat pusing, dia memaksakan diri untuk duduk, namun sakit di kepalanya sangat terasa, Akhirnya dia tidur lagi.


Saat semua orang sudah bangun, Nadira masih tertidur, lalu Buk Rita membangunkan Nadira,


"Nadira, bangun Nak, sudah mau subuh, sayang Nak tahajudnya."


Nadira mencoba bangun dan berjalan, dia menahan kepalanya yang terasa sakit, saat hendak mengambil air wudhu, dia merasa sangat kedinginan, badannya bergetar kedinginan.


Buk Rita yang melihat Nadira kedinginan bertanya "Kamu kenapa Ra?"


"Gak tahu Buk, kepala Nadira agak pusing, setelah mengambil air wudhu, badan Nadira bergetar".


Buk Rita langsung memeriksa dahi Nadira,


"Astaghfirullah Nak, badan kamu panas, kamu demam ini, kamu istirahat aja!" perintah Buk Rita.


"Gak apa-apa buk, Nadira sholat dulu sebentar, sayang kalau ketinggalan". Nadira masih berusaha melaksanakan sholat tahajjud walaupun kepalanya terasa sangat pusing.


Selesai sholat subuh Nadira sudah tidak tahan lagi, dia merebahkan badannya dan tertidur.


Buk Rita mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, dia membiarkan Nadira beristirahat.


Saat Pak Heru pulang dari mushollah dia bertanya kepada Buk Rita


"Nadira sakit Buk?"

__ADS_1


"Iya Pak badannya panas, gak bisa pergi ke kampus kayaknya anak itu!" Jawab Buk Rita.


__ADS_2