
Setelah berjalan sambil mengobrol Buk Rita dan Nadira sampai di kelas mereka masing- masing.
Buk Rita langsung masuk kelas, sedang Nadira mengambil nafas dan membuangnya, kemudian memejamkan matanya dan berucap dalam hati
"Bismillah, mohon bimbinganMu ya Allah".
Dia mengucap salam dan melangkah masuk.
"Waalaikumussalam" Jawab para murid yang ada di sana.
Tidak seperti yang dia bayangkan, ternyata kelas itu asyik untuk di ajak bercerita, sehingga waktu dua jam itu bahkan kurang untuk mereka mengobrol.
"Insyaallah minggu depan kita lanjut lagi mengobrol ya, tapi sambil belajar oke!" Nadira berkata untuk menutup pelajaran hari itu.
"Siap Kak!" Jawab mereka.
Nadira memperkenalkan dirinya sebagai kakak bukan sebagai guru jadi dia tidak ingin para siswa memanggilnya dengan sebutan ibu guru,dia lebih senang dipanggil kakak, jadi dia meminta anak-anak untuk memanggilnya Kak Dira.
Saat istirahat dia kembali ke kantor bersama dengan Buk Rita. Karna suasana yang sudah ramai dengan para siswa yang laku lalang, jadi mereka tidak bisa mengobrol.
Dan seperti perintah Buk Rita, Nadira melihat papan pengumuman di kantor dan mempelajari denah sekolah, dan mencatat tugas-tugas Pak Heru.
Dia hanya duduk di kursinya hari itu, karna jam mengajar Pak Heru sudah habis, sedang Buk Rita masuk kelas kembali.
Pukul dua siang mereka sudah kembali pulang ke rumah.
Begitu datang Buk Rita langsung melihat keadaan Pak Heru, dia masih merasa khawatir karna meninggalkan Pak Heru sendirian di rumah, namun kekhawatirannya menghilang setelah mendapati Pak Heru yang baik-baik saja, sudah makan dan sudah minum obat.
Setelah mengganti bajunya Nadira langsung mengambil singkong dan menimbangnya sebanyak satu kilo, dia segera menyiapkan alat dan bahan untuk membuat keripiknya, saat adzan ashar berkumandang dia sudah selesai mengupas dan mengiris singkongnya tinggal merendam sebentar.
Selagi merendam Nadira sholat ashar dan menyempatkan diri untuk membaca alquran, setelahnya dia bergegas meniriskan air singkongnya lalu menggorengnya.
Pukul lima sore, dia selesai menggoreng semuanya, lalu menimbang hasilnya.
__ADS_1
Dia lalu mengambil pena dan buku untuk menghitung modal.
"Alhamdulillah sudah dapat, kalau dijual dengan harga 10.000 perseperempat kilo, sudah untung ini" Gumam Nadira sendiri.
"Kak Dira" Naufal tiba-tiba datang mengejutkan Nadira.
"astaghfirullah adek... untung ni untung ini jantung buatan Allah, kalau buatan manusia pasti sudah copot!" Omel Nadira yang terkejut.
"Lagian Kakak khusyu banget sampai gak sadar kalau Naufal sudah ada di belakang kakak!" Jawab Naufal sambil mencomot keripik singkong dan memakannya.
"Iya namanya juga sedang menghitung, kalau tidak khusyu nanti salah hitung Dek!" Jawab Nadira.
"Memang lagi menghitung apaan sih Kak, apa persiapan untuk mengajar besok?, Tapi kan Bapak guru agama, bukan guru matematika!" Seru Naufal sambil terus memakan keripik singkongnya.
"Kamu tuh yah Dek!, ini kakak lagi menghitung modal dan harga untuk keripiknya, katanya mau bantuin kakak, pulang-pulang bukannya membantu mengerjakannya malah mengagetkan kakak aja!" Nadira masih mengomel.
"Iya Kak, maaf tadi Naufal keliling komplek dulu sebentar, jadi lupa, hehehe" jawab Naufal sambil tertawa.
"Jadi sudah dapat hasilnya Kak?" Tanya Naufal.
"Siap Kak". Naufal segera pergi ke warung setelah mendapat uang dari Nadira.
Selagi Naufal ke warung, Nadira mempersiapkan bahan-bahan untuk masak makan malam mereka.
Malam sebelum tidur Nadira mengirim pesan kepada Farhan, bahwa keripiknya sudah siap di jual dengan harga sepuluh ribu per bungkus yang berukuran seperempat kilo.
Begitu mendapat pesan dari Nadira, Farhan langsung meneruskan ke Reza dan Sam, mereka lalu langsung mempromosikan keripik singkong Nadira di FB dan Instagram dan grup-grup Wa.
Keesokan harinya, mereka mengirim pesan kepada Nadira untuk datang ke rumah Nadira, dan Nadira meminta mereka untuk datang sore, karna dia baru akan pulang sore dari sekolah.
Sore harinya mereka datang langsung memberi tahu bahwa, ada pesanan sekitar lima puluh bungkus keripik singkong.
"Masyaallah banyak sekali Kak, tapi yang ada cuma empat bungkus!" Jawab Nadira.
__ADS_1
"Kalau begitu kamu bisa gak buat aja dulu semampunya, dan dibuat bungkus yang kecil-kecil aja dulu, nanti kami bilangnya sebagai percobaan aja dulu!" Usul Farhan.
"Oke Kak!" Jawab Nadira.
Setelah itu mereka langsung pulang. Nadira lalu menceritakan kepada Buk Rita, "yah sudah Nak, mumpung ada kesempatan kita coba buat aja semampunya, jangan sampai membuat pelanggan kecewa" Jawab Buk Rita.
Naufal bertugas memanen semua singkong yang tersisa, Buk Rita dan Nadira langsung mengupasnya dan mengirisnya, sampai menjelang maghrib mereka bertiga dapat menyelesaikan semua irisan singkongnya.
Nadira dan Naufal sholat maghrib di masjid lalu mengajar mengaji setelah isya baru pulang.
Setelah makan Nadira melanjutkan menggoreng keripik singkong, Sedang Buk Rita dan Naufal belajar bersama seperti biasa.
Sekitar pukul sembilan Nadira sudah selesai menggoreng semuanya, Buk Rita dan Naufal membantu membungkus semuanya, dan Mereka bersyukur dapat menyelesaikan Lima puluh bungkus pesanan Farhan, Reza dan Sam.
Dari hasil menjual keripik singkong itu mereka beli lagi untuk membuat keripik singkongnya karna semua orang yang mencoba keripik Nadira langsung order lagi, karna mereka menyukai rasanya.
Begitulah hari-hari itu keluarga Nadira lalui sambil mengajar di sekolah sambil menjual keripik singkong.
Setelah sebulan Pak Heru sudah sehat dan sudah kembali bekerja di sekolah, jadi Nadira lebih fokus membuat keripik singkongnya di rumah.
Pesanan terus masuk dan keripik singkongnya laris manis.
Semenjak saat itu , keluarga Nadira tidak lagi kekurangan uang, karna keripik singkong yang mereka jual dapat menghasilkan.
Selama setahun mereka menjual keripik singkong, Mahar Buk Rita yang digadai sudah bisa mereka tebus, mereka juga membeli hp untuk Pak Heru, lalu membeli laptop untuk kebutuhan Nadira.
Tapi walaupun begitu mereka tetap hidup di dalam kesederhanaan, uang yang mereka dapat mereka tabung untuk keperluan jika sewaktu-waktu dibutuhkan, Buk Rita dan Pak Heru masih mengajar di sekolah sebagai guru honorer.
Walaupun penghasilan dari menjual keripik singkong lebih banyak dari gaji mereka menjadi guru honorer, tapi mereka tetap tidak ingin berhenti mengajar, karna menjadi guru bukan tenang berapa gaji yang di dapat tetapi tentang pengabdian kepada ummat, setiap apa yang kita ajarkan akan menjadi pahala bagi yang mengajar. walaupun hanya satu huruf, maka setiap kali huruf itu dipergunakan oleh murid yang kita ajari maka pahalanya akan mengalir kepada kita.
Pun Nadira meski tahu kondisi guru seperti orang tuanya dia tetap mempunyai cita-cita untuk menjadi guru, karna dia merasa bangga dengan kedua orang tuanya, dan dia ingin menjadi seperti kedua orang tuanya yang mengabdikan hidup mereka untuk para anak didik mereka.
......................
__ADS_1
...TAMAT...