Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Sam / Samsudin


__ADS_3

Nadira dan Sarah sudah mulai menyapu dan mengelap debu yang ada di ruangan itu, sedang Evi hanya duduk di meja, dan meletakkan kepalanya di meja.


Nadira dan Sarah tidak mempermasalahkan hal itu, karna ketika mereka berteman mereka sudah menerima mereka apa adanya, ketika mereka menyukai kebaikan teman merekapun akan mensabari keburukan temannya.


Ketika membersihkan ruangannya setengah jalan, Reza masuk meminta tolong untuk meletakkan papan nama di atas meja.


Karna hanya Evi yang sedang tidak bekerja jadi Reza memberikan papan namanya kepada Evi,


"Dek tolong ini nanti di susun yah, ketua di tengah, wakil di sebelah kiri, sekertaris di sebelah kanan dan bendahara di pojok sebelah sekertaris, yang anggota terserah disusun aja dimana yang terpenting yang cowok sebelah kiri dan yang cewek sebelah kanan, Oke Dek!" Reza berkata kepada Evi sambil menggodanya.


"Aduh Kak, harusnya nih yah gak usah disusun dulu bawa aja sendiri-sendiri nih papannya, kalau mau duduk baru diletakkan di depannya masing-masing, jadi gak repot, atau kalau enggak gak usah pakai papan nama sekalian Kak, kan uda pada tahu dan kenal anggota masing-masing, apa gunanya coba tuh papan nama?" Jawab Evi tanpa titik koma.


"Astaghfirullah Evi", Nadira dan Sarah beristighfar berbarengan mendengar ocehan Evi, sedang Reza hanya tertawa geli.


"Iya Dek yah, bener juga apa katamu, nanti Kak Reza diskusikan sama yang lain, tapi untuk hari ini, kakak minta tolong yah!" Reza berkata sambil tersenyum geli.


"Iya Kak letakkan saja di atas meja, biar nanti kita yang susun". Sarah berkata kepada Reza sebelum Evi yang menjawab lagi.


"Oke Dek, kalau begitu kakak balik ke tempat Sam dan Farhan dulu yah, soalnya masih ada yang harus dikerjakan".


"Baik kak". Jawab Nadira dan Sarah.


Sedang Evi, sudah sibuk membaca nama-nama yang tertera di papan nama yang baru saja di serahkan Sam.


"Hem Evi, Evi, gak enak sama Kak Reza tau!" Gerutu Sarah.

__ADS_1


"Maaf, refleks aja say!" Evi hanya bisa meminta maaf, sambil nyengir. Bukan Evi tidak merasa bersalah, dia juga merasa tidak enak, cuma yah gimana lagi, dia tidak bisa mengerem mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata tanpa bisa disaring.


Untuk menghilangkan rasa bersalahnya dia menyibukkan dirinya dengan membaca papan nama yang batu saja diberikan Reza kepadanya.


"Farhansyah Putra, Ketua" diapun meletakkan papan nama sesuai dengan perintah Reza," Ketua berarti tempatnya di tengah" gumam Evi.


Reza Rahardja, Sekertaris, Evi meletakkannya di sebelah kanan dari ketua, Sasa Melinda, Bendahara, diapun meletakkannya di pojokan antara sekertaris dan anggota yang lainnya.


Begitulah Evi meletakkan tiap-tiap papan nama anggota di meja yang telah disediakan. Diapun berjalan mengitari meja yang berbentuk huruf U tersebut.


Dan saat tinggal satu papan nama, dia membacanya dan tertawa terbahak-bahak. Nadira dan Sarah sampai bingung ada apa dengan Evi.


"Kenapa sih Vi?" tanya Nadira. "Iya Vi ketawa ajak-ajak dong, kamu ketawa sendirian gitu jadi serem nih kita lihatnya, ntar kami kira kamu kerasukan jin ketawa atau kuntilanak tau, ketawa ngakak gitu sampai gak ingat tempat" Protes Sarah yang gerah dengan tawa Evi yang keras.


Setelah agak mereda tawa Evi, dia bertanya kepada Nadira dan Sarah "Kalian bisa menebak gak, siapa nama panjang dari kakak mulut bebek?"


"Samuel" Jawab Sarah


Evi menggelengkan kepalanya


"Samanta" Jawab Nadira


"Enggak heran sih kalau kalian menebak namanya seperti itu, karna kalian pasti menebak sesuai gayanya kan?" Evi menjawab masih sambil tertawa.


"Emang kenapa sih Vi? ada apa sih di namanya kak Sam?" Sarah bertanya karna dia sangat penasaran apa yang membuat Evi tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Nih baca Sendiri!" Perintah Evi sambil membalik Papan Nama yang bertuliskan "Samsudin, Wakil Ketua".


"Samsudin" Ucap Nadira dan Sarah berbarengan, mereka pun tertawa bersama karna tidak menyangka kakak yang gayanya selangit ternyata bernama samsudin, "sungguh kontras" pikir mereka "hahahaha", Evi tertawa sampai keluar air mata, "jaman gini masih ada aja anak muda namanya Samsudin" ujar Evi kembali tertawa. "hahaha".


"Udah, udah ketawanya nanti Kak Sam denger lagi, nanti kita dapet hukuman, mending kita segera selesaikan bersih-bersih ini, biar bisa istirahat atau apalah!" Ajak Nadira kepada Sarah dan Evi.


Mereka melanjutkan pekerjaannya namun masih kadang-kadang terdengar tawa Evi yang merasa mendapat ide untuk mengolok-olok Sam, sehingga rasanya dia ingin segera menyelesaikan tugasnya dan mencari Sam untuk mengoloknya.


Saat pekerjaan mereka sudah hampir selesai, Tidak berapa lama pintu terbuka, ketika mereka menoleh ternyata Sasa dan gengnya yang masuk,


"Wah ada Bibik mahasiswa, memang cocoknya jadi Bibik kan? gak cocok jadi mahasiswa" "hahaha" Sasa dan teman-temannya tertawa mengejek Nadira.


"Hei memang gak tau terima kasih yah kalian, uda mending kami bersihin nih ruangan, kalau gak dimintai tolong sama Kak Reza, gak maulah kami bersihin ini" Evi tidak terima mereka menertawakan Nadira.


"Sudah Vi, jangan dihiraukan, seperti kata pepatah, Anjing menggonggong kafilah Berlalu". Ucap Nadira dengan lembut.


"Hai Bibik, apa kamu ngatain kita anjing, kurang ajar kamu yah, uda penampilan buluk, kayak orang mau pergi ke sawah, mulut juga sama buluknya kayak penampilannya, seenaknya aja ngatain orang anjing". Sasa Marah-marah karna tersinggung dengan ucapan Nadira.


"Maaf kak yah, teman Saya tidak pernah mengatakan seperti itu, teman saya hanya menyebutkan sebuah pribahasa Indonesia, atau kakak tidak pernah belajar pribahasa pas waktu sekolah, percuma dong gelar mahasiswa tapi pelajaran anak SD aja gak tahu". Evi nyerocos tanpa memperdulikan siapa lawan bicaranya, pada saat seperti ini memang ceplas - ceplos Evi diperlukan agar mulut si Sasa yang songong itu diam.


"Kamu juga baru jadi mahasiswa semester satu, sudah berani melawan aku yah, memang belum merasakan pelajaran dari kami kalian ini".


Sasa mendekat ke arah Evi dan ingin menarik kerudung yang dipakai Evi. Melihat itu, Nadira segera mendekat dan menepis tangan Sasa, sehingga tidak sampai untuk menjangkau kerudung Evi, "Maaf Mba ditangannya ada kotoran, jadi saya bersihkan dulu" Ucap Nadira masih dengan sopan santun.


"Kamu benar-benar kurang ajar yah" Sasa yang merasa belum puas, karna tidak berhasil menarik kerudung Evi, berkata sambil mengangkat tangannya untuk menampar Nadira, Nadira sudah pasrah, dia tidak ingin menambah masalah, jika memang dengan memukul dirinya kemarahan Sasa mereda, dia terima.

__ADS_1


Sarah dan Evi yang melihat Sasa akan menampar Nadira segera mendekat ke arah Nadira untuk menolongnya, namun sebelum mengenai pipi Nadira, mereka terkejut dengan pintu yang terbuka, tangan Sasa terhenti saat melihat Farhan, Reza dan Sam yang berdiri di pintu.


"Ada apa ini?" Tanya Farhan dengan nada mengintimidasi.


__ADS_2