Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Sakit


__ADS_3

"Ya Allah mudahkanlah semua usaha orang tua hamba, berikanlah mereka kesehatan dan umur yang panjang" Nadira berdo'a di dalam hati, dia merasa terenyuh melihat kedua orang tuanya yang begitu lelah, dia tidak pernah melihat orang tuanya yang merasa begitu lelah seperti hari ini.


Nadira berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang akan mengganggu tidur kedua orang tuanya, bahkan dia tidak mengambil buku yang belum selesai dibacanya tadi, karna dia khawatir akan mengganggu tidur kedua orang tuanya.


Dia berjalan ke arah teras, untuk menunggu Naufal pulang, agar dapat memperingatkan adiknya supaya tidak gaduh, dia duduk di pintu, karna teras rumah mereka sangat kecil dan panas, saat dia melihat ke dalam rumah, keringat Pak Heru dan Buk Rita bercucuran, lalu dia beranjak untuk memantapkan arah kipas angin ke arah kedua orang tuanya yang sedang tidur.


Setelah itu dia kembali ke pintu untuk menunggu adiknya pulang dari mushollah. Jika di rumah saat waktu sholat tiba, Naufal selalu melaksanakannya di mushollah, entah ada orang ataupun tidak, dia akan sholat di mushollah, tidak jarang mulai dari membersihkan mushollah sebelum sholat, adzan, iqomah dan imam dia yang mengerjakan semuanya.


Naufal selalu ingat gurunya pernah mengajarkan bahwa salah satu golongan orang yang akan mendapat naungan pada hari kiamat kelak adalah orang yang memakmurkan masjid, dan yang dimaksud memakmurkan, bukan hanya membangun fisik masjid itu saja tetapi juga menghidupkan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di masjid, paling tidak , sholat lima waktu masjid jangan sampai kosong, oleh sebab itu, dia selalu berusaha untuk ke mushollah agar dapat termasuk golongan yang memakmurkan masjid dan mendapat naungan di hari kiamat kelak.


Naufal tidak kunjung pulang, Nadira yang menunggu tanpa ada kegiatan pun akhirnya tertidur sambil duduk dengan menekuk kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya di daun pintu, cuaca yang terik dengan angin sepoi-sepoi dari arah depan, membuat Nadira semakin tidur dengan nyenyak, dia terbangun setelah mendengar suara adzan ashar dari mushollah yang tidak lain adalah suara Naufal.


"Astaghfirullah ternyata aku ketiduran, adek gak pulang, kayaknya langsung ashar di mushollah" gumam Nadira dalam hatinya.


Dia lalu melihat ke arah dalam rumah, ternyata Buk Rita barusan terbangun juga karna mendengar suara adzan, mereka terkejut melihat Pak Heru yang bangun sempoyongan sambil memegang kepalanya.


"Bapak kenapa?" Tanya Buk Rita, Nadira segera beranjak ke dapur dan mengambil segelas air untuk minum bapaknya.


"Ini Buk minum untuk Bapak"


"Terima kasih Ra, minum dulu Pak!" Buk Rita berucap sambil menyerahkan air yang di ambil Nadira.


Setelah minum, Pak Heru kembali membaringkan badannya, Bu Rita segera menempelkan tangannya ke kepala Pak Heru " badan bapak panas Pak, apa yang bapak rasakan?" tanya Buk Rita.


"Kepala Bapak pusing Buk, kayaknya dehidrasi karna Bapak gak minum selama bekerja tadi". Jawab Pak Heri sambil terus memijit sendiri kepalanya.


"Ya sudah, Ra kamu tolong ambilkan air di baskom sama sapi tangan untuk mengompres kepala bapak, habis itu kamu sholat, gantian aja kota sholatnya!" perintah Buk Rita pada Nadira yang duduk di sampingnya sejak melihat bapaknya yang kesakitan.

__ADS_1


Setelah melaksanakan apa yang diperintahkan Buk Rita, Nadira segera melaksanakan sholat ashar, sedang Buk Rita mengompres kepala Pak Heru, sambil memberikan pijatan di kepalanya.


Selesai sholat Nadira menggantikan ibunya untuk mengompres dan memijat kepala Pak Heru, dan Buk Rita melaksanakan sholat ashar.


"Ra, sudah cukup memijitnya, sakitnya uda agak mendingan, Bapak mau sholat dulu aja!"


Nadira berhenti memijat kepala bapaknya dan melihat bapaknya berdiri dengan masih meringis menandakan kepalanya yang masih sakit.


Nadira segera ke dapur dan memasak nasi, mungkin bapaknya butuh minum obat, jadi dia segera memasak agar nanti ketika bapaknya mau minum obat sudah bisa makan terlebih dulu.


Buk Rita sudah selesai sholat sedang Pak Heru masih di toilet, dia mendekati Nadira yang sedang menanak nasi.


"Untuk lauk malam ini masak tumis labu siam aja nak, sayur yang busuk-busuk, buang aja ke halaman belakang biar jadi pupuk alami, Ibu mau urusin bapak dulu yah!" perintah Buk Rita kepada Nadira.


"Baik Buk" jawab Nadira. Memang sekedar masak lauk yang simpel-simpel nadira sudah terbiasa, Buk Rita memang selalu membiasakan Nadira untuk memasak, karna bagi Bu Rita setinggi apapun gelar seorang wanita, gelar yang tertinggi tetaplah menjadi seorang wanita shalihah, dan seorang wanita yang shalihah selalu menyadari bahwa surganya sebelum menikah adalah orang tuanya, tetapi setelah menikah maka surganya adalah suaminya, jadi meskipun Nadira mengejar mimpinya dalam menuntut ilmu tapi Buk Rita tetap mengajarkan Nadira ilmu-ilmu untuk dipergunakan dalam kehidupan berumah tangga.


Setelah mengarahkan Nadira di dapur, Buk Rita segera membentangkan sajadah, dan menyiapkan kain serta peci untuk Pak Heru, agar ketika keluar dari toilet Pak Heru bisa langsung mengerjakan sholat, dan setelah itu bisa segera beristirahat lagi.


"Masih panas Nak badannya"


"Apa gak kita ajak ke Puskesmas aja buk?" usul Nadira.


"Gak usah nak." Pak Heru yang menjawab pertanyaan Nadira. Pak Heru hanya memejamkan matanya jadi dia mendengar percakapan Nadira dan Buk Rita. "Bapak hanya pusing biasa, nanti kalau Naufal uda pulang, suruh beli obat generik aja di warung depan!" pinta Pak Heru.


"Bapak mau mandi?, nanti Nadira masakin air hangat mau?" tanya Nadira.


Pak Heru hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Nadira segera memasak air untuk mandi bapaknya, belum selesai Nadira memasak air, terdengar salam dari pintu


"Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam" Jawab Buk Rita dan Nadira.


" Baru pulang dek?" tanya Nadira kepada Naufal yang baru masuk ke rumah.


"Loh Bapak kenapa?" Naufal bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nadira. Sebenarnya Nadira ingin marah kepada adeknya karna mengabaikannya, tapi karna Pak Heru lagi pusing nanti tambah pusing mendengar perdebatan mereka berdua.


"Bapak pusing nak, mungkin dehidrasi karna sedikit minum hari ini." Buk Rita menjelaskan kepada Naufal.


"Dek, tolong nanti angkatin air yang kakak masak yah, kakak mau isi air di bak dulu!" pinta Nadira kepada Naufal.


Nadira dan Naufal memang sering berdebat, tetapi mereka tidak lupa untuk saling tolong menolong jika dalam pekerjaan.


Setelah siap, Naufal membantu Pak Heru mandi, sedang Nadira menyiapkan makan untuk Pak Heru.


Selesai Pak Heru mandi, Buk Rita meminta Naufal untuk membeli obat di warung.


"Dek ini uang, tolong beli pil Param*eg di warung yah, biar habis makan Bapak bisa langsung minum obat". Pinta Buk Rita kepada Naufal.


Naufal pun segera pergi ke warung dan Pak Heru langsung makan.


Tidak sampai 10 menit Naufal sudah kembali membawa obat yang diminta buk Rita.


"Ini obatnya buk!"

__ADS_1


Buk Rita segera membukanya dan memberikan kepada Pak Heru untuk diminum, setelah itu Buk Rita meminta Pak Heru untuk istirahat.


Nadira, Naufal dan Buk Rita bergantian mandi sore, karna sebentar lagi masuk waktu maghrib, Naufal mandi pertama, karna dia harus berangkat ke mushollah untuk sholat, di susul Nadira dan terakhir Buk Rita.


__ADS_2