
Mama Sarah terkejut mendengar cerita Nadira yang berjalan hingga satu jam dari rumahnya ke kampus.
"Ya ampun Ra, ini uda sore banget bisa maghrib kamu sampai rumahnya". Seru Mama Sarah.
"Ya sudah, kamu pulangnya habis maghrib aja, biar MAma antar, kebetulan tadi Mama bawa mobil sendiri". Tawar Mama Sarah.
"Maaf Ma , tapi kalau Nadira pulang malam takutnya Bapak sama Ibu khawatir, karna Nadira gak pernah pulang malam, ini aja ibu pasti menunggu di rumah". Jawab Nadira dengan sopan.
"Telpon aja dulu Ra, biar Rita gak khawatir!". Mama Sarah berusaha memberikan solusi.
"hehe, maaf Ma tapi di rumah gak ada telpon, jadi gak ada yang bisa dihubungi". Nadira merasa tidak enak, karna di zaman modern seperti sekarang tapi keluarga Nadira tidak punya handphone satupun.
Mereka semua terhenyak mendengar jawaban Nadira, mereka bingung sampai seperti itu kah keluarga Nadira, Mama Sarah sebenarnya tahu kondisi keluarga Nadira waktu di kampung, cuma setelah tiga tahun dia tidak mengira jika keluarga Nadira masih seperti dulu.
"Ya sudah sekarang siap-siap biar Mama antar!" tawar Mama Sara lagi.
"Tapi nanti merepotkan Ma!" Nadira merasa tidak enak.
"Enggak Ra, Mama sekalian kepingin ketemu ibumu, sudah lama gak bertemu soalnya, yuk Sarah, Evi ikut ke rumah Nadira yuk!"Mama Sarah mengajak Sarah dan Evi untuk main ke rumah Nadira.
Nadira merasa bingung, mau menolak tidak enak, mau di ajak juga takutnya, ibunya terkejut dirumahnya tidak ada apa-apa untuk dihidangkan, selain itu rumahnya juga sempit, tapi dia tidak tahu harus menolak bagaimana.
"Ra udah gak usah melamun, yuk siap-siap!" Perintah Mama Sarah.
Sarah dan Evi senang sekali bisa jalan-jalan sore itu, mereka juga penasaran dengan rumah Nadira.
Karna Nadira tidak bisa menolak akhirnya mereka pergi bersama ke rumah Nadira.
Mama Sarah dan Sarah duduk di depan sedang Nadira dan Evi duduk di belakang.
Sambil berkendara mereka mengobrol
"Ibu sama bapakmu masih mengajar di sekolah Ra?" Tanya Mama Sarah.
"Iya Ma, alhamdulillah masih dipercaya".
"Uda Sertifikasi belum? Tanya Mama Sarah Lagi.
"Belum Ma, masih honor seperti dulu!". Jawab Nadira jujur.
__ADS_1
"Gak nyari kerja yang lain?" Lanjut Mama Sarah.
"Alhamdulillah uda dua minggu ini Bapak sama ibu kerja di pasar Ma". Nadira masih meladeni pertanyaan-pertanyaan Mama Sarah, sedang sarah dan Evi hanya duduk mendengarkan percakapan dua orang itu.
"Rita sama Heru jualan sekarang?" Tanya Mama sarah agak terkejut.
"Enggak Ma, Bapak jadi kuli angkut, sedang Ibu membantu seorang pedagang memilih sayur untuk sayur asam". Jawab Nadira dengan ekspresi biasa.
Tetapi, Mama Sarah, Sarah dan Evi terkejut menanggapinya.
Mendengar mereka terkejut, Nadira menjadi bingung, apakah mereka malu, punya teman anak seorang kuli angkut, itulah pikiran Nadira.
"Maaf!" Hanya itu yang keluar dari mulut Nadira.
"Kenapa minta maaf Ra?" Tanya Mama Sarah
Nadira hanya tersenyum.
"Kamu jangan salah paham Ra, kita hanya terkejut karna itu pekerjaan berat dan kasar." Mama Sarah menjelaskan takut Nadira meras tersinggung.
"Iya Ra, aku Salut sama bapakmu Ra, meskipun dia seorang guru, tapi dia tidak malu melakukan pekerjaan Kasar seperti itu?" Evi baru mengeluarkan suaranya semenjak kedatangan Mama Sarah.
"Awalnya kami menentang keinginan Bapak itu, bukan karna kami malu, tapi kami kasihan dan tidak tega melihat bapak bekerja keras seperti itu, Namun tekat bapak sepertinya sudah sangat kuat, kami sampai berdiskusi panjang, tapi kemudian kami putuskan untuk membiarkan bapak mencoba terlebih dulu" Nadira menceritakan dengan ekspresi sendu.
"Kalian masih mau kan berteman dengan aku walaupun hanya seorang anak kuli angkut?" Tanya Nadira, dia merasa tidak enak jika Sarah dan Evi merasa malu.
"Astaghfirullah Ra, kok mikir gitu sih!, Bahkan jika kamu hanya anak seorang pemulung kami akan tetap berteman dengan kamu Ra!" Sarah menekan kata-katanya.
"Lagian juga Ra, rugi orang yang gak mau temenan sama kamu, uda pintar, rajin, suka menolong dan baik hati lagi". Evi menyambung perkataan Sarah.
"Terima Kasih Sarah , Evi" Nadira berkata dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi ada satu sih yang kadang aku sebel, Kalau mode ustadzahnya keluar, kita bakalan denger ceramah agama panjang kali lebar, gak berhenti sampai kira turutin kemauan dia, Hahahah" Evi berkata sambil tertawa, karna dia yang paling sering kena ceramah, kalau gak Nadira yah Sarah yang ceramah untuknya.
"Hahaha" Mereka tertawa bersama mendengar kata-kata Evi.
"Makanya Vi, kalau gak mau diceramahi, kamu yang ceramah, biar kami yang dengar!" Celetuk Sarah.
"Ogah, bukannya dapat pahala malah dapat dosa aku, karna bukannya mengajak kepada kebaikan, malah mengajak kepada keburukan, kalau aku yang ceramah bukan masuk surga malah masuk neraka kita" Jawab Evi.
__ADS_1
"hahahah" mereka kembali tertawa.
Tidak lama setelah itu, Mama Sarah datang dengan banyak kantong plastik yang dia bawa.
"Beli apa sih Ma, banyak banget?" Tanya Sarah.
"Ada Deh...?" Jawab Mama Sarah yang langsung melajukan mobilnya.
Hari itu Nadira menjadi penunjuk arah kerumahnya, sebenarnya arah rumah Nadira tidak terlalu sulit, hanya lurus saja, yang agak membingungkan ketika jalan masuk kompleknya, karna ada benyak perumahan di daerah tersebut.
Setelah setengah Jam, mereka sampai di rumah Nadira.
"Buk Rita yang dari tadi mondar mandir menunggu Nadira, bingung karna ada mobil yang berhenti di depan rumahnya.
"Assalamualaikum" Mama Sarah turun dari mobil dan mengucapkan salam kepada Buk Rita.
"Waalaikum salam" Jawab Buk Rita yang masih belum bisa mengenali Mama Sarah, karna dia masih fokus kepada Nadira yang belum pulang.
Saat melihat Nadira turun dari mobil, barulah Buk Rita bosa bernafas dengan lega, karna Nadira baik-baik saja.
"Rita!" Panggil Mama Sarah.
"Bu Arma!" Buk Rita baru mengenali Mama Sarah.
"Aduh kamu Rita, uda deh gak usah panggil aku begitu, dari dulu juga aku bilang panggil Arma aja, biar gak terlalu formal." Jawab Mama Sarah yang sedikit kesal, karna Buk Rita masih memanggilnya dengan sebutan bu.
"Maaf Mba Arma, uda terbiasa, jadi tidak mudah merubahnya!" bela Buk Rita.
Mereka pun bersalaman, lalu Sarah dan Evi juga ikut menyalami Buk Rita.
"Wah Naka sarah, tambah cantik aja!" Puji Buk Rita.
"Alhamdulillah Buk!" Jawab Sarah.
"Ini pasti Evi yah!" tanya Buk Rita kepada Evi.
"Iya Buk, pasti Nadira banyak cerita tentang aku kan buk?" Evi langsung nyerocos dia kembali kepada mode biasanya.
"Hehehe" mereka tertawa mendengar Evi yang langsung nyerocos.
__ADS_1
"Ya udah mari masuk dulu!". Buk Rita mengajak tamu-tamunya sore itu untuk masuk ke dalam rumahnya.
"