
Sampai di toko obat tersebut, Beruntung ibu yang ingin membeli obat tadi masih ada di sana, dan masih bertanya-tanya tentang obat yang dia maksud sebelumnya.
Farhan langsung pura-pura mencari obat yang berada di dekat ibu tersebut.
Kek Suryo yang mendekati Farhan, tidak sengaja mendengar percakapan ibu itu dengan penjaga tokonya, yang menjelaskan tentang obat pasca operasi, untuk mempercepat proses pemulihan lukanya.
Setelah ibu itu pergi untuk membayar belanjaannya di kasir, Kek Suryo mendekat ke penjaga toko yang tadi menjelaskan obat pasca operasi dan bertanya juga tentang obatnya,
"Apakah obatnya juga bisa untuk operasi lain, selain operasi sesar Ko?"
"Bisa Pak, operasi apa saja bisa, karna Fungsi obatnya untuk mempercepat proses penyembuhan luka" Jelas penjaga toko tersebut.
"Yah sudah saya beli 3 Biji bisa Ko?" Kek Suryo akhirnya membeli pil tersebut.
"Bisa Kek!" Silahkan bayar di kasir nanti obatnya ambil ke sini bawa kwitansi pembayarannya.
Farhan bersorak dalam hati 'Yes pancingnya tepat sasaran'. Dia mendekat ke arah Kek Suryo yang membayar.
"Ada obatnya Han, biar sekalian Kakek bayar!" Tanyanya kepada Farhan.
Farhan hanya menggelengkan kepalanya.
"Belum ada yang Farhan butuhkan Kek!" Kilahnya.
"Nanti kamu telpon Nadira, tanya alamatnya, Kalau sudah tahu anterkan obat ini kepada Bapaknya!" Perintah Kek Suryo saat mereka sudah di luar toko.
"Kenapa gak Kakek Aja langsung kesana mengantarkan sendiri, sekalian menjenguk orang sakit Kek, biar dapat pahala berlipat!" Usul Farhan.
"Ya sudah, kalau begitu tanya saja sekarang, biar sekalian kita antar obatnya!" Perintah Kek Suryo lagi.
__ADS_1
"Gak Usah Kek, Farhan tahu alamatnya kita langsung kesana aja!" Ajak Farhan dengan senyum di bibirnya, karna rencananya berhasil.
Flashback Off.
"Nanti Biar Reza dan Sam sendiri yang ambil kesini, Kan besok hari minggu, paling besok mereka ambil!" Jawab Farhan.
"Yah sudah Kalau begitu Nadira tunggu di rumah aja!" Jawab Nadira.
Farhan hanya menganggukkan kepalanya dan masuk ke belakang kemudi mobil.
Mobil Kek Suryo pun berlalu, Nadira dan Buk Rita masuk ke dalam rumah, saat masuk mereka melihat Pak Heru sedang meminum obatnya!.
"Itu apa Buk" Tanya Pak Heru yang melihat Buk Rita.membawa paper bag.
"Ini obat cina dari Pak Suryo, Pak!" jawab Buk Rita dan menjelaskannya kepada Pak Heru, seperti penjelasan Kek Suryo barusan.
"Kalau 3 jam, berarti bapak harus meminumnya sekitar pukul 10.30 yah Buk!, Otomatis Bapak tidurnya telat ini!" Ujar Pak Heru.
Bener juga Buk, Ya sudah kalau begitu bapak minum obatnya bangun tidur aja, tapi nasinya disediakan dari malam ini yah Nak, biar besok sebelum minum obat bapak bisa makan dulu" Pak Heru memberi tahu Nadira yang sedang memasak nasi lagi, karna nasi dia memasak sore tadi hampir habis, tidak akan cukup untuk dia, Buk Rita dan Naufal makan, sekalian dia mau menggoreng ikan asin lagi, karna ikan asinnya tadi juga sudah habis.
Keesokan harinya, setelah sholat tahajjud, Pak Heru meminta makan kepada Buk Rita karna dia ingin segera makan obat yang di beri Kek Suryo semalam, dia sangat tidak sabar untuk sembuh agar bisa beraktifitas seperti biasanya.
Selama masa penyembuhan itu walaupun, agak sulit bergerak terapi Pak Heru tetap melaksanakan tahajjud seperti biasanya, karna dia merasa ada yang kurang jika tidak melaksanakannya.
"Nanti habis sarapan sekitar pukul 7 baru meminum obat yang dari dokter!" Buk Rita mengingatkan Pak Heru.
"Insyaallah Buk!". Jawab Pak Heru.
"Pak, nanti siang ibu ke pasar buat bantu Mbah Wati lagi, Bapak sam Nadira lagi yah!" Buk Rita meminta izin untuk bekerja di pasar lagi, karna hari itu adalah hari minggu lumayan untuk menambah penghasilan dan memperoleh sayur-sayuran yang bisa dimasak walaupun cuma sisa, yang terpenting tidak harus mengeluarkan biaya, apalagi sekarang mereka harus berusaha menabung untuk menebus mahar Buk Rita yang tergadai di pegadaian.
__ADS_1
"Iya Buk, Maaf, karna Bapak sakit, ibu harus bekerja sendirian!" Ucap Pak Heru sendu. Dia merasa bersalah karna seharusnya sebagai kepala keluarga dia yang mesti mencari nafkah, tapi dengan keadaannya sekarang, dia bingung bagaimana caranya dia dapat mencari pekerjaan tambahan.
"Tidak apa-apa Pak, selagi ibu bisa, ibu akan lakukan, lagian ini juga bukan keinginan bapak, semuanya adalah ujian, Ujian untuk Bapak, seberapa Syukur akan nikmat sehat dariNya, Ujian buat Ibu, seberapa berbakti ibu kepada Bapak, ujian juga buat anak-anak, seberapa berbakti mereka kepada kita, Kita sama-sama menguatkan diri dan iman saja, semoga Allah memberi kemudahan pada setiap kesusahan dan membantu kita semua melewati ujian ini dengan kesabaran" Buk Rita menutup kata-katanya dengan doa.
"aamiin" Jawab Pak Heru mengamini do'a istrinya.
Dia merasa sangat bersyukur mendapatkan istri seperti Buk Rita, walaupun hidup dalam kesederhanaan bahkan sering kali kekurangan Buk Rita jarang mengeluh, walaupun dia mengeluh tapi dia tidak pernah menyalahkan atau merendahkan suaminya dalam setiap keluhannya.
Sekitar Pukul 6 setelah sarapan Buk Rita dan Naufal berangkat ke pasar, sedang Nadira seperti biasa menemani Pak Heru di rumah.
"Jangan lupa Nak, nanti pukul 7 berikan bapak obat yang dari dokter yah!" Pesan Buk Rita kepada Nadira sebelum berangkat ke pasar.
"Insyaallah Buk!" Jawab Nadira meyakinkan Buk Rita, agar Buk Rita bisa fokus dalam bekerja nanti.
Sementara Buk Rita bekerja di pasar, Nadira membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang mereka.
Setelah selesai dia mendekati Pak Heru dan membawakan obat dokter yang harus diminum Pak Heru.
"Pak besok bapak mengajar di kelas mana aja Pak?" Tanya Nadira saat Pak Heru sudah selesai mengahbiskan obatnya.
"Kalau senin biasanya Bapak mengajar di kelas 9c, di kelas itu bapak akan mengajar 2 jam pelajaran Nak!" Jawab Pak Heru.
"Duh Nadira kok ngeri-ngeri sedap Pak, mendengar kelas C ini". Sahut Nadira.
"Loh kenapa begitu "C" singkatan dari Cerdik Nak! Ucap Pak Heru penuh arti.
"Cerdik ini gak seperti Kancil yang Cerdik kan Pak?" Tanya Nadira yang sudah mengerti sedikit-sedikit.
Sejauh pengalaman Nadira selama belajar di sekolah itu, kelas C adalah kelas yang paling super, super dalam artian yang kurang baik. Jika yang dimaksud Pak Heru Cerdik seperti kancil, maka Nadira harus menyiapkan mental untuk mengajar si kelas tersebut.
__ADS_1
" Hehehe" Pak Heru tersenyum mendengar pertanyaan Nadira.
"Insyaallah kami bisa Nak, kelas itu juga yang wali kelasnya Bapak sendiri, jangan terlalu khawatir, anggap saja mereka teman-teman kamu, besok juga, Jangan mengajar dulu kenalan aja, di ajak cerita-cerita, karna mereka adalah anak-naka yang berfikir nya sederhana saja, jadi gak bakalan mau kalau di suruh berfikir sesuatu yang kompleks" Lanjut Pak Heru memberi tahu Nadira.