
Berangkat dari rumah Nadira, mereka masih seperti saat mereka pergi, namun saat keluar komplek yang menuju jalan besar, tiba-tiba motor yang dikendarai Reza berhenti di depan motor yang dikendarai Sarah.
"Ya ampun Kak, kenapa berhenti di depan motor kita sih?, Untung gak sampai jatuh nih!"Omel Evi yang terkejut.
"Woi Ember Bocor, gak usah banyak protes sekarang turun dari motor aku!" Perintah Sam.
"Gak mau" Jawab Evi.
"Ih Dasar nih anak, mau bikin gara-gara mulu!" Seru Sam
"Dek, kita aja yah yang bawa motor, terserah siapa yang mau ikut kakak dan siapa yang mau ikut Kak Sam". Ucap Reza.
"Gak apa-apa Kak, kita aja yang bawa !" Jawab Sarah.
"Ih Dasar nih cewek-cewek, udah deh kita aja yang bawa, uda cukup kita bersabar pas berangkat tadi, kalian bawa motor kayak bebek aja, bisa sore kita sampai rumah!" lanjut Sam.
"Oh ya sudah Kak, gak apa-apa kalau begitu kami naik angkot aja, biar kakak-kakak gak telat pulangnya!" Usul Sarah.
"Naik dulu aja, aku mau mengajak kalian makan di cafe yang dekat kampus!" Tawar Farhan yang menengahi perdebatan empat orang tersebut.
Mendengar kata Cafe, Evi langsung berbinar dan mengajak Sarah.
"Yuk Sar kapan lagi bisa nongkrong di cafe dibayarin lagi!" Bujuk Evi.
Sarah terdiam sejenak,
"Boleh, tapi kamu yang ikut Kak Sam, aku ikut Kak Reza!" Jawab Sarah.
Motor Sam lebih kecil dari pada motor Reza, jadi Sarah memilih naik motor Reza, agar jarak dia dan Reza tidak terlalu mepet.
Dengan wajah yang di tekuk, Evi naik di belakang Sam.
"Ember Bocor, itu bibir ditarik ke belakang jangan kayak bebek manyun aja!" Ejek Sam yang merasa lucu melihat Evi.
"Biarin!" Jawab Evi yang kesal karna harus naik satu motor dengan Sam.
"Yah sudah jangan marah yah kalau nanti tuh bibir nyosor aku, kalau ngerem mendadak!". lanjut Sam yang masih menggoda Evi.
" Ih amit-amit deh!" Jawab Evi.
Tidak Sampai satu jam, mereka sampai di cafe yang dituju Farhan.
__ADS_1
"Untung kita yang bawa, jadi bisa cepat sampainya,kalau masih kalian yang bawa, bisa - bosa maghrib masih di jalan kita". Sam berkata ketika mereka sudah duduk.
"Lambat-Lambat asal selamat Kak Samsudin!" Setu Evi.
"Lah kita tadi cepat, tapi masih selamat!, Kalau bisa dipercepat kenapa haru di perlambat, kalau ada yang cepat kenapa pilih yang lambat!" Jawab Sam yang tak mau kalah.
"Dengan pelan kita bisa menikmati prosesnya Kak, kalau cepat belum menikmati apa-apa uda sampai aja!" Jawab Evi yang juga tak mau kalah.
Perdebatan mereka terjedah, saat ada pelayan yang mendekat dan menanyai pesanan mereka.
Setelah membuat pesanan masing-masing, mereka kembali mengobrol.
"Kalian sudah lama kenal Nadira?" Tanya Farhan.
"Kalau akau sih baru pas kuliah ini aja, Kak, karna kami teman satu kelas, kalau Sarah teman satu SMA jadi yang lama berteman dengan Nadirah yah si Sarah". Jawab Evi panjang Lebar.
"Dasar. ember bocor, orang nanya cuma 1centi dia jawab 1 meter." Seru Sam yang mendengar jawaban Evi.
"Sudah Sam!" Tegur Farhan.
Sam lalu diam, dan tak lama pesanan mereka tiba, mereka makan dan terus mengobrol.
"Jadi Nadira itu sudah lama seperti itu?" Tanya Farhan lagi.
"Hemm bagaimana yah mengatakannya" Farhan mencari kata yang tepat untuk mengutarakan keingin tahuannya.
"Hidup Sederhana seperti itu?" Tanya Farhan yang baru menemukan kata-kata yang tepat.
"Iya Kak, dari semenjak pertama aku kenal, bahkan ceritanya dari mulai orang tuanya menikah mereka sudah hidup dalam kesederhanaan, sekarang itu namanya lumayan bagi mereka, dibanding sebelumnya." Jawab Sarah.
Sarah pun menceritakan kehidupan Nadira bahkan kedua orang tuanya, pekerjaan mereka penghasilan mereka dan perjuangan Nadira untuk kuliah!.
"Gila, Jadi si Nadira jalan kaki dari kampus ke rumahnya setiap hari?" tanya Sam yang merasa tidak percaya.
"Iya Kak," Jawab Sarah.
"Kak Samsudin, kalau gak percaya samPak Herua cerita kami yah gak usah protes juga kali!" Rutuk Evi yang kesal karna Sam tidak percaya.
"aku bukannya tidak percaya Ember bocor, aku hanya mengungkapkan ketakjubanku" Bela Sam.
"Lihat kalian pakai motor pelan saja, aku seperti cacing kepanasan apalagi jika harus berjalan kaki sejauh itu, Keren sungguh si Nadira itu" Lanjut Sam.
__ADS_1
"Makanya kau kesel banget sama Kak Sasa yang selalu merendahkan Nadira, mentang-mentang punya uang, dia bertindak sesukanya, jika bisa memilih mungkin Nad-ra juga ingin mempunyai kedua orang tua yang berkecukupan sehingga dia tidak perlu menahan diri dalam kesederhanaan".
Mendengar semua cerita Sarah dan Evi, Farhan bertambah kagum kepada Nadira, dia sungguh ingin mengenal Nadira lebih dekat lagi.
"Kalian sudah selesai?" tanya Farhan kepada teman-temannya termasuk Sarah dan Evi.
"Alhamdulillah sudah Kak?" Jawab Sarah.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau kita besok pergi ke rumah Nadira lagi, sekali ini kita pergi dengan niat menengok orang sakit, karna hari ini kita seperti bukan menengok orang sakit!" Ajak Farhan.
"Oke Kak, aku mau!" Evi langsung menjawab dengan bersemangat.
"Tapi habis zuhur dan makan siang aja yah Kak, karna aku masih ada mata kuliah sampai zuhur!" pinta Sarah.
"Iya Baiklah, sekarang kalian mau pulang atau belum?" Tanya Farhan.
"Kami mau pulang aja Kak, mau istirahat" Jawab Sarah.
"Ayuk Kakak antar sampai depan kosan!" Tawar Reza.
"Gak usah Kak, Kosan kita dekat dari sini kami jalan kaki aja!" Tolak Sarah halus.
"Beneran gak nyesel?" Celetuk Sam!
"Justru kalau dianter Kak Sam kami bakal menyesal". Jawab Evi.
"Yah sudah kalau begitu silahkan jalan kaki sana!" Sahut Sam.
Sarah dan Evi pulang duluan sedang Reza , Farhan dan Sam masih duduk di Cafe melanjutkan obrolan mereka.
"Ih beneran aku gak nyangka zaman sekarang masih ada yang hidup serba kekurangan kayak Nadira!" Sam mengeluarkan kata-kata yang dipendamnya semenjak mendengar cerita Sarah tadi.
"Betul Sam, yah mungkin kita hanya bergaul dengan orang-orang yang berada di lingkungan kita, jadi kita tidak pernah tahu tentang lingkungan yang lainnya!" Timpal Reza.
Sedang Farhan hanya diam, dia berfikir apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Nadira.
Melihat Farhan yang melamun, Reza dan Sam sling tatap dan bertanya-tanya, tidak biasanya Farhan melamun.
"Farhan... Farhan..." Sam memanggil Farhan untuk menyadarkan ia dari lamunannya.
Farhan terkejut. "Iya Kenapa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Kamu mikirin apa sih? , Serius amat!" Tanya Sam.
"Aku lagi mikirin giman Cara membantu Nadira, sedang dia sudah sering kita repot kan!" Jawab Farhan jujur.