Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Biaya Perawatan


__ADS_3

"Waalaikum Salam" Pak Heru dan Nadira menjawab salam yang menyadarkan Pak Heru dari lamunannya.


"Kak Farhan" Safa Nadira.


Farhan tersenyum. "Iya Nadira, Maaf Pak, saya mengganggu!" Ucap Farhan yang merasa tidak enak kepada Pak Heru karna sering datang kesana.


"Tidak apa-apa Nak Farhan, saya justru senang, Kamu datang ke sini, jadi saya tidak merasa kesepian" Jawab Pak Heru agar tidak membuat Farhan merasa tidak enak.


"Ini Ra, ada nasi kotak, tadi niatnya membelikan Kakek, tapi ternyata mami datang dan membawa nasi dari rumah, jadi sayang kalau terbuang gak dimakan, jadi mubazzir" Farhan berkata sambil menyerahkan satu kotak nasi berisi ikan lele goreng.


"Aduh, Kak Farhan terima kasih yah!" Jawab Nadira menerima nasi pemberian Farhan.


Untung saja Farhan mengetahui kalau Nadira tidak menolak kalau sudah ada kata mubazzir, kalau tidak pasti akan ada persebatan panjang baru Nadira akan menerima nasi tersebut.


"Sama-sama seharusnya saya yang berterima kasih, karna kamu mau menerimanya, kalau tidak, kami akan terkena dosa Mubazzir!" Ucap Farhan


"Mendengar perkataan Farhan Pak Heru dan Nadira tertawa".


"Oh iya Nak, bagaimana keadaan Nenekmu?" Pak Heru bertanya.


"Alhamdulillah gula darahnya sudah mulai turun Pak, kalau stabil besok sudah bisa pulang!" Jawab Farhan


"Semoga segera stabil yah Nak!" Do'a Pak Heru.


"Aamiin". Jawab Farhan dan Nadira bersamaan.


Setelah itu Farhan izin pamit pergi ke ruang neneknya lagi.


"Makanlah Nak!" Seru Pak Heru kepada Nadira.


Nadira mulai makan, tetapi dia membagi nasi dan ikan lelenya menjadi dua bagian untuk makan paginya besok.


Dia mensyukuri nikmatnya malam ini, Allah selalu memberi rezekinya dengan cara yang indah, kita hanya perlu bersabar dan bersyukur.


Setelah Nadira makan, ada perawat yang datang


"Karna sudah 24 jam, jadi kateternya kami buka yah Pak, bapak kalau mau buang air, gak apa-apa berjalan pelan-pelan!" Ucap perawat yang bertugas membuka kateter Pak Heru.


"Terima kasih Dek!" Ucap Pak Heru.


Setelah kepergian perawat itu, Pak Heru bertayammum dan sholat isya, Sedang Nadira ke masjid untuk sholat isya.


Keesokan paginya, Dokter datang memeriksa Pak Heru sekitar pukul 10.00.

__ADS_1


"ini jahitannya sudah bagus, kalau Bapak sudah tidak ada keluhan lagi, besok bisa pulang!" Ucap Dokter itu kemudian berlalu dan memeriksa pasien yang lain.


"Alhamdulillah Pak, semoga bisa segera sembuh" Ucap Nadira bahagia.


Sedang Pak Heru, terlihat khawatir, dia memikirkan biaya perawatannya selama beberapa hari itu, dia bingung uang dari mana untuk membayarnya, sedangkan mereka tidak mempunyai Jaminan Kesehatan.


"Bapak kok seperti tidak bersemangat begitu?, apa bapak masih betah di sini, hehehe" Ucap Nadira sambil bercanda.


"Kamu itu Ra, mana adalah orang betah di Rumah Sakit, seenak-enaknya di Rumah Sakit, masih tetap enak di rumah, karna kalau di rumah kan setidaknya kita sehat, kalau di rumah sakit, yah namanya juga rumah sakit, berarti tempat tinggal untuk orang yang sakit dong!" Jawab Pak Heru panjang lebar.


"Hehehe. Iya Pak". Nadira tersenyum.


Begitu sore tiba, Buk Rita datang bersama Naufal, mereka langsung ke rumah sakit begitu pulang dari sekolah.


Nadira menceritakan pertemuan mereka dengan Dokter dan mengatakan penjelasan Dokter tadi pagi.


"Kalau begitu malam ini kalian saja yang pulang, biar ibu yang menjaga bapak di sini, sekalian besok ibu mengurus kepulangan Bapak". Buk Rita berkata.


"Iya Buk, kalau bisa sekarang ibu ke bagian administrasi untuk menanyakan berapa tagihan biaya rumah sakit!" Perintah Pak Heru yang memendam kekhawatirannya dari radi.


"Baiklah Pak!" Jawab Buk Rita yang langsung pergi ke ruang administrasi.


"Maaf Mba, saya mau bertanya total tagihan atas pasien Heru Wahyudi" Ucap Buk Rita kepada bagian Administrasi rumah sakit.


Setelah menunggu beberapa waktu, petugas tersebut memanggil Buk Rita.


"Buk, besok pulangnya yah?" tanyanya.


"Insyaallah Mba!" Jawab Buk Rita.


"Total semuanya, tujuh belas juta lima ratus empat puluh lima ribu rupiah".


Buk Rita terkejut mendengar nominal yang disebutkan petugas.


"Mau di bayar sekarang atau besok?". Tanya petugas.


"Maaf Mba, bisakah kami membayar separuh dahulu!" Tanya Buk Rita.


"Iya bisa Buk, tapi saat akan meninggalkan rumah sakit harus lunas, kalau belum dilunasi maka tidak bisa meninggalkan rumah sakit". Jawab petugas tersebut.


Sebenarnya Buk Rita bermaksud untuk membayar separuh saat meninggalkan rumah sakit, tapi karna tidak bisa, diapun mengurungkan niatnya.


"Besok saja Mba'" jawab Buk Rita.

__ADS_1


Buk Rita berjalan tidak sambil berfikir, sehingga dia tidak foous dan hampir saja terjatuh, beruntung saat itu Farhan lewat dan menahan tubuh Buk Rita.


"Astaghfirullah" Buk Rita beristighfar.


"Terima kasih... Eh Nak Farhan" Saat melihat orangnya Buk Rita baru sadar kalau Farhan yang menolobgnya.


"Ayo duduk dulu buk!, Sepertinya ibu kecapekan!" Farhan meninjuk sebuah bangkunpanjang di lorong rumah sakit.


Buk Rita mengannguk dan mengikuti langkah Farhan.


"Ibu dari sekolah, langsung kesini?" tanyanya.


"Iya Nak, belum sempat istirahat, ibu terlalu senang mendengar kabar kalau besok Bapak bisa pulang, jadi langsung ke administrasi menanyakan biaya perawatan bapak selama do rumah sakit" Jawab Buk Rita.


"Ibu, tidak menggunakan jaminan kesehatan dari pemerintah?" Tanya Farhan.


"Tidak Nak, kami hanya guru honorer jadi tidak punya jaminan kesehatan dari sekolah, kalau buat mandiri, takutnya tidak bisa membayar perbulannya!" Jawab Buk Rita dengan nada sedih.


Jauh di lubuk hatinya dia berfikir bagaimana untuk membayar biayanya.


Farhan menyadari kekhawatiran Buk Rita, dan dia dapat membaca apa yang dipikirkan Buk Rita saat ini.


Farhan mengetahui keadaan rumah, dan keuangan Nadira dan keluarganya dari cerita Sarah waktu Nadira Sakit.


Dan sekarang mereka harus membayar biaya rumah sakit yang tentunya tidak sedikit karna Pak Heru menjalani operasi.


"Ibu minum duu!" Farhan menyodorkan sebotol minuman kepada Buk Rita.


"Terima Kasih Nak, bagaimana keadaan Nenek Nak Farhan? masih di rawat?" tanya Buk Rita kepada Farhan.


"Alhamdulillah sudah turun buk gula darhnya, dan sekarang saya lagi mengurus berkas untuk keluar dari rumah sakit" Jawab Farhan.


"Wah, maaf kalian sedah sering menjenguk kami, tapi kami tidak pernah menjenguk barang sekalipun!, bahkan sekarang sudah mau pulang." Sesal Buk Rita.


"Tidak apa-apa Buk, memang Nenek sudah biasa seperti itu, mohon doanya saja biar nenek gula darahnya stabil terus, jadi gak perlu di rawat lagi" jawab Farhan.


"Aamiin" Jawab Buk Rita


"Terima kasih Nak, sudah menolong ibu, dan memberikan ibu minum, Ibu mau ke ruang rawat bapak lagi, takutnya beliau khawatir karna ibu kelamaan perginya". Pamit Buk Rita.


"Kita bareng aja Buk, saya juga mau ke ruang rawat Nenek, karna urusannya sudah selesai". Ajak Farhan.


Mereka berjalan bersama menuju ruang rawat keluarga mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2