Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Ke Rumah Sakit Lagi


__ADS_3

Pak Heru bangun bersamaan dengan dukun Seri yang keluar dari kamar, dan yang menungguinya adalah Naufal.


"Bagaiman Pak Heru sudah enakan?" Tanya dukun Seri.


"Alhamdulillah, sudah mendingan Mas!" Jawab Pak Heru.


Buk Rita dan Nadira yang selesai makan segera memasuki rumah dengan membawa dua nasi bungkus.


"Ini Pak, dimakan ada dua nasi bungkus tadi kami beli, silahkan!" Buk Rita menyodorkan satu bungkus nasi kepada dukun Seri.


"Terima kasih Buk, Pak Heru kalau mau makan juga silahkan tapi jangan langsung makan sekaligus yah Pak, sedikti-sedikit aja, takutnya nanti ususnya menekan lagi!" Nasihat dukun Seri.


Dukun Seri membawa nasinya kebelakang dan makan di belakang sedang Pak Heru makan sambil duduk di tempat dia di pijat sebelumnya.


Pak Heru hanya makan sedikit, selain karna perintah dukun Seri dia memang agak kurang nafsu makan karna rasa sakit yang dia tahan dari tadi.


"Pak Heru sebaiknya malam ini, menginap saja di sini dulu, karna jalan keluar daerah ini banyak lobang nya, jadi tidak baik untuk bapak yang baru saja saya naikin perutnya!" Perintah dukun Seri.


Pak Heru berpandangan dengan Buk Rita, dan melihat ke arah Naufal dan Nadira.


"tidak apa-apa Mas, kami pulang saja, rumah di tinggal dari pagi, tidak ada yang mengurus kalau kami di sini" Tolak Pak Heru.


Dukun Seri memahami jika Pak Heru tidak enak hati untuk menginap di sana, jadi dukun Seri tidak memaksa.


"Bagaimana maharnya Pak?" Tanya Buk Rita, saat hendak pamit kepada dukun Seri.


"Seikhlasnya saja Buk, cuma saya minta tolong, Mas yang muda ini belikan saya Garam kasar sama merica sebagai syaratnya!" Pinta duku Seri.


Naufal pun segera pergi ke warung untuk membeli garam kasar dan sedikit merica.

__ADS_1


Setelah menyerahkan permintaan dukun Seri, Pak Heru sekeluarga pamit sambil menyerahkan sebuah amplop yang berisi 50 Ribu


"Maaf Pak, tidak bisa memberi lebih" Buk Rita berkata sambil menyerahkan amplopnya.


Dukun Seri hanya mengangguk dan tersenyum.


Pak Heru berjalan dengan lambat, karna dia masih merasakan sakit di perut dan bagian bawahnya. Sampai di depan dia duduk sambil menunggu angkot.


Hari yang perlahan sore, membuat suasana semakin hening, Pak Heru sekeluarga juga masih berada dalam keheningan dengan pikiran mereka masing-masing.


Tak lama angkot datang mereka naik angkot dengan Naufal yang membantu Pak Heru naik ke dalam angkot.


Baru beberapa menit berjalan angkot sudah melintasi jalan berlobang, angkot pun terhentak dan mengejutkan Pak Heru, yang merasa ada yang berubah dalam perutnya.


Tidak berapa lama angkot pun melewati lobang lagi, setiap kali angkot terhentak Pak Heru merasa perutnya kembali sakit bertambah lama rasa sakitnya bertambah parah, dan saat keluar dari jalan daerah P, sampai di jalan kota, wajah Pak Heru memucat karna dia menahan rasa sakit lagi.


Buk Rita menyadari perubahan wajah suaminya, keringatnya juga sudah bercucuran.


Mendengar suara Buk Rita sontak Naufal dan Nadira menoleh ke arah Ibu dan Bapaknya.


"Buk, rasanya sakit lagi seperti saat sebelum di urut Mas Seri tadi" Jawab Pak Heru terbata karna menahan rasa sakit.


"Aduh gimana ini Pak?, kembali ke rumah dukun Seri, sudah jauh ini!" Jawab Buk Rita yang panik.


Penumpang di dalam angkot berkata


"Kalau Bapak sakit Buk, di depan ada rumah sakit, sebaiknya mampir kesana aja, kasihan bapaknya sudah pucat begitu!" Ujarnya yang simpati melihat Pak Heru.


"Iya Buk, sebaiknya kita ke rumah sakit aja, paling tidak ada obat yang bisa diberikan ke bapak, dan kalau ada dokternya bisa segera ditangani, kasihan bapak buk!" Nadira berkata dengan rasa ingin menangis namun ditahannya karna tidak ingi memperkeruh suasana.

__ADS_1


Buk Rita masih terdiam tanpa berkata,dia sedang berfikir jika ke rumah sakit maka pilihannya adalah operasi, sedang dia takut mendengar penjelasan orang yang di sebelahnya saat di rumah sakit sebelumnya.


Saat melihat ke arah Pak Heru yang begitu kesakitan Buk Rita juga tidak tega, akhirnya dia menyetop kan angkotnya di depan rumah sakit yang ditunjuk oleh penumpang sebelahnya tadi.


Mereka masuk ke ruang UGD, sama seperti di rumah sakit sebelumnya.


Nadira dan Naufal menunggu di luar, Buk Rita mengikuti Pak Heru masuk ke dalam.


Saat diperiksa Dokter, Buk Rita menceritakan semua dari awal sampai mereka datang ke rumah sakit itu.


"Waduh Buk, itu bahaya, lain kali kalau dokternya sudah memberi saran, jangan diabaikan karna bisa berakibat fatal Buk, memang semua terjadi atas kehendak yang kuasa, namun tindakan kita akan menentukan jalan untuk menerima kehendaknya dengan cara yang mudah atau sulit". Nasihat Dokter saat mendengar cerita dari Buk Rita.


"Jika ibu mengizinkan sebenarnya operasinya hanya sebentar saja dan insyaallah tidak banyak pengaruh untuk Bapaknya, dan setelah itu bapaknya tidak akan merasa sakit lagi". Lanjut Dokternya menjelaskan kepada Buk Rita.


"Saya bukan memaksa Buk, cuma kasihan bapaknya sudah menahan sakit dari pagi dan sekarang sudah menjelang malam" Ucap Dokter sambil melihat ke arah Pak Heru yang menahan sakit.


"Tapi saya berfikir tentang biayanya Dok, karna kami tidak mempunyai jaminan kesehatan Dok!" Jawab Buk Rita masih ragu.


"Buk, biaya bisa dipikirkan nanti, yang terpenting sekarang menyelamatkan Bapaknya dari rasa sakitnya Buk, kasihan sudah sangat sakit itu sepertinya". Dokter masih membujuk Buk Rita, bukan apa-apa dia hanya merasa kasihan melihat Pak Heru.


Buk Rita terdiam, tapi setelahnya dia mengangguk menyetujui, dia langsung menuju ke arah informasi di dalam ruang UGD, setelah menanda tangani beberapa kertas dan menyerahkan KTP nya, Pak Heru segera di bawa ke ruang operasi. Dokternya meminta Buk Rita untuk membawa pakaian ke rumah Sakit , karna mungkin setelah operasi Pak Heru akan merasa kedinginan karna suntikan bius yang dia dapat .


Buk Rita menyuruh Nadira untuk pulang mengurus rumah sebentar dan membawakan pakaian Pak Heru dan Buk Rita untuk menginap di rumah sakit dan dia memberi tahu Nadira dan Naufal bahwa Pak Heru akan di operasi.


Nadira dan Naufal terkejut, tapi jika dokter sudah berkata seperti itu, berarti itu adalah jalan yang ada untuk memberi kesembuhan kepada paka Heru.


"Adek ku temani ibu di rumah Sakit, biar kakak sendiri yang pulang!" Perintah Nadira kepada Naufal.


Naufal hanya mengangguk.

__ADS_1


Buk Rita memberikan uang 10 Ribu untuk ongkos, dan dia menyuruh Nadira membawa sedikit tabungan yang dia simpan di rumah, yang tempatnya dia bisikkan di telinga Nadira.


Nadira pulang dengan naik angkot, dia berusaha untuk cepat bergerak, karna dia ingin menemani keluarganya di saat seperti itu.


__ADS_2