
Sarah dan Evi mengendarai motor diikuti oleh Sam, Reza dan Farhan. Mereka menuju ke rumah Nadira, sepanjang perjalanan Sam mengomel karna Sarah yang membawa motor dengan sangat lamban.
Saat masuk ke komplek perumahan Nadira, Sam, Reza dan Farhan merasa terenyuh, ternyata di pinggiran kota ada perumahan yang sangat sederhana seperti itu.
Mereka baru pertama melihat rumah yang sangat mungil seperti itu, dan sampai di rumah Nadira, mereka malah semakin terenyuh, jika rumah yang lain sudah banyak yang direnovasi, tapi rumah Nadira masih seperti bangunan awalnya, dan terlihat sudah sangat lama.
Mereka memarkirkan motor mereka di depan rumah Nadira.
Tok... tok.... tok...
"Assalamualaikum"
Sarah dan Evi mengucapkan salam.
"Waalaikum salam" Buk Rita yang menjawab salam mereka.
Buk Rita membuka pintu
"Eh Sarah dan Evi" Buk Rita terkejut melihat Sarah dan Evi di depan rumah mereka, dan bingung karna ada tiga orang lelaki di belakang mereka.
"Nadira ada Buk?" Tanya Sarah.
"Iya ada, lagi istirahat karna Nadira demam!" Jawab Buk Rita.
"Sebentar ibu suruh Nadira pakai kerudung dulu!" Buk Rita meminta mereka menunggu di luar sebentar, karna Nadira belum memakai kerudung.
Tidak lama Buk Rita krluat dan menyuruh mereka semua masuk.
"Kamu sakit Ra?" Tanya Evi yang langsung mendekat ke arah Nadira dan duduk di sampingnya.
"Enggak, sehat!" Sam yang menjawab. "Ya iyalah, uda tahu Nadira pucat begitu, masih ditanya?" Lanjut Sam.
"Ish kak Samsudin nyebelin banget sih!" Evi kesal dengan Sam yang menjawab pertanyaannya.
Nadira tersenyum mendengar Evi dan Sam yang tidak pernah akur.
"Badan kamu panas Ra!" Seru Sarah yang memegang dahi Nadira.
"Enggak apa-apa Sar, allah lagi ingin menghapus dosa-dosa aku, mungkin sudah terlalu banyak, jadi allah kasih sakit biar dosanya berkurang". Jawab Nadira yang masih menyunggingkan senyumnya.
Buk Rita membawa air putih di teko dan beberapa gelas lalu diletakkannya di tengah-tengah mereka.
"Diminum dulu Nak, Maaf kami cuma punya air putih!" Buk Rita menawari mereka minum air putih.
"Gak apa-apa Buk, seharusnya kami yang minta maaf, karna kami menengok orang sakit tapi tidak membawa apa-apa!" Jawab Farhan.
"Tidak apa-apa Nak, kalian tahu dari mana kalau Nadira sakit?" tanya Buk Rita yang penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya kami tidak tahu kalau Nadira sakit Buk, tapi agak aneh saja kalau Nadira gak masuk kuliah, pasti ada sesuatu, kami penasaran, karna gak terlalu jauh, jadi kami kesini saja untuk memastikan!" Jawab Sarah.
"Maaf kami gak punya handphone, jadi kami tidak bisa memberi kabar, Bapak sama adek Nadira haris ke sekolah, kalau mau ke kmpus dulu bisa terlambat, jadi yah pasrah saja." Buk Rita menjelaskan keadaan mereka.
"Kalian teman sekelas Nadira?" tanya Buk Rita kepada Farhan, Reza dan Sam.
"Bukan Buk, kami kakak tingkatnya anggota BEM kampus!" Jawab Reza.
"Oh... Ibu tinggal dulu yah, kalian ngobrol saja dulu". Buk Rita pamit dan masuk ke kamar membiarkan mereka mengobrol.
"Iya Buk" Jawab mereka.
"Kamu sudah ke dokter Dek?" Tanya Reza.
"Gak perlu kak, cuma demam biasa, cukup istirahat saja, nanti sembuh sendiri.
Nadira dan keluarganya tidak pernah ke dokter, selama ini jika mereka sakit selalu menggunakan obat-obat tradisional atau obat generik yang dibeli di warung, karna biaya ke dokter tidaklah murah jadi mereka terbiasa berobat dengan obat seadanya.
"Apa yang kamu rasakan Ra?" Tanya Evi.
"Namanya juga Sakit, masa rasanya sehat!" Sahut Sam tanpa merasa bersalah.
"Kak Samsudin, Sakit itu ada bermacam-macam, ada pusing, ada ngilu, ada pegal-pegal, ada nyeri dan lain sebagainya, gita aja harus dijelaskan, aku ragu deh jangan-jangan Kak Samsudin ini ijazahnya dapat di kantin sekolah bukan di dalam kelas!" Sahut Evi yang kesal.
"Kalau di kantin bukan dapat ijazah Ember bocor, kalau di kantin itu dapatnya bakso, gado-gado, gorengan, es teh, es jeruk, jus mangga..."
"Iya deh, atau kalian debat dulu aja di luar, kalau uda selesai baru masuk lagi!" Seru Reza yang juga kesal.
"Gak apa-apa Sarah, Kak Reza, kalau gak hini gak ramai!" Ucap Nadira sambil tersenyum, namun tetap terlihat jika dia sedang menahan sakit.
"Dek, sebenarnya kami tadi nyariin kamu di kampus, karna kami ingin minta maaf sama kamu atas kelakuan Sasa kemarin!" Farhan mengutarakan tujuan mereka.
"Hem iya ini kayaknya karna Kak Sasa yang tarik bahu sama kepala kamu kemarin deh Ra, Dia nariknya kuat banget sampai kamu kebalik gitu badannya!" Evi langsung nyolot mendengar nama Sasa disebut.
"Evi" Panggil Sarah mengingatkan Evi.
Farhan, Reza dan Sam merasa tidak enak karna ucapan Evi.
"Bukan Vi, ini karna Allah yang menaqdirkan aku sakit, Insyaallah ada hikmahnya kok, terima kasih Evi kamu memang sahabat yang perhatian sama aku". Ucap Nadira.
Mendengar perkataan Nadira, Evi langsung tersenyum dan rasa kesalnya terlupakan.
"Aku teman yang gak perhatian yah Ra?" Seru Sarah yang merasa terabaikan sambil memanyunkan bibirnya.
"hehehe, both of you are my best friend" Jawab Nadira sambil tersenyum.
"Hadew dasar cewek kalau uda kumpul" Celetuk Sam yabg melihat tingkah ketiga gadis itu.
__ADS_1
Mereka pun tertawa.
Farhan yang memang memiliki rasa yang berbeda terhadap Nadira semakin kagum dan semakin ingin mengenal Nadira lebih dekat lagi.
Nadira yang hidup penuh dengan kesederhanaan namun penuh dengan kesyukuran tanpa terucap sepatah keluhan.
Melihat Nadira yang masih menahan rasa sakitnya, Farhan mengajak teman-temannya pulang
"Yuk kita pulang dulu, biar Nadira bisa istirahat!"
Mendengar ajakan Farhan, Sarah melihat jam tangannya.
"Iya, Yuk Ra kita pulang dulu yah, kamu banyak-banyak istirahat, biar cepat sembuh oke!" Ucap Sarah yang menyetujui ajakan Farhan dan langsung pamit kepada Nadira.
"Ra kamu cepat sembuh yah, gak enak aku di kelas sendirian!" Ucap Evi.
"Dasar Ember bocor, gak usah kamu suruh juga Nadira pinginnya cepat sembuh, siapa juga yang mau sakit lama-lama" Protes Sam.
"Dasar Kak Samsudin, siapa juga yang menyuruh Nadira, aku itu mendoakan tau!" ucap Evi tak mau kalah.
"Mulai lagi!" timpal Reza.
Mereka tertawa.
"Kami pulang dulu Dek, semoga cepat sembuh yah!" Pamit Reza.
"Terima Kasih Kak!" Jawab Nadira.
Sedang Farhan, dia hanya mengaggukan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun sebagai tanda pamit.
Dan Nadira juga menganggukkan kepalanya kepada Farhan.
"Buk, kami pamit mau pulang!" Sarah ijin kepada Buk Rita.
Buk Rita keluar dari kamar
"Sudah mau pulang?" Buk Rita berbasa -basi,
"Iya Buk" Jawab mereka.
"Terima Kasih yah sudah meluangkan waktu menjenguk Nadira, maaf tidak bisa menyambut dengan layak!" Ucap Buk Rita kepada mereka.
"Sama-sama Buk, kami juga minta maaf karna sudah merepotkan!" Ucap Farhan sopan.
Farhan memang lelaki yang cuek, tapi kalau sudah berhadapan dengan orang yang lebih tua maka dia akan sangat ramah dan santun.
Mereka menyalami Buk Rita satu persatu dan mengucapkan salam.
__ADS_1