Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Acara Pengajian


__ADS_3

Nadira ikut Evi dan Sarah ke kosan mereka, Sesampainya di sana, Sarah melaksanakan sholat zhuhur dahulu setelah itu mereka makan bertiga.


Saat jam hampir menunjukkan pukul 14.00 Sarah dan Nadira segera bersiap-siap sedang Evi masih rebahan aja di kamar.


"Beneran Vi gak mau ikut?" Tanya Sarah memastikan.


"Coba aja dulu Sekali Vi, nanti kalau sudah di coba baru putuskan mau ikut lagi atau enggak!" Usul Nadira.


Ebi menjadi galau, kedua sahabatnya akan pergi, sedang dia sendirian di kosan, dia memikirkan usul yang diutarakan oleh Nadira.


"Ya udah deh, aku coba dulu satu kali". Jawab Evi pada akhirnya.


"Nah gitu dong vi" Jawab Nadira dan Sarah berbarengan. Mereka tertawa karena menyadari ucapan mereka yang bersamaan dengan kata yang sama tanpa janjian.


"Kayaknya kalian memang bestie yah, sampai bisa berbarengan gitu" Seru Evi.


Setelah siap,mereka berangkat bersama menuju mushollah kampus untuk mengikuti pengajian yang diadakan oleh LDK.


Saat sampai Nadira melihat Kak Risma duduk di kursi tempat masuk mushollah.


"Assalamualaikum Kak Risma" Nadira mengucapkan salam.


"Waalaikum salam, eh Nadira, alhamdulillah kamu bisa datang, sama siapa?"


"alhamdulillah kak, sama teman kak, dua orang" Jawab Nadira


"Daftar dulu yah! Tulis Nama, semester, Fakultas dan program studi!" Seru Risma sambil menyodorkan Buku folio ke arah Nadira.


"Baik kak."


Nadira sudah selesai mengisi daftar diikuti oleh Sarah dan Evi.


"Silahkan masuk dan duduk di dalam yah adek-adek!" Ucap Risma kepada mereka.


Nadira, Sarah dan Evi masuk ke dalam mushollah dan memilih tempat duduk di samping di dekat dinding karna permintaan Evi, jadi jika Evi mengantuk dia bisa bersandar ke dinding.

__ADS_1


Nadira dan Sarah menyetujui walaupun sebenarnya mereka ingin duduk di tengah, tapi karna mereka ingin memberikan kesan nyaman untuk Evi, maka mereka menuruti dulu keinginan Evi agar dia suka dan akan kembali ikut jika ada pengajian lagi.


Pengajian dimulai dengan pembukaan dari MC dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al-quran, sambutan dari panitia acara, sambutan dari perwakilan rektor, dan acara inti yaitu ceramah yang disampaikan oleh penceramah, khusus hari itu, karna hari pertama, panitia meminta kepada dosen pelajaran agama yang menjadi pengisi acaranya.


Saat sambutan-sambutan sebenarnya Evi sudah ngantuk berat, tapi pada saat ceramah dimulai, karna penceramahnya bisa menyampaikan dengan menarik dan lucu jadi Evi tidak mengantuk sampai akhir, bahkan setelah selesai do'a dan MC menutup acara, Evi masih antusias.


"Wah keren yah acaranya, kalai kayak gini sih aku mau ikut lagi deh bulan depan, kalian jangan ninggalin aku yah!" Ucap Evi.


"Alhamdulillah" jawab Nadira dan Sarah berbarengan lagi.


"Fix kalian memang satu hati deh kayaknya." Evi berucap sambil memutar bola matanya.


Mereka tertawa bersama.


"Tunggu dek!" Risma memanggil mereka bertiga saat keluar dari pintu mushollah.


Mereka berhenti dan mendekat ke arah Risma.


"Kakak mau minta tolong, jika kalian ada waktu, minta isikan kuisioner, tentang kesan, pesan dan masukan kalian untuk acara hari ini, apakah kalian bersedia?"


"Iya kak, sini biar kami isi, sekalian menunggu waktu ashar, Iya kan Sarah, Evi" Nadira menjawab sambil melihat ke arah temannya satu persatu untuk meminta persetujuan mereka.


Pas setelah mengisi kuisioner nya dan menyerahkan kepada kak Risma, azan ashar berkumandang, mereka lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah di masjid.


"Jadi bulan depan ikut lagi kan vi?" Tanya Nadira.


"Pasti dong Ra." Jawab Evi dengan bersemangat.


"Ih Evi baru tadi di jelasin sama Ustadznya, kalau sesuatu yang akan datang jangan kita mengucapkan pasti, karna kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, manusia bisa berencana tapi Allah lah yang menentukan, oleh karena itu kita harus mengucap....?"


"Insyaallah" Jawab Sarah dan Evi berbarengan.


"Nah tuh kalian besti juga" Seru Nadira.


"hahaha" mereka tertawa bersama sambil berjalan bersisian.

__ADS_1


"Kayaknya tadi yang jadi MC suaranya gak asing deh, kayak suara si kakak mulut bebek"


"ciye ciye ada yang kangen nih" Nadira dan Sarah menggoda Evi yang tiba-tiba teringat si Sam.


"Ih kalian yah orang lagi serius". sungut Evi.


"hihihi, iya vi aku juga kayaknya merasa gitu juga". Jawab sarah, "menurut kamu Ra?" Tanya Evi,


"hehe, maaf yah aku gak merhatiin suaranya" jawab Nadira cengengesan.


"Gak apa-apa Ra, salah kami juga udah tahu kamu orangnya cuek, malah kami tanya soal itu."


"hihihi" Nadira tersenyum menampakkan giginya.


Mereka terus mengobrol sampai di gerbang kampus, mereka berpisah, Sarah dan Evi pulang ke kosan dan Nadira pulang ke rumahnya.


Sementara di perpustakaan daerah tempat dimana biasa Nadira beristirahat dalam perjalanan pulang, Seorang lelaki tetap duduk di dalam, sampai akhirnya Pak Ardi penjaga perpustakaan mendekati, "Maaf dek, Perpustakaannya sudah mau tutup" Pak Ardi memberi tahu lelaki itu, karna di dalam perpustakaan sudah tidak ada orang lagi kecuali lelaki itu.


"Oh,maaf Pak!" Ucap lelaki itu sambil terus melihat-lihat keadaan sekelilingnya.


"Maaf Pak, apa Nadira hari ini tidak ke Perpustakaan?" Dia memberanikan diri untuk bertanya, karna tidak biasanya Nadira tidak datang ke perpustakaan itu.


"Tidak" Jawab Pak Ardi. Sebenarnya Pak Ardi juga penasaran kenapa Nadira tidak datang ke perpustakaan, karna biasanya, sepulang kuliah dia selalu mampir ke sana, sampai Perpustakaan tutup, bahkan sholat ashar Nadira biasa melaksanakannya di mushollah perpustakaan.


"Adek kenal Nadira?" Tanya Pak Ardi yang bingung, setahu Pak Ardi Nadira hanya punya seorang adik yang masih SMA, sedang orang ini sudah dewasa, teman juga kayaknya bukan, karna Nadira tidak pernah punya teman laki-laki.


"Iya Pak, tapi tolong jangan beritahu Nadira jika saya menanyakannya yah, Pak. kalau begitu saya permisi dulu". Dia langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Pak Ardi, karna dia tidak ingin sampai Nadira mengetahui jika dia selama ini membuntuti Nadira.


Pak Ardi merasa heran dengan lelaki tersebut, lama dia berfikir, akhirnya dia menyadari jika lelaki tersebut setiap hari datang ke perpustakaan tapi tidak pernah meminjam buku, dan juga, dia selalu keluar saat Nadira keluar.


"Siapa yah, mencurigakan, tapi Nadira tidak pernah bercerita apapun, dan jika pun dia merencanakan hal buruk pada Nadira, pasti sudah lama dilakukannya, benar-benar mencurigakan, baiklah lain kali akan ku tanya sampai jelas" Pak Ardi langsung melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai di pun menutup perpustakaan, karna jam sudah menunjukkan pukul 16.30.


Saat Pak Ardi keluar perpustakaan, dia masih melihat lelaki itu duduk di bangku jalan, tidak jauh dari perpustakaan. Pak Ardi berniat mendekatinya, namun saat hendak berjalan handphonenya berbunyi, akhirnya Pak Ardi mengangkat handphonenya.


Selesai menelpon Pak Ardi melihat ke arah kursi, lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya. Akhirnya Pak Ardi memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya karna istrinya minta di bawakan bumbu untuk masakannya.

__ADS_1


__ADS_2