Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Lelah


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Pak Heru langsung menuju dapur dan mengambil segelas air minum, tidak cukup Pak Heru pun langsung minum lagi, Buk Rita yang baru masuk heran melihat tingkah suaminya,


"Astaghfirullah Bapak haus banget yah, sampai tidak sempat duduk untuk minum? baca bismillah gak tadi sebelum minum? jangan-jangan lupa juga" ucap Buk Rita sambil bercanda.


"hehehe, iya buk, bapak lupa bawa minum, jadi selama di pasar tadi Bapak tidak minum." Jawab Pak Heru sambil tersenyum.


"Astaghfirullah maaf Pak, Ibu juga lupa bawain bapak minum, masih haus gak Pak?, Ibu ambilkan lagi minum mau?"


"Enggak Buk cukup, rasa haus Bapak sudah hilang". Jawab Pak Heru sambil masih memegang teko air.


"Kalau sudah hilang, sini tekonya kasih Ibu, Ibu juga haus mau minum juga".


"Hahaha maaf buk, ini tekonya" Pak Heru meminta maaf sambil mengulurkan teko air yang dipegangnya kepada Buk Rita.


Setelah itu Pak Heru segera masuk ke toilet untuk mandi sedang Buk Rita, mengeluarkan sayuran yang tadi di mintanya dari Mbah Wati.


"Nadira" Panggil Buk Rita.


Mendengar panggilan Buk Rita Nadira segera meletakkan bukunya dan mendekat ke arah Buk Rita, "Iya Buk?"


"Kamu dan adikmu sudah makan? tanya Buk Rita


"Alhamdulillah, Sudah Buk!"


"Kamu masak apa?" tanya Buk Rita lagi


" Nadira cuma masak nasi bu, tadi kami makan pakai kecap asin". Bukannya Nadira tidak mau masak, tapi memang tidak ada yang bisa di masak di dapur.


"Alhamdulillah, ini ada sayur sisa, yang di kasih Mbah yang jualan di pasar, tempat ibu bantu tadi, tolong kamu pisahkan yang masih bisa di masak yah! Ibu mau mandi dan sholat zhuhur dulu." Pinta Buk Rita


"Iya Buk, baiklah."


Dari pertama orang tuanya datang, Nadira dapat melihat wajah lelah keduanya, namun dia tidak berani bertanya ataupun mendekat, dia hanya menunggu jikalau mereka butuh bantuan.


Sungguh jika bisa memilih, dia lebih ingin hari minggu digunakan untuk beristirahat bersama keluarganya, karna tentu orang tuanya sudah sangat lelah bekerja setiap hari dari pagi sampai sore, hanya hari minggu waktu mereka untuk libur, dan sekarang, orang tuanya juga harus bekerja di hari minggu.


Namun semua itu adalah kehendak mereka, jadi Nadira hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dalam setiap usaha orang tuanya.

__ADS_1


"Buk, kalau mau ke toilet tolong bawa handuk bapak yah! Bapak sudah hampir selesai mandi, tadi langsung ke toilet jadi lupa bawa handuk" Pak Heru berbicara dari dalam toilet.


"Iya Pak! Jawab Buk Rita yang terpaksa masuk ke kamar lagi untuk mengambilkan handuk suaminya.


Nadira sudah selesai memisahkan sayur yang masih bisa di masak dan yang harus di buang, diapun lalu mencuci tangan, saat keluar toilet, Pak Heru dan Buk Rita juga sudah selesai sholat zhuhur.


"Bapak sama Ibu mau makan? Nadira ambilkan Nasi sama kecap!" tanya Nadira kepada kedua orang tuanya.


"Boleh nak!" Jawab Pak Heru.


Nadia melanjutkan membaca buku yang tadi ditinggalnya saat Buk Rita memanggil, sedang Pak Heru dan Buk Rita makan bersama. Sambil makan mereka mengobrol


"Bapak tadi dapat pekerjaan?" tanya Buk Rita. Sebenarnya Buk Rita sudah sangat penasaran tentang apa yang dilakukan suaminya selama di pasar tadi, tetapi dia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


"Alhamdulillah buk, Saat pagi bapak berjalan mengelilingi pasar, tidak ada yang butuh kuli angkut karna semuanya sudah punya kuli angkut masing-masing, kalau pedagang pria yah mereka angkut sendiri barang dagangan mereka." Pak Heru menjeda ceritanya saat dia menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Terus Pak?" Tanya Buk Rita lagi.


"karna tidak ada yang bisa bapak kerjakan, bapak berjalan ke luar pasar untuk mencari kalian, mau mengajak pulang saja, tapi Bapak tidak menemukan kalian, jadi Bapak masuk lagi ke pasar dan melihat Ibu di tempatnya Mbah Wati tadi"


Pak Heru menyuapkan nasinya lagi sebelum melanjutkan ceritanya.


Pak Heru menyuap Nasi lagi, lalu melanjutkan ceritanya.


"Nah saat berjalan, Bapak gak sengaja menabrak orang."


"Astaghfirullah, cewek apa cowok pak yang ditabrak? tanya Buk Rita.


"Emang kenapa kalau cewek Buk? tanya Pak Heru, menggoda Buk rita.


"Ibu cemburu?" tanya Pak Heru lagi.


"Ish Bapak, orang serius, kok malah bercanda sih?"


"hehehe, cowok Buk, Bapak-Bapak" Jawab Pak Heru sambil tersenyum.


"terus Bapak dimarahi sama orang itu?"

__ADS_1


"Bapak juga mikirnya gitu, tapi ternyata orang yang bapak tabrak, orang yang mobilnya bapak bantu dorong waktu mogok, jadi bukannya marah malah Bapak itu yang kasih Bapak pekerjaan.


"Alhamdulillah yah Pak, berkah bapak membantu orang, memang Allah tidak pernah mengingkari janjiNya, bahwa ketika kita menolong orang maka Allah akan menolong kita, tapi dengan catatan kita harus ikhlas, tadi Bapak menolong ikhlas gak Pak? atau Bapak minta Imbalan lagi?" Sekarang giliran Buk Rita yang menggoda suaminya.


"Ih Ibu, bagi Bapak lebih baik tidak menolong dari pada menolong tapi minta imbalan"


"hahaha, iya Pak, Ibu bercanda kok".


Sambil berbincang merekapun selesai makan. Saat Buk Rita ingin membereskan piringnya, Nadira melarangnya.


"Sudah Buk, Istirahat aja, biar Nadira yang membereskan, Ibu pasti capek pulang dari pasar!"


"Iya sih capek, tapi kalau cuma membereskan ini, Gak terlalu pakai tenaga Ra, enggak apa-apa ibu aja, kamu lanjutkan aja baca bukunya!"


"Nadira uda dari pagi baca buku mulu Buk, gak apa-apa, Ibu istirahat aja!"


"ya sudah kalau begitu, Ibu mau duduk dekat Bapakmu dulu, belum selesai tadi ceritanya" Buk Rita berbicara sambil tersenyum.


Nadira segera membawa piring kotor ke toilet dan mencucinya lalu, membersihkan lantai dengan menyapunya.


Sementara itu di ruang tengah, Pak Heru menyerahkan uang 50 ribu yang dia peroleh dari pasar tadi kepada Buk Rita


"Alhamdulillah Buk, Ini rezeki kita dari Allah hari ini".


"Masyaallah Pak, kalau tahu dapet segini, kita naik angkot aja tadi pulangnya"


"Iya buk, tadi Bapak juga mikir mau naik angkot, tapi kalau kita berdua naik angkot, sudah berkurang 10 ribu, sayang buk lebih baik kita kasih Nadira untuk naik angkot ke kampus."


"Iya juga yah Pak.Tapi tadi Ibu juga dapat 25 ribu dari Mbah Wati Pak, lumayanlah untuk tambah-tambahan, tadi juga sayurnya masih banyak yang bisa dimasak, bisalah untuk lauk kita makan 2 hari"


"Alhamdulillah, itulah mengapa sahabat Abdurrahman bin Auf, hanya bertanya dimana pasar saat pertama hijrah ke Madinah, karna memang di pasar itu banyak peluangnya"


"Alhamdulillah Pak". Jawab Buk Rita.


"Ya sudah Buk, tolong ambilkan Bapak bantal, Bapak mau tidur sebentar, mau mengistirahatkan badan!".


Buk Rita segera beranjak ke kamar untuk mengambilkan bantal untuk suaminya dan untuknya sendiri.

__ADS_1


Mereka berdua pun tidur di ruang tengah, karna rasa lelah yang mereka rasakan sehingga mereka tertidur dengan mudah di ruang yang lumayan panas di rumah mereka.


__ADS_2