
Malam itu Nadira sekeluarga sholat berjamaah di Mushollah, dilanjutkan dengan menyimak bacaan alquran anak-anak di mushollah sampai setelah isya berjamaah mereka baru pulang ke rumah.
Mereka tidak pernah khawatir meninggalkan rumah, karna memang mereka tidak punya benda berharga di rumah.
Selain itu di komplek perumahan mereka tinggal, memang selalu aman, tidak pernah terjadi aksi pencurian, karna memang komplek mereka adalah komplek perumahan sederhana.
Jadi walaupun mereka meninggalkan rumah sampai malam pun mereka tidak khawatir.
Sesampainya di rumah mereka baru makan, dan melaksanakan kegiatan mereka seperti biasanya, saat hendak tidur mereka melakukan obrolan ringan
"Bapak, nanti minggu mau ke pasar lagi?" Tanya Nadira.
"Insyaallah Nak, jika allah mengizinkan dan Bapak dalam keadaan sehat". Jawab Pak Heru
"Nanti sakit lagi Pak kalau kecapean?" Sahut Nadira lagi.
"Kenapa harus takut sakit Nak, memang ketika sakit akan ada tiga hal yang pergi, namun yang dua akan kembali dan satu tidak kembali, kamu masih ingat apa yang tidak kembali?" Tanya Pak Heru mengingatkan Nadira tentang Sakit yang biasa Pak Heru Nasihatkan saat Nadira Sakit.
"Iya Pak, Saat sakit dosa akan pergi dan tidak akan kembali". Jawab Nadira dengan sendu.
"Kalau begitu Nadira harus ikhlas Saat bapak sakit, karna saat itu allah sedang mengambil dosa-dosa bapak, semoga bisa sedikit mengurangi timbangan amal keburukan bapak yang penuh dosa ini di akhirat kelak!" Lanjut Pak Heru memberikan pengertian kepada Nadira.
"Aamiin" Jawab Buk Rita dan Naufal bersamaan, yang hanya mendengarkan sejak tadi.
"Insyaallah Bapak udah ketemu tempat yang bisa dijadikan tempat untuk bapak bekerja, jadi enggak terlalu kaget seperti minggu kemarin, kalian gimana masih mau ikut jalan-jalan ke pasar?" Tanya Pak Heru.
"Mau Pak" Naufal menjawab dengan semangat, karna pada dasarnya Naufal memang hobi jalan-jalan, walaupun dia tidak bisa membeli apapun setidaknya dia bisa melihat-lihat keadaan pasar.
"Dasar adek diajakin ke pasar aja, lancar jawabnya, coba diajakin ke Perpus, jawabnya aja ogah-ogahan apalagi ke perpusnya". Omel Nadira.
"Bagus dong Kak, jadi ada warnanya anak bapak sama ibu, kalau dua-duanya sama gak seru lah!" Bela Naufal.
"Warna? Emang anak bapak sama ibu pelangi gitu, harus berwarna-warni?" Sambung Nadira.
__ADS_1
"Astaghfirullah,.." Buk Rita beristighfar panjang mendengar perdebatan anak-anaknya.
"Besok lagi yah dilanjutin debatnya, sekarang ayo kita tidur!" Perintah Buk Rita dengan tegas, Sedang Pak Heru hanya tersenyum melihat istrinya yang mulai kesal.
Mengetahui Buk Rita mulai kesal Nadira dan Naufal diam, membaca do'a dan memejamkan mata mereka.
Mereka pun akhirnya terlelap dalam malam yang hening dengan niat untuk bangun sholat tahajjud besok pagi.
Pada hari minggunya mereka berangkat ke Pasar setelah subuh dengan berjalan kaki, tidak lupa mereka membawa bekal dari rumah, 4 botol besar air minum dan singkong rebus yang diletakkan di dalam plastik.
Mereka meletakkannya di dalam plastik agar lebih simpel setelah habis bisa langsung mereka buang kantongnya.
Saat sampai di pasar Pak Heru langsung menuju ruko yang menjual bahan-bahan plastik karna pada hari minggu pekerja disana tidak masuk, jadi orang yang belanja disana akan butuh bantuan kuli angkut untuk mengangkut barang belanjaan mereka.
Sedang Buk Rita langsung menuju lapak Mbah Wati, barangkali hari itu Mbah Wati sendirian lagi, dan benar saja, Mbah Wati meminta Buk Rita untuk membantunya kembali karena memang dia sendirian.
Saking bersemangatnya mereka sampai lupa membawa minum dan singkong yang masih di pegang Naufal dan Nadira.
"Boleh Kak" Naufal menyetujui ajakan Nadira.
Mereka berjalan memasuki area pasar sambil mata mereka mencari keberadaan orang tua mereka.
Walaupun Pak Heru dan Buk Rita di tempat yang sama seperti minggu lalu, tapi mereka tidak tahu karna minggu lalu mereka tidak ikut, mereka langsung pulang karna bagi mereka tidak ada gunanya disana, mending mereka di rumah untuk istirahat dan mengerjakan pekerjaan rumah yang ada.
Sebenarnya hari itu pun Nadira mengajak Naufal untuk langsung pulang, tetapi karna Pak Heru dan Buk Rita melupakan bekal mereka, jadi Nadira dan Naufal haru mengantarkan kepada orang tua mereka.
Mereka tidak ingin sampai Pak Heru ataupun Buk Rita dehidrasi karna kekurangan minum.
di tengah pasar mereka bertemu Buk Rita yang sedang membantu Mbah Wati, Nadira dan Naufal mendekat ke arah Buk Rita.
"Ibu" Panggil Nadira.
Buk Rita menoleh ke arah Nadira dan Naufal.
__ADS_1
"Eh kalian, Salim sama Mbah! Buk Rita memerintahkan anak-anaknya untuk menyalami Mbah Wati sebagai tanda kesopanan saat bertemu dengan orang yang lebih tua.
"Ini anak-anak saya Mbah yang perempuan Namanya Nadira yang laki namanya Naufal" Buk Rita mengenalkan anak-anaknya kepada Mbah Wati.
"ternyata kamu punya anak yang besar-besar toh Rita?" aku kira paling anakmu baru SD Atau SMP, gak nyangka anaknya uda sebesar ini, uda bisa dapat cucu ini" Canda Mbah Wati.
"Mbah bisa aja!" Jawab Buk Rita.
Nadira dan Naufal hanya tersenyum mendengar gurauan Mbah Wati dan Buk Rita.
"Bu kita mau anterin ini, tadi Ibu sama Bapak lupa bawa" Nadira memberikan bekal yang mereka lupakan.
"Astaghfirullah, maaf Nak Ibu lupa" Jawab Buk Rita dengan tersenyum.
"Ya udah Buk, kita mau anterin ini ke Bapak dulu yah!" Nadira pamit karna hendak mengantarkan bekal Pak Heru.
"Jalan lurus aja Nak, nanti ketemu bapak, biasanya bapak langsung jalan aja lurus kesana"
Buk Rita memberi tahu arah suaminya biasa pergi.
"Baik Buk Kami pamit dulu". Nadira dan Naufal menyalami Buk Rita dan Mbah wati sebelum meninggalkan mereka.
Nadira dan Naufal berjalan ke arah yang tadi ditunjuk oleh Buk Rita, Nadira terus awas takut mereka tidak melihat keberadaan Pak Heru, sedang Naufal sibuk melihat keadaan pasar, entah yang dia lihat dan dia pikirkan, matanya bergerilya mengelilingi pasar.
"Dek, jalannya lihat ke depan ntar nabrak loh!" Ujar Nadira.
"Enggaklah Kak, kan ke depan semuanya jalan, walaupun ada penghalang paling juga orang,orang juga kan punya mata, kalau Naufal gak melihat mereka , kan mereka melihat Naufal, masak sih mereka mau menabrak Naufal, kecuali cewek yang suka sama Naufal, mereka mungkin sengaja mau ditabrak sama Naufal" Naufal berkata dengan percaya diri.
"Ya iya kalau mereka jalannya melihat ke depan kalau mereka jalan sama kayak kamu yang matanya kemana-mana, kan bisa ketabrak juga Dek!". Jawab Nadira.
Baru saja Nadira menyelesaikan kata-katanya, seseorang menabrak Naufal dari arah bekang Naufal, orang itu pun meminta maaf kepada Naufal karna dia sedang terburu-buru "Maaf mas, saya sedang terburu-buru ingin membeli sesuatu, jadi saya tidak fokus ke depan, sekali lagi maaf, saya tidak sengaja.
Karna Naufal tidak kenapa-napa dia hanya menundukkan kepalanya dan memberi jalan untuk orang itu lewat.
__ADS_1