
Di dalam ruang kepala sekolah Nadira menceritakan tentang sakit Pak Heru dari awal sampai Pak Heru di operasi.
"Astaghfirullah" Ucap Pak Anwar mendengar cerita Nadira.
"Insyaallah nanti kami akan menjenguk Pak Heru fi rumah sakit" Jawab Pak Anwar.
"Terima Kasih Pak" Nadira mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Pak anwar yang mau mengizinkan Pak Heru dan Buk Rita.
"Apakah Setelah ini kamu akan langsung ke rumah sakit?" tanya Pak Anwar.
"Iya Pak, karna saya sudah menyampaikan pesan ibu, saya langsung pamit Pak! " Nadira pamit undur diri dan keluar dari ruangan itu.
Keluar dari ruang kepala sekolah, para guru yang akan mengajar mendekati Nadira dan menanyakan mengapa Pak Heru dan Buk Rita tidak datang ke sekolah.
Seperti ceritanya kepada kepala sekolah diapun menceritakan hal yang sama kepada para guru, mereka turut prihatin dan menitipkan salam untuk Pak Heru dan Buk Rita.
Nadira akan berangkat ke rumah sakit, namun dia lupa bekal yang sudah disiapkannya di bawa Naufal masuk ke kelasnya, sedang Nadira tidak tahu dimana kelas Naufal, akhirnya dia mengelilingi sekolah untuk mencari Naufal.
Saat sedang berjalan dia bertemu dengan Pak Anwar yang sedang berkeliling untuk memeriksa keadaan sekolah.
"Nadira belum pergi?" Tanya Pak Anwar.
"Belum Pak, saya sedang mencari kelas Naufal mau mengambil barang yang terbawa olehnya". Jawab Nadira.
"Nadira, Bapak bisa minta tolong!, Kan Pak Heru sama Buk Rita izin, sedangkan mereka ada jam mengajar pagi ini, guru piket hanya ada satu orang, jadi masih ada satu kelas yang kosong, bisa tidak kamu menggantikan kelas kosong hari ini?" Tanya Pak Anwar tanpa basa basi, dia tidak tenang jika masih ada kelas yang tidak ada gurunya, dia berani meminta Nadira mengajar, karna dia mengenal Nadira sewaktu sekolah, bahkan dia pernah mengajar Nadira.
Menurutnya Nadira tidak hanya cerdas dalam belajar, tetapi dia juga bisa untuk menjelaskan pelajaran kepada temannya, Ketika sekolah banyak teman - temannya yang bertanya kepadanya jika tidak mengerti penjelasan guru di kelas.
"Maaf Pak, saya belum pernah mengajar di kelas, dan juga saya baru kuliah semester satu, rasanya belum pantas!" Tolak Nadira sopan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nadira, jangan sampai kelasnya kosong saja, dan juga bapak percaya sama kamu, anggap saja mereka adalah temanmu yang sedang bertanya kepadamu!, Ibu atau bapakmu juga pasti mengijinkan!" Pak Anwar sedikit memaksa.
"Baiklah Pak!, Di kelas mana?" Tanya Nadira yang menyetujui.
Pak Anwar mengantarkan Nadira di kelas sembilan, Kelas yang harusnya di ajar oleh Buk Rita.
"Assalamualaikum anak-anak!" Pak Anwar mengucap salam dan mengajak Nadira untuk masuk ke dalam kelas.
"Hari ini Buk Rita tidak bisa datang ke sekolah jadi untuk mengganti beliau, Kak Nadira yang akan menemani kalian selama jam pelajaran Buk Rita." Pak Anwar berkata dengan lembut namun tegas.
Para siswa di kelas itu, tidak ada yang berani menjawab jadi mereka hanya diam mendengarkan perkataan Pak Anwar.
"Kalau begitu, Bapak keluar dulu, tolong tertib dan ikuti semua perkataan Kak Nadira!" Lanjut Pak Anwar.
Setelah itu Pak Anwar keluar dan meninggalkan Nadira sendiri di depan kelas.
Nadira gugup, karna baginya ini adalah pertama kalinya berdiri di depan kelas sebagai pengajar, walaupun dia hanya diminta untuk menemani para siswa, tapi tetap saja rasanya berbeda antara duduk memperhatikan guru fan berdiri memperhatikan siswa.
"Ini Kak Nadira yang juara umum waktu kelulusan kemarin kan?" tiba-tiba seorang siswa berkata saat Nadira masih mengatur kata.
"Iya betul", sahut yang lain.
Di sekolah itu, setiap siswa yang berprestasi atau siswa yang mendapatkan nilai yang terbaik, akan di panggil ke atas panggung untuk memberikan kesan dan pesan selama belajar di sana saat kelulusan.
Siswa tersebut akan menyampaikan sepatah dua patah kata di depan para siswa dan orang tuanya, jadi mereka dapat mengingat Nadira yang berbicara waktu itu.
Nadira hanya tersenyum mendengar perkataan siswa-siswa di kelas tersebut.
"Kak tolong beri kami tipsnya agar bisa menjadi seperti Kak Nadira!" Tanya salah seorang siswa.
__ADS_1
"Iya Kak, kami kan sekarang sudah kelas sembilan sebentar lagi kelulusan, bagi tipsnya biar kami bisa menjadi siswa berprestasi seperti Kakak". Lanjut yang lainnya.
"Waduh apa yah!, Kakak gak punya tips apa-apa selain belajar dan hormat kepada guru, hormat disini bukan sekedar hormat, tapi lebih kepada patuh dan menghargai guru". Jawab Nadira yang bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Dan jam itu berlalu dengan obrolan ringan antara Nadira dan para siswa di kelas tersebut.
Dan di akhir pelajaran Nadira menanyakan di mana ruang kelas sepuluh, karna dia ingin mengambil barang bawaannya tadi di Naufal.
Nadira menemukan kelas Naufal tetapi masih ada guru yang mengajar di dalam kelasnya, dia sunhkan untuk mengganggu pelajaran, dia memutuskan untuk menunggu saja di bangku taman di depan kantin.
Dia melihat ke arah kantin entah memikirkan apa, tapi matanya seperti menjajaki setiap sudut dari kantin itu, Karna belum istirahat jadi kantinnya masih sepi, tapi kalau sudah istirahat maka kantin itu akan penuh sesak oleh siswa yang berbelanja.
Saat masih memperhatikan kantin, Nadira melihat ada seorang ibu-ibu yang datang membawa bungkusan kerupuk, ibu itu menyerahkan kepada penunggu kantinnya, karna Bangku tamannya terletak agak jauh dari kantin jadi Nadira tidak bisa mendengar percakapan mereka.
Nadira penasaran, jadi sast ibu itu berlalu dari kantin dia mendekati ibu itu dn bertanya
"Ibu, itu tadi kerupuknya bikin sendiri" Tanya Nadira.
"Enggak Dek, Itu ibu beli mentah ibu goreng lalu ibu titipkan untuk di jual di kantin!" Jawab ibu itu.
"Oh kantinnya mau di titipin Buk?" Tanya Nadira lagi.
"Iya mau Dek, cuma yah mereka mengambil untung, kalau harga jualnya 1000 rupiah yang balik ke kita yah cuma 800 rupiah, yang 200 rupiah masuk ke kas kantinnya!" Ibu tersebut menjelaskan.
"Oh begitu". Nadira mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Memang kenapa Dek?" tanya Ibu itu lagi.
"Enggak apa-apa Buk, saya kira ibu bikin sendiri, mungkin butuh orang untuk membantu membuat kerupuknya." Jawab Nadira yang sebenarnya ingin mencari pekerjaan selama dia libur kuliah.
__ADS_1
Di saat Pak Heru operasi seperti sekarang, tentu dia tidak bisa bekerja karna harus pemulihan dulu, karna dia tidak kuliah dia berfikir untuk bekerja, agar bisa membantu Buk Rita.
Setelah berbicara dengan ibu tadi, Nadira menuju ke mushollah sekolah, dia ingin melaksanakan sholat dhuha dan membaca alquran selama menunggu Naufal istirahat.