
Buk Rita POV
Pagi di hari minggu, aku berangkat ke pasar bersama Naufal dengan harapan akan mendapat sayur yang bisa dimasak tanpa harus membeli.
Alhamdulillah setelah sampai di tempat Mbah Wati, beliau masih sendiri dan baru mau mempersiapkan dagangannya seperti biasa.
"Assalamualaikum Mbah!" Aku mengucapkan salam kepadanya yang sedang sibuk.
"Waalaikum salam, Eh Rita, bagaiman kabar suaminya kemarin?" Mbah Wati langsung menanyakan Kabar bapaknya anak-anak, karna ya Minggu kemarin, aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku membantu Mbah Wati karna sakitnya Mas Heru.
"Alhamdulillah Mbah, setelah di operasi sudah tidak sakit lagi, sekarang hanya tinggal pemulihan" Jawab Buk Rita.
"Walah Nak!, Jadi suamimu di operasi toh?" Tanya Mbah Wati masih dengan melanu.tkan pekerjaannya.
"Iya Mbah, kemarin sudah sempat ke dukun urut, sebenarnya sudah baikan, tapi karna jalan yang berlobang, hentakan mobilnya, kembali membuat suami sakit, karna suami sudah tidak tahan lagi, yah sudah kami operasi saja!" Cerita Buk Rita singkat.
"Tapi memang begitu Nak, dulu di pasar ini ada juga yang kena turun bero, kerjanya kuli angkut juga, tiap kali kambuh malah sampai pingsang saking sakitnya". Mbah Wati menceritakan orang yang juga sakit seperti Pak Heru.
"terus di operasi juga kah Mbah?" Tanya Buk Rita.
"Tidak Nak, hanya di urut saja yah tapi begitu, kalau beban yang dibawa terlalu berat, atau terlalu capek, dia akan kambuh, makanya sekarang orangnya gak lagi kerja kuli angkut, gak tahu sekarang kerja dimana?" Lanjut Mbah Wati.
"Wah kasihan juga Mbah, kemarin saja saat melihat Bapaknya anak-anak kesakitan seperti itu rasanya ingin melakukan apa saja, agar segera hilang sakitnya!". Buk Rita menanggapi cerita Mbah Wati.
Buk Rita berfikir, dia mensyukuri karna akhirnya Pak Heru dioperasi, paling tidak tidak akan kambuh lagi, menurut penjelasan dokter kemarin, penyakit Pak Heru itu, disebabkan ada sebuah lobang seperti cincin yang dimasuki oleh usus yang tertekan karna membawa beban berat, jadi pas operasi kemarin, lobang yang seperti cincin itu di tutup agar tidak dimasuki oleh usus lagi, jadi tidak akan kambuh lagi sakitnya.
"Maaf yah Mbah minggu kemarin saya jadi tidak membantu Mbah sampai selesai" Sesal Buk Rita.
"Wah tidak apa-apa Nak, kan bukan sengaja, tapi memang ada urusan, Saya mengerti kok!" Jawab Mbah Wati.
"Terima kasih Mbah". Jawab Buk Rita.
Ada kelegaan di hati Buk Rita karna Mbah Wati todak marah dan masih mau dibantu olehnya.
__ADS_1
Dia bersyukur Allah masih mempertemukan dirinya dengan orang-orang baik di dalam hidupnya.
Dan hari itu seperti biasa Buk Rita membantu Mbah Wati berjualan sampai selesai.
Sedang Naufal, setelah berpisah dengan Buk Rita, dia ke taman seperti biasa berolahraga ringan dan setelah berkeringat dia akan duduk sambil membaca komik.
"Ternyata sendirian begini tidak enak, biasanya ada Kak Dira sama Reihan, jadi ada teman mengobrol, sendiri gini bosan juga" Gumam Naufal dalam hati.
Dia memutuskan untuk berjalan-jalan di pasar, mungkin ada yang bisa dia kerjakan di pasar.
Setelah berjalan-jalan dia masih belum menemukan apapun intuk dikerjakan, dia lalu memutuskan untuk mendekati Buk Rita.
Dia mendekati Buk Rita yang sedang membungkus sayur asem.
"Bu Naufal duduk di sini yah bantuin ibu?" Tanya Naufal.
"Gak usah Nak, gak enak nanti mengganggu yang pembeli, kalau bosan kamu pulang aja duluan, biar ibu pulang sendiri nanti!" jawab Buk Rita.
Naufal jalan-jalan lagi, dia melihat-lihat keadaan pasar, matanya tertuju kepada seorang kakek-kake yang berjalan dengan lambat, keringatnya banyak bercucuran di wajahnya, dia menjajakan keripik pisang, dia berjalan sambil terus menawarkan keripik pisang yang dia bawa.
"Pik.... keripik.... buk keripik pisang buk..." Ucapnya tersengal-sengal karna kelelahan.
Lama Naufal memperhatikan, dan tanpa sadar dia mengikuti langkah kakek tersebut, sampai ada seseorang yang berjalan cepat dan menabrak kakek itu.
"Astaghfirullah" Kakek itu terjatuh dan semua keripik yamg dibawanya ikut berserakan.
Orang yang menabrak, tidak berhenti malah semakin cepat berjalan.
Naufal reflek langsung menolong kakek itu.
"Kakek baik-baik saja Kek?" Tanya Naufal sambil membantu Kakek itu berdiri.
"Alhamdulillah Nak, kakek tidak apa-apa, tapi dagangan kakek?" Jawab Kakek itu sambil melihat dagangannya yang berserakan di bawah.
__ADS_1
Mendengar ucapan kakek itu Naufal spontan memunguti keripik-keripik yang terjatuh dan memasukkannya ke dalam plastik besar.
Setelah semua keripiknya terkumpul Naufal mengajak Kakek itu menepi.
"Ayo Kek, kita ke bawah pohon itu dulu, kita berteduh yah!" Ajak Naufal.
Kakek itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah Naufal.
Setelah duduk di bawah pohon, Naufal melihat kakek itu yang kehausan, kalau dia punya uang ingin rasanya dia membelikan kakek itu minum, cuma dia sama sekali tidak mempunyai uang walau hanya 500 rupiah.
Kakek itu melepaskan topi yang dipakainya dan mengipas-ngipaskan ke mukanya, keringatnya masih bercucuran, baju kaosnya sudah sangat basah oleh keringatnya sendiri.
"Terima kasih yah Nak, di zaman seperti sekarang masih ada anak muda yang mau menolong orang lain, pasti kamu mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuamu!" Ucap Kakek itu merasa takjub dengan Naufal.
"Alhamdulillah Kek, sebenarnya masih banyak orang yang mempunyai perhatian tapi, kebetulan saja kakek bertemu dengan saya!" Jawab Naufal dengan santun.
"Maaf Nak, bisa kakek minta dagangan kakek!" kakek itu berniat melihat dagangannya apa masih bisa dijual atau tidak.
Naufal menyerahkan plastik yang berisi keripik pisang kepada kakek itu, Kakek itu mengeluarkan dan memeriksanya.
"alhamdulillah tidak pecah-pecah, insyaallah masih bisa di jual" Gumam Kakek itu dengan suara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Naufal.
Naufal merasa miris, melihat kakek yang setua itu masih harus bekerja, seharusnya seumuran beliau tinggal duduk santai di rumah memegang tasbih dan mengisi sisa harinya untuk beribadah dan berdzikir.
Tapi yah tidak semua orang mempunyai kehidupan yang beruntung yang bisa menikmati masa tua dengan santai, seperti kakek itu yang harus mengais rezki untuk melanjutkan hidupnya.
"Kek biar saya temenin jualan boleh?" Tanya Naufal yang tidak tega.
"Jangam Nak, nanti kamu ditunggui orang tuamu!" Tolak Kakek itu yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Kek, saya juga sambil menunggu ibu pulang, ibu sedang membantu seorang pedagang berjualan, dan juga kakek tenang saja, saya membantu kakek dengan ikhlas jadi saya tidak meminta apapun!" Jawab Naufal meyakinkan.
"Aduh Nak, nanti kamu bertemu dengan temanmu dan menjadi bahan olokan karna berjualan keripik dinpasar" Jawab Kakek itu yang teringat cucunya, yang menolak berjualan karna malu dengan temannya kalau sampai ketahuan berjualan di pasar.
__ADS_1