Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Mama Reihan


__ADS_3

Nadira, Sarah dan Evi keluar dari ruang BEM


"Kamu mau kemana Ra, ke kosan kita aja yuk!"Ajak Evi.


"Sebenarnya aku mau, cuma aku ingin ke perpus daerah hari ini, semenjak sakit aku belum ke sana lagi, ada rasa yang kurang gitu!" Ucap Nadira sambil nyengir.


"Dasar kutu buku kamu Ra!" Jawab Evi.


Nadira pergi berjalan ke Perpustakaan Daerah dengan menenteng plastik hitam yang sekarang tinggal satu.


Dia berniat memberikannya kepada Pak Ardi. Sampai di perpus dia langsung menuju ke meja Pak Ardi


"Assalamualaikum Pak Ardi" Sapa Nadira


"Waalaikum salam Nak Dira, kemana aja seminggu ini gak kelihatan?" Tanya Pak Ardi yang penasaran.


Nadira tersenyum dan menjawab


"Dapat ujian sedikit Pak, dikasih sakit sama Allah, karna Nadira banyak dosanya, hehehe".


"Ternyata kami bisa sakit juga ya!" Canda Pak Ardi.


"Ya iyalah Pak, Nadira kan juga manusia biasa bukan malaikat, hahaha". Jawab Nadira meladeni candaan Pak Ardi.


"Ini Pak, ada keripik singkong, yang Nadira buat kemarin!, semoga bapak suka!" Nadira menyerahkan keripik singkong kepada Pak Ardi.


"Wah, kayaknya enak ini Nak!" Ucap Pak Ardi.


"Semoga sesuai dengan lidah Pak Ardi yah!" Jawab Nadira dan langsung menuju ke arah rak buku untuk mencari buku yang akan dibacanya.


Tidak lama Nadira membaca, seperti biasa Nabil masuk ke dalam perpustakaan, dia merasa lega karna hari itu dapat melihat Nadira di perpustakaan itu, sudah seminggu ini dia bertanya-tanya kemana Nadira, bahkan ketika dia berada di depan rumahnya, dia tidak bisa mengetahui kemana Nadira.


Dia duduk di meja yang sama dengan Nadira walau tidak terlalu dekat. Saat adzan ashar berkumandang, Nadira beranjak untuk sholat di mushollah perpus, dia berniat langsung pulang setelah itu, dan seperti biasa Nabil mengikuti kemanapun Nadira.


Nabil sudah mengambil air wudhu dan langsung masuk ke dalam mushollah, ada satu orang berada di belakangnya dan mengajaknya untuk sholat berjamaah, mereka saling meminta untuk menjadi imam, namun akhirnya Nabil yang menjadi imam.


Saat Nabil mengambil posisi untuk menjadi imam, Nadira masuk ke mushollah. Nadira memakai mukena dengan cepat agar bisa mengikuti sholat berjamaah, jadilah pada hari itu Nabil menjadi imam sholat Nadira.


Dan semenjak hari itu, entah kebetulan atau memang kesengajaan yang dibuat Nabil, mereka selalu berjamaah di mushollah perpus.

__ADS_1


Pada hari minggunya, Nadira ikut ke pasar saat Pak Heru dan Buk Rita bekerja, dia dan Naufal pergi ke taman.


Mereka melaksanakan piknik mereka yang tertunda waktu itu, mereka membawa bekal dan juga tikar.


Tidak lupa mereka menunggu Reihan barangkali hari itu dia akan pergi ke taman itu.


Pucuk di cinta bulan pun tiba, Saat mereka sedang membaca di atas tikar yang mereka gelar, terdengar suara Reihan memanggil,


"Naufal, Kak Dira!"


Naufal dan Nadira menoleh ke arah sumber suara


"Reihan" Ucap mereka bersamaan sambil melihat ke arah Reihan yang tersenyum dengan manis.


"Masyaallah Reihan, kami sehat kan?" Tanya Nadira dengan rasa lega dihatinya.


"Alhamdulillah Kak, seperti yang kakak lihat" Jawab Reihan.


"Hai, Bro syukurlah kamu baik-baik aja, minggu kemarin aku kesini nungguin kamu, tapi kamu gak datang, jadi kangen sama kamu!" Ucap Naufal dengan gaya selengeannya.


"Hahaha, kamu nungguin aku fal?" tanya Reihan.


"Ya udah yuk kita keliling taman ini, aku kangen juga uda dua minggu gak kesini!" Reihan berkata sambil menjalankan kursi rodanya.


"Ma, aku jalan sebentar!" Pamit Reihan kepada mamanya yang dari tadi menunggui Reihan dari belakangnya.


Mama Reihan, menganggukkan kepala tanda menyetujui.


"Assalamualaikum Tante" Nadira menyapa Mama Reihan sambil menyalami tangan Mama Reihan.


"Waalaikum Salam" jawab Mama Reihan, "Kamu Kak Dira?" Tanyanya lagi.


"Hehe, Nadira tante!" Ucap Nadira merasa tidak enak dipanggil seperti itu oleh Mama Reihan.


"Oh iya, maaf habisnya biasa dengar Reihan manggil begitu jadi ikutan juga". Jawab Mama Reihan.


"Gak Apa-apa tante".


"Wah kalian piknik di sini?" Tanya Mama Reihan melihat ke arah tikar dan bekal yang dibawa Nadira.

__ADS_1


"Hehe piknik-piknikan aja tante!" Jawab Nadira sambil tersenyum menampakkan giginya.


"Hahaha, kok piknik-piknikan sih?" Mama Reihan menjawab dengan tertawa.


Nadira juga ikut tertawa bersama Mama Reihan.


Mama Reihan duduk di bangku taman dan mengajak Nadira


"Sini Nadira duduk bersama tante!" Mama Reihan mengajak Nadira duduk dengannya di atas bangku taman.


Nadira menurut dan duduk di atas bangku.


Mereka berbicara basa-basi bertanya kegiatan Nadira dan Naufal sehari-hari.


"Oh ya Nadira, tante minta maaf yah, tentang kejadian 2 minggu yang lalu!" Ucap Mama Reihan mulai bicara serius.


"Maaf untuk apa Tante?" Tanya Nadira yang bingung.


"Waktu itu tante merasa sangat khawatir melihat keadaan Reihan yang pucat, jadi tante langsung membawanya tanpa melihat ke arah kalian terlebih dulu!" Jelas Mama Reihan.


"Oh itu, Sebenarnya kami juga harus minta maaf tante, mungkin kami sudah menyebabkan Reihan seperti itu!" Ucap Nadira yang juga merasa bersalah, Sebenarnya dia ingin bertanya tentang keadaan Reihan, tentang penyakitnya juga, namun Nadira takut, itu adalah hal rahasia yang tidak ingin diceritakan kepada orang lain, jadi dia berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh.


Mama Reihan menggelengkan kepalanya


"Tidak Nadira, kamu tidak harus meminta maaf, justru tante harusnya berterima kasih kepada kalian!" Jawab Mama Reihan dengan pandangan kosong ke depan.


Nadira hanya diam menyimak, karna dia tidak thu harus bertanya atau menjawab apa.


"Sebenarnya dulu Reihan juga bisa berjalan, bahkan dia anak yang periang dan suka bergaul, semua temannya menyukainya karna dia adalah anak yang baik, sampai ada suatu kejadian yang membuat dia tidak bisa berjalan, dan mempunyai trauma yang jika kambuh maka dia akan sulit bernafas". Cerita Mama Reihan.


"Astaghfirullah, berati Reihan kemarin itu traumanya lagi kambuh yah tante?" Tanya Nadira terkejut.


"Iya, kamu benar Nadira!" Jawab Mama Reihan.


"Alhamdulillah, Reihan masih baik-baik saja, kami tidak tahu tante, kami sangat khawatir saat itu, karna Reihan tiba-tiba sulit bernafas". Cerita Nadira.


"Tante sebenarnya waktu mencari obat Reihan, namun obatnya tertinggal, karna kalau traumanya kambuh hanya obat yang bisa menenangkan dia, makanya tante langsung bawa, biar bisa memberikan dia obat, tapi setelah sampai ke rumah, dia malah baik-baik saja tanpa harus meminum obat.


Awalnya tante takut dan khawatir, tapi karna Reihan meyakinkan tante, bahwa dia sudah baikan, makanya tante tidak memberikan dia obat, tapi tante meminta dia untuk beristirahat". Mama Reihan masih bercerita dan Nadira masih diam menyimak tanpa ada pertanyaan ataupun jawaban.

__ADS_1


__ADS_2