Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Nabil


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Nadira melewati perpustakaan, "Hem, hari ini aku gak ke perpus, tapi gak apa-apa lah, sebaiknya aku beristirahat sebentar di kursi itu"


Nadira beristirahat di kursi jalan di depan perpustakaan dia memandang ke arah perpus yang tertutup, dia tidak menyadari jika ada lelaki yang duduk di kursi satu lagi yang agak jauh dari tempat duduknya.


Lelaki itu tersenyum simpul sambil melihat ke arah Nadira.


Nabil POV


Seperti biasa aku ke Perpustakaan untuk menunggu wanita yang selalu aku ingin lihat, ketika aku masuk ke dalam perpustakaan aku tidak melihatnya, ku kelilingi perpustakaan tapi sama sekali aku tak menjumpai dirinya.


Ku putuskan untuk duduk di meja tempat biasa dia duduk. Aku membaca buku yang sudah ku pilih saat aku mencari-cari keberadaannya tadi.


Aku larut dalam buku yang aku baca, sampai aku tidak sadar jika hari sudah sore. Kudengar suara Pak Ardi memberi tahuku bahwa perpustakaan akan segera tutup.


Aku penasaran kenapa wanita yang bernama Nadira itu tidak datang hari ini, ku tahu Pak Ardi adalah orang yang cukup dekat dengannya, aku rasa maju mundur untuk bertanya, apakah Nadira tidak datang hari ini dan, ternyata dia memang tidak ke perpustakaan.


Namun tanpa ku sadari aku bertanya hal yang akan tentu membuat Pak Ardi bertanya-tanya tentang aku dan Nadira. Sebaiknya aku segera pergi, agar Pak Ardi tidak banyak bertanya.


Aku berjalan keluar perpustakaan dan duduk di jalan yang biasa Nadira lalui dari kampus ke rumahnya.


Tak lama setelah aku duduk, kulihat Pak Ardi berjalan ke arahku, mungkin dia merasa curiga dengan aku dan ingin bertanya lebih jauh, bukan aku ingin menyembunyikan identitas ku tapi aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.


Lalu kulihat langkahnya terhenti, dan menelpon, aku memanfaatkan waktu itu untuk bersembunyi.


Setelah dia pergi, aku kembali duduk di kursi yang tadi, entah kenapa aku masih berharap bahwa dia akan datang dan lewat dari jalan ini.


Sambil duduk pikiranku menerawang ke pertemuan pertamaku dengan Nadira.


Flashback On

__ADS_1


Seperti biasa setiap pagi Nabil berolahraga, dia berlari mengitari jalan yang biasanya sepi, karna dia tidak suka keramaian.


Setelah di rasa cukup, dia pun duduk di bangku jalan yang ada di sana. "Wah kayaknya aku mau cari makan dulu, perutku terasa lapar sehabis olahraga".


Saat Nabil berfikir tentang makan, ada penjual somay lewat. "Wah kebetulan, bang somaynya 1 porsi bang!" Nabil memakan satu porsi somay tanpa bersisa. Setelah ia membayar, abang somay pun pergi.


Setelah beberapa saat Nabil merasakan sesak di dadanya, Diapun menyadari mungkin alerginya kambuh, ada sesuatu yang membuat dia alergi, sedangkan dia tidak membawa obat anti alerginya.


Sambil menahan rasa sesak di dadanya, dia terus berjalan, tapi rumahnya jauh dari tempatnya berada sekarang, Dia merasa sudah tidak sanggup lagi berjalan, diapun duduk di trotoar dengan terus memegang dadanya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ya Allah jika memang Engkau akan mengambil nyawaku hari ini, aku mohon wafatkan aku dalam keadaan husnul khotimah, Lailaha illallah, dia terus mengucap kalimat tahlil, karna dia berharap ucapan terakhir dalam hidupnya adalah kalimat tahlil.


Saat Nabil sudah pasrah pada hidupnya, ada seorang perempuan yang lewat, dia berjalan dengan tergesah-gesah, namun setelah melihat Nabil, dia berhenti.


"Maaf Pak, apa anda baik-baik saja?" tanyanya.


Nabil hanya menggelengkan kepalanya,


Setelah terdiam berfikir dia memutuskan untuk menolong Nabil "Bismillah, barang siapa menolong orang lain maka allah akan menolongnya." Lirih perempuan itu.


Dia berjongkok dan melihat keadaan Nabil yang sesak Nafas, dia tidak bertanya hanya mengamati tangannya, dan melihat ada ruam kemerahan di hampir semua badan Nabil, "Maaf Pak, apakah Bapak ada alergi?" tanyanya.


Nabil hanya mengangguk.


"Alhamdulillah semoga ini wasilah dari Allah untuk kesembuhan Bapak, Perempuan itu mengambil obat di dalam tasnya, dan air minum.


"Ini Pak di telan obatnya, saya juga ada alergi jadi kemana-mana saya bawa obat alergi, semoga bisa mengurangi alergi yang Bapak rasa saat ini."


Nabil hanya mendengarkan perkataan perempuan itu karna dia sudah sangat sulit untuk bernafas.

__ADS_1


"Ini obatnya sudah saya buka dan minumnya juga sudah saya buka, insyaallah botolnya bersih belum saya minum sama sekali".


Nabil hanya terdiam, karna dia tidak mampu berbuat apa-apa.


Perempuan itu terlihat bingung, "Maaf Pak kita bukan mahrom jadi saya tidak bisa menyentuh Bapak, apakah Bapak bisa melihat ke atas dan membuka mulut nanti saya masukkan obatnya!"


Jika saja Nabil sehat tentu dia akan protes, karna orang sudah di ambang kematian dia masih memikirkan tentang mahram.


Akhirnya Nabil hanya menurut menghadap ke atas dan membuka mulutnya, benar saja perempuan itu memasukkan obatnya tanpa menyentuh Nabil sedikitpun. "Nah sudah masuk Pak, silahkan turunkan lagi kepalanya, Lalu perempuan itu mendekatkan botol minum ke mulut Nabil agar dapat diminumnya.


Obatnya belum bekerja tapi biasanya setelah 5 menit Nafas akan mulai normal kembali. Perempuan itu menemani Nabil, untuk memastikan obatnya bekerja, dia menunggu sambil bercerita "Maaf Pak, saya sepertinya tidak menolong dengan sepenuh hati, tapi saya hanya ingin menjalankan keyakinan saya, saya ingin niat baik menolong orang lain tidak dengan melanggar syariat yang saya yakini."


Dia bercerita sambil melihat ke depan.


"Sepertinya alergi kita sama Pak, kalau saya biasanya alergi ikan laut tertentu, setiap kali saya memakannya saya akan mengalami hal yang sama dengan yang Bapak alami"


Perempuan itu menghentikan ceritanya dan melihat ke arah Nabil yang sudah mulai bernafas dengan teratur.


"Sepertinya sudah baikan Pak, saya permisi dulu, saya harus mengikuti tes di kampus depan situ, semoga lekas sembuh yah Pak, saya permisi!"


Perempuan itu berjalan dengan tergesah-gesah meninggalkan Nabil yang sudah bisa bernafas dengan normal.


Nabil melihat botol obat dan botol minum yang tertinggal, dan dia membaca Nama yang tertera di botol obat tersebut "NADIRA"


"Nadira" Ucap Nabil. "Terima kasih Allah sudah mengirimkan mu untuk menyambung nyawaku.


flashback of


Sejak saat itu Nabil selalu memikirkan seorang gadis yang bernama Nadira yang telah menolongnya, dan dia juga merasa salut dengan Nadira yang bisa menjaga syariat yang dia jalankan walaupun dalam keadaan darurat.

__ADS_1


Dia ingin mengetahui kehidupan Nadira lebih jauh , untuk itu dia selalu mengikuti Nadira, jika ada waktu luang. Selain untuk mengenal Nadira dia juga ingin menolong Nadira, jika suatu saat Nadira butuh bantuan, dia ingin menjadi penjaga rahasia Nadira, dan jika jodoh mempertemukan mereka maka dia sangat berharap bisa bersatu dengannya dalam ikatan suci pernikahan.


__ADS_2