Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Nadira, Naufal dan Buk Rita membawa Pak Heru yang sedang sakit ke puskesmas, saat datang ke puskesmas, hanya ada petugas jaga karna hari libur, dokternya tidak ada yang datang.


Buk Rita bingung harus bagaimana, melihat Pak Heru yang hanya diam, namun mereka tahu bahwa Pak Heru sedang menahan sakit yang teramat.


Nadira memberanikan diri bertanya kepada petugas yang berjaga di puskesmas


"Maaf Buk, apa tidak ada obat yang bisa mengurangi rasa sakit bapak saya?"


"Sebenarnya kita bisa memberi obat penghilang nyeri, tapi kalau sumber sakitnya tidak diketahui rasa sakitnya berkurang hanya untuk sementara waktu saja, jadi kita harus mengetahui apa penyebab sakit Bapaknya." Jawab petugas yang entah apa perawat atau hanya apoteker, atau hanya penjaga puskesmas saja.


Melihat Pak Heru yang seperti itu, Buk Rita benar-benar tidak tega, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Pak Heru ke rumah sakit.


Mereka lalu naik angkot lagi dan pergi ke rumah sakit terdekat, walaupun Pak Heru sangat kesakitan, namun sebisa mungkin dia berjalan agar tidak terlalu merepotkan keluarganya.


Mereka langsung menuju ke ruang UGD, karna mereka takut seperti di puskesmas tadi, yang tidak ada siapapun, dan kalau di rumah sakit, tentu ada dokter jaga di ruang UGD.


Di ruang UGD, Pak Heru langsung di letakkan di kursi roda dan di dorong oleh perawat pria.


"Maaf yang menemani pasien hanya boleh satu orang, yang lainnya silahkan tunggu di luar, ucap perawat tersebut.


Buk Rita masuk mengikuti perawat sedang Nadira dan Naufal menunggu di luar.


"Kak, kira-kira bapak sakit apa yah?" Tanya Naufal yang menjadi pendiam melihat bapaknya sakit.


"Gak tahi juga Dek, sekarang kita berdo'a saja supaya tidak ada penyakit yang serius sama bapak, dan bisa segera pulang" Jawab Nadira yang berusaha untuk tenang, padahal dia sungguh sangat khawatir juga.


Di dalam ruang UGD, Pak Heru sudah diperiksa oleh dokter, melihat keadaan Pak Heru dokter itu bertanya


"Apakah Bapak barusan melakukan pekerjaan yang berat Buk?" Dokter bertanya kepada Buk Rita karna Pak Heru sudah sangat lelah menahan rasa sakitnya.


"Iya Dok, suami saya baru saja bekerja sebagai kuli angkut". Jawab Buk Rita.


"Ibu bisa ikut ke ruang saya sebentar!" Dokter ingin menjelaskan penyakit Pak Heru kepada Buk Rita di tempat sepi, jadi Buk Rita bisa fokus mendengar penjelasannya.

__ADS_1


"Baik Dok" jawab Buk Rita, Tapi sebelum pergi dia meminta izin kepada Pak Heru untuk pergi sebentar.


"Pak, Ibu tinggal sebentar ke ruang dokter yah?"


Pak Heru hanya menganggukkan kepalanya.


Di ruangannya, Dokter mulai menjelaskan bahwa Pak Heru terkena Penyakit Hernia.


"Maaf Buk, menurut hasil pemeriksaan kami Bapak ini terkena penyakit Hernia, atau sering disebut dengan turun berok, yang muncul akibat keluarnya organ dalam tubuh melalui jaringan sekitarnya yang melemah.


jika dibiarkan tidak ditangani, hernia bisa menyebabkan aliran darah tersumbat sehingga terjadi kematian jaringan". Jelas dokter kepada Buk Rita.


"Astaghfirullah, jadi apakah masih bisa diobati dok?" Tanya Buk Rita yang tidak mengerti.


"Bisa Buk, yaitu dengan cara di operasi". lanjut dokter tersebut.


"Operasi Dok?" Ucap Buk Rita terkejut.


"Biayanya berapa Dok?" Tanya Buk Rita.


"Jika ibu punya jaminan kesehatan, bisa gratis Buk, Tanpa biaya tambahan, apakah Ibu punya jaminan kesehatan dari pemerintah atau dari tempat bapak bekerja?" Tanya Dokter.


"Kami tidak punya jaminan kesehatan apapun Dok, kalau misal kami harus membayar, kira-kira berapa biayanya Dok?" tanya Buk Rita.


"Mungkin sekitar lima belas jutaan Buk, tapi untuk lebih jelasnya ibu bisa bertanya kepada bagian informasi di depan Buk!"


"Maaf Dok, apa tidak bisa diberi obat saja Dok?, kami tidak punya biaya sebanyak itu dan kami juga tidak punya jaminan apapun" tanya Buk Rita sendu.


"Seperti yang sudah saya sampaikan Buk, usus Bapak itu sudah masuk ke tempat yang bukan seharusnya, jadi harus dikeluarkan" Tegas Dokter itu.


"Baiklah Dok, terima kasih, saya mau kembali dulu dan berdiskusi dengan keluarga lainnya". Jawab Buk Rita.


"Silahkan Buk" Jawab Dokter yang mempersilahkan Buk Rita untuk keluar jika tidak ada pertanyaan lagi.

__ADS_1


Buk Rita keluar dari ruang dokter dengan wajah bingung.


Dia merasa kasihan melihat Pak Heru yang kesakitan, namun untuk operasi dia sama sekali tidak mempunyai biaya, tabungannya saja paling hanya satu juta, kemana dia harus mencari kekurangannya, sedang jaminan kesehatan mereka sebagai guru honorer sama sekali tidak mendapatkan jaminan kesehatan, gaji mereka saja tidak seberapa, jadi mana bis untuk membayar Jaminan Kesehatan.


"Sesampainya di dekat Pak Heru, Buk Rita masih melihat Pak Heru yang kesakitan sangat. Dia terus memikirkan bagaimana caranya,


"Ya Allah tunjukkan kepada kami jalan keluar yang terbaik" Doa Buk Rita di dalam hati.


Sungguh dia tidak punya jalan keluar untuk masalahnya, akhirnya dia hanya memilih untuk berzikir, dia teringat ceramah seorang ustadz,' Jika menemukan suatu masalah yang tidak dapat dipikirkan jalan keluarnya, maka bacalah, hasbiyallah wani'mal wakiil, ni'mal maula wa ni' mannashir'.


Sepanjang perjalanan dari ruang dokter ke tempat Pak Heru hanya dzikir itu yang dia baca, dia berharap mendapatkan solusi untuk masalahnya.


Dia pun duduk di bangku tunggu pasien, Pak Heru masih memejamkan matanya menahan sakit.


"Bapak Sakit apa Buk" sapa seorang perempuan di samping Buk Rita yang sepertinya sedang menunggui ayahnya.


"Hernia Buk, atau turun berok". Jawab Buk Rita.


"Oh, di suruh operasi yah Buk?" Tanya perempuan itu lagi.


Buk Rita Hanya menganggukkan kepalanya.


"Jangan mau Buk, soalnya kalau sudah di operasi banyak efek sampingnya buk, dari cerita orang-orang itu bisa diobati dengan di urut Buk, ada tukang urut yang biasa mengobati turun berok". Cerita perempuan itu lagi.


"Benarkah mba?" Tanya Buk Rita.


"Iya Buk beneran, kemarin ada tetanggaku yang turun berok Juga, ke rumah sakit katanya harus dioperasi, tapi karna dia kukuh gak mau operasi akhirnya dia datang ke tukang urut, alhamdulillah sekarang orangnya sehat". Jawab perempuan itu menceritakan pengalaman tetangganya.


"Mbak bisa kasih tahu alamat tukang urutnya" Tanya Buk Rita.


"Kayaknya di daerah P, tukang urutnya terkenal kom Buk, nanti kalau ibu sudah datang ke daerah itu, tanya aja rumah dukun Seri, insyaallah banyak yang tahu Buk, karna tukang urutnya lumayan terkenal". Perempuan itu memberikan informasi.


"Terima kasih Mba, infonya, sebaiknya kami segera keluar sari rumah sakit dan menuju ke daerah P, kasihan bapaknya sudah sangat kesakitan!" Buk Rita mengucapkan terima kasih kepada perempuan tersebut dan berlalu mendekat ke arah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2