
Keesokan harinya Nadira berangkat ke kampus dengan membawa 5 Kantong keripik singkong yang dia buat kemarin.
Dia membawa semuanya karna dia sudah bertanya kepada Farhan dan Reza, apakah mereka datang ke kampus atau tidak, melalui aplikasi hijau.
Dia membawanya masuk ke dalam kelas dan memilih duduk di bangku paling sudut agar kantong plastik yang di bawa tidak mengganggu orang yang lewat.
Belum ada yang datang ke kelas, jadi Nadira bisa memilih tempat duduk yang nyaman untuknya.
Tidak lama Evi muncul dan mengucapkan salam dengan nada yang ingin mengagetkan Nadira.
"As..salamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab Nadira dengan santai.
"Ih kok gak kaget sih Ra?" Tanya Evi yang gagal mengejutkan Nadira.
"Alhamdulillah Vi, karna aku lagi gak melamun, jadi aku gak kaget, yang kaget itu biasanya yang suka ngelamun, makanya suka kesambet setan lewat, hahaha" Nadira berkata sambil bercanda dengan Evi.
"Ish apaan sih Ra, pagi-pagi uda ngomongin setan aja!" Omel Evi.
Nadira hanya tertawa dan melanjutkan bacaannya.
Wanda dan teman-temannya masuk ke dalam kelas, seperti biasa, saat mereka datang maka suasana hening berubah menjadi bising.
"Hei, anak kampung kamu mau jualan juga di kelas ini?" Tanya Sopiah kepada Nadira.
Nadira tidak mengacuhkan perkataan Sopiah dia masih melanjutkan bacaannya.
Evi yang tidak mengetahui plastik hitam di samping Nadira merasa bingung, kalau anak kampung yah dia tahu yang di ajak bicara artinya Nadira, kalau jualan, Evi bingung kenapa dia bertanya bahwa Nadira akan berjualan.
Sopiah dan Bela mendekat ke arah Nadira, sedang wanda duduk di kursi.
Sopiah lalu mengambil plastik hitam milik Nadira dan hendak membukanya.
"Maaf Sopiah, itu plastik hitam milikku, mohon minta izin dulu jika ingin membukanya!" Nadira berkata kepada Sopiah.
__ADS_1
"Kalau tidak ingin dibuka, jangan diperlihatkan dengan orang lain!" Jawab Sopiah masih memegang plastik hitam tersebut.
"Hei Sopiah, dasar mata kamu aja yang jelalatan, aku dari tadi sudah datang lebih dulu, duduk juga dekat dengan Nadira, tapi aku gak melihat plastik itu, berati Nadira sudah menyembunyikannya agar tidak terlihat, dasar kamunya aja yang sangat perhatian dengn Nadira, jadi segala tentang Nadira kamu ingin tahu!" Jawab Evi yang kesal dengan Sopiah.
"Apa, perhatian sama anak kampung ini!, Hello, emang aku kurang kerjaan memperhatikan dia." Jawab Sopiah dengan gaya soknya.
"Nah kalau kamu memang ada pekerjaan, sini itu kantongnya balikin sama aku, kecuali jika kamu memang tidak ada pekerjaan dan mau tahu segala hal tentang aku, yah silahkan dibuka itu plastiknya!" Jawab Nadira dengan tersenyum.
Mendengar perkataan Nadira Sopiah tidak bisa menjawab, dia lalu memberikan plastik itu kepada Nadira tanpa membukanya.
"Yuk Bela, kita kembali ke kursi kita, dari pada meladeni orang kampung ini, nanati kita ikut kampungan juga!" Ucap Sopiah sambil berjalan dengan langkah cepat karna kesal tidak bisa mengerjai Nadira.
Selesai sholat dzuhur dan makan siang, Nadira mengajak Evi dan Sarah ke ruang BEM untuk menemui Farhan, Reza dan Sam.
Saat sampai, mereka mengucapkan salam dan masuk karna ada jawaban dari Reza.
"Udah sehat Nadira?" Tanya Reza berbasa-basi.
"Alhamdulillah Kak, terima kasih atas perhatian kakak-kakak kepada Nadira, ini kemarin saya membuat keripik singkong, Bapak memanen banyak singkong, jadi saya kepikiran aja untuk membuat keripik". Ucap Nadira sambil memberi satu bungkus kepada satu orang.
"Jangan Kak, itu dibawa pulang aja, bagi-bagi aja sama keluarga di rumah, Atau nanti kalau misalnya kakak pikir gak layak dibawa pulang kakak bagi-bagi aja sama siapa aja deh!" Nadira menjawab dengan rasa tidak enak, dia sadar jika memang keripiknya hanya buatan rumahan, dia merasa tidak layak memberikannya kepada keluarga mereka yang berada.
Mendengar ucapan Nadira, Reza menjadi tidak enak hati. Menyadari hal itu Farhan kemudian berkata.
"Ya uda Za, punya kamu buka sekarang biar kita makan bareng-bareng, lagian juga di rumah kamu kan sedikit orangnya biar dibawa pulang juga, paling kamu sendiri yang makan, kalau aku sama Sam kan banyak penghuninya jadi punya kami, gak boleh dibuka sekarang harus dibawa pulang!"
"hehe, iya boleh nih!" Reza menyodorkan keripiknya untuk dibuka.
Mereka lalu memakan keripik buatan Nadira.
"Wah Nadira ini enak, renyah dan gurih, asinnya juga pas!" Ucap Sam dengan mulut yang mengunyah keripiknya.
"Hem iya, Nadira aku mau lagi yah besok bawakan lagi, untuk cemilan di rumah!" Ucap Reza.
"Ih Kak Reza, tadi aja katanya gak usah, sekarang malah minta lagi!" Ucap Evi asal menjawab.
__ADS_1
Reza hanya tersenyum dan terus memakan keripik singkong buatan Nadira.
"Ra kamu bikin sendiri?" Tanya Sam.
"Enggak Kak, di bantu sama ibu dan Naufal" Jawab Nadira jujur.
"Hah, Naufal?, Emang dia bisa masak?" Tanya Sam lagi.
"Kalau masak sih gak bisa Kak, Tapi kalau mengiris bisalah!" Jawab Nadira.
"Ih apa gak gengsi tuh cowok di dapur?" Ucap Sam lagi.
"Kak Samsudin, kenapa harus gengsi, banyak kok Chef-chef cowok yang terkenal, nih ketahuan pasti kak Samsudin gak pernah bantuin ibu masak!" Ucap Evi.
"Ya iyalah masak Sam yang keren kerja di dapur, gak level lah!" Ucap Sam dengan gayanya.
"Yang keren itu malah cowok yang di dapur loh Kak, kalau cowok yang gak biasa di dapur itu biasa, tapi kalau cowok yang mau di dapur itu baru luar biasa!" Jawab Evi lagi.
"Pasti yang jadi suami kamu nanti, kerjaannya banyak di dapur kamu suruh-suruh terus!" lanjut Sam menanggapi omongan Evi.
"Nanti suamiku juga gak perlu di suruh-suruh di dapur, dia akan ke dapur sendiri deh, karna banyak hal romantis yang bisa dilakukan di dapur berdua!" Ucap Evi sambil tersenyum.
"Dasar gak waras, hal romantis apa yang bisa di kerjakan di dapur, yang ada nanti bukan romantis tapi banyak drama yang terjadi!, hahaha" Ucap Sam sambil tertawa mendengar omongan Evi.
"Bumbunya kamu bikin dari apa Ra?" Tanya Farhan untuk menghentikan perdebatan Evi dan Sam yang tiada henti.
"Gak pakai bumbu apa-apa Kak, cuma garam aja!" Jawab Nadira
"Gak pakai penyedap?" Tanya Farhan Lagi.
"Enggak Kak" Jawab Nadira jujur.
Farhan teringat dengan ibunya yang tidak terlalu suka makanan yang memakai penyedap, jika dia mencicipi keripik Nadira, dia akan suka, Farhan berfikir untuk membawa pulang keripiknya untuk diberikannya kepada ibunya.
"Yah Sudah Kak, silahkan dimakan lagi keripiknya, maaf cuma keripik biasa, tidak sebanding dengan apa yang Kakak-kakak berikan untuk saya!, kami permisi Kak!" Nadira mengajak Sarah dan Evi untuk pergi dari sana meninggalkan ruang BEM.
__ADS_1