
Mereka tiba di Mushollah dan langsung menuju tempat untuk mengambil air wudhu.
Saat waktu adzan tiba Pak, Pak Heru memberikan mik kepada tiga orang tersebut untuk menawari mereka adzan.
Farhan langsung menerima dan mengambil miknya, dia melantunkan adzan seperti biasanya.
Suara adzan dengan nada yang sama seperti Naufal hanya suara yang berbeda, namun terdengar sama-sama syahdu.
Di rumah Nadira, mendengar suara adzan, Nadira terbangun begitupun Sarah, sedang Evi dia tidak terganggu sedikitpun dia masih terlelap dalam tidur siangnya.
'Suara adzan ini seperti waktu di mushollah kampus' Pikir Nadira di dalam hati. Dia menikmati lantunan adzan yang syahdu serta menjawab setiap kalimatnya.
Nadira berusaha untuk bangkit dan mengambil air wudhu, "Kamu mau kemana Ra?" tanya Sarah.
"Mau mengambil air wudhu, mau sholat ashar" Jawab Nadira.
"Kamu udah mendingan Ra?" Tanya Sarah lagi.
"Alhamdulillah Sar." Jawab Nadira.
"Mau aku bantu, takutnya jatuh lagi kayak tadi" Tawar Sarah yang masih mengkhawatirkan Nadira.
"Insyaallah aku uda mendingan Ra" Jawab Nadira meyakinkan Sarah.
Saat mereka masih mengobrol mereka mendengar suara percikan air dari kamar mandi, mereka saling tatap.
"Siapa yang di kamar mandi yah Ra?" Tanya Sarah yang segera mengenakan kerudungnya, serta menutupi kepala Evi, sebenarnya mereka sudah berfikir bahwa keluarga Nadira sudah pulang, tapi mereka tidak tahu siapa yang ada di dalam toilet.
Tidak lama Buk Rita keluar dari dalam toilet.
"Oh, Ibu!" Ucap mereka bersamaan.
"Iya, kalian pikir siapa?" Seru Buk Rita sambil tersenyum.
"Hehe" Nadira dan Sarah hanya tersenyum.
"Tadi ibu sudah salam, tapi kalian tidur dengan nyenyak jadi sengaja gak ibu bangunin!" Buk Rita menjelaskan kepada mereka.
__ADS_1
"Pak Heru sama Naufal kemana buk?" Tanya Sarah. Dia khawatir tadi mereka masuk ke rumah dan melihat dia yang tertidur tanpa kerudung.
"Mereka langsung ke mushollah tadi, karna kami pulang sudah hampir masuk waktu ashar, jadi mereka menitipkan tasnya saja untuk dibawa masuk rumah, sedang mereka langsung pergi ke mushollah". Jawab Buk Rita sedikit berbohong karna dia tidak mau Sarah merasa bersalah. Di dalam hati Buk Rita meminta ampun kepada Allah karna sudah berbohong.
"Yah sudah ibu mau sholat dulu, kalian mau ke toilet juga kan?" tanya Buk Rita.
Untung Evi tidur di sebelah sudut, jadi Buk Rita bisa sholat tanpa menyuruhnya pindah. Mereka bergantian sholat, setelah mereka selesai, Sarah membangunkan Evi, karna kalau tidak dibangunkan bisa sore Evi bangunnya gak enak sama Pak Heru dan Naufal.
"Evi... Vi..." Sarah membangunkan Evi.
Evi menggeliat sedikit, berbalik dan memejamkan matanya kembali.
"Ya ampun Evi, dasar kebo kalau sudah tidur" Omel Sarah.
"Evi... Vi... Yuk bangun nanti kamu diomelin kak Sam loh karna membuat dia pulang terlambat!" Setu Sarah.
Mendengar Sam yang mengomel Evi segera membuka matanya.
"Uda ashar Vi, yuk Sholat dulu!" Perintah Buk Rita dengan lembut.
Evi menoleh ke arah Buk Rita, dia nyengir melihat Buk Rita.
Pak Heru, Naufal dan rombongan Farhan pulang saat Evi masih sholat.
Buk Rita mempersilahkan mereka masuk, setelah Evi sholat, Buk Rita menyuruhnya mengganti mukena nya di kamar.
Buk Rita membuat teh dan menghidangkan singkong goreng yang sudah di gorengnya saat sebelum ashar tadi.
"Maaf Nak, cuma ada singkong goreng!" Ucap Buk Rita sambil memberikan dua piring singkong goreng di depan mereka.
"Ayuk Nak kita makan!" ajak Pak Heru yang memulai mengambil singkong goreng.
"Hem enak nih Buk!" Ucap Sam yang makan dengan lahap.
"Alhamdulillah Nak, hanya makanan orang kampung!" Ucap Buk Rita.
"Oh ya, sampai lupa, karna melihat Nadira pingsan tadi jadi tidak sempat memberikan ini!" Ucap Sam yang menyerahkan plastik yang berisi buah-buahan yang tadi dibelinya.
__ADS_1
"Apa, Nadira pingsan?" tanya Pak Heru dan Buk Rita bersamaan.
Sam Terdiam, dia takut salah ngomong.
"Iya Pak, Buk, tadi Nadira jalan kepala terasa bergoyang-goyang mungkin karna tekanan darah Nadira yang rendah!" Jawab Nadira.
"Astaghfirullah" Buk Rita beristighfar, dia menyesali keputusannya untuk meninggalkan Nadira sendirian, Qodarullah Sarah dan kawan-kawan ada, jadi bisa membantu Nadira.
"Terima kasih yah kalian semua sudah membantu Nadira, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan sebaik balasan!" Do'a Pak Heru untuk mereka.
"Aamiin" jawab mereka.
"Alhamdulillah Pak, Nadira orang yang baik, maka sesungguhnya Allah yang mengirim kami kesini untuk menolong Nadira" Ucap Farhan dengan santun.
Pak Heru dan Buk Rita merasa kagum dengan kebijaksanaan Farhan, anak muda yang gagah dan ganteng namun dapat berfikir dengan bijaksana dan bersikap dengan santun.
"Alhamdulillah" Ucap mereka bersamaan.
"Nadira, ini!" Reza memberikan Handphone yang sudah dia dan Farhan persiapkan.
Dia meletakkan handphonenya di lantai.
Nadira melihat ke arah handphone yang diletakkan Reza dan bertanya "Itu apa Kak?"
"Maaf sebelumnya, ini Handphone lama ku, tapi masih berfungsi dengan baik, di rumah gak kepakai, selama ini hanya tersimpan di dalam laci, mendengar cerita Ibuk kemarin, saya jadi teringat handphone ini, jadi dari pada mubazzir, lebih baik diberikan saja pada Nadira, semoga bisa bermanfaat!" Reza menjelaskan panjang lebar, dia takut Nadira dan keluarganya salah faham dengan maksudnya.
Mereka terdiam beberapa waktu, hanya saling lirik.
"Maaf Kak, tapi ini terlalu mahal untuk Nadira Kak, Nadira tidak punya apa-apa untuk membalas ini kak!" Nadira menolak dengan halus, karna dia tidak mau berhutang budi kepada orang lain, fan dia takut, jika suatu saat akan di ungkit masalah pemeberian itu, karna bagi Nadira Handphone yang diberikan Reza adalah barang mahal.
"Tidak apa-apa Dek, saya ikhlas, ini di rumah gak terpakai, bisa-bisa jadi barang rongsokan aja kalau lama tidak digunakan!" Reza masih berusaha meyakinkan Nadira.
"Kan bisa kak Reza jual" Nadira masih berusaha menolak, sebenarnya dia juga ingin menerimanya, tapi dia tidak ingin orang lain menilai dia mengambil kesempatan dari kebaikan orang lain.
"Barang seperti handphone ini Dek, kalau sudah lama dijual juga harganya gak seberapa, dan juga kalau di jual, akan dipakai oleh orang lain, kakak gak bisa lahi melihatnya, tapi kalau kamu yang pakai, jadi kalai kakak, kangen handphone lama kakak, tinggal cari kamu aja!" Reza terus berusaha membujuk Nadira.
Mereka tertawa mendengar penjelasan Reza kali ini.
__ADS_1
"Kami ada-ada aja Za, Pakao kangen sama handphone, hahaha" Sam berkata sambil tertawa.
Sedang Reza hanya nyengir menggaruk kepalanya yang tak gatal, karna dia menyadari kalau dia sudah salah kata.