Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Dendam Sasa


__ADS_3

Farhan yang baru mau masuk ke ruang rapat, terkejut melihat Sasa yang sudah mengangkat tangan ke arah Nadira, lalu dia bertanya "Ada apa ini?"


Melihat Farhan masuk, Sasa mengibas-ngibaskan kerudung Nadira, "Enggak ada apa-apa kok Han, tadi ada kotoran di kerudungnya Bibik ini, jadi aku mau bersihkan, soalnya dia gak ngeh pas aku kasih tahu dari jauh tadi, jadi aku mendekat agar bisa membersihkannya". Jawab Sasa dengan ekspresi yang dibuat seperhatian mungkin.


"Wah tumben ada kemajuan loh Sa, biasanya debu yang ada di pakaianmu aja kamu suruh orang bersihinnya, ini kamu malah mau bersihin kotoran di pakaian orang lain, Wah Nadira memang hebat bisa membuat Sasa ada kemajuan". Sam berkata sambil bertepuk tangan.


"Hari ini aku setuju dengan kak Sam, Hari ini Kak Sam memang keren". Seru Evi yang senang melihat Sasa yang merasa sebal.


"Baru mengakui kamu dek, Kak Sam kan emang keren dari sononya!" Ucap Sam dengan bangganya.


"Iya Kak, tapi cuma untuk hari ini, besok-besok gak tahu masih keren atau enggak". Jawab Evi sambil berlalu keluar ruangan karna takut Sam marah dan memberikannya hukuman, dan kalau lama-lama disana gak bakalan selesai debat mereka, jadi Evi memilih kabur.


"Alhamdulillah Kak, ruangannya sudah kami bersihkan, jadi kami mau permisi keluar, dan langsung pulang". Nadira meminta izin kepada Reza untuk pergi.


"Hei Bik!, itu kayaknya meja saya masih ada debunya, tolong dibersihkan lagi!" Ucap Sasa meminta tolong tapi dengan nada memerintah.


"Sa, Nadira juga mahasiswa di kampus ini, bukan pembantu yang bisa di suruh-suruh!" Ucap Reza dengan nada yang di tekan. Dia tidak suka dengan cara Sasa memperlakukan Nadira.


"Loh aku gak nyuruh Za, aku kan cuma minta tolong sama dia kok kamu yang sewot sih"


"Minta tolong juga ada caranya Sa, Kamu itu senior disini masa sama adek tingkat seperti tidak tahu sopan santun." Bantah Reza lagi.


"Enggak ap-apa Kak, aku lap lagi aja!" Nadira tidak suka melihat orang yang berdebat gara-gara dirinya lagiyan juga tidak terlalu sulit cuma tinggal mengelap aja.


Nadira hendak melangkah ke meja Sasa namun tidak jadi karena mendengar suara Farhan.


"Tunggu!, apa kamu sudah mendekat ke mejamu Sa?" Tanya Farhan kepada Sasa.

__ADS_1


"Belum" Jawab Sasa enteng yang tidak mengerti mengapa Farhan bertanya.


"Dari mana kamu tahu kalau mejamu masih berdebu" Tanya Farhan lagi.


"Ya ... melihat aja pakai mata Han" Jawab Sasa sedikit ragu.


"Kalau begitu, sekarang kamu pergi ke meja kamu dan pegang pakai tanganmu apa memang masih ada debu, atau matamu saja yang perlu kacamata?" Ucap Farhan dengan tegas.


Sasa melangkah dengan pelan, dia tahu kalau mejanya sudah bersih, dia bicara seperti itu hanya untuk mengerjai Nadira, dia tidak menyangka Farhan yang terkenal cuek malah mengurusi hal sepeleh seperti itu.


"Ini masih ada debu" Dia menyentuh atas meja dengan jari telunjuknya, tentu dia tidak mau ketahuan jika dia hanya membuat alasan untuk mengerjai Nadira.


"Baiklah, Nadira berikan lapnya kepada Sasa, biar dia sendiri yang mengelap mejanya yang masih berdebu!" Ucap Farhan tandas.


Nadira memberikan kain lap yang mereka gunakan kepada Sasa.


"Apaan sih Han, seumur-umur aku gak pernah pegang beginian, mana mau aku mengerjakan pekerjaan seperti ini". Jawab Sasa dengan ekspresi jijik.


Semua anggota yang ada disana terkejut dengan sikap Farhan yang biasanya irit bicara, dapat mengeluarkan kata-kata yang banyak.


Mereka semua terdiam tanpa kata, Sasa menunduk namun dalam hatinya, dia berjanji akan membalas Nadira yang membuat Farhan memarahinya di depan banyak orang.


"Ya udah yuk Nadira, Sarah kita keluar dulu!" Ajak Reza


Reza, Nadira dan Sarah keluar ruangan, sedang para anggota BEM mulai duduk di meja mereka masing-masing.


Di luar ruang rapat mereka mendekat ke arah Evi yang duduk di kursi, "Kok tadi keluarnya berlari gitu Dek? Kayak dikejar setan?" Tanya Reza setelah dekat dengan Evi.

__ADS_1


"Hahaha iya kak, memang betul dikejar setan, setan bermulut bebek!" Evi masih tertawa, sedang Nadira dan Sarah berusaha membungkam mulut Evi yang tertawa seperti mak lampir.


"Evi kita masih di ruang BEM ini, di dalam sana juga uda mau mulai rapat ketawanya di kecilin!" Ucap Sarah setengah berbisik.


"Hihihi maaf Kak, sengaja Kak, kalau gak keluar cepet-cepet bisa nyerocos terus ni mulut, gak enak sama anggota BEM yang lain" Jawab Evi yang tawanya sudah menghilang.


"Hehe, kamu ini Dek, ada-ada aja" Seru Reza sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak, setelah kami mengembalikan peralatan ini kami langsung permisi pulang yah?" Nadira ingin segera pergi dari sana, karena dia merasa tidak enak karna sudah membuat keributan sebelum acara rapat tadi, tentu para anggota BEM sudah melihat kejadian tadi.


Reza yang mengerti keadaan Nadira langsung membolehkan mereka pergi.


"Oke Dek terima kasih yah, dan nanti kalian bawa ini yah saat pulang!" Reza berkata kepada mereka sambil memberikan kantong plastik hitam.


"Ini apa Kak?, Bukan sampah yang minta tolong kami buang kan?" Tanya Evi saat menerima plastik hitam dari tangan Reza.


"Hahaha, Kamu benar Dek, ini Sampah yang kakak titip untuk kalian buang, tapi buangnya ke perut yah!" Ucap Sam sambil tertawa, dia merasa lucu dengan Evi yang apa adanya.


"Hehehe berarti ini salah satu bentuk tanggung jawab kakak yah, yang sudah menyita waktu rebahan kami?" Ucap Evi.


"Evi" Seru Nadira dan Sarah bersamaan.


"hehehe Iya Dek, maaf belum bisa bertanggung jawab untuk mengajak ke pelaminan". Canda Reza kepada Evi.


"Enggak apa-apa Kak, setelah lulus kuliah aja ke pelaminannya, hehehe." Evi membalas candaan Reza kepadanya.


Ketika mereka masih tertawa, terdengar pintu rapat terbuka, "Woi sekertaris, masih lama gak ditunggu nih, rapatnya belum bisa dimulai kalau notulennya belum ada" Panggil Sam yang hanya mengeluarkan kepalanya.

__ADS_1


"Waduh Mas Samsudin yang keren, jangan galak-galak gitu dong, nanti hilang kerennya" Evi berucap sambil menahan tawa dengan tangan yang menutup mulutnya, sedang Reza sudah tertawa mendengar Evi menyebut nama Sam dengan nama panjangnya.


Merasa di olok Evi, Sam berjalan keluar ruang dan menutup pintu rapatnya. "Hei Ember Bocor, cukup panggil kak Sam aja yah, Awas kalau panggil aku begitu lagi!" Sam memang selalu ingin dipanggil Sam saja, karna menurutnya terlihat keren seperti anak muda pada umumnya, tapi kalau dipanggil Samsudin dia merasa seperti Bapak-bapak, terkadang dia mengadu kepada kedua orang tuanya tentang namanya, tapi mu gimana lagi namanya sudah tercatat dimana-mana sebagai Samsudin akhirnya dia hanya bisa menerima Namanya dengan ikhlas.


__ADS_2