Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Di Mushollah


__ADS_3

Saat semua telah selesai mandi, Pak Heru meminta Nadira ke mushollah bersama Naufal, kasihan jika Naufal harus mengajar ngaji anak-anak sendirian, Nadira memang pernah mengajar mengaji, tetapi semenjak kuliah, Nadira tidak pernah lagi ke mushollah karena dia pulang kuliah sudah sore hari.


"Ra hari ini, kamu shalat maghrib di mushollah aja, bantuin adek menyimak anak-anak mengaji, kasihan kalau sendirian bakal gak selesai sampai waktu isya!" Pak Heru berkata sambil memejamkan matanya karna masih merasakan pusing di kepalanya.


"Baik Pak, Bapak istirahat aja, gak usah banyak pikiran!" jawab Nadira. Sebenarnya Nadira juga senang mengajar mengaji, dia juga rindu bisa bertemu dengan anak-anak yang lucu-lucu, walaupun kadang dalam mengajari mereka ada saatnya dia merasa gemas karana ada anak yang tidak mudah memahami apa yang dia ajarkan, tetapi dia sangat bersemangat saat mengajar mengaji, karna setiap huruf yang dibaca oleh orang yang diajari mengaji, pahalanya akan mengalir kepada orang yang mengajar, oleh karna itu dia sangat senang dapat mengajar mengaji di mushollah.


"Dek, tungguin kakak yah, kakak sholat di mushollah juga!" Pinta Nadira kepada Naufal adiknya.


"Ayok kak, cepet yah, adek mau membersihkan mushollah dulu!"


"Iya dek, nanti kakak bantu, sabar dikit yah, kakak siapin mukenah kakak dulu!".


Setelah siap Nadira dan Naufal berjalan bersama ke mushollah, belum banyak orang di Mushollah, biasanya saat sudah adzan, baru mulai akan berdatangan para jamaah yang akan melaksanakan sholat.


Saat datang, Nadira meletakkan mukenanya dan mengambil sapu, lalu mulai menyapu, sedang Naufal menggelar karpet. Setelah selesai Nadira segera memaki mukena, dia tidak perlu mengambil wudhu lagi, karna kebiasaan Nadira, jika akan sholat di mushollah sudah terlebih dulu mengambil air wudhu di rumah, hanya ketika batal wudhu nya, dia baru berwudhu di mushollah.


Waktu maghrib pun telah masuk, Naufal segera mengumandangkan adzan, hati Nadira selalu merasa damai saat mendengar adzan adiknya, apalagi saat ini dia dapat melihat langsung suasana adzan di mushollah, biasanya dia hanya mendengar tanpa melihat, tentulah dia merasakan suasana yang sangat berbeda.


Para jamah mulai berdatangan, mulai dari yang tua, yang muda, anak-anak bahkan ada bapak yang mengajak anaknya yang masih balita untuk sholat berjamaah, tapi pemandangan ini hanya terlihat pada saat sholat maghrib saja, waktu sholat yang lain, tidak seramai waktu maghrib karana kebanyakan penghuni komplek sholat di rumah masing-masing.


"Eh ada Kak Nadira!" seru salah seorang anak yang baru datang.


Nadira tersenyum sambil menempelkan jari telunjuknya ke mulut, sebagai isyarat untuk diam karna adzan masih berkumandang.


Anak itu tersenyum dan mendekat ke arah Nadira lalu mencium tangan Nadira, Lalu segera duduk di samping Nadira untuk melaksanakan sholat.


Selesai sholat dan berdzikir, mereka bersalam-salaman, para jama'ah pria menanyakan keberadaan Pak Heru karna tidak melihatnya, Naufal hanya mengatakan bahwa bapaknya tidak enak badan.

__ADS_1


sedangkan anak-anak sudah bersiap mengambil Qur'an mereka masing-masing, yang laki-laki mengaji bersama Naufal dan yang perempuan ngaji bersama Nadira.


Saat anak lelaki sudah mulai mengaji bersama Naufal, para anak perempuan masih mengobrol dengan Nadira.


"Kak Nadira sudah lama gak ke mushollah, kangen sama kakak" ucap salah seorang anak.


"Iya maaf yah, semenjak kuliah kakak pulang sore terus, jadi gak sempat ke mushollah, kakak juga kangen adek-adek kakak yang pintar-pintar dan sholehah ini." Nadira menjawab dengan ramah dan terus tersenyum."Bagaimana ngajinya udah lancar belum?" tanya Nadira lagi.


"Sudah dong kak, kita belajar ngaji sama Pak Heru, gak bisa ngobrol-ngobrol ataupun main-main, dari maghrib sampai isya' ngaji terus jadi lancar".


"Alhamdulillah bagus dong kalau begitu, tambah sholehah aja adek-adek kakak ini".


"Tapi gak seru kak, gak bisa ngobrol, gal bisa main, jadi bosanlah kak."


Nadira hanya tersenyum menanggapi obrolan anak-anak tersebut.


Nadira memanggil mereka satu persatu dan menyimak bacaan mereka, apabila ada yang salah maka dia akan membetulkan bacaan anak-anak tersebut.


Sampai waktu isya Nadira sudah menyimak bacaan semua anak, dan mereka tutup dengan membaca do'a pula. Masuk waktu isya mereka sholat berjamaah dan saat hendak pulang, anak-anak tersebut mendekati Nadira lagi.


"Kak Nadira besok, kak Nadira mengajar ngaji lagi yah, enak kalau ngajinya sama kak Nadira, seru, bisa ngobrol, bisa cerita-cerita".


Nadira tersenyum dan berkata "Kakak enggak janji ya Dek, soalnya besok Kakak harus kuliah, dan pulangnya sore, Insyaallah kalau Kak Nadira ada waktu, Kak Nadira menemani kalian mengaji lagi yah!"


"hem gak seru dong!" jawab mereka.


"Ya sudah, sekarang kita pulang dulu yuk, jangan lupa doain Kak Nadira biar dipermudah segala urusan, dan diberikan waktu yang lapang biar bisa menemani kalian mengaji lagi okey!"

__ADS_1


"Baik Kak" jawab mereka bersama-sama.


Mereka lalu menyalami Nadira, dan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Setelah semua anak-anak pulang dan mushollah sudah kosong, Nadira membantu Naufal menutup jendela dan pintu, lalu mematikan lampunya, karna setelah sholat isya, mushollah kosong, jadi yang dihidupkan hanya lampu terasnya saja, tapi pintunya hanya di tutup tidak dikunci, karna mungkin ada orang yang ingin beribadah di mushollah, jadi tidak perlu mencari kunci lagi, tinggal membuka pintu dan menghidupkan lampunya.


"Ciye yang banyak penggemarnya!" Naufal menggoda Nadira dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.


"Apaan sih dek?" Gerutu Nadira.


"Anak-anak itu kayaknya senang banget pas Kak Nadira yang menyimak, mereka kelihatan ceria dan bersemangat saat membaca alquran, kalau sama Bapak, jangankan ceria, kalau baca hampir gak ada suaranya, hahaha" Naufal bercerita sambil tertawa.


Nadira ikut tertawa bersama Naufal karena dia membayangkan anak-anak yang takut dengan Pak Heru.


Sebenarnya Pak Heru tidaklah pemarah saat mengajar, dia malah termasuk orang yang sabar, cuma karena memang Pak Heru jarang tersenyum, jadi kelihatannya Pak Heru adalah orang yang pemarah, sehingga anak-anak biasanya akan takut jika berhadapan dengan Pak Heru. Sangat berbeda dengan Buk Rita, kalau Buk Rita justru tidak sabaran dalam mengajar, tapi Buk Rita orangnya murah senyum, bahkan setelah marah-marah dia akan mendekati anak-anak didiknya lagi, jadi mereka tidak merasa takut saat berhadapan dengan Buk Rita.


Sesampainya di rumah, Nadira dan Naufal tidak langsung mengucapkan salam, mereka melihat keadaan dulu, takut Pak Heru sedang tidur, karna rumahnya sepi, mereka hanya mengetuk pintu dan mengucap salam dengan suara yang pelan.


Buk Rita membuka pintu dan menjawab salam mereka juga dengan pelan takut membangunkan Pak Heru yang sedang tidur.


"Kalian makan berdua yah, Ibu tadi sudah makan, takut bapak membutuhkan bantuan Ibu!" Perintah Buk Rita kepada kedua anaknya.


Selesai makan mereka, langsung beristirahat, untuk malam itu mereka membaca buku sendiri-sendiri, karena Pak Heru sudah tidur.


Jam 22.00 mereka pun tidur. Sebelum tidur Buk Rita meletakkan tangannya pada kepala Pak Heru untuk memeriksa suhu badannya.


"Alhamdulillah panasnya sudah berkurang, Semoga besok bangun bapak sudah sehat" Buk Rita bergumam dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2