Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Dukun Seri


__ADS_3

Buk Rita menceritakan semuanya kepada Pak Heru, tapi dia tidak langsung memutuskan, dia bertanya kepada Pak Heru dulu, karna yang merasakan adalah Pak Heru, jadi dia menyerahkan keputusannya kepada Pak Heru.


"Ya sudah ayuk Buk, kita keluar dari rumah sakit saja dan segera pergi ke tukang urut itu". Ajak Pak Heru.


"Baik Pak, Ibu minta Naufal masuk, biar ibu sama Nadira bisa mengurus administrasinya dulu" Pamit Buk Rita


Buk Rita keluar, setelah Naufal masuk dia mengajak Nadira mengurus administrasi, karna dia memutuskan untuk keluar rumah sakit, jadi mereka hanya membayar biaya periksa saja. Beruntung Buk Rita membawa uang, jadi bisa langsung membayar saja.


Setelah selesai mereka mengajak Pak Heru keluar dan menunggu angkutan umum.


"Kita langsung ke daerah P, atau pulang dulu Buk?" Tanya Nadira


"Bagaimana Pak, apakah bapak masih bisa menahan rasa sakitnya?" Tanya Buk Rita kepada Pak Heru.


Pak Heru hanya menggeleng, dia ingin segera pergi ke daerah P saja, akhirnya mereka langsung menuju ke daerah P.


Untuk pergi ke daerah P mereka harus menempuh jalan sekitar satu jam, setengah jam pertama mereka bisa berjalan dengan tenang karna jalan yang mereka lalui adalah jalan yang mulus.


Tapi setengah jam berikutnya Pak Heru hanya bisa menahan rasa sakit saja, karna jalan yang dilalui adalah jalan yang banyak lobang, setiap kali mobil melewati lobang maka Pak Heru akan merasakan sakit yang teramat.


Saat sampai di daerah P, mereka pun harus berjalan dan beberapa kali bertanya kepada penduduk untuk sampai ke rumah Dukun Seri.


Tok... tok... tok...


"Assalamualaikum" Buk Rita mengucapkan salam.


"waalaikum Salam" Jawab suara dari dalam rumah.


Pak Heru tidak sabaran, dia ingin segera berbaring karna dia merasakan rasa sakit yang lebih dari pada sebelumnya.


Begitu pintu terbuka, keluarlah seorang pria yang tidak besar juga tidak kecil, namun wajahnya selalu tersenyum, dia kira-kira lebih tua dari Pak Heru.


"Maaf Pak, apakah ini benar rumah dukun Seri?" Tanya Buk Rita

__ADS_1


"Iya betul dengan saya itu, silahkan masuk buk!" Ajak Dukun Seri dengan ramah.


"Mari duduk!" Perintah Dukun seri mengajak mereka duduk di atas tikar pandan, karna memang di rumah itu dia tinggal sendiri, karna anak-anaknya sudah berumah tangga, sedang istrinya sudah tiada.


"Apakah Bapak ini lagi sakit?" tanya dukun Seri.


"Iya Pak, tadi ke rumah sakit katanya Hernia atau turun berok!"


Dukun Seri hanya manggut-manggut


"Ayo Pak berbaring di sini!" Dukun Seri meminta Pak Heru berbaring di tikar plastik yang sudah disediakan di ruang tengah dan ada satu bantal yang terletak di atasnya.


Profesi Dukun Seri sebagai tukang urut membuatnya sudah terbiasa menyiapkan segala keperluan untuk mengurut setiap orang yang membutuhkan bantuannya, seperti minyak urut, kain dan lain sebagainya.


"Bapak ganti celananya dengan kain ini yah, agar mudah saya mengurutnya" Perintah dukun Seri.


Dibantu Buk Rita, Pak Heru mengganti celananya, lalu berbaring.


Setelah setengah jam melakukan pijatan pemanasan, Dukun Seri meminta Pak Heru untuk menahan sedikit karna akan terasa sangat sakit.


"Argggh" terdengar teriakan Pak Heru.


Dan benar saja, gerakan dukun Seri kali itu sangat sakit, sehingga membuat Pak Heru berteriak.


Pak Heru merasa seperti ada sesuatu yang terangkat di perutnya, namun rasa sakitnya berangsur menghilang.


"Silahkan Bapak beristirahat dulu, jika memang ingin tidur silahkan tidur dulu, karna pasti bapak capek menahan sakitnya!" Ucap Dukun Seri.


Pak Heru tertidur dengan Buk Rita disampingnya.


"Permisi Buk, saya mau istirahat juga di kamar!" Pamit dukun Seri, karna tidak bisa dipungkiri jika diapun merasa capek setelah memijat pasiennya.


Sebenarnya dukun Seri tidak diperbolehkan oleh anaknya untuk melakukan pengobatan ini, karna takut dia kecapean tetapi karna dia ingin membantu orang lain, maka dia masih melakukannya, dengan syarat orang yang ingin berobat harus datang ke rumahnya, karna dia tidak mau diajak kemana-mana.

__ADS_1


"Buk bagaimana keadaan bapak?" Tanya Nadira yang masuk ke rumah diikuti oleh Naufal.


"Sepertinya sudah mendingan Nak, itu bapak sedang tidur" Jawab Buk Rita.


Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore, dan mereka belum makan sama sekali.


"Nadira, Naufal kalian pergi mencari penjual Nasi, atau Allah yang bisa dimakan, jangan lupa beli untuk dukun Seri juga yah!" Perintah Buk Rita.


"Biar Naufal aja sendiri yang pergi Buk, gak enak ibu sendirian di sini, sedang Bapak tertidur".Jawab Naufal yang khawatir jika ibunya sendirian, takutnya dia membutuhkan sesuatu.


"Baiklah Nak, kamu hati-hati yah!" Jawab Buk Rita.


Naufal pergi mencari penjual Nasi, karna mereka tidak makan siang itu karna khawatir dengan keadaan Pak Heru.


Setelah setengah jam, Naufal datang dengan membawa 5 bungkus Nasi padang.


"Ini Buk, ada 5 bungkus, tapi uang 50 ribu tadi gak ada sisa, itu Naufal sudah pilih yang paling murah" Naufal bercerita.


"Iya Nak, gak apa-apa, kamu sama kakakmu makanlah dulu kita bergantian, takut nanti bapak terbangun dan butuh bantuan!" Perintah Buk Rita, begitulah seorang ibu, dalam keadaan apapun dia akan mendahulukan anaknya, apalagi itu masalah makan, meski Buk Rita sebenarnya juga sangat lapar, tapi dia masih menyuruh anak-anaknya untuk makan terlebih dulu.


Naufal meminta Buk Rita untuk makan terlebih dahulu.


"Ibu makan dulu aja bareng Kak Dira, Kak Dira kan makannya lambat, nanti adek sudah selesai, kak dira baru seperempat yang sudah dia makan" Naufal berlata sebagai Aaasan Naufal agar Buk Rita segera makan.


"Tapi Kan kamu pasti capek dan lapar habis keliling-keliling mencari nasi, jadi gak apa-apa kami aja yang makan duluan sama kakakmu!" Jawab Buk Rita.


"Begini aja, kan adek makannya cepat, jadi adek aja makan duluan sama ibu, kalau adek selesai adk jagain bapak, biar Kak Dira makan setelah adek!" Nadira mengambil jalan agar segera makan, kalau terus berdebat nanti tambah lama waktu makan jadi tambah telat.


Mereka menyetujui ide Nadira dan makan di teras luar, sedang Nadira menunggi Pak Heru yang sedang tidur di dalam.


Seperti katanya Naufal memang bisa makan dengan cepat, baru setengah jalan Buk Rita makan, Naufal seudah selesai. Dia mencuci tangannya dengan air minum di dalam plastik yang tadi dielsediakan rumah makan, dia memang meminta lebih agar dapat digunakan untuk mencuci tangan.


Dia segera masuk ke dalam menggantikan Nadira, agar Nadira dapat segera makan bareng Buk Rita.

__ADS_1


Saat Nadira makan bersama Buk Rita, Pak Heru terbangun bertepatan dengan dukun Seri yang keluar kamar.


__ADS_2