
Farhan memanggil Naufal yang hendak keluar dari masjid untuk mengajaknya pergi ke ruang opersi bersama.
"Kakak ini temannya Kak Dira yang kemarin ke rumah yah?" Tanya Naufal.
Farhan menganggukkan kepalanya, sebenarnya Naufal ingin bertanya bagaimana Farhan bisa mengetahui keadaan keluarganya, tapi dia memendam dulu rasa penasarannya karna dia harus segera ke ruang operasi Bapaknya.
Mereka berjalan berbarengan dalam diam, Karna Farhan bukan orang yang mudah bergaul, Sedang Naufal pada dasarnya orang yang mudah bergaul tetapi pikirannya sedang fokus pada bapaknya, jadi dia tidak bisa banyak bicara saat ini.
Sesampainya di ruang operasi, mereka mendekat ke arah Buk Rita dan Nadira, Karna belum ada tanda-tanda Pak Heru akan keluar, Buk Rita dan Nadira sholat maghrib dulu, sedang Farhan dan Naufal menunggu di depan ruang operasi, mereka duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Buk Rita dan Nadira.
Naufal dan Farhan masih sama-sama diam, Naufal menyibukkan dirinya dengan membaca dzikir, sholawat serta do'a yang dia panjatkan untuk Pak Heru, sedang Fathan berkutat dengan handphonenya.
Hanya sekitar 15 Menit, Buk Rita dan Nadira kembali lagi ke ruang operasi. Naufal dan Farhan berdiri untuk mempersilahkan Buk Rita dan Nadira duduk.
Baru saja mereka duduk, pintu ruang operasi terbuka, terdengar suara memanggil
"Keluarga Heru Wahyudi". Buk Rita, Naufal dan Nadira menoleh ke arah suara, dan mendekat sedang Farhan masih berdiri di tempatnya.
Para perawat mendorong brangkar tempat Pak Heru menuju ke ruang rawat inap.
Buk Rita dan Naufal mengiringi dari belakang, sedang Nadira bergegas mengambil barang-barabg bawaannya tadi.
Tanpa berkata Farhan membawa yang tadi dibawanya, Nadira hanya melihat dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Kak, masih menemani kami disini!" Ucap Nadira dengan senyum tulusnya.
Farhan hanya menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Nadira.
Mereka berjalan sampai ke ruang rawat inap kelas 3, satu ruang diisi oleh 8 pasien dan hanya ada kipas angin sebagai pendingin ruangannya, dan toiletnya berada di luar ruang.
Beruntung saat itu ruang yang mereka tempati masih banyak ranjang kosong, cuma ada 4 pasien termasuk Pak Heru, jadi ruangannya tidak terlalu ramai dan sesak.
__ADS_1
Ini adalah kali pertama bagi Nadira dan keluarganya berurusan di rumah sakit, jadi mereka tidak terlalu faham caranya, sehingga mereka hanya mengikuti saja alur yang harus dijalani.
Setelah selesai memindahkan ranjang Pak Heru, para petugas meninggalkan mereka.
"Pak, bagaimana Pak, apa yang Bapak rasakan?" Tanya Buk Rita khawatir.
"Dingin Buk!" Hanya itu jawaban Pak Heru.
Buk Rita bingung padahal ruangannya panas tapi Pak Heru kedinginan, selain itu Pak Heru juga sidah memakai selimut, jadi Buk Rita bingung kenapa Pak Heru masih merasa kedinginan.
"Mang begitu Pak, itu pengaruh dari obat biusnya, nanti akan hilang sendiri, tapi kalau Nadira membawa kain tidak apa-apa kalau mau diselimutkan di badan Pak Heru". Farhan menjelaskan, karna dia pernah membaca tentang operasi jadi sedikit banyak dia mengetahuinya.
"Ita Buk, tadi Nadira membawa kain sarung bapak, sebentar Nadira ambil biar bisa di pakai sebagai tambahan selimut.
Nadira mengambil kain sarung yang dia bawa dan menyelimutkannya ke tubuh Pak Heru.
Tidak lama setelah itu Pak Heru tertidur, mungkin pengaruh obat dan memang juga karna kecapekan seharian dia menahan rasa sakit.
"Nadira, itu ada lemari kecil di samping ranjang, kamu pakai aja untuk memasukkan barang-barang yang tadi kami bawa ke dalamnya, karna itu memang diperuntukkan untuk pasien dan orangbyang menunggunya". Farhan memberi tahu Nadira.
"Sama-sama Nadira, kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan menelpon saya, Nomor saya sudah ada di handphonmu!". Farhan meminta Nadira menelponnya jika sda sesuatu.
"Baik Kak, sekali lagi terima kasih, oh iya Kak, Kakak tadi bersama Kakek Kan?, memang siapa yang sakit Kak?" Tanya Nadira.
"Nenek yang di rawat, biasa gula darahnya lagi tinggi, jadi harus dirawat sampai gul darahnya normal, ini sudah hari kedua kami di rumah sakit!" Jelas Farhan.
kruk... kruk... mereka melihat ke arah Naufal, karna perutnya berbunyi, Naufal hanya nyenhir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehehe, maaf" Ucap Naufal.
"Ra, tadi kamu bawa nadi sama lauk kan?, Yah uda sekarang kalian makan aja, biar ibu yang jaga bapak dulu". Ucap Buk Rita menyuruh mereka makan.
__ADS_1
"Sebelum mulai makan saya pamit aja dulu Buk, takutnya Kakek lama menunggu saya!" Farhan pamit, karna dia tahu makanan yang dibawa Nadira hanya cukup untuk mereka, jadi lebih baik dia pergi, dari pada mengganggu mereka.
"Loh gak makan dulu Kak?." Tanya Naufal.
"Gak usah Dek, Kakak mau lihat kakek sama Nenek dulu!" Farhan menolak secara halus.
Farhan mendekati Buk Ritadan menyalaminya, untuk pamit.
"Terima kasih Nak, kami jadi merepotkan kamu". Ucap Buk Rita.
"Enggak repot kok Buk, cuma menemani saja, masak repot!" Jawa. Farhan dengan tersenyum.
Farhan pun meninggalkan ruangan mereka dan pergi ke ruang neneknya di rawat.
Nadira menyiapka dua piring nasi beserta lauknya, Naufal makan dengan satu piring, sedang dia dan Buk Rita makan di piring yang sama.
Mereka makan dengan cepat, karna dalam kondisi seperti itu, mereka hanya makan untuk mengisi perut saja, mereka sama sekali tidak mempunyai nafsu makan, jika di turuti maka mereka tidak akan makan malam itu.
Setelah selesai, Nadira mencuci piring, Buk Rita membereskan sisa makanannya, dia berharap sisa nasi dan lauknya masih bagus besok pagi, jadi dia tidak perlu membeli untuk sarapan besok.
"Malam ini sebaiknya kalian pulang, tidur di rumah aja, biar ibu yang jaga Bapak di sini, besok Nadira tolong pergi ke sekolah dan mintakan izin sama kepala sekolah untuk bapak sam ibu, kalau memang di butuhkan kamu gantiin dulu ibu sama bapak mengajar, takutnya gak ada guru pengganti kasihan anak-anak kalau kelasnya kosong!" Ucap Buk Rita memberi perintah kepada anak-anaknya.
"Baik Buk, tapi kami ingin menunggu bapak bangun dulu buk!" Jawab Naufal.
"Gak perlu Nak, besok setelah sekolah kalian kesini lagi aja baru ngobrol sama Bapak, nanti kamalaman gak bagus!" Jawab Buk Rita
Akhirnya Naufal dan Nadira menuruti perintah Buk Rita untuk pulang malam itu, walaupun hati mereka ingin menunggui Pak Heru juga.
Setelah menyalami Buk Rita, mereka keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar rumah sakit.
"Dek, kita pulangnya jalan kakinaja yuk!, biar bisa hemat ongkos!" ajak Nadira kepada Naufal.
__ADS_1
"Ya allah Kak, ini jauh loh dari rumah, kalau siang soh gak masalah, ini malam bahaya kak!" Jawab Naufal.
"Gak apalah kita mengeluarka uang sedikit, tapi kita dapat merasa tenang kak, dari pada jalan kaki tapi ada rasa was-was" Lanjut Naufal yang melihat Nadiraasih ragu.