
Selesai sholat maghrib, buk Rita bingung harus masak apa, tadi sore dia hanya mengambil apa yang ada di kebun, hanya ada tomat Cherry, dan cabe hijau.
Ketika buk Rita sedang berfikir, Nadira mendekat "ibu mikirin apa, kok dari tadi bengong aja?"
"ibu mikirin ini tomat cherry sama cabe mau di masak apa?"
"bu perasaan di lemari ada sedikit ikan teri, coba Nadira lihat dulu"
Nadira beranjak menuju lemari dan mencari ikan teri yang di lemari.
"alhamdulillah, masih ada buk!"
"terus mau di masak apa Ra? Tanya buk rita
"ibu duduk aja atau baca qur'an aja, serahkan tugas ini kepada Chef Nadira" Nadira berkata sambil mengangkat sutil yang dia pegang ke arah dadanya dan dengan intonasi seperti upin dan ipin saat mulai menjadi detektif.
"ih Nadira bikin kaget aja, hampir aja tu sutil kena kepala ibu."
"hehehe, maaf bu, Nadira Over spirit"
bu Rita hanya menggeleng melihat kelakuan Nadira, lalu dia melangkah mendekati pakaian yang dari jemuran yang belum sempat dilipatnya.
Selagi bu Rita melipat pakaian, Nadira melanjutkan kegiatannya menjadi chef, dia mengambil bawang merah, bawang putih, cabai yang tadi di ambil buk Rita, lalu mengupas semuanya dan meletakkan di dalam mangkuk untuk di cuci, setelah itu ia mengambil tomat cherry dan membuang tangkai atasnya kemudian dia mencuci semua bahan tadi dan mengiris semuanya.
Setelah semua bahan siap, Nadira mulai memanaskan wajan dan memasukkan sedikit minyak goreng, setelah panas Nadira lalu memasukkan bawang merah, bawang putih dan cabai yang sudah di iris, setelah harum Nadira memasukkan tomat cherry yang sudah di iris setelah layu baru Nadira memasukkan ikan teri yang sudah di cuci, terakhir Nadira beri sedikit air dikasih garam dan sedikit gula, setelah diaduk sebentar lalu Nadira mengoreksi rasanya, kemudian dia matikan kompornya, masakannya pun sudah selesai.
"Sudah selesai Ra?" tanya bu Rita yang hendak ke toilet.
"alhamdulillah uda bu".
__ADS_1
"di tutup dulu wajannya, lalu siap-siap sebentar lagi mau masuk waktu isya!"
"oke bu!"
Setelah melaksanakan sholat isya', Bu rita dan Nadira segera menyiapkan tempat untuk makan malam mereka, selesai menghidangkan makanan, pak Heru dan Naufal sampai di rumah setelah sholat isya' di mushollah.
"ayo pak, dek kita makan dulu" ajak bu Rita, "hari ini menu kita disiapkan oleh chef Nadira" bu Rita berkata sambil mengacungkan jempolnya.
"bu siapin air yang banyak, takutnya nanti ada bumbu yang kelebihan," bisa keselek kita kalu gak banyak minum" Naufal berkata sambil menggoda kakaknya.
"ih adek kebiasaan deh, awas aja nanti kalau minta tambah, belom tahu aja kalau kakak ini juga bisa masak" sanggah Nadira.
"kalau bisa masak sih, naufal uda lama tahu tapi kalau masak yang enak nah itu Naufal belum pernah tahu, hehehe" kata Naufal lagi.
"Sudah ayo segera dimakan nanti keburu dingin!" seru pak Heru untuk menengahi percakapan anak-anaknya yang gak bisa selesai.
Setelah mencicipi masakan Nadira, pak Heru berkata "Kayaknya bapak belum pernah makan masakan ini nak?"
"kan dari tadi bapak uda makan, berarti lidah bapak bisa menerima, cocoklah sebagai lauk makan nasi. Jadi siapa yang ajarin masak kayak gini?"
"hehehe ga ada pak, tadi lihat ada bahan itu ya uda Nadira coba aja masak kayak gitu, kan biasanya tempe atau tahu yang dimasak kayak gitu, karna di dapur cuma ada teri, jadi Nadira coba aja masak kayak gitu dan alhamdulillah bisa dijadikan lauk makan"
"jadi chef Nadira, ini menunya mau dikasih nama apa?" tanya Naufal bergaya ala-ala komentator acara masak.
"apaan sih dek, abisin dulu tuh makanan yang di mulut baru ngomong, biar jelas omongannya!"
mereka tersenyum melihat Naufal yang bicara dengan mulut yang penuh.
Begitulah keluarga Nadira, walaupun makan dengan makanan seadanya, tapi mereka tetap makan dengan rasa nikmat, karna rasa syukur yang ada di hati mereka.
__ADS_1
Setelah membereskan sisa makan mereka, mereka pun langsung belajar bersama seperti biasa, saat hampir selesai, pak Heru pun mulai mengatakan keinginannya "Nadira, Naufal bapak mau ngomong sebentar!"
Ini juga salah satu kebiasaan keluarga yang diterapkan pak Heru dalam mendidik keluarganya, rencana apapun harus didiskusikan bersama, jika ada rencana atau keinginan apapun maka harus dibicarakan agar semua bisa saling membantu dan bertukar pemikiran, setidaknya walaupun tidak bisa memberi solusi, tapi setiap anggota keluarga mengetahui apapun tentang keluarganya.
Nadira dan Naufal pun diam menyimak apa yang akan disampaikan pak Heru.
"Rencananya bapak hari minggu nanti mau pergi ke pasar yang ada di kota untuk mencari pekerjaan sampingan, semoga bisa menambah penghasilan kita untuk mencukupi kebutuhan keluarga kita"
jelas pak Heru kepada keluarganya.
"Kerja apa pak?" Tanya Nadira, sedang Naufal hanya diam karna dia sudah mendengar percakapan bapaknya dan ibunya.
"Rencananya bapak mau jadi kuli angkut dulu aja. Seperti sahabat nabi Abdurrahman bin Auf ketika hijrah ke madinah meninggalkan kota Mekkah beliau tidak mempunyai harta sedikitpun, lalu beliau menjadi kuli angkut, dan setelah terkumpul modal, beliau memulai usaha yang akhirnya berhasil menjadi sahabat yang kaya, yang saking kayanya, di setiap jalan yang beliau lewati, jika ada batu maka dibawahnya akan ada emas."
"Apakah kalian keberatan jika bapak menjadi kuli angkut?"
Bu Rita hanya diam ingin mendengar pendapat anak-anaknya tentang rencana bapak mereka.
"hemmm, maaf pak, sebenernya Nadira agak keberatan jika bapak menjadi kuli angkut." Nadira mengutarakan isi hatinya.
"Emang kenapa nak?" tanya pak Heru lagi.
"apakah kamu malu kalau bapakmu seorang kuli angkut di pasar?"
"astaghfirullah, enggak pak, kerja apapun bapak Nadira akan tetap merasa bangga menjadi anak bapak, terserah orang mau bilang apa tentang bapak, karna Nadira yang lebih tahu tentang bapak,
Nadira keberatan karna pekerjaan kuli angkut itu berat pak, Nadira gak tega lihat bapak harus kerja berat kayak gitu, lagian juga, seperti ini aja udah cukup pak, untuk apa lagi menambah penghasilan yang penting kita bisa makan, bisa sekolah."
"iya nak bapak bisa menerima alasan kamu, saat kamu tidak tega melihat bapak bekerja keras, sama halnya bapak tidak tega melihat kamu berjalan kaki selama satu jam untuk pergi ke kampus, sebagai orang tua bapak merasa belum memberikan yang terbaik untuk kalian berdua, biarkanlah bapak mencoba berusaha lebih baik lagi untuk kalian, sehingga tidak ada penyesalan di hati bapak kelak, karna tidak bisa memenuhi kebutuhan kalian."
__ADS_1
"ya sudah jika bapak ingin begitu, Nadira setuju saja, tapi bagi Nadira, walaupun lelah tapi Nadira menikmati perjalanan Nadira ke kampus, karna bagi Nadira setiap langkah Nadira niatkan untuk beribadah mencari ridho sang pencipta, dan Nadira tidak ingin hal ini menjadi beban untuk bapak." Nadira menjawab dengan nada yang lembut untuk memberi pengertian kepada pak Heru, karna memang dia tidak ingin dirinya menjadi beban untuk keluarganya.