
Nadira dan Naufal berjalan keluar untuk menunggu angkot di depan rumah sakit.
"Nadira, Naufal mau kemana?" Tanya Farhan yang hendak pulang dengan mobil.
"Kami mau pulang kak?" Naufal yang menjawab.
"Kalian mau pulang pakai apa?" Tanya Farhan dari dalam mobilnya. Dia hanya menurunkan kaca mobilnya dan berbicara dari kursi kemudi.
"Kami mau menunggu angkot di depan Kak!" Masih Naufal yang menjawab karna dia yang lebih dekat ke mobil yang dikendarai Farhan.
"Ya sudah, kalian naik mobil sama saya aja, nanti saya anteri". Tawar Farhan.
Naufal melihat Nadira menunggu jawaban, karna dia tidak mau memutuskannya sendiri, kalau dia pribadi sih, gak perlu ditawari dua kali akan langsung naik ke atas mobilnya, selain lebih nyaman juga lumayan untuk menghemat ongkos.
Tapi tidak dengan Nadira, dia menggelengkan kepalanya.
"Gak usah Kak, gak apa-apa, nanti kakak kemalaman!". Tolak Nadira secara halus.
Naufal sudah tahu kalau Nadira akan menolak, tapi dia masih mencebikkan bibirnya, karna kesal.
"Udah Nadira, naik aja, saya juga mau pulang ke rumah, dan rumah kita searah!, kalau malam begini angkot suka susah di jumpai?" Ujar Farhan berusaha memaksa untuk mengantar mereka.
"ayuk Kak, kita ikut kak Farhan aja, nanti gak usah sampai rumah, kalau sudah di jalan depan komplek kita turun aja, jadi kak Farhan gak terlalu malam pulangnya.
Akhirnya Nadira menyetujui untuk ikut pulang dengan Farhan, dia dan Naufal mau naik ke belakang,
"Naufal, di depan aja yah, gak enak kakak sendirian di depan, jadi kayak sopir nanti, Heheh" ucap Farhan bercanda, namun dituruti oleh Naufal.
Naufal duduk di depan dan Nadira duduk di belakang sendirian.
"Naufal kelas berapa sekarang?" tanya Farhan memulai obrolan.
"Baru kelas satu MA Kak!, kalau Kak Farhan uda semester berapa?" Tanya Naufal balik.
"Kakak uda semester 7 Fal, tinggal skripsi, habis itu wisuda!" Jawab Farhan.
"Kak Farhan pulang, Kakek sama Nenek di rumah sakit siapa yang menemani?" Tanya Nadira.
__ADS_1
"Ada Ibu sama Bapak, Makanya kakak diminta pulang untuk menemani adek kakak yang sendirian di rumah" Jawab Farhan jujur.
"Emang adek kakak umur berapa?" Tanya Naufal.
"Baru 18 Tahun Fal kutang lebih". Jawab Farhan.
"Berarti seumuran sama Kak Dira dong!" Sahut Naufal.
"Oh Nadira juga 18 tahun?" Sebenarnya Farhan sudah mengira umur Nadira, tapi pura-pura tidak tahu saja.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol, sehingga Naufal dan Farhan menjadi dekat, begitupun Nadira terkadang juga menyahuti obrolan dua orang lelaki itu.
Sampai di jalan depan komplek, Nadira meminta berhenti.
"Berhenti di sini saja Kak!" Pinta Nadira.
"Tidak apa-apa Ra, paling ke dalam cuma butuh waktu 5 menit, udah tanggung saya ke sini!". Jawab Farhan yang membelokkan setir mobilnya ke dalam komplek perumahan Nadira.
Sampai di depan Rumah, Nadira dan Naufal turun dari mobil, rumah mereka tidak gelap, karna sebelum pergi Nadira sudah menghidupkan lampu terasnya.
Mereka mengucapkan terima kasih kepada Farhan, setelah mobil Farhan berlalu mereka baru beranjak masuk.
"Kakak gak takut kan sendirian di Rumah?" canda Naufal.
"Ish, masih sempat aja kamu yah ngeledek kakak" Cetus Nadira.
"Udah Sana pergi!, Kakak mau makan dulu sebelum sholat isya!" Nadira menyuruh Naufal segera pergi, karna dia ingin segera makan, dia baru merasa lapar, ketika kekhawatirannya berkurang.
Malam itu Nadira dan Naufal tidur berdua di rumah, tapi mereka masih mengerjakan kebiasaan mereka sebagaimana saat ked.a orang tuanya berada di rumah.
Selesai belajar, mereka mengobrol sebelum tidur.
"Kak, kira -kira keadaan Bapak bagaimana yah setelah operasi?" Tanya Naufal.
"Kakak gak tahu juga Dek, tapi semoga Bapak lekas sembuh dan dapat beraktifitas seperti biasanya". Jawab Nadira penuh harap.
"Aamiin" Jawab Naufal.
__ADS_1
"Tadi di mushollah, kamu bercerita tentang bapak gak?" Tanya Nadira kepada Naufal.
"Iya Kak, pastilah mereka bertanya tentang kita yang gak ada di rumah dan gak sholat berjamaah. Yah jadi Adek menceritakan kejadian dimulai dari bapak sakit sampai kita pulang ke rumah!" Jawab Naufal.
"Yah baguslah, semoga aja mereka ikut mendoakan kesembuhan Bapak!" Jawab Nadira.
"Besok Kakak jadi ke sekolah?" Tanya Naufal lagi.
"Iya Dek, seperti perintah Ibu, kakak mau meminta izin untuk Bapak dan Ibu". Jawab Nadira.
"Berarti besok kita gak bisa ke rumah sakit dong kak?" Tanya Naufal
"Bisa, pulang sari sekolah, kita masak dulu di rumah, habis itu kita ke rumah sakit untuk membawa makanan untuk ibu". Jawab Nadira.
"Jangan Kak, masaknya dari pagi aja, kita langsung bawa ke sekolah, jadi dari sekolah kita bisa langsung ke rumah sakit!" Usul Naufal.
"benar juga yah Dek, yah udah sekarang ayuk kita tidur, biar besok bangun badan kita segar" Ajak Nadira.
Mereka pun tertidur dengan membaca do'a terlebih dahulu.
Pukul tiga pagi, mereka bangun dan seperti biasa mereka melaksanakan sholat tahajjud, namun tahajjud mereka malam itu dipenuhi dengan do'a untuk kesembuhan Pak Heru.
Hari itu sesuai Rencana, Nadira masak dan membawa bekal untuk Buk Rita ke sekolah agar bisa langsung pergi ke rumah sakit.
Naufal membantu membawa barang mereka.
Mereka sampai di sekolah sebelum yang lain sampai, di ruang guru baru ada guru piket, sedang murid-murid sudah mulai banyak berdatangan.
"Dek, kepala sekolah masih Pak Anwar?" Tanya Nadira Kepada Naufal.
"Iya Kak!" Jawab Naufal.
Nadira lega, karna dia masih mengenal Pak Anwar, dan Pak Anwar juga mengenal Nadira jadi dia bisa berbicara tanpa canggung.
Tidak lama para guru mulai berdatangan, Nadira menyambut setiap guru yang datang dengan menyalami mereka, dan tentunya para guru di sana masih mengingat Nadira, siswa cerdas berprestasi, rajin dan ringan tangan.
Bagi mereka Nadira adalah murid kesayangan, jadi mereka tentulah masih mengingat Nadira.
__ADS_1
Saat semua guru sudah datang, Nadira segera meminta izin untuk bertemu Pak Anwar, Para guru di sana bingung mengapa Nadira yang datang bukan Pak Heru dan Buk Rita, mereka ingin bertanya kepada Nadira, tapi karna Nadira sudah masuk ruang kepala sekolah, mereka akan bertanya saat Nadira selesai dari ruang kepala sekolah.
Para guru di sana sangat mengetahui jika Nadira dan Naufal adalah anak Pak Heru dan Buk Rita rekan kerja mereka, karna saat Nadira sekolah mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama, bahkan saat Naufal kecil, Buk Rita sering mengajar sambil menggendong Naufal, jadi mereka mengenal anak-anak Pak Heru dan Buk Rita.