
Mereka datang ke pasar pagi-pagi seperti biasa, Pak Heru dan Buk Rita langsung menuju ke pasar, sedang Nadira dan Naufal langsung menuju ke taman.
Naufal membawa komik kesukaannya sedang Nadira membawa buku-buku pengetahuan yang dipelajari untuk mata kuliahnya, buku-bukunya mereka letakkan di dalam satu tas yang dibawa Naufal, sedang Nadira membawa bekal yang sudah disiapkannya untuk hari itu.
"Yah kak, kita lupa membawa tikar" Ujar Naufal yang baru saja duduk di kursi tempat mereka duduk minggu lalu.
"Yah enggak apa-apa Dek, kan masih ada bangku itu." Jawab Nadira.
"Tapi gak kayak piknik beneran Kak". Naufal masih mengeluh.
"Minggu depan kita bawa oke!, masa sekarang kita harus pulang ambil tikar terus kesini lagi gitu?" Tanya Nadira.
"Hehe". Naufal hanya menjawab dengan tawanya.
"Kak, aku mau lari pagi dulu yah mumpung di taman masih belum panas?" Naufal izin kepada Nadira.
"Ok dek, Kakak disini aja, jagain barang kita." Bukannya Nadira takut diambil orang, karna mereka tidak punya barang berharga, bahkan mereka tidak membawa uang, hanya saja dia khawatir ada hewan yang mengobrak abrik barang mereka.
Sambil menunggu Naufal olahraga, Nadira mulai membuka buku dan membacanya, dan ketika membaca buku maka Nadira akan fokus dengan bukunya.
Entah sudah berapa halaman yang Nadira baca, dia terus membalik halaman perhalaman buku yang dipegangnya. Sampai sebuah suara mengalihkannya dari bukunya.
"Pagi Kak!" Reihan menyapa Nadira yang sedang asyik membaca.
Nadira menoleh dan tersenyum. "Selamat pagi adek kecil!"
"Nih kak aku perkenalkan diri yah, namaku Reihan, umurku 15 tahun dan aku sekarang sudah kelas satu SMA, jadi jangan panggil aku adek kecil lagi yah!" Reihan memperkenalkan dirinya kepada Nadira.
Nadira tertawa dan mengangguk, "Baik adek Reihan, aku Nadira, panggil kak Dira aja yah!, kamu mau cari Naufal?"
"Iya Kak, Dia ke taman ini juga kan?" tanya Reihan antusias.
"Iya Dek, katanya dia uda janji ketemu kamu hari ini, tapi sekarang orangnya lagi lari pagi katanya mumpunh pagi, kalau kamu maup menyusul, tadi dia pergi ke arah sana" Nadira berkata sambil menunjuk ke arah Naufal lari.
Sebenarnya Nadira agak kurang nyaman mengobrol disana dengan Reihan berdua, bukan karna Reihan tidak menyenangkan, tapi dia tidak enak karna disana sepi dan mereka hanya berdua.
Walaupun Reihan juga tidak bisa apa-apa dengam keadaannya yang seperti itu tapi bagi Nadira berdua dengan lawan jenis di tempat sepi dengan yang bukan mahrom adalah kesalahan.
__ADS_1
Dia merasa tidak enak jika mengusir Reihan menyuruhnya pergi dia hanya berharap Reihan dengan suka hati menyusul Naufal, atau Naufal segera datang ke sana.
Jika itu yang Nadira rasakan, tidak dengan Reihan, dia merasa jika Nadira tidak menyukainya dan terganggu dengan keadaannya seperti itu, dia merasa sedih lagi-lagi orang ingin agar dia menjauh dari orang lain.
"Baiklah Kak, kalu begitu aku pergi menyusul Naufal". Reihan berkata namun keceriaannya yang tadi tidak tampak lagi di mata Nadira.
Reihan melajukan kursi rodanya hendak menyusul Naufal.
"Aduh kok dia berubah yah, atau jangan-jangan dia tersinggung lagi." Nadira bergumam dalam hati melihat perubahan sikap Reihan.
"Ya Allah ampunilah hamba ya Allah, bukan maksud hamba menyakiti orang lain, semoga Engkau memberikan aku kesempatan untuk meminta maaf padanya nanti kalau sudah sama Naufal." Nadira berdo'a dalam hati.
Reihan melajukan kursi rodanya namun tatapannya kosong, dia masih memikirkan tentang kekurangannya yanh membuat dia merasa semua orang jijik jika berteman dengannya dan menjauhinya. Tanpa ia sadari dia menuju jalan yang menurun, yang tentu akan menyulitkan untuk dia mengendalikan kursi rodanya.
Beruntung Naufal menahan kursi rodanya, sehingga rodanya berhenti.
Reihan terkejut karna kursinya berhenti mendadak. Reihan menjadi kesakitan , nafasnya memburu tak beraturan.
"Rei, Rei, Reihan" Naufal mengusap-usap pungggung Reihan. Namun Reihan tetap kesulitan bernafas.
"Astaghfirullah kamu kenapa Rei?,Ya allah Reihan, astaghfirullah... Ya Allah gimana nih.
"Rei, Reihan" Naufal terus memanggil Reihan.
"Dek." terdengar suara Nadira memanggil Naufal. Dia berjalan membawa tas di pundaknya dan menenteng bekal mereka di tangannya.
"Alhamdulillah..." dia bersyukur Nadira datang.
Nadira terkejut melihat keadaan Reihan,
"Ini Reihan kenapa Dek?" tanya Nadira
"Gak tau kak, jangan banyak tanya dulu tolongin Reihan dulu!" Ucap Naufal dengan panik.
"Gimana Dek, kakak gak tahu". Nadira juga bingung, dia lalu memejamkan matanya dan menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Nih Dek, tolong pegang dulu!" Nadira menyerahkan bekal yang dia bawa tadi kepada Naufal, sedang tasnya masih di pundaknya.
__ADS_1
Dia berpindah ke depan Reihan
"Reihan sekarang denger kakak aja yah, turutin dulu perintah kakak yah!" Nadira berkata dengan melihat ke arah Reihan yang masih susah bernafas.
"Reihan tutup matanya yah!" Nadira berkata dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tutup mata yah dek!" Pintanya lagi dengan lembut.
Reihan menutup matanya, Setelah Reihan menutup mata, Nadira melanjutkan.
"Sekarang Reihan cuma mendengar suara Kak Dira!" Nadira meletakkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat untuk menyuruh Naufal diam.
"Sekarang Naufal ada di taman yang indah Dek!, Banyak bunga yang nerwarna-warni, wah Dek ada yang warna biru, ada yang warna kuning ada juga yang warna putih, ada kupu-kupu yang cantik hinggap di atas bunganya Dek, anginnya sepoi-sepoi udaranya sejuk, coba hirup Dek, coba rasakan udaranya dek, coba tarik Nafas dari hidung Dek!" Nadira menjedah kata-katanya berharap Reihan bisa bernafas dengan teratur.
"Ayo Dek rasakan udara pagi yang segar Dek!, hem seger kan Dek, ayok Dek tarik nafas Lagi Dek!" Nadira menuntun Reihan untuk menarik Nafas dan mengeluarkannya, setelah beberapa kali melakukannya akhirnya Nafas Reihan mulai teratur.
"Kamu Uda rilex Dek?" Tanya Nadira kepada Reihan yang masih memejamkan matanya.
Reihan mengangguk, "Kalau sudah rilex, coba dibuka matanya Dek!"
Reihan membuka matanya secara perlahan tapi masih menarik nafas dan mengeluarkannya sama seperti yang tadi dicontohkan Nadira.
Melihat keadaan Reihan yang mulai stabil, Naufal dan Nadira bisa bernafas lega, bahkan Naufal terduduk lemas saking khawatirnya dia dengan keadaan Reihan barusan.
Meski Nafas Reihan mulai teratur, tapi dia belum bernafas normal seperti biasanya dan wajahnya pun terlihat pucat.
"Kamu uda baikan Rei?" Tanya Naufal. Sedang Nadira melepas tas yang dia bawa di bahunya, dia baru merasakan berat di bahunya.
"Iya, terima kasih yah Kak Dira!" Ucap Reihan.
Nadira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Dek kasih minum dulu Reihan nya biar lebih baikan!" Perintah Nadira kepada Naufal.
Naufal langsung memberikan Botol minum punyanya kepada Reihan.
"Ni Rei, Minum dulu, Tenang aja, itu bersih belum aku minum sama sekali!" Jelas naufal.
__ADS_1
Reihan tersenyum dan minum seperti yang diperintahkan Nadira.
"Kita Cari tempat yang nyaman dulu yuk!" Ajak Nadira kepada Naufal dan Reihan.