
Farhan meminta Sam untuk menyuruh Nadira, Sarah dan Evi datang lagi ke ruang sekretariat BEM besok saat istirahat atau pada saat jam kuliah selesai.
Sam dan Reza bertanya-tanya untuk apa, tapi belum sempat bertanya, Farhan sudah pergi.
"Za, kenapa yah si Farhan menyuruh mereka kesini lagi?" Tanya Sam.
"Entahlah," jawab Reza.
Tapi mereka tidak berani membantah.
Farhan adalah ketua BEM, Sam adalah wakilnya dan Reza adalah sekretarisnya. Tapi keputusan lebih banyak diputuskan oleh Sam, selagi itu masuk akal, Farhan hanya akan diam, tapi kalau dia tidak setuju dia langsung memberikan ide yang lain, saat dia sudah memberi ide, maka itu sama dengan perintah dan harus mereka laksanakan tanpa sanggahan.
Evi dan Sarah sudah sampai di kantin,
"Nah itu ada kursi kosong, kita duduk disana aja yuk Vi!"
Evi hanya mengangguk, dia sangat lemas karena lapar. Melihat Evi yang lemas, Sarah menyuruhnya duduk saja
"kamu mau pesan apa Vi? biar aku yang pesan"
"bakso aja Sar, pake mi kuning aja yah."
"minumnya apa Vi?"
"air putih dingin aja Sar."
"oke, aku pesan dulu yah."
Sarah meninggalkan Evi dan memesan menu yang dipesan Evi, sedang untuknya dia memesan gado-gado sama es teh.
Setelah memesan makanannya, Sarah kembali ke tempat duduknya tadi bersama Evi.
Sambil menunggu makanannya datang Sarah bertanya lagi kepada Evi.
"sebenarnya kamu kenapa sih Vi?
"aku laper sarah."
"aduh nih anak, iya aku tahu kamu laper, gak perlu ditanya juga kelihatan kalau kamu laper, maksud aku tadi kenapa kamu tiba-tiba lari, saat ngobrol sama si aa' kamu?"
"aduh Sarah nanti yah, aku isi bensin dulu."
"loh katanya laper, kok malah mau isi bensin?" "makan dululah, nanti malah nabrak kalau nyetir.!"
"aduh Sarah, emang aku punya motor atau mobil yang harus isi bensin?"
"terus????"
"Sarah kamu itu polos atau telmi sih?, kalau kendaraan kan butuh bensin biar bisa digunakan, nah kalau manusia butuh makan baru bisa bekerja, jadi maksudnya aku mau isi bensin di perutku ini dulu biar ada kekuatan untuk ngomong."
"oh gitu,, kamu sih pakai majas personifikasi ngomongnya, jadi butuh ditelaah dulu biar bisa dimengerti."
"ini mba makanannya" bibi kantin datang mengantarkan pesanan mereka, Evi langsung mengambil baksonya, dan menambahkan kecap dan saus, baru mau menambahkan cabe, tapi dihentikan Sarah,
"kamu kan lagi laper banget Vi, jangan makan yang pedes-pedes dulu, nanti asam lambungnya naik."
"tapi kurang mantap Sar, kalau gak pakai cabe."
"ga papa ditahan dulu, dari pada sakit kan! kata nenekku kalau makan pedes saat perut kosong itu ibarat penyakit jauh yang dikirimin surat."
"tadi aja bilangin aku yang ngomongnya pakai perumpamaan, nah sekarang kamunya juga, emang penyakit bisa baca? pake dikirimin surat, lagian zaman sekarang uda jarang yang ngirim surat, kelamaan, mending juga kirim Wa gak nyampe sedetik uda sampai."
"namanya juga perumpamaan Vi."
"hehehe iya Sarah, baiklah aku gak pakai cabe dulu, aku mau makan dulu, uda laper banget perutku."
__ADS_1
"ya ayok, aku juga lapar."
Mereka makan sambil mengobrol tentang Sarah dan Nadira.
"Vi, jadi temen yang kamu bilang kampungan tapi baik itu si nadira?"
"iya Sar"
"kok kamu ngatain dia kampungan sih?"
"aku gak ngatain Sarah, emang kenyataannya begitu kan? terus juga aku ngomong gitu cuma sama kamu aja kali, gak mungkinlah aku ngatain dia, dia kan orangnya baik, suka bantuin juga, masa aku kata-katain."
"terus kamu bilang kampungan, apa dong kalau gak ngatain?"
"ya gak lah! aku hanya mendeskripsikan saja. tapi jangan bilang-bilang yah sama Nadira, kalau aku mendeskripsikan dia kayak gitu."
"iya Vi, tapi gak janji yah,"
"ih sarah kok gitu sih?"
"yah gak tau, nanti tiba-tiba keceplosan, tapi tenang aja Vi, meski Nadira tahu, dia gak bakalan marah kok, kan tadi kamu bilang dia itu baik. dia orangnya gak terlalu mikirin omongan orang lain kok, selagi gak mengganggu dia ataupun kegiatannya , bagi Nadira terserah orang mau bilang apa. dia dari dulu juga begitu orangnya."
"oh, emang kalian dulu temen deket ya Sar?"
"yah bisa dibilang begitu."
"emang nadira orangnya gimana sih? keluarganya? masak maaf bajunya kok gitu amat, makanya aku bilang kampungan."
"ntar deh Vi, kalau uda di kosan aku ceritain lagi, ini makanan kita uda hampir habis, kasihan Nadira nunggu lama di sana, sendirian pula."
"oh iya yah, aku hampir lupa kalau Nadira lagi ngerjain tugas kita, hehehe."
Mereka segera menghabiskan makanan dan minuman mereka, lalu segera membayarnya,
"ga usah Vi, Nadira gak bakalan mau, beliin air putih aja, insyaallah dia mau."
"iya juga sih, dia gak pernah mau kalau aku mau kasih makanan atau minuman, kenapa sih Sar?"
"ntar deh aku cerita ayuk cepetan kita kembali ke sana."
Di ruang sekretariat BEM Nadira membagikan minumannya satu persatu kepada semua anggota rapat, ada yang mengucapkan terima kasih, ada juga yang cuek tak peduli, tapi saat Nadira meletakkan minuman di meja terakhir, Sasa sang bendahara BEM berkata kepada Nadira
"bi' tolong beliin es batu yah di kantin minta taro di gelas plastik ni uangnya!"
"maaf!" jawab Nadira bingung.
"kenapa minta maaf bi? bibik gak mau beliin? uangnya kurang? ni aku tambahin sisanya buat bibik."
"oh, iya kak!"
"kok panggil aku kakak, kamu kan yang gantiin bibi yang biasa bersih-bersih ruangan ini, panggil mba' yah!" saru Sasa dengan nada tak suka.
Nadira hanya terdiam, bukannya dia tak merasa tersinggung dengan ucapan Sasa, tapi Nadira sadar, memang penampilannya lebih mirip tukang bersih-bersih dibanding mahasiswa, Sasa dan taman-temannya sangat modis dan modern, pasti mereka tidak mengira kalau Nadira juga seorang mahasiswa.
Tapi Nadira tidak merasa perlu untuk menjelaskan dirinya kepada orang lain, karna baginya, selagi tidak menganggu dia ataupun kegiatannya tak masalah, orang menganggapnya apa.
Ketika Nadira membuka pintu hendak keluar ruangan, Reza memanggilnya
"Nadira, mau kemana, nanti dulu!"
"sebentar kak, mba yang di meja ujung minta beliin es batu di kantin, nanti Nadira balik lagi."
"oh iya baiklah."
Reza dan Sam tidak tahu, kalau Sasa menganggap Nadira tukang bersih - bersih! karna mereka sedang berada di area luar ruang rapat, mereka berfikir jika ada yang meminta tolong kepada Nadira.
__ADS_1
Nadira berjalan ke kantin dengan langkah seribu seperti dia berangkat ke kampus, karena dia ingin segera menyelesaikan tugas ini dan ingin segera ke mushollah untuk sholat dhuha, dia tidak berharap lagi bisa rebahan sebentar karena, sudah terlalu lama dia berada di ruang sekretariat BEM dan sebentar lagi jam kuliah selanjutnya dimulai.
Setelah sampai di kantin, Evi dan Sarah yang hendak keluar kantin melihat Nadira mendekat dengan langkah cepat, mereka was-was kenapa Nadira ke kantin, karna Nadira tidak pernah pergi ke kantin sekalipun, jadi dia tidak mungkin pergi ke sana untuk membeli makanan.
"loh Nadira kok ke kantin ya Sar?" Evi bertanya dengan nada cemas.
"iya yah, tapi gak mungkin deh dia mau membeli makanan, karna aku tau Nadira tidak pernah jajan.
mungkin dia mencari kita Sar."
"tapi kenapa dia kelihatan terburu-buru apa jangan-jangan ada masalah yah di sana tadi?"
"atau kakak-kakak tadi marah karna kita gak da disana, mungkin kita dikiranya kabur kali yah?"
"ya uda ayuk Sar, kita cepat samperin Nadira, kasihan mungkin tadi dia di marah-marahin sama si kakak mulut bebek."
"kamu ini Vi," Sarah geli mendengar julukan yang diberikan Evi untuk Sam.
Mereka memanggil Nadira, dan segera mendekat ke arah Nadira,
"wah untung ketemu kalian disini."
"emang kenapa Ra? apa kami dicariin sama kakak yang tadi disana?" tanya Sarah.
"atau apakah kamu dimarahin sama si kakak mulut bebek, karna kami ga ada?"
"aduh Sarah, Evi kok pada suudzon (buruk sangka) sih?"
"terus?" ucap mereka berbarengan.
"iya tadi minuman kalengnya uda aku lap semua, tadinya aku langsung pamit pergi setelah menyerahkan minuman kalengnya pada kak Reza."
"kak Reza???" tanya Evi.
"iya , kakak yang di sebelah kiri kakak mulut bebek, aduh kok aku ikutan manggil si aa' dengan julukan yang kamu kasih sih?." " astaghfirullah " Nadira beristighfar.
"Emang kenapa Ra, memang kenyataannya mulutnya kayak bebek, nyerocos mulu." sanggah Evi dengan sebal.
"iya sih Vi, tapi kan kita dilarang untuk memberi panggilan yang tidak baik kepada sesama manusia."
"nah kan, kalau uda ngomong sama Nadira, jadi serius lagi dah."
Mereka bertiga tertawa mendengar ucapan Evi.
"oh yah, aku minta tolong yah bantuin aku beli es batu terus minta masukin ke cangkir plastik yang biasa digunain untuk es teh atau es jeruk, aku kan gak pernah ke kantin jadi aku gak tahu gimana cara belinya."
"emang untuk apa sih Ra? apa di suruh sama si kakak-kakak itu lagi?"
"enggak Vi bukan mereka".
"jadi siapa yang suruh?"
"tadi kan habis lap minuman kalengnya, aku uda pamitan, terus karna minumannya banyak sedang yang keluar cuma kak Reza doang, jadi dia minta tolong bantu bawa minumannya ke dalam, lalu aku diminta si aa' kamu untuk bagiin ke semua anggota rapat"
"tuh kan si mulut bebek lagi, nambah-nambahin pekerjaan orang aja." belum selesai Nadira bercerita si Evi uda sewot aja.
"terus ada satu mba yang minta dibeliin es, katanya gak enak minuman kaleng, kalau gak dingin."
"kenapa gak kamu tolak aja si Ra?"
Dari tadi hanya Evi yang begitu penasaran, Sarah hanya diam karena dia tahu kalau Nadira tidak akan menolak ketika dimintai pertolongan selagi dia bisa membantu.
"ga apa-apa lah Vi, bantuin orang, semoga nanti kita juga ada yang membantu saat kita butuh pertolongan."
"ya udah sini kita bantuin." potong Sarah, "kalau enggak segera kerja, si Evi akan bertanya lebih banyak lagi, dan pekerjaan ini jadi gak kelar- kelar.
__ADS_1