Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Nadira pingsan


__ADS_3

Farhan memikirkan cara untuk membantu Nadira, dia merasa sangat kasihan dengan salut dengan perjuangan Nadira.


"Kayaknya aku punya Handphone lama yang sudah gak terpakai tapi masih bagus, giman kalau besok aku bawa aja yah, untuk dikasihkan sama Nadira" Reza teringat handphonenya yang sudah tidak terpakai karna ketinggalan zaman.


"Bagus, Jawab Farhan bersemangat, kalau begitu besok aku beli kartu perdana sama isi paketnya!" Jawab Farhan.


Farhan dan Reza lalu melihat ke arah Sam. Menyadari dirinya yang sedang di tatap, Sam jadi gelagapan.


"Hemmm kenapa kalian melihat aku seperti itu?"


Tanya Sam, dia pura-pura tidak tahu maksud dari Farhan dan Reza.


Farhan dan Reza tidak menjawab, tapi masih menatap Sam.


"Reza sudah cari Handphone, Farhan beli kartu sama paket, Jadi aku tinggal kasih saja ke Nadira!" Jawab Farhan sambil cengengesan.


"Sam!" Seru Farhan dan Reza bersamaan.


"Iya, iya, besok aku bawa buah aja yah, untuk tambahan Vitamin biar Nadira cepat pulih, oke!" Jawab Sam yang tersenyum.


Mereka berpisah setelah sholat ashar, Farhan langsung menuju ke konter tempat penjualan kartu perdana, dia membeli satu Nomor dan langsung minta didaftarkan dan diisi paketnya, Setelah selesai dia langsung menyimpan Nomor Nadira di handphonenya agar dia bisa langsung menghubungi Nadira jika ada keperluan.


Sedangkan Reza, langsung pulang dan mencari-cari handphone lamanya yang entah diletakkannya dimana.


Setelah mencari beberapa waktu akhirnya dia menemukannya di dalam laci lemarinya. Tidak lupa dia mencoba menghidupkannya untuk memastikan bahwa handphonenya masih bisa berfungsi dengan baik.


"Alhamdulillah masih berfungsi tinggal di charger sampai full, jadi bisa langsung digunakan oleh Nadira besok" Gumam Reza.


Jika Farhan dan Reza langsung sibuk saat pulang, maka Sam langsung rebahan dan tertidur di atas kasurnya, karna kebagian membelikan buah, jadi rencananya besok saja dia membelinya agar masih segar saat dibawa ke rumah Nadira.


Keesokan harinya, seperti rencana mereka kemarin, setelah makan siang dan sholat zhuhur Farhan, Reza dan Sam menunggu Sarah dan Evi untuk berangkat ke rumah Nadira.


"Sam, kamu tidak lupa kan membeli buah untuk Nadira?" tanya Reza kepada Sam.


"Iya, ini!" Sam menjawab sambil mengangkat dua kantung plastik yang berisi buah-buahan.


Tidak lama Sarah dan Evi tiba mereka juga membawa kantung plastik berwarna hitam.


"Kalian bawa apa Dek?" Tanya Reza yang melihat mereka membawa plastik hitam.

__ADS_1


"Cuma sedikit buah tangan untuk Nadira Kak, kita gak sempat jalan semalam jadi tadi kami beli aja roti-roti yang ada di kantin" Jawab Evi sambil tersenyum.


"Dasar Ember Bocor, udah tahu temannya lagi sakit, diluangin waktulah harusnya, cariin makanan yang enak-enak gitu, masak cuma makanan kantin!" Ejek Sam.


"Ih Kak Samsudin, yang penting itu niat kita, terserah mau beli dimana, harganya berapa, rasanya seperti apa, yang penting kita yang membawa tulus dan ikhlas, dan jadi keberkahan untuk yang menerima, daripada beli mahal-mahal, tapi terpaksa,ntar bukan membawa kebaikan malah membawa keburukan untuk yang menerima". Bela Evi.


Sedang Sam terdiam karna dia merasa tersinggung dengan ucapan Evi, karna sebenarnya dia malas untuk membeli buah untuk dibawa, karna berat dan dia juga tidak paham untuk memilih buah, takutnya bikan yang enak malah yang kecut rasanya.


"Udah ayuk berangkat mendengarkan kalian berdebat tidak akan selesai sampai besok!" Ucap Farhan yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat.


Mereka masih seperti formasi saat mereka pulang dari rumah Nadira, Farhan sendirian, Reza bersama Sarah dan Evi bersama Sam.


Saat sampai mereka langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


Dengan tubuh sempoyongan yang masih menahan sakit Nadira membukakan pintu.


"Loh Ra, Ibu mana?" Tanya Sarah yang melihat Nadira membuka pintu.


"Ibu pergi ke sekolah Sar, gak enak izin terus, lagian juga aku mendingan, jadi gak apa-apa aku sendiri di rumah" Jawab Nadira masih di pintu.


"Ayuk masuk!" Karna dia masih menahan rasa sakit, jadi dia tidak memperhatikan ada Farhan, Reza dan Sam juga di luar.


"Nadira, Nadira" mereka meletakkan bawaan mereka dan mendekati Nadira.


"Kenapa Nadira?" Tanya Farhan.


"Gak tahu Kak, tadi pas berbalik jalan lalu terjatuh". Jawab Evi panik.


Sarah dan Evi berusaha mengangkat Nadira namun mereka kesusahan.


"Biar aku yang angkat!" Tawar Farhan.


"Gak Apa-apa Kak, kami berusaha dulu". Jawab Sarah.


Sarah mengenal Nadira dia tidak ingin di sentuh oleh selain mahromnya, makanya Sarah berusaha untuk mengangkat Nadira.


Sarah mengangkat dari kepala dan perut Evi mengangkat dari bagian paha ke bawah.


Mereka membaringkan Nadira di kasur, lalu mengusap-usapkan minyak kayu putih ke kaki dan tangan Nadira, Sarah juga meletakkan minyak kayu putihnya ke hidung Nadira agar dia menghirup aromanya dan dapat segera terbangun.

__ADS_1


"Apa gak sebaiknya kita bawa ke dokter aja?" Saran Sam.


"Nanti dulu biar kita bangunkan aja dulu, atau kita tunggu aja keluarganya pulang dulu, nanti mereka bingung kemana Nadira?" Jawab Sarah.


"Kelamaan Gak, takutnya Nadira nya kenapa-napa lagi!" Jawab Farhan yang khawatir.


Sarah pun sebenarnya khawatir tapi dia tidak mau mengambil keputusan, karna dia takut akan bertentangan dengan keluarga Nadira, karna dia yang paling tahu kondisi keluarga Nadira.


Tidak berapa lama Nadira terbangun, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Ra minum dulu Ra!" Tawar Evi sambil mendekatkan air yang ada di gelas ke mulut Nadira.


"Dasar ember bocor, gimana Nadira mau minum pakai gelas sambil tiduran begitu, bangunin dulu kek!" ketus Sam.


"Yeh namanya juga panik gak sempat mikir aku!" Jawab Evi sambil meletakkan gelas yang dipegangnya.


Evi dan Sarah kemudian membantu Nadira untuk bangun dan menyandarkan tubuhnya di dinding.


Baru setelah itu Evi memberikan gelas tadi kepada Nadira untuk diminumnya.


"Dek, kita ke dokter yah!" Reza berkata kepada Nadira.


Nadira melihat ke arah Reza, dia baru menyadari jika ada Farhan, Reza Dan Sam di sana.


"Loh ada Kakak-kakak juga". ucap Nadira.


"Maaf Kak, Nadira jadi merepotkan kalian!" Sambungnya yang merasa tidak enak.


"Nadira kita ke dokter!" Farhan berkata dengan kaku. Sebenarnya dia ingin menunjukkan perhatiannya kepada Nadira, tapi karna dia tidak biasa memberikan perhatian kepada orang lain, jadi dia tidak tahu bagaimana caranya.


Semua orang melihat ke arah Farhan mendengar dia berkata.


Nadira dapat melihat Farhan yang salah tingkat dilihat seperti itu lalu menjawab.


"Gak perlu Kak, insyaallah aku gak apa-apa, Aku memang biasa mempunyai tekanan darah rendah, tapi biasanya setelah beristirahat akan pulih!"


"Tapi Ra, jangan di tahan begitu, kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?, mana kamu sendirian di rumah, kalau kamu pingsan tidak ada orang di rumah kan bahaya Ra?" Evi berkata panjang lebar.


"Ya ampun ember bocor, orang lagi sakit, kamu ngomel panjang lebar, bukan sehat malah tambah sakit nanti Nadira nya!" Sam berkata kepada Evi.

__ADS_1


"Hehehe" mereka tertawa mendengar perdebatan Sam dan Evi.


__ADS_2