Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Kehangatan Sore


__ADS_3

Jam tiga sore Nadira sudah sampai di rumahnya,


Keluarganya sudah pulang duluan, karena memang mereka pulang dari sekolah jam 2 Sore dan perjalanan dari sekolah ke rumah mereka hanya sekitar15 menit, tapi karena Pak Heru dan Buk Rita guru honorer, biasanya mereka yang harus mengerjakan banyak pekerjaan, kalau guru PNS mereka selalu pulang tepat waktu, entah masih ada pekerjaan atau tidak, tapi bagi guru honorer seperti Buk Rita dan Pak Heru pekerjaan tambahan selalu ada, kadang hanya sekedar merapikan kantor atau pekerjaan kecil lainnya.


Dan beruntung jari itu mereka tidak banyak pekerjaan jadi dapat pulang lebih cepat. Jam 14.30 mereka sudah sampai ke rumah.


"Assalamualaikum" Nadira memberi salam sebelum masuk rumah.


"Waalaikum salam" Jawab Buk Rita.


"Masyaallah bisa pulang cepat hari ini Nak?" tanya Buk Rita


"Alhamdulillah Buk". Jawab Nadira sambil mencium tangan ibunya. Dia langsung menuju dapur untuk meletakkan plastik hitam yang dia bawa dari kampus tadi.


"Apa itu Nak? Tanya Buk Rita yang melihat plastik yang diletakkan Nadira di dapur.


"Oh itu snack Buk, tadi dikasih sama kakak tingkat" Jawab Nadira sambil menuju ke toilet untuk mencuci tangan dan kakinya.


Buk Rita mendekat ke arah plastik dan melihat isinya.


"Banyak Nak, emang ada acara apa di kampus bisa dapat snack segala?" cerca Buk Rita tanpa jeda.


"Itu tadi, ada acara rapat BEM kampus, jadi kakak-kakaknya minta sama Nadira, sarah dan Evi untuk membersihkan ruangannya, setelah selesai kami dikasih snakcnya ini" Jelas Nadira saat keluar dari toilet.


"Loh kok ini banyak banget Nak?, Sarah sama Evi sudah dapat?" tanya Buk Rita lagi.


"Sudah Buk, tadi juga kami uda makan di kampus karna masih sisa jadi kami bawa pulang, mereka bawa 2 kotak, Nadira bawa Empat". Jelas Nadira.


"Alhamdulillah kalau begitu, bisa kita makan bareng-bareng sama bapak sama adek" Ucap Buk Rita.


Mereka lalu melaksanakan sholat ashar, sambil menunggu Pak Heru dan Naufal pulang mereka membuat teh.

__ADS_1


Buk Rita meletakkan teh hangat dan kotak snack di meja tempat mereka membaca buku biasanya.


Pak Heru dan Naufal pulang dan disambut oleh Buk Rita dan Nadira.


"Wah tumben Kal Dira uda pulang?, gak ke perpus dulu? atau uda bosen?" Cerca Naufal yang heran melihat kakaknya sudah ada di rumah jam segitu.


"Sekali-kali gak apalah dek, masih mending dari pada di rumah aja, yang ada ngabisin waktu gak ada hasil". Nadira menanggapi ocehan Naufal.


"we... banyak dong hasil kalau di rumah, bisa bantu orang tua, bisa baca sambil rebahan, bisa ngobrol-ngobrol seru bareng keluarga dan masih banyak lagi yang lainnya" ucap Naufal sambil menyanyikan lagu Raja dangdut.


"hahaha suara kamu bagus juga dek, mau jadi artis gak?, kalau mau nanti kakak yang jadi menejernya yah!" Nadira menggoda Naufal


"Ogah, kalau Kak Dira menejernya bisa-bisa gak dapat job aku sebagai penyanyi, banyak aturan, hahaha".


"Banyak aturan, memang sekolah pakai peraturan segala?"


"Yah ntar, kalau ada duet sama lawan jenis, adek jangan deket-deket, adek jaga pandangan, adek jangan pegang-pegang bukan mahrom!, bakalan gak kelar- kelar ngomelnya keburu abis waktu giliran manggung karna omelan kakak!"


"hahaha" mereka tertawa.


"ye sore ini ada teh hangat" Seru Naufal kegirangan.


"Alhamdulillah..." Ucap Pak Heru sambil melirik ke arah Naufal yang lupa bersyukur kepada Allah.


"Alhamdulillah ya allah atas rezeki yang Engkau beri sore ini, semoga dengan kami bersyukur Engkau akan menambah lagi rezeki kami" ulang Naufal lengkap dengan do'anya.


"Aamiin" Jawab Pak Heru, Buk Rita dan Nadira bersamaan.


Mereka mulai meminum teh yang sudah hangat.


Buk Rita membuka kotak Snack yang dibawa Nadira dan memberikannya kepada mereka satu-satu.

__ADS_1


"Berasa lagi ikut seminar Buk, pakai di beri Snack, hehehe" Gurau Pak Heru yang menerima kotak Snack dari Buk Rita.


"Iya Pak, kita lagi seminar pelatihan menjadi pendebat yang handal, dari tadi gak berhenti danger perdebatan" Balas Buk Rita.


"hahaha" mereka tertawa kembali.


Begitulah sore itu dilalui oleh keluarga Nadira dengan penuh kehangatan dan senda gurau diantara mereka.


Karna Nadira pulang lebih awal, mereka dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat, mereka selesai memasak dan melipat pakaian sebelum maghrib, dan hari itu mereka sekeluarga sholat di mushollah.


mereka berjalan berempat beriringan Pak Heru dan Naufal di depan sedang Buk Rita dan Nadira di belakang sungguh pemandangan yang menyejukkan, mereka seperti saat Ramadhan.


"Buk, jadi kangen ramadhan" Ucap Nadira tiba-tiba.


"Aduk Kak Dira, masih lama kali, kalau kangen ramadhan yah puasa aja, kan ramadhan bulan puasa!" Seru Nabil.


"Ya bedalah Dek!, Kalau Ramadhan kan puasanya bareng-bareng, semua orang ikut puasa, mushollah nya juga ramai orang-orang yang sholat tarawih, bedalah suasananya".


"Iya juga yah kak, kalau Ramadhan mushollah penuh sesak kadang sampai ada yang sholat di luar saking banyaknya yang ingin beribadah, tapi kalau hari-hari biasa kayak gini satu baris aja kadang gak full" Nabil menyayangkan semangat yang berbeda antara bulan ramadhan dan bulan biasa.


"Yah syukuri aja Nak, setidaknya walaupun cuma ramadhan mushollah pernah penuh, dari pada enggak sama sekali kan?" Buk Rita Menanggapi obrolan anak-anaknya.


"Alhamdulillah walaupun cuma Satu baris gak penuh di bulan puasa tetap ada yang sholat di mushollah, dari pada kosong kan?" Sambung Pak Heru.


"Begitulah iman Nak, kadang naik kadang turun yang bahaya itu kalau imannya turun terus, makanya kita selalu diminta berdo'a agar ditetapkan hati dalam keimanan, selain mendo'akan diri kita sendiri kita juga do'akan semoga yang hadir sholat di mushollah bisa istiqomah, dan bagi yang masih sholat di rumah diberi hidayah oleh allah untuk dapat mengerjakan sholat berjamaah di mushollah" Sambil berjalan Pak Heru memberi wejangan untuk putra putrinya.


"aamiin" jawab mereka serempak.


Pak Heru dan Buk Rita tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk memberi pelajaran kepada anak-anaknya, tidak harus dalam kondisi yang serius sambil duduk memegang buku, bahkan seperti saat ini sambil berjalan dan keadaan yang santai Pak Heru tetap memberikan pelajaran


Karna menurut Pak Heru ilmu itu bisa di dapatkan di manapun, kapanpun dan dari siapapun, baginya selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa di petik dari setiap apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan, baik secara sengaja ataupun tidak, hanya saja kita perlu berfikir dan menghayatinya agar kita bisa memetik hikmah dan pelajaran yang ada.

__ADS_1


__ADS_2