
Nabil POV
Pagi ini seperti biasa aku mengajak adikku berjalan-jalan di taman yang berada di dekat pasar, Sesungguhnya taman ini sangat indah banyak bunga-bunga yang berwarna-warni, Banyak juga terdapat pohon besar yang rindang, dan ada bangku panjang di bawah setiap pohon sehingga sangat sesuai untuk tempat bersantai menghilangkan penat.
Taman tidak terlalu besar bentuknya melingkar, banyak juga tempat permainan anak-anak seperti ayunan, perosotan dan lain sebagainya, mungkin memang di desain untuk orang yang pergi ke pasar mengajak anaknya, jadi sambil belanja bisa mengajak anak bermain.
Namun aku tidak tahu mengapa taman ini begitu sepi, jarang ada orang yang bermain ataupun sekedar duduk disini.
Kami sudah mengitari taman ini satu kali, seperti biasa aku mendorong kursi roda yang dia gunakan. Hitung-hitung olahraga, kalau hari biasa aku berolahraga lari-lari di jalanan dekat rumah, tapi khusus hari Minggu aku kesini bersama adikku.
"Kak, aku haus pingin air kelapa muda". Dia minta dibelikan air kelapa muda.
"Tapi kalau kakak pergi, kamu sendirian disini?" Ucapku yang tidak ingin meninggalkan dia sendirian, dengan kondisinya yang tidak bisa berjalan, rasanya tidak tega harus meninggalkan dia sendiri.
"Uda deh kak, aki uda besar, aku cuma gak bisa jalan bukan gak bisa mikir". Jawabnya, dia memang selalu kesal jika aku yang selalu protective terhadapnya.
"Air putih dulu aja, nanti di jalan pulang kita cari yang jual kelapa muda, baru kita beli ok!" Aku masih mencari alasan agar tidak pergi.
"Kak aku bukan anak kecil, yang bisa dialihkan begitu saja". Protesnya yang sudah tahu alasanku.
"Baiklah, kakak pergi ke pasar sebentar yah, kamu baik-baik disini, kalau ada apa-apa langsung telpon kakak, Oke!" perintahku pada akhirnya yang harus menuruti keinginannya.
Aku berjalan dengan cepat, agar aku tidak terlalu lam meninggalkan dia seorang diri.
Di pasar begitu ramai, aku hanya fokus mencari penjual air kelapa muda, sehingga tidak begitu memperhatikan jalan.
Tanpa sengaja aku menabrak orang yang berjalan di depanku, aku hanya meminta maaf sambil menundukkan kepalaku, tidak ada kata marah dari orang tersebut dia juga menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia tidak apa-apa.
Aku melanjutkan berjalan dan aku mendengar suara yang tidak asing, aku ingin menoleh namun hatiku mengatakan aku harus cepat, jadi aku tidak terlalu memikirkan hal itu lagi.
Cukup lama aku berjalan sampai akhirnya menemukan penjual air kelapa muda.
Aku segera membelinya dan langsung berjalan ke taman tempat aku meninggalkan adikku seorang diri.
__ADS_1
Saat aku sampai aku melihat dia sedang berbicara dengan seorang lelaki, kalau dari bajunya itu seperti orang yang tadi aku tabrak di pasar, aku tidak bisa melihat wajahnya karna posisiku yang dibelakangnya.
Kulihat adikku banyak bicara dan bisa menerima orang itu, setelah dia berbalik aku seperti pernah melihatnya tapi aku lupa dimana, setelah aku pikir-pikir, aku baru ingat, dia adalah adik Nadira. Aku pernah melihat dia beberapa kali saat aku mengikuti Nadira pulang.
Lalu kulihat dia berjalan mendorong kursi roda adikku, sungguh aku merasa terharu, adikku itu, jangankan orang lain, denganku saja dia terkadang tidak mau didorong karna dia tidak mau merepotkan orang lain, tapi dengan adik Nadira, dia mau.
Aku segera mendekat ke arah mereka, aku mengucapkan salam
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab mereka bersamaan.
"Eh Kak Nabil, uda dapet air kelapa mudanya?" Dia bertanya kepadaku.
"Nih!" Aku menyerahkan dua bungkus air kelapa muda yang tadi ku beli.
"Kak kenalin ini teman Reihan, namanya Naufal" Reihan mengenalkan adik Nadira denganku.
"Naufal kak" dia menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Nabil, panggil aja Kak Nabil" Aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya, sengaja aku menyuruhnya memanggil aku dengan sebutan kakak, agar jika aku bisa mempersunting Nadira dia sudah terbiasa memanggil aku dengan sebutan kakak.
Aku tersenyum dengan pemikiran ku sendiri, dia mencium tanganku. "Senang bertemu Kak Nabil"
"Wow so sweet, mendengar Naufal memanggil dengan sebutan kakak".
"Kak uda lepasin tuh tangan Naufal!" Suara Reihan menyadarkan aku dari pikiranku.
"Hehe, maaf, habisnya kakak terharu dicium tangan sama Naufal, soalnya adek ku uda lama gak cium tanganku". Kilahku yang malu karna melamun.
"Ah lebay, kita kan tiap hari ketemu kak, masa harus salam tiap waktu". Reihan merasa tersinggung dengan ucapan ku.
"Hehehe iya, iya kakak cuma mengatakan perasaan kakak aja!" Jawabku.
__ADS_1
"Kalian uda lama berteman?" Tanyaku basa-basi karna aku tahu Reihan tidak mempunyai teman karna dia hanya di rumah bahkan dia homeschooling, jadi sepertinya gak mungkin kalau mereka sudah kenal lama.
"Barusan Kak" Naufal yang menjawab karna Reihan sedang minum air kelapa, dia kelihatan sangat haus.
"Kok bisa kenalan disini?" tanyaku kemudian karena aneh saja Reihan yang pendiam bisa berkenalan dengan orang baru.
"Hehehe ada insiden kecil tadi Kak" Jawab Naufal lagi.
"Hahaha, tadi kakaknya Naufal menangis dan Naufal menenangkan, aku kira Naufal pacaran sama kakaknya, aku takut dia ngapa-ngapain tuh cewek, jadi aku nyolot aja Kak deketin mereka".
"Hah Nadira menangis, emang kenapa, setahuku dia wanita yang tegar, kalau sudah menangis artinya memang sudah tak tertahankan". Pikirku dalam hati, tapi bagaimana cara aku bertanya agar Naufal tidak curiga.
"Loh memang kakak kamu kenapa Naufal, apa dia sakit?" Akhirnya aku menemukan kata-kata untuk bertanya.
"Enggak Kak, dia sehat, cuma lagi melow aja kayaknya?" Jawab Naufal.
"Apa lagi putus cinta?" Tanyaku lagi, aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi sama Nadira.
"Hahaha, bagaimana mau putus cinta Kak, deket cowok aja gak pernah" Naufal menjawab sambil tertawa, sepertinya dia sangat senang mengatai kakaknya.
"Hahaha" aku ikut tertawa. Aku tertawa karena senang mengetahui jika Nadira tidak punya pacar.
"Uda ah Kak, kepo banget kayaknya sama kakaknya Naufal?" Ujar Reihan yang menghentikan tawaku.
"Bukan kepo Rei, penasaran aja!" Jawabku berkilah.
"Sama aja kakak" Jawab Rei memutar bola matanya malas.
"Ngomongin Kak Nadira, kayaknya aku uda lama ninggalin dia di kursi taman, aku pamit dulu yah Rei, Kak Nabil!" Nabil izin pamit ingin menemui Nadira.
" Oh iya Dek, terima kasih uda nemenin Reihan tadi!" Ucapku basa-basi kepada Naufal.
"Minggu depan kalau kamu ke pasar lagi, kita cerita-cerita lagi yah Naufal, aku setiap minggu biasanya disini!" Reihan berkata dengan penuh harapan karna dia merasa nyaman berteman dengan Naufal.
__ADS_1
"Insyaallah" Hanya itu jawabnya. Dia lalu menyalami aku lagi dan pergi.
Meninggalkan Reihan dan aku dengan rasa penasaran tentang apa yang membuat Nadira menangis.