Nadira Si Anak Guru Honorer

Nadira Si Anak Guru Honorer
Snack Box


__ADS_3

Evi menghabiskan 2 kotak snack, tapi dia merasa kurang walaupun kepedasan karna memakan cabe, tapi dia masih ingin makan lagi, dia melirik plastik hitam di samping Sarah.


"Mau lagi Vi?" Tanya sarah.


Evi mengangguk sambil mengedip-ngedipkan matanya "Kamu memang teman yang paling pengertian Sar, gak salah kamu jadi bestie aku". Ucap Evi dengan mata berbinar.


"Nih makan!" Sarah memindahkan plastiknya ke dekat Evi, Dia segera mengambil satu kotak gorengan lagi.


Ketika Evi hendak menyuap bakwan dan cabe, Sarah menghentikannya "Vi, gak takut kepedesan lagi, minum kita udah abis loh?, mending kamu beli minum dulu di kantin sebelum makan, dari pada nanti kamu kepedesan gak ada air".


"Ih Sarah, tanggung tau ini tinggal masuk mulut aja!, kalau dihentikan bisa hilang enaknya" Protes Evi yang merasa kecewa.


"Yah aku kan cuma ngingetin Vi, kan gak enak kalau nanti kamu kepedesan terus baru mau beli minum, dateng ke kantin ngomong gini, bu... hu ... ha... beli.... hu... ha.. minum...hu..ha..., kan gak lucu Vi, gak malu dilihatin orang?" Sarah mengomel lagi.


"hahaha" mereka tertawa melihat Sarah mempraktekan omongannya dengan gerakan tangan yang dikibaskan ke mulutnya.


"Ya udah ah, gak jadi aja aku makannya males mau ke kantin terus kesini lagi, mending kita pulang yuk aki uda ngantuk nih" Ajak Evi.


"Vi, kalau motor yah diisi bensin jalannya kencang, lah kami di isi bensin kok malah loyo" Ejek Sarah.


"Habisnya Capek bersih-bersih mana cuacanya panas lagi, paling enak rebahan di kasur dengan deburan kipas angin sampai tertidur". Evi berbicara sambil memejamkan matanya membayangkan ucapannya.


Nadira dan Sarah hanya menggeleng melihat tingkah Evi, kemudian Sarah memukul paha Evi "Udah belom menghayalnya, kalau uda yuk bergerak, sebelum kamu tidur beneran disini!" Sarah mengajak Evi untuk segera beranjak dari tempat duduknya.


Mereka membersikan sisa-sisa makanan mereka tadi, dan membuangnya ke kotak sampah.

__ADS_1


"Ini masih ada 6 kotak lagi snacknya mau diapain yah?" tanya Evi yang melihat plastik hitam.


"gini aja 2 kotak kita bawa ke kosan, 4 kotak Nadira bawa pulang, setuju?" Usul Sarah.


"Aduh jangan dong gak enak aku banyak banget!" Nadira menolak karna merasa tidak enak mendapat bagian yang paling banyak.


"Gak apa-apa Ra bawa aja, kita cuma berdua di kosan jadi cukup 2 kotak, nah kamu kan berempat di rumah, jadi cukuplah untuk kalian satu-satu" Jawab Evi meyakinkan Nadira.


Nadira masih terlihat ragu, dia memang ingin membawa pulang untuk keluarganya, tapi dia merasa gak enak kepada Sarah dan Evi.


Sarah langsung mengambil satu kotak do taronya di tas, lalu dia mengambil satu lagi dan memberikannya kepada Evi, Setelah itu dia mengikat plastik hitamnya dan menyerahkannya kepada Nadira.


"Nih bawa aja Ra, Sayang mubazzir, kami berdua gak bakalan habis semuanya." Sarah memaksa Nadira.


"Nanti kalau ketemu Kak Reza, aku mau ucapin terima kasih deh, tanggung jawabnya gak mengecewakan, sekalian mau nawarin lagi kalau ada yang harus dibersihkan lagi kita mau lagi lah asal ada tanggung jawab kayak gini lagi, lumayanlah bisa makan gratis". Evi menyuarakan pendapatnya.


"Ye kamu Vi, awas aja yah, orang kamu kerjanya cuman duduk-duduk aja, sok-sokan mau lagi, nanti kalau ada lagi pekerjaan kayak gini, giliran kami yang duduk-duduk aja, kamu yang kerjakan semuanya yah!" Seru Sarah.


Evi hanya nyengir mendengar omelan Sarah.


"Cocok banget punya teman, yang satu kayak ustadzah gak berhenti ceramah, yang satu kayak Emak-emak gak berhenti ngomel". Gumam Evi namun masih terdengar di telinga Sarah dan Nadira.


"Hihihi" mereka cekikikan mendengar ucapan Evi.


Setelah membersihkan tempat yang mereka beristirahat mereka pun berjalan keluar gerbang kampus, "Ra ikut kita aja yuk ke kosan, ntar agak sorean baru pulang, ini masih terik kali cuacanya, ngadem dulu sama kita, setelah agak adem baru pulang!" Evi mengajak sarah mampir ke kosan mereka.

__ADS_1


"Lain kali aja yah Vi, kayaknya hari ini aku langsung pulang, sayang ini snakcnya kalau pulang sore ntar uda ga enak rasanya" Nadira menolak ajakan Evi, karna sebenarnya dia masih sungkan untuk menumpang di tempat orang lain.


Sambil berjalan mereka masih terus mengobrol. "Ngomong-ngomong tadi jumlah Snack box yang dikasih Kak Reza banyak banget yah!" Evi memulai obrolan mereka.


"Iya yah, Kamu Makan dua Vi, aku Satu dan Nadira satu, terus kita bawa dua,Nadira bawa empat, jadi totalnya ada sepuluh, emang banyak banget untuk kita bertiga doang" Timpal Sarah.


"Gimana kalau Kak Reza salah kasih yah, Gimana kalau mereka kekurangan Snakcnya, nanti malah Kak Reza kena protes, atau kita tanya dulu yuk!" Ucap Nadira.


"Ih udah ah Ra, kita uda hampir sampai gerbang kampus, uda jauh juga mau ke dalam lagi, kita lanjut aja!" Sergah Evi.


"Kalau begitu aku aja yang kesana sekalian bawa ini sisa yang tadi, kasihan Kak Reza, kok aku baru kepikiran sekarang yah!" Sesal Nadira.


"Udah Ra, kayaknya gak mungkin deh kalau salah, soalnya tadi aku lihat masih banyak kantong plastik yang seperti kita bawa ini, insyaallah cukuplah untuk mereka, mungkin itu memang sengaja di lebihin Kak Reza untuk kita!" Sarah berkata untuk meyakinkan Nadira.


"Lagian juga mereka semua orang berduit Ra, pasti makanan seperti ini, mereka uda biasa, paling juga gak mereka makan, dari pada mubazzir, mending kita yang makan, Pasti sudah diperhitungkan sama Kak Reza, kalaupun kurang paling jatah Kak Reza CS yang dikasih" Evi berkata dengan santainya.


Mereka pun sampai ke gerbang Kampus," udah Ra gak usah banyak mikir bawa aja tuh Plastik, insyaallah Halalan thoyyiban" Evi berkata sambil melambaikan tangannya.


Keluar gerbang kampus mereka pun berpisah.


Nadira merasakan sengatan matahari siang itu begitu terik jadi setiap ada pohon dia berhenti sejenak untuk berteduh, Sampai di bangku jalan dekat Perpustakaan dia duduk agak lama di situ.


Dia ingin mampir dan membaca seperti biasanya, tetapi dia teringat Snack yang tadi dibawanya, dia takut kalau kesorean snackny dina berubah rasa, sedangkan dia kalai membaca suka lupa waktu, jadi dia memutuskan untuk tidak mampir dulu ke perpustakaan hari itu.


Sudah dua kali di Minggu itu Nadira tidak ke perpustakaan, di perjalanan pulang dia bergumam dalam hatinya "Seperti ada yang hilang kalau sehari saja tidak ke perpus, sedang minggu ini uda dua kali aku gak mampir, kayak ada yang kurang". Nadira terus berjalan dan tanpa terasa dia sampai ke rumahnya pukul 15.00.

__ADS_1


__ADS_2