
Pak Ardi kembali sibuk dengan pekerjaannya, namun tak lama dia melihat Nabil memasuki perpustakaan, Beruntung saat itu Pak Ardi tidak terlalu sibuk, jadi dia bisa memanggil Nabil
"Permisi Nak,"
Nabil pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.
"Hai Nak, yang kaos biru" Pak Ardi memanggil lagi dengan menyebutkan warna baju yang di pakai Nabil.
Akhirnya Nabil berhenti dan mendekati Pak Ardi, "Baiklah mungkin sebaiknya aku bercerita kepada Pak Ardi, agar dia tidak mencurigai aku dan mengatakan sesuatu kepada Nadira" pikir Nabil.
Nabil mendekat ke arah Pak Ardi, "Kemarin kamu yang menanyakan Nadira kan?"
"Iya Pak, apa bapak sudah mengatakan sesuatu kepada Nadira?" Tanya Nabil.
"Belum Nak, aku berfikir mungkin kamu tidak mempunyai keinginan buruk kepada Nadira, karna Saya tahu kamu setiap hari datang ke perpustakaan ini tapi tidak pernah meminjam buku, dan kamu juga selalu pergi sesaat setelah Nadira pergi,jika kamu berniat buruk pasti sudah lama kamu lakukan?, makanya Bapak hanya ingin memastikan dengan bertanya langsung kepada kamu." Jelas Pak Ardi panjang lebar.
"Terima Kasih Pak, cuma kayaknya ceritanya agak panjang Pak, sedangkan kita hanya bertemu di sini, dan Pak Ardi tentulah sibuk, Bapak hanya perlu percaya bahwa saya tidak ada niat buruk kepada Nadira, saya hanya ingin menolong dia seperti dia sudah menolong saya, bila perlu saya akan menjadi penolongnya seumur hidup saya, karna dia adalah orang yang pernah menyelamatkan hidup saya." jelas Nabil meyakinkan Pak Ardi.
"Baiklah jika kamu memang berniat baik dan ceritamu panjang, maka tuliskan lah ceritamu di sebuah kertas, agar saya bisa percaya dengan kata-katamu. Dan saya harap saat perpustakaan tutup, cerita itu sudah berada di tangan saya!" Pak Ardi berkata seperti itu, karna dia tidak mau jika Nabil hanya membuat alasan untuk menyakiti Nadira, walaupun sebenarnya Pak Ardi dapat melihat kesungguhan dan kejujuran di mata Nabil saat berbicara kepada Pak Ardi.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi untuk menuliskan ceritanya dulu" Nabil meminta izin untuk pergi.
"Tunggu Nak, namamu siapa?"Pak Ardi bertanya, karna dia hanya fokus kepada pertanyaannya tentang Nadira, bahkan sampai namanya dia lupa menanyakan.
"Nabil Zain Almuttaqi, panggil Nabil aja Pak!" Jawab Nabil sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik Nak Nabil, Bapak harap apa yang kamu katakan adalah kejujuran" Pak Ardi berharap penilaiannya terhadap Nabil tidak salah, sehingga dia bisa tenang terhadap Nadira.
"Insyaallah Pak"
Nabil pun berlalu dan seperti biasa dia pergi ke arah Nadira yang sedang membaca buku, walaupun tidak duduk berdekatan tetapi Nabil duduk di tempat yang dia bisa leluasa melihat Nadira.
Hari itu, Nabil tidak membaca buku, melainkan mengerjakan permintaan Pak Ardi untuk menuliskan ceritanya bersama Nadira.
Dia menuliskannya sangat lengkap dari awal pertemuan mereka dan semua rasa yang dia rasakan terhadap Nadira, dia tidak perduli dengan tanggapan Pak Ardi terhadap dirinya, karna yang dia ingin adalah bercerita jujur seperti permintaan Pak Ardi.
Bertepatan dengan Nadira yang hendak keluar perpus diapun selesai menuliskan ceritanya. Dia menunggu Nadira keluar dari pintu, lalu segera menyerahkan suratnya kepada Pak Ardi. "Ini Pak alhamdulillah sudah selesai jujur tanpa ada sensor". ucap Nabil sambil tersenyum.
"Hehehe kamu ada-ada aja Nak Nabil, memang film yang ada sensor dari KPI".
"Saya permisi Pak!" Nabil pamit hendak menyusul Nadira. Dia pergi tergesah-gesah karena takut Nadira sudah berjalan jauh, sudah sering mengikuti Nadira dia jadi hafal jika Nadira bisa berjalan dengan cepat.
Perpustakaan sudah sepi, pengunjung semua sudah pulang, tinggal Pak Ardi dan yang lain bertugas untuk membersihkan dan menutupkan perpustakaan.
Setelah bersih tinggallah Pak Ardi sendiri yang bertugas untuk menutup perpustakaan. Karna buru-buru Pak Ardi lupa untuk membaca tulisan Nabil, dia meletakkannya di dalam buku di tempatnya biasa melayani pengunjung untuk meminjam buku.
Pada hari kamis, selesai sholat dan makan siang, sesuai janjinya, Nadira dan Evi juga Sarah pergi ke ruang BEM untuk membersihkannya sebelum rapat dimulai.
Mereka sampai ke sana sebelum pukul satu, karna selesai mata kuliah mereka langsung sholat dan makan, walaupun dengan drama Evi uang ingin rebahan sebentar di mushollah. Tapi mereka tidak menurutinya karena mereka tahu Evi kan muka bantal, kalau rebahan langsung tidur.
Walaupun Evi terus merengek seperti anak kecil, tapi dia tetap mengikuti Nadira dan Sarah.
__ADS_1
Reza langsung ke luar ruangan untuk menyambut mereka, "Eh cepat adek-adek datangnya, kalian uda makan Dek?" tanya Reza.
"Uda kak, tinggal rebahannnya aja yang belom, kakak harus tanggung jawab, karna waktu kami rebahan tersita" Ucap Evi tanpa Jeda.
"Enggak Kak, Evi aja yang pingin rebahan kita biasa aja, si Evi tu sehari aja gak Rebahan, bisa mati kali."Jelas Sarah kepada Reza, karna Sarah merasa gak enak, takutnya Reza tersinggung dengan ucapan Evi, kalau mereka sih sudah biasa mendengar Evi yang ceplas ceplos seperti itu, tapi belum tentu dengan Reza yang baru kenal.
"Enggak apa-apa dek, nanti kita tanggung jawab deh, tak bawa ke pelaminan mau?" Reza menggoda mereka.
"Mau kak tapi nanti yah kalau sudah kuliah" Jawab Evi.
"Emang lo mau kepelaminan sama siapa Za?, sama si Ember Bocor mending jangan deh Za, ntar sakit kuping lo denger dia ngomel mulu, gak bakalan bisa tenang deh rumah loh" Ucap Sam yang sudah ada di ambang pintu di belakang Reza.
"Ih dasar si kakak mulut bebek yah, kalau aku kasihan sama cewe yang ke pelaminan sama kakak, ntar bukan dia yang ngomel, malah dia yang kena omel, pasti berantem mulu, orang biasanya cowok itu jadi pendengar yang baik ini malah cowok yang byerocos aka kayak mulit bebek" Evi menjawab karna merasa tidak terima dengan olokan Sam.
"Aduh nih orang berdua kalau uda ketemu gak bakal bisa diam, bakal gak kelar-kelar kerjaan kita". Sela Reza.
"Yah uda Kak, kita masuk aja, biar bisa segera membersihkan ruangannya" Ajak Nadira yang sudah meangkah diikuti Sarah dan juga Evi.
Sambil berjalan melewati Sam, Evi memeletkan lidahnya mengejek Sam, "We...".
Melihat itu Sam melototkan matanya, dan mengejar Evi. Namun dia ditahan sama Reza.
"Udah deh Sam, kamu memang senang yah mencari gara-gara sama si Evi, uda mending mereka mau bantuin kita, kalau mereka ngambek gak mau bantu emang lo mau bersihin ruangan ini?" Ucap Reza yang merasa kesal dengan Sam.
"Hehehe, Seneng aja Sam, jadi Rame kalau digodain dari pada diem aja, ntar kayak dikuburan bawaannya tegang aja". Bela Sam yangmemang sengaja ingin menggoda Evi, dia merasa senang mendengar Evi yang suka nyerocos kayak dia, dia merasa mendapat lawan yang seimbang alias lawan dalam hal nyerocos.
__ADS_1
"hihih" Sam tertawa sendiri dengan apa yang dia pikirkan sendiri.
Reza yang melihat itu bertanya "lo kenapa Sam, senyum-senyum sendiri begitu?, ih sarap nih anak" umpat Reza meninggalkan Sam yang masih diam di tempatnya.