
Reza terus berusaha meyakinkan Nadira untuk menerima pemberiannya, tetapi Nadira juga masih pada keyakinannya untuk tidak menerimanya.
Pak Heru dan Buk Rita hanya diam memperhatikan urusan anaknya, mereka tidak mau ikut campur, selagi masih bisa diputuskan sendiri oleh anaknya.
"Begini saja Nadira, anggap saja ini hadiah dari kami, karna kamu selalu mau membantu kami." Ucap Farhan menengahi.
"Tapi Nadira ikhlas kak, Nadira tidak mengharapkan balasan apapun untuk membantu kakak-kakak semua". Jawab Nadira yang masih kekeh.
"Nah kalau kamu ikhlas membantu kami, maka kami juga ikhlas memberi ini, jadi jangan menolak lagi yah, gak baik menolak Rezki loh!" Ucap Farhan lagi.
Nadira diam tidak bisa lagi menjawab,dia melihat ke arah Buk Rita, dan Buk Rita menganggukkan kepalanya tanda menyetujui jika Nadira menerima handphone tersebut.
"Baiklah Kak, kalau begitu Nadira terima!" Ucap Nadira pada akhirnya.
"Nah begitu dong Ra!, dari radi juga langsung diterima aja jadi kami tidak perlu bertanya-tanya lagi jika kamu tidak datang ke kampus, karna kami bisa menghubungi kamu dan kamu bisa menelpon kami". Jawab Evi yang sebenarnya sudah sangat gatal ingin menyuruh Nadira menerima saja, namun dia tidak bisa langsung menjawab karna setiap dia ingin berbicara Sarah selalu memegang tangannya.
"hahaha" Mereka tertawa mendengar ucapan Evi yang tidak bisa di rem lagi.
"Pak,Buk, Ra, sudah sore, kami pamit pulang dulu yah!" Ucap Sarah pamit kepada keluarga Nadira,dia mengajak teman-temannya pulang karna memang hari sudah sore, mungkin Farhan, Reza dan Sam ada pekerjaan dan Nadira serta keluarganya mau istirahat.
"Oh baiklah kalau begitu!, sekali lagi terima kasih sudah mau menemani Nadira, dan terima kasih juga atas oleh-olehnya yang banyak ini, maaf kami tidak bisa membalas ini semua, kami hanya bisa mendoakan semoga kebaikan kalian akan Allah catat sebagai pahala disisinya". Jawab Buk Rita.
Mereka lalu menyalami Pak Heru dan Buk Rita bergantian, sedang Nadira hanya melihat dari tempat dia duduk.
Sepulang teman-temannya Nadira masih memandang handphone yang tergeletak di atas lantai.
Naufal mendekat dan mengambil handphone itu, dia lalu mengotak atik handphone itu.
"Wah Kak, ini handphonenya keren, walau memang model lama, tapi kayaknya masih bagus, kayaknya teman kakak itu orang kaya yah, masa handphone seperti ini gak terpakai". Naufal berkata masih sambil memainkan hp tersebut.
"Yah mana kakak tahu Dek!, orang Kakak hanya mengenal di kampus aja" Jawab Nadira yang memang hanya mengenal Reza di ruang BEM saja, makanya dia sangat sungkan untuk menerimanya, karna mereka jauh dari kata dekat.
__ADS_1
"Kalau Kakak gak mau menggunakan hp ini, biar Naufal aja yang pakai". Ucap Naufal tanpa rasa bersalah.
"Hush, orang yang dikasih Kak Nadira, kok kamu yang pakai, yah gak enak lah nanti di kira Kak Nadira tidak menghargai pemberian orang lain" Sahut Buk Rita yang baru masuk dari pintu depan rumah mereka, sehabis mengantar Sarah dan yang lainnya pulang.
"Gak apa-apa Buk, biar adek aja yang otak atik dulu, Nadira masih belum kuat, nanti aja kalau sudah agak mendingan baru Nadira lihat"! Ucap Nadira yang segera membaringkan tubuhnya, Kepalanya sudah tidak bergoyang-goyang tapi badannya masih terasa lemas, makanya dia ingin istirahat lagi dengan harapan besok bisa beraktifitas seperti biasanya.
Buk Rita ingin memasak untuk makan malam mereka, tapi karna rumah masih berantakan karna ada tamu, jadi Buk Rita membereskan rumah mereka terlebih dulu.
"Masyaallah Ra, ini banyak banget, ada buah-buahan, roti-rotian dan ini juga ada susu beruang banyak banget!" Buk Rita berkata dengan rasa takjub dan syukur karna banyak makanan yang di bawa oleh teman-teman Nadira.
"Kalau begitu Kalau makanannya habis, Kak Dira sakit lagi aja, biar makanannya banyak lagi!" Ujar Naufal sambil mengambil satu buah jeruk.
"Astaghfirullah Naufal, masa kakaknya di doain sakit sih, memang kamu makan dari hasil membuat kakakmu sakit!" Buk Rita mengomel mendengar ucapan Naufal.
"Iya ih adek, itu mah namanya bergembira di atas penderitaan orang lain". Jawab Nadira yang juga kesal dengan ucapan Naufal.
"Hahaha" Naufal tertawa dan berkata "Enggak Kak, cuma bercanda, gak enak kalau kakak sakit gak ada teman debat, rumah jadi sepi!".
"Kamu mandi dulu Ra, kepalanya dibasahi biar uapnya keluar!" Perintah Buk Rita kepada Nadira.
Nadira sebenarnya malas untuk mandi, karna pada saat sakit airnya akan terasa sangar dingin, namun dia tidak mau membantah perintah ibunya.
Nadira lalu beranjak mengambil handuknya dan pergi ke toilet untuk mandi.
Rumah sudah bersih, Buk Rita juga sudah mulai memasak, Pak Heru di kebun untuk memanen singkong, biasanya Naufal akan membantu Pak Heru untuk memanen singkongnya, tapi karna hari itu dia begitu asyik memainkan handphone yang diberi Reza tadi, dia lupa semuanya.
Nadira keluar dari toilet, dia melihat Naufal masih asyik dengan handphonenya.
"Dek, gak bantuin Bapak di kebun?, biasanya kamu bantu bapak, kalau sore begini!" Tanya Nadira.
"Sebentar Kak, tanggung!" Jawab Naufal yang masih asyik memainkan mainan barunya.
__ADS_1
Nadira berbaring lagi di atas kasur, sebenarnya dia ingin tidur, tapi karna sudah lewat waktu ashar tidak baik untuk tidur, jadi dia hanya memejamkan matanya sambil berdzikir dan beristighfar.
Selesai masak Buk Rita mandi, Selesai mandi, Pak Heru juga sudah selesai memanen singkongnya, kemudian dia mandi.
"Dek, sudah hampir maghrib, kamu belum mandi, nanti bisa terlambat ke mushollah nya!" Buk Rita mengingatkan Naufal yang tidak beranjak dari tempat duduknya selama kurang lebih satu jam.
"Astaghfirullah" Naufal beristighfar karna dia sudah menghabiskan banyak waktu untuk bermain handphone.
Tanpa melihat lagi layar hpnya, dia segera meletakkannya di atas meja, dan mengambil handuknya.
Dia mandi dan segera berangkat ke mushollah, setelah isya dia pulang, dia ingin mengambil lagi handphone yang tadi diletakkannya, namun dia menahannya, dia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya di depan layar handphone.
Namun, kemudian saat dia hendak melangkah handphonenya berdering, akhirnya Naufal mengambil dan melihat ada pesan di aplikasi hijau.
@ Nomor yang tidak dikenal : Assalamualaikum Nadira.
Naufal yang membaca, melihat ke arah Nadira yang sudah tertidur.
@Naufal : Waalaikumussalam, saya Adik Kak Dira, Kak Nadira sudah tidur.
Naufal menjawab pesan yang masuk ke aplikasi hijaunya.
Karna tidak ada balasan lagi, diapun membuka-buka aplikasi yang lain, diapun masih berdiri tanpa mengganti bajunya.
"Adek, sudah dulu, ayuk makan!" Ajak Buk Rita.
Naufal meletakkan lagi handphonenya dan mendekat ke hidangan untuk makan.
Selesai makan, saat Buk Rita membereskan hidangannya, Pak Heru berkata kepada Naufal. "Nak Handphone itu memang bermanfaat tapi jangan sampai manfaat yang ada berubah menjadi tidak manfaat karna kamu tidak bijak dalam menggunakannya!, Handphone itu seperti pisau yang bermata dua, jika kamu bisa menggunakannya dengan bijak dia bisa membantumu, tapi jika kamu menggunakannya dengan tidak bijak maka dia akan melukaimu, Jadi menurut Bapak, jika kamu tidak terlalu membutuhkannya lebih baik, tidak usah dulu digunakan!" Pak Heru memberi Nasihat kepada Naufal, karna dia melihat Naufal yang sudah terlena dengan handphone dan melupakan kegiatan yang biasa dia lakukan.
Pak Heru tidak mau Handphone membuat Naufal berubah, jadi sebelum handphone itu memberi pengaruh yang tidak baik, lebih baik dia memperingatkannya terlebih dahulu.
__ADS_1