
Pagi-pagi sekali kurir paket datang dan awalnya Lena pikir salah alamat, karena Lena tidak memesan barang apapun melalui online shop, tapi setelah Lena tanyakan nama penerimanya, ternyata paket itu untuk Calvin.
"Calvin pesan apaan sih? besar banget kardusnya" Lena bermonolog dengan dirinya sendiri, sembari melihat seluruh sisi kardusnya untuk mengetahui barang yang di beli kekasihnya.
"Engga ada tulisan apapun, tapi tunggu sebentar deh! Calvin pesan barang ini gimana caranya ya? dia kan baru punya ponsel beberapa minggu yang lalu dan aku juga belum ajarin dia cara belanja lewat handphone" ucap Lena yang masih memandang kardus di hadapannya.
"Siapa yang datang Lena?" Calvin yang datang dari arah dapur dengan membawa sarapan untuk mereka berdua dan meletakkannya di atas meja.
"Kurir paket! yang nganterin paket kamu tuh, tapi aku bingung deh kamu pesan ini pake handphone siapa? terus aku kan juga belum ajarin kamu cara gunain online shop, gimana kamu bisa tau?" ucap Lena sembari melihat ke arah kardus dihadapannya bukan ke arah Calvin.
Jangankan Lena, Calvin sendiripun bingung dirinya dapat paket dari siapa? Calvin sebenarnya mengerti cara menggunakan online shop, tapi dia juga sama halnya dengan Lena tidak memesan barang apapun.
'Apa jangan-jangan paket ini kiriman dari ayah ya? kalau benar begitu Lena tidak boleh tau isi yang ada di kardus itu' dalam hati Calvin berbicara dengan dirinya sendiri.
Lena yang melihat Calvin terus melamun melihat paketnya, langsung menjentikkan jari tangannya di depan wajah Calvin dan terus memanggil-manggil nama Calvin untuk menyadarkannya.
"CALVIN!!" Karena Calvin tidak merespon panggilan dari Lena, akhirnya Lena tiba-tiba berteriak dan membuat Calvin terlonjak kaget.
"Iya Lena? ada apa?"
"Aku tanya, gimana caranya kamu pesan barang ini?" ucap Lena sembari memukul atas kardusnya.
"Mungkin itu ke pesan waktu aku coba-coba sendiri buat gunain aplikasi online shop, udah jangan di pikirin lagi lebih baik kamu sekarang mandi terus sarapan! dari pada nanti susunya keburu dingin kan jadi engga enak rasanya" Calvin mendorong pelan tubuh Lena untuk menjauh dari kardus itu.
"Tapi... aku masih penasaran sama isinya, izinin aku lihat dulu ya Vin ya? please..." Lena langsung menyatukan kedua tangan dirinya di depan wajahnya.
"Engga boleh! udah sana cepatan mandi!!! nanti kamu bisa terlambat ke kantor lagi"
"Iya deh iya, padahal cuma paket yang engga sengaja ke beli aja jugaan buat lihat doangg engga boleh!"
__ADS_1
Lena pergi dari hadapan Calvin, tetapi dia tidak langsung masuk. Dia tetap berada di sana dengan jarak yang cukup jauh dari Calvin, hanya untuk melihat Calvin membuka kerdus itu dan mengeluarkan isi di dalamnya. Sedangkan Calvin langsung duduk di sofa dan bersiap membuka kardus di hadapannya.
Calvin yang baru ingin membuka solasi pada kardusnya, langsung terhenti dan mengurungkan niatnya dan dia juga menghembuskan nafas berat, karena sudah menahan amarahnya.
"Lena sayang... engga perlu kamu bersembunyi di balik tembok untuk melihat isinya, nanti aku akan kasih tau kamu setelah kamu selesai mandi. Oke?"
'Apa? Calvin manggil gue apa tadi? sayang? engga biasanya Calvin panggil gue kayak gitu, jadi makin cinta gue sama dia kalau begini terus' ucap Lena dalam hatinya sembari senyam-senyum sendiri.
"Hehehe,, ketauan deh!" Lena keluar dari balik tembok dengan tawa canggungnya.
"Mandi sekarang ya Lena dan jangan buat aku kehilangan kesabaran!" ucapnya dengan tatapan tajam yang Calvin berikan.
Lena yang tidak mau menambah masalah lagi dan membuat Calvin marah, akhirnya berlari masuk ke dalam kamar untuk mengikuti perkataan Calvin.
Merasa sudah aman dan tidak ada Lena di sekiranya, Calvin langsung membuka kardus itu dan isi di dalamnya hanya selembar surat dan foto-foto Lena yang terlihat sangat bahagia dengan tawa di bibirnya.
"Ternyata benar dugaan ku, ini semua perbuatan ayah dan kalau dibiarkan terus menerus seperti ini nantinya ayah akan kelewatan batas, aku harus bisa mencegah ayah untuk tidak datang ke sini" Calvin menggenggam erat kertas surat dari ayahnya.
Sebelum Lena selesai mandi dan kembali, Calvin langsung membereskan kardus beserta isinya dan kalau nanti Lena tanya isinya Calvin sudah menyiapkan untuk itu.
Sembari menunggu Calvin kembali, Lena yang sudah rapih dengan pakaian kantornya langsung menyantap roti bakar dan susu putih hangat yang Calvin buat tadi.
"Nah,, kalau seperti ini kan tambah terlihat cantik" ucap Calvin yang berjalan masuk dari arah teras depan rumah.
"Jadi tadi apa isinya? kamu udah bilang mau kasih tau aku loh tadi" ucap Lena sembari meletakkan kembali gelas susunya.
"Hanya ini yang datang, aku juga bingung kenapa bisa kerdus sebesar itu isinya hanya ini" Calvin menunjukkan barang yang ada ditanganya.
Calvin memberikan sepatu dan jepit rambut untuk Lena, walaupun sejujurnya barang itu Calvin beli beberapa hari lalu, tapi setidaknya barangnya berguna di situasi seperti ini dan untungnya kemarin belum sempat Calvin berikan pada Lena.
__ADS_1
"Ini untuk aku?" Lena mengambil semua barang yang Calvin berikan.
"Iya, memangnya untuk siapa lagi?"
"Makasih ya Vin" Lena tersenyum pada Calvin dan langsung memakai jepit rambutnya.
"Gimana? cantik engga?" Calvin langsung menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau kamu sudah selesai sarapan ayo berangkat! soalnya hari ini aku mau bertemu Dion"
Sejak seminggu mereka jadian, Calvin jadi supir antar jemput Lena dan kali ini yang Lena takuti bukanlah mobilnya rusak, tapi Lena takut kalau waktu Calvin menyetir dirinya malah berubah jadi kucing.
Selesai mengantarkan Lena ke kantor dengan selamat, Calvin langsung pergi menemui Dion untuk membicarakan sesuatu dan Calvin juga sudah berpesan pada Lion untuk mengawasi Lena dengan dan jangan sampai lengah.
...****************...
Dion yang sudah menunggu di dalam kafe yang Calvin perintahkan, sembari menikmati kopi panas. Saat Calvin datang dirinya langsung berhenti meminum kopi itu dan berdiri dihadapan Calvin.
"Tuan muda" Dion membungkukan setengah badannya.
"Duduklah! kali ini saya hanya ingin meminta bantuan kamu"
"Saya akan siap membantu tuan"
"Saya mau minta tolong sama kamu untuk...." Calvin membisikkan kelanjutan perkataannya pada Dion, karena kalau dia lanjutkan dengan suara seperti biasa akan banyak orang yang akan mendengarnya.
"Baik tuan, saya akan lakukan sekarang" ucap Dion yang langsung berdiri dan berpamitan pada Calvin.
Calvin masih berada di dalam kafe hanya untuk sekedar melihat ke luar jendela dan memikirkan cara bagaimana bisa membujuk ayahnya yang sangat keras kepala.
__ADS_1