Pacar Tampanku Siluman Kucing

Pacar Tampanku Siluman Kucing
Sementara Waktu


__ADS_3

Lena datang ke rumah Kia sembari menangis dan membawa koper, Kia yang awalnya bingung karena baru kali ini Kia melihat sahabatnya menangis sampai sesegukan.


Kia mencoba menanyakan apa penyebab Lena menangis seperti ini dan Kia juga menanyakan keberadaan Calvin, tapi saat membahas Calvin tangisan Lena malas semakin kencang.


"Udah cup cup... Jangan nangis lagi ya Len" ucap Kia sembari memeluk Lena dari samping.


"Calvin Ki...Calvin dia..." ucap Lena sembari sesegukan di dalam pelukan Kia.


"Calvin kenapa Len? Apa yang dia lakuin ke lu? Sampai lu nangis gini" tanya Kia yang melepaskan pelukannya pada Lena.


"Dia... Dia jahat sama gue Ki" Lena yang lagi-lagi menambah kencang suara tangisannya.


Kia menggaruk tengkuknya sebentar dan langsung memeluk Lena kembali sembari mengusap punggung Lena, Kia benar-benar bingung menghadapi sahabatnya yang baru pertama kali mengalami masalah percintaan.


Setelah Lena sedikit tenang dan berhubung waktu juga sudah larut malam jadi Kia membawa Lena ke kamarnya untuk istirahat, karena perjalanan dari rumah Lena ke rumahnya lumayan cukup jauh.


"Sekarang lu istirahat aja dulu ya, nanti kalau lu udah siap buat cerita ke gue bilang aja" ucap Kia sembari tersenyum dan mengusap lengan Lena.


"Iya Ki, makasih ya" Kia hanya mengangguk dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju tidur.


Lena duduk di pinggir kasur sembari memegang ponselnya, dirinya masih kepikiran tentang Calvin. Bahkan sampai Kia selesai Lena masih saja melamun, Kia yang melihat Lena seperti itu juga ikut sedih.


"Len..." ucap Kia lirih sembari menepuk bahu Lena.


"Iya Ki?"


"Kita tidur yuk Len"


"Lu tidur aja duluan! nanti gue nyusul, soalnya gue belum ngantuk"


"Ya udah, tapi bener ya lu harus tidur bentar lagi?"


"Iya bener, udah sana lu tidur!" ucap Lena sembari memberikan senyum tipisnya ke Kia.


Kia langsung naik ke tempat tidur dan memejamkan matanya di samping Lena, sedangkan Lena membenarkan posisinya menjadi duduk menyender.

__ADS_1


Lena yang sedang memainkan ponselnya untuk menghilangkan kesedihannya, tiba-tiba mendapat telfon dari Calvin. Walaupun ada sedikit keinginan untuk menjawab panggilannya, tapi Lena mencoba untuk menahannya dan hanya melihat panggilan itu sampai berakhir.


Calvin tidak menyerah dirinya terus mencoba menghubungi Lena berkali-kali, bahkan sekarang sudah ada dua puluh lima panggilan dan semua itu dari Calvin.


"Maaf Vin, tapi rasanya masih sangat sulit untuk aku percaya kalau kamu benar-benar mencintai ku" ucap Lena dalam hatinya sembari melihat panggilan telfon yang masih berdering di ponselnya.


"Ternyata seperti ini rasa sakitnya, saat tau orang yang di cintai dengan tulus ternyata dia hanya ingin memanfaatkan saja. Kalau tau akan begini lebih baik kemarin aku menolaknya saja, bodohnya diriku ini" Lena bermonolog sendiri sembari meletakkan keningnya di tangan yang dia lipat di atas lututnya.


Kali ini Lena menangis tanpa suara untuk menyembunyikan tangisannya dari Kia, karena dia tidak mau kalau Kia sampai terbangun dan membuatnya khawatir.


Ponsel Lena berbunyi lagi dan kali ini bukan panggilan telfon dari Calvin, melainkan chat dari Calvin yang berisi penjelasan yang sama saat mereka berbicara di rumah Lena.


Lena belum selesai membaca isi chat yang pertama, tapi Calvin sudah mengirimkan beberapa chat lainnya.


-Chat Calvin-


"Lena, aku tau aku salah sudah bohong sama kamu"


"Tapi aku mohon maafin aku ya, kamu mau kan maafin aku Lena?"


"Biar aku jemput kamu, kamu mau kan?"


-Balasan Chat Calvin dari Lena-


"Engga perlu aku masih mau di sini dulu, jadi kamu engga perlu repot-repot untuk jemput aku dan juga aku minta sama kamu tolong jangan ganggu aku dulu!"


"Aku lagi mau nenangin diri, jadi aku harap kamu bisa ngerti"


Setelah membalas chat Calvin, Lena langsung mematikan ponselnya dan merebahkan badannya dengan posisi membelakangi Kia.


Sampai jam tiga pagi Lena belum bisa tertidur bahkan matanya sama sekali tidak mengantuk, berbeda dengan Kia yang sudah mengeluarkan dengkurannya.


...****************...


Calvin juga belum ada keinginan untuk pergi dari taman dan pulang ke rumah, karena percuma dirinya pulang kalau Lena tidak berada di sana. Rasanya akan sangat sepi sendirian di dalam rumah.

__ADS_1


Bukan hanya Calvin yang berada di sana, tapi Dion dan Lion juga berada di taman untuk menjaga Calvin dari kejauhan. Bahkan Dion sudah mencoba mengajak Calvin pulang dan menawarkan untuk menemaninya bersama dengan Lion juga, tapi Calvin tetap tidak mau dan lebih memilih berada di taman untuk merenungi kesalahannya.


"Andara... Ikutlah pulang bersama ayah" ucap Ericson yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Calvin yang melihat ayahnya berdiri tepat di hadapannya, langsung mengepalkan tangannya dan berpura-pura tidak ada siapa pun di hadapannya.


"Andara buka matamu! dia sudah tidak ingin bersama dengan mu lagi, jadi untuk apa kamu menunda penyembuhan kamu"


Calvin yang sudah sangat emosi langsung bangun dari duduknya dan menatap ayahnya dengan wajah marah dan tangan yang masih mengepal.


"Jangan anda pikir saya tidak tau! kalau Lena jadi menjauhi saya seperti ini, itu semua karena ulah anda"


"Semua ini bukan kesalahan ayah Andara, ayah hanya memberi haknya untuk mengetahui semua yang terjadi"


"Lalu kenapa tidak sekalian anda ceritakan semuanya? termasuk tentang meninggalnya mama dan Alana yang di sebabkan oleh anda" ucap Calvin dengan senyum miringnya.


Mendengar itu keluar dari mulut Calvin, Ericson langsung menampar putranya dengan cukup keras bahkan sampai wajah Calvin menghadap ke arah kanan.


Setelah mendapat tamparan dari ayahnya, Calvin hanya tersenyum sembari memegang sudut bibirnya yang sedikit berdarah.


"Kenapa anda semarah itu? bukankah yang saya ucapkan tadi memang kebenarannya?"


"Andara! tutup mulut kamu! jangan pernah kamu bahas masalah ini pada orang lain, kalau sampai kamu lakukan itu ayah akan langsung melenyapkan kekasih mu" ucap Ericson ya langsung pergi setelah memberikan ancaman itu pada Calvin.


Melihat Ericson yang sudah menjauh Dion dan Lion langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Calvin untuk menanyakan keadaannya.


"Dion, Lion saya minta sekarang kalian awasi rumah Kia dan jangan sampai ayah saya datang kembali untuk menemui Lena!"


"Tapi tuan muda, luka anda bagaimana?" ucap Lion yang menatap ke arah pinggir bibir Calvin.


"Tidak masalah saya bisa mengurusnya sendiri, ingat jangan sampai kalian lengah lagi seperti kemarin!"


"Baik tuan muda, kami akan laksanakan sekarang" ucap Dion dan Lion bersamaan dan langsung pergi meninggalkan Calvin.


Calvin hanya melihat Dion dan Lion menjauh sembari memegang sudut bibirnya yang berdarah, bagi Calvin lukanya tidak seberapa dibandingkan luka saat Lena meninggalkannya.

__ADS_1


"Lena suatu saat kamu akan mengerti kenapa aku lebih memilih membohongi mu"


__ADS_2