Pacar Tampanku Siluman Kucing

Pacar Tampanku Siluman Kucing
Manusia Atau Siluman


__ADS_3

Usia kandungan Lena saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan dan sekarang Calvin dan Lena sedang berada di ruang bersalin untuk melakukan proses persalinan Lena, sedangkan Calvin di minta dokter berada di samping Lena sejak awal mulai proses persalinannya untuk menemani dan menguatkannya.


Bukan hanya Calvin saja yang menemani Lena berada di rumah sakit, tapi Ericson, David, dan juga Dario ikut menemaninya walaupun mereka tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan dan hanya bisa menunggu di luar.


"Apa waktu proses persalinan memang selama ini ya?" Ericson sedari tadi sudah tidak tenang dan terus-menerus bangun duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Ya begitulah Ric... Memangnya waktu istri mu melahirkan Calvin, kamu tidak merasa kalau itu membutuhkan waktu yang lama. David duduk di kursi bersama dengan Dario untuk menunggu Calvin ataupun dokter keluar dari ruangan persalinan.


"Waktu istri ku melahirkan Calvin, saya sedang berada di dunia manusia untuk melakukan pekerjaan mendadak jadi saya tidak tau itu membutuhkan waktu yang lama atau tidak"


"Begitu ya, jadi kamu sama sekali tidak sempat menemani istrimu melahirkan"


"Iya Vid, tapi saya masih beruntung karena bisa merawat Calvin sampai kejadian itu terjadi"


"Itu jauh lebih bagus dari pada tidak sama sekali Ric"


Ericson dan David masih terus membahas tentang cara mereka berdua mengurus bayi mereka bahkan di saat istri mereka berdua tewas, sedangkan Dario yang duduk di bangku yang berada di seberang mereka berdua hanya bisa mendengarkan saja sembari memikirkan anak Lena yang akan lahir nanti.


Beberapa saat kemudian Calvin keluar untuk memberitahu yang lain kalau proses persalinan Lena berjalan dengan lancar dan anak mereka sudah lahir dengan selamat, Ericson dan David yang sudah antusias dengan cucu mereka langsung melemparkan pertanyaan terus-menerus sampai Calvin susah untuk menjawabnya.


Melihat Calvin yang sudah tidak bisa menjawab lagi dan hanya menggaruk tengkuk lehernya saja, Dario yang sedari tadi hanya duduk diam pada akhirnya ikut menghampiri Calvin untuk membantunya menghentikan pertanyaan dari Ericson dan David yang terus-menerus di lemparkan pada Calvin.


"Aduh! Ayah dan om Ericson ini, kalian kan bisa bertanya sama Calvin secara bergantian. Kenapa harus bersamaan seperti itu? Kasihan Calvin sampai bingung harus jawab pertanyaan siapa dulu" Dario berdiri tepat diantara Ericson dan David


Setelah mendengar perkataan Dario, David akhirnya melihat ke arah Calvin yang hanya nyengir saja "Ah Iya benar juga yang dikatakan Dario, seharusnya kita bergantian memberikan pertanyaannya. Maaf ya Vin, karena ayah terlalu bersemangat memiliki cucu pertama jadi seperti ini" David menepuk pelan bahu Calvin, begitu juga dengan Ericson yang mengatakan hal serupa dengan David.


"Iya yah, tidak masalah kok. Calvin juga bisa ngerti" Calvin memberikan senyumnya pada kedua ayahnya.


"Jadi gimana Vin? Cucu ayah lahir dengan sehat kan?" Ericson bertanya lebih dulu.

__ADS_1


"Sehat yah, bayinya sehat dan cantik seperti Lena" Calvin langsung tersenyum.


"Baguslah! Terus apa dokter sudah....." saat David baru akan bertanya, suster datang menemui Calvin untuk memberi tau kalau Lena sudah dipindahkan ke kamar rawat inap dan sudah bisa di temui.


Calvin dan yang lainnya memutuskan untuk langsung pergi melihat Lena dan melanjutkan pembicaraan mereka di sana, karena supaya Ericson dan David bisa sekalian melihat cucu pertama mereka.


Saat mereka masuk ke dalam ruangan Lena hanya Calvin yang berjalan menghampiri Lena, sedangkan yang lainnya langsung mengelilingi tempat tidur bayi yang berada tidak jauh dari tempat tidur Lena.


"Apa kalian berdua sudah punya nama untuk putri cantik kalian ini?" Ericson mengusap pipi bayi perempuan yang sedang tertidur pulas.


"Udah yah, aku dan mas Calvin sudah menentukan namanya"


"Siapa namanya Len?" Dario yang penasaran dengan nama ponakannya juga ikut bertanya.


Lena melihat ke arah Calvin sebentar dan sebelum menjawab Lena memberikan senyumannya terlebih dahulu. "Namanya adalah 'Calista Putri Darian' kak, yah"


Walaupun Calista masih bayi dan belum mengerti, tapi bukan hanya Dario saja yang memperkenalkan dirinya. Ericson dan David juga memperkenalkan dirinya sebagai kakek Calista, sembari tidak henti-hentinya tersenyum.


"Oh iya Vin, apa dokter sudah mengatakan atau belum kalau Calista ini anak manusia seutuhnya atau siluman?" Ericson langsung melihat ke arah Calvin dengan ekspresi wajah seriusnya.


Bukan hanya Ericson saja yang mengubah ekspresi wajahnya, tapi yang lainnya juga langsung menghilangkan senyum di bibir mereka dan membuat David juga Dario menoleh ke arah Lena dan Calvin dengan mengubah ekspresi wajah mereka menjadi ekspresi serius.


"Ayah, apa kalau Calista siluman kucing dia bisa tinggal di sini dan pergi ke dunia manusia?" Lena menatap kedua ayahnya dengan tatapan sayu nya.


"Tentu boleh, asalkan Calista bisa merahasiakan dunia ini dan identitasnya. Sebenarnya ayah berharap kalau Calista juga terlahir sebagai siluman, karena dengan begitu kalian berdua tidak harus tinggal di dunia manusia"


"Kalau begitu harapan ayah terwujud, Calista akan tetap tinggal di sini. Karena kata dokter, Calista terlahir sebagai siluman kucing yah"


"Apa ini benar? Kalian berdua tidak sedang membohongi kami kan?" David melihat ke arah Lena dan Calvin secara bergantian.

__ADS_1


"Iya yah, ini semua benar dan kami tidak sedang membohongi kalian apalagi bercanda"


"Kalau begitu, ayah bisa sering-sering main bersama Calista?" Lena mengangguk pelan sembari memberikan senyuman untuk ayahnya.


"Calista, kakek senang akhirnya kita tidak berpisah dan kakek bisa mengajarkan banyak hal pada kamu setelah nanti kamu bertumbuh besar. Karena saat ibu mu lahir dan bertumbuh dewasa, kakek tidak sempat mengajarkan apapun padanya" David mengusap kening Calista dengan ibu jarinya secara perlahan dan tanpa terasa air matanya mengalir di pipi kirinya.


Dario yang tiba-tiba berada di bawah wajah David untuk memastikan apa yang dia dengar benar atau tidak, langsung bertanya dengan suara lantangnya. "Ayah menangis?"


David yang malu karena Dario mengetahui hal itu langsung cepat-cepat menghapus air matanya. " Mana ada ayah menangis, tadi ayah hanya merasa sangat bahagia makanya sampai keluar sendiri air matanya"


"Berarti ayah beneran menangis tadi" Dario memberikan senyum meledek untuk ayahnya.


"Tidak! Ini sama sekali tidak di sengaja"


"Sama saja ayah"


"Itu berbeda Dario!"


"Sudah, sudah jangan ribut lagi! Nanti Calista bisa terbangun" mendengar perkataan itu David dan Dario langsung diam dan menutup mulut mereka dengan tangan masing-masing.


Calvin yang melihat ayah dan ayah mertuanya bahagia langsung memeluk Lena dari samping dan mengecup kening Lena cukup lama, sampai akhirnya dia menatap Lena dalam-dalam.


"Sayang, makasih ya. Kamu sudah membuat ku menjadi seorang ayah dan kamu juga sudah memberikan kebahagiaan baru untuk kami semua"


"Iya mas, terima kasih juga ya. Kamu sudah mau menerima aku yang hanya manusia biasa saja dan tidak memiliki kekuatan apapun" Calvin tersenyum dan mengangguk pelan.


Sekarang kebahagiaan Calvin dan Lena lengkaplah sudah, karena kehadiran Calista di dalam keluarga kecil mereka berdua. Bahkan Lena juga bisa memiliki keluarga yang bahagia, seperti yang dia inginkan sejak dulu.


-TAMAT-

__ADS_1


__ADS_2