Pacar Tampanku Siluman Kucing

Pacar Tampanku Siluman Kucing
Alasan Masalah Terjadi


__ADS_3

Setelah Kia pergi dari rumah Lena, mereka baru leluasa berbicara mengenai Calvin tanpa harus takut rahasia mereka terbongkar.


Saat ini mereka sedang mencari tau titik permasalahan yang membuat Calvin seperti ini dan juga mencari tau apa semua ini akan berlanjut lagi atau tidak.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama Calvin Di?" tanya Lena yang menampilkan wajah seriusnya.


"Saya juga belum tau nona, tapi saya akan berusaha cari tau sebisa saya jadi nona mohon bersabar dulu ya" ucap Dion sembari memeriksa keadaan Calvin dengan kekuatannya.


Dion memfokuskan kembali fikirannya, sedangkan Lena dan Lion hanya diam dan melihat Dion dan Calvin yang masih duduk berhadapan.


Dion dan Lion sebenarnya saudara kembar, tapi mereka memiliki kekuatan yang berbeda. Dion yang pandai mencari tau titik penyebab sakit dan kelemahan pada tubuh seseorang, sedangkan Lion hanya bisa melacak keberadaan seseorang dan mentransfer tenaganya ke sesama siluman.


"Maaf tuan muda, apa kekuatan anda untuk menyembuhkan luka masih bisa anda gunakan?" tanya Dion yang tiba-tiba membuka matanya dan terlihat seperti orang panik.


"Sudah lama saya tidak menggunakannya, terakhir saya gunakan untuk menyembuhkan luka Lena dan itu sudah sangat lama" ucap Calvin yang masih dengan posisinya.


"Kalau begitu anda harus segera mencobanya tuan! karena itu cara terakhir saya untuk memastikannya"


"Baiklah, kalau begitu luka siapa yang harus saya coba sembuhkan?"


Tanpa pikir panjang lagi Dion memecahkan botol kaca yang berada di atas meja dan langsung melukai ujung jarinya dengan serpihan kaca yang di ambilnya dari lantai, Dion sengaja mencoba dengan luka yang kecil terlebih dahulu dan kalau Calvin berhasil menyembuhkannya baru dia mencoba dengan luka yang lebih banyak.


Calvin langsung memejamkan matanya dan fokus untuk menyembuhkan luka di jari Dion, tidak seperti biasanya kali ini Calvin membutuhkan waktu beberapa menit untuk bisa membuat luka itu hilang seutuhnya.


"Sekarang anda harus mencoba luka yang lebih dari ini tuan" ucap Dion sembari mengambil kembali benda yang dia gunakan tadi untuk melukai tangannya dengan sengaja.


"Tunggu sebentar Dion!" Calvin dengan sigap menahan Dion yang sudah bersiap untuk melukai tangannya kembali dan meminta Lena untuk mengambil kotak p3k terlebih dahulu.


Lena menuruti permintaan Calvin mengambil kotak p3k di dalam kamarnya dan saat Lena kembali Dion langsung melukai telapak tangannya.

__ADS_1


Calvin dengan cepat memfokuskan dirinya kembali, sedangkan Lena langsung menutup matanya karena tidak sanggup melihat darah yang mengalir dari tangan Dion.


Sudah cukup lama Calvin mencoba menyembuhkannya, tapi kali ini dirinya tidak berhasil dan karena takut Dion kenapa-kenapa akhirnya Calvin memutuskan untuk mengobati luka Dion menggunakan peralatan manusia.


"Maaf saya tidak bisa menyembuhkan lukanya dan membuat mu mendapatkan bekas luka ini selamanya" ucap Calvin sembari memperban luka Dion.


"Saya tidak masalah dengan luka ini tuan, saya hanya mengkhawatirkan kondisi anda yang semakin memburuk" ucap Dion dengan kepalanya yang di tundukkan.


"Memangnya ada apa dengan kondisi saya?" tanya Calvin yang masih merapihkan kembali kotak p3k milik Lena.


Dion yang masih sedikit ragu untuk memberitahu kondisi tuannya hanya bisa terdiam, sedangkan Calvin, Lena dan Lion sudah menantikan Dion untuk berbicara.


Setelah Dion menghela nafas dan menatap mata Calvin, Lena, dan Lion secara bergantian, akhirnya Dion membuka suaranya untuk memberitahu kondisi tuan mudanya yang sebenarnya.


"Maafkan saya tuan muda, tapi kondisi anda semakin memburuk dan ini akan terus berlanjut kalau kutukan itu tidak segera di berikan penawarnya tuan muda" ucap Dion dengan wajah khawatirnya.


"Nanti akan aku jelaskan ya Lena" Calvin tersenyum sebentar ke Lena dan kembali ke wajah datarnya.


"Apa semua itu benar akan terjadi? kalau saya tidak segera meminum penawarnya"


"Benar tuan muda"


Calvin memang memasang wajah datarnya, tapi dibalik itu tersimpan rasa khawatir dan rasa takut dalam diri Calvin. Dirinya takut kalau nantinya efek kutukan itu benar terjadi dan pastinya dia akan benar-benar berpisah dari Lena, Calvin tidak mau semua itu terjadi dirinya sudah terlalu menyayangi dan mencintai Lena.


Lena dan Calvin saling beradu pandang, Lena tau kalau Calvin menyembunyikan perasaannya dari dirinya.


"Baiklah kalau begitu kami berdua permisi kembali berjaga dulu tuan muda" ucap Dion.


"Kalian tidak mau beristirahat dulu di sini? kalian bisa menggunakan kamar Calvin kalau mau" ucap Lena sembari menunjuk ke arah kamar Calvin.

__ADS_1


"Terima kasih untuk tawarannya nona, tapi itu tidak perlu dan lagipula kami tidak berhak menggunakan kamar yang di gunakan oleh tuan muda" ucap Dion sembari tersenyum ke Lena untuk pertama kalinya dan senyuman itu terlihat sangat manis, bahkan bisa di bilang menambah ketampanan Dion.


"Oh begitu, baiklah" ucap Lena dengan membalas senyum Dion.


Calvin yang melihat Lena dan Dion bertukar senyuman langsung berdehem dan memerintahkan Dion dan Lion untuk segera pergi dari tempatnya berada.


Dion yang sudah paham dengan tuannya, tanpa basa basi lagi langsung bergegas membawa adiknya keluar dari rumah diam dan meninggalkan Lena dan Calvin yang hanya saling diam.


"Bukannya kamu mau jelasin ke aku tentang kutukan itu, Vin?" tanya Lena yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Hah... aku engga bisa menjelaskan semuanya secara rinci, tapi aku mendapatkan kutukan ini sejak kecil dan itu semua di sebabkan oleh ayah ku" ucap Calvin sembari menatap wajah Lena.


"Apa ini yang menjadi alasan kamu tidak mau bertemu dengan ayah kamu?"


"Iya itu salah satu alasannya"


"Terus apa yang akan terjadi kalau kutukan itu tidak segera di hilangkan? dan apa penawarnya?" tanya Lena dengan mencondongkan badannya ke depan agar lebih dekat dengan Calvin.


Kali ini Calvin tidak menjawab pertanyaan Lena dan malah pergi masuk ke dalam kamarnya, karena dia takut Lena kecewa dan pergi meninggalkannya.


"Calvin, jawab dulu ih! kebiasaan banget sih belum jawab udah main pergi gitu aja" ucap Lena sembari mengejar Calvin ke kamarnya.


Calvin masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintunya, sedangkan Lena terus mengetuk pintu kamar Calvin walaupun tidak di hiraukan olehnya.


Perasaan Calvin rasanya campur aduk, dirinya tidak tau harus melakukan apa. Kalau dia memilih menyelamatkan dirinya Lena akan terluka, tapi jika dia memilih membiarkan Lena tetap aman kondisinya dirinya sudah semakin tidak memungkinkan untuk bertahan lebih lama lagi.


"Aakkkhhh... semua ini karena ayah! kalau saja ayah tidak melakukan itu, semua ini tidak akan pernah terjadi" Calvin berteriak sembari mengacak rambutnya.


Lena yang sudah ingin pergi dari depan kamar Calvin langsung mengurungkan niatnya dan kembali mengetuk pintu kamar Calvin untuk memastikan keadaannya, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari Calvin dan itu semakin membuat Lena merasa khawatir.

__ADS_1


__ADS_2