
Karena besok hari libur jadi Lena mengajak Calvin untuk menonton acara TV terlebih dahulu, karena ada beberapa hal yang mau Lena tanyakan juga dengan Calvin.
Lena yang terus menatap Calvin yang sedang fokus menonton tv sembari memakan buah-buahan yang sudah di potong-potong oleh Lena sebelumnya, Calvin sebenarnya tau kalau Lena memperhatikannya tapi dirinya berpura-pura untuk tidak menanyakan lebih dulu pada Lena.
Sampai jam sembilan malam Lena masih ragu untuk menanyakannya pada Calvin, akhirnya mau tidak mau Calvin lah yang mulai bertanya lebih dulu.
"Aku lihat dari tadi kamu kayak engga tenang begitu nontonnya, apa ada yang sesuatu yang terjadi?" tanya Calvin sembari menyuap potongan buah apel.
"Eum... Sebenarnya... Ada yang mau aku tanyakan sama kamu Vin" ucap Lena yang sambil menundukkan kepalanya dan memainkan ujung bantal sofa di pangkuannya.
Calvin langsung mengira-ngira tentang hal yang mau di tanyakan Lena olehnya, pasalnya Lena belum pernah seserius ini saat ingin bicara dengan Calvin.
Lena yang penasaran kenapa Calvin tidak membuka suaranya lagi, langsung melirik perlahan ke arah Calvin dan ternyata Calvin melamun dengan tatapan fokus ke arah TV.
"CALVIN!" Lena sengaja mengagetkan Calvin agar dia cepat tersadar dari lamunannya.
"Apa yang mau kamu mau tanyakan itu, ada hubungannya dengan ayah ku?" tanya Calvin dengan melihat wajah Lena.
"Kenapa Calvin bisa bertanya begitu ya? apa dia tau aku bertemu ayahnya?" ucap Lena dalam hatinya.
Lena tidak langsung menjawab, dirinya mencoba memikirkan terlebih dahulu tentang keputusannya sudah tepat atau belum untuk menanyakan semua yang di katakan ayah Calvin.
Sekarang malah gantian Lena yang melamun dan kali ini cara Calvin menyadarkan Lena sangat berbeda, dirinya malah mencubit hidung Lena sampai dia kesusahan untuk bernafas dan langsung memukul tangan Calvin agar melepaskan hidungnya.
"Kamu mau bunuh aku ya?" tanya Lena dengan wajah kesalnya dan sembari memegang hidungnya yang memerah.
"Makanya jangan ngelamun terus! sampai-sampai pertanyaan ku engga di jawab" Calvin melanjutkan kembali memakan buahnya.
"Kamu aja tadi ngelamun aku engga marah tuh, kenapa kamu marah coba?"
"Ya udah ya udah, jadi sekarang kamu mau nanya apa?" tanya Calvin sembari mengubah posisinya menghadap Lena.
__ADS_1
Kali ini Lena harus benar-benar menanyakannya, karena kalau semakin lama di pendam juga engga baik dan malah akan meningkatkan rasa penasaran Lena.
Sebelum Lena memberikan pertanyaan pertama pada Calvin, dirinya memegang dadanya terlebih dahulu dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan sekaligus meyakinkan dirinya. Sedangkan Calvin masih sabar menunggu sampai Lena memberikan pertanyaannya.
"Oke...Pertanyaan pertama, apa kutukan kamu itu bisa membahayakan diri kamu?"
"Apa ayah ku yang bilang begitu?"
"Ish! udah sih jawab aja, engga usah pake balik nanya"
Calvin menjawab pertanyaan Lena yang pertama dengan menggelengkan kepalanya dan Lena percaya dengan jawaban Calvin.
Lena terus menanyakan beberapa pertanyaan kepada Calvin dan Calvin pun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala atau gelengan kepalanya, sampai pada pertanyaan terakhir Calvin tidak bisa menjawabnya dan hanya bisa terdiam.
"Calvin! jawab ih, apa cinta kamu ke aku cuma berpura-pura aja dan itu semua kamu lakukan hanya demi menarik rasa kasihan aku supaya aku mau memberikan yang kamu butuhkan untuk menyembuhkan kutukan mu. Benar kayak gitu Vin?"
"Kalau semua itu benar, apa kamu akan marah?"
"Vin... Aku berharap kamu engga mengatakan kalau itu semua benar, karena aku benar-benar mencintai kamu Vin" ucap Lena dalam hatinya sembari menatap inar mata Calvin.
"Apa semuanya benar Vin?"
"Lena, sebenarnya..."
"Sebenarnya apa Vin?"
Sepertinya sudah tidak ada celah untuk Calvin bisa berbohong pada Lena dan mungkin sekarang saatnya untuk memberitahukan semuanya dari awal.
Calvin menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya dia akan menjawab pertanyaan dari Lena.
"Lena, awalnya aku memang berpura-pura mencintai kamu dan aku juga sengaja meminta kamu menjadi kekasih ku agar kamu bersedia menjadi penawar kutukan ku tanpa harus aku memaksanya, dan itu semua aku juga melakukannya karena terpaksa" ucap Calvin sembari memegang tangan Lena.
__ADS_1
"Terpaksa karena apa?"
"Terpaksa karena ayah selalu mengancam aku untuk turun tangan sediri mengambil semua yang aku butuhkan untuk ramuan di dalam diri kamu dan karena tidak ada cara lain untuk memperlambat waktu, jadi aku ngelakuin itu demi untuk melindungi kamu"
"Jadi selama ini kita pacaran, karena kamu cuma ingin melindungi aku dari ayah kamu aja? dan kamu engga ada perasaan apa-apa ke aku?" tanya Lena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya benar awalnya memang seperti itu, tapi percayalah! saat ini aku juga memiliki perasaan yang sama terhadap kamu. Aku benar-benar sudah mencintai kamu Lena"
"Kenapa Vin? kenapa kamu tega bohongin aku? aku pikir kamu benar-benar mencintai aku, tapi semua itu hanya pura-pura" ucap Lena sembari melepaskan genggaman tangannya dari Calvin dan meneteskan air matanya.
"Lena, dengarkan aku! itu dulu saat awal kita menjadi kekasih dan semua sudah berlalu bukankah yang terpenting sekarang aku sudah mencintai kamu juga, jadi kenapa kita harus bahas masalah ini?"
Calvin mencoba menggenggam tangan Lena lagi, tapi sayangnya Lena langsung menjauhkan tangannya dari Calvin dan bahkan Lena duduk juga sedikit menjauh dari Calvin.
Perasaan Lena rasanya sakit setelah mengetahui semua kebohongan yang kekasihnya sembunyikan, walaupun sekarang Calvin sudah mencintai Lena bukan berarti rasa sakit itu langsung hilang begitu saja.
Calvin yang tidak mau menyerah langsung menggeser duduknya untuk mendekati Lena, tapi lagi-lagi Lena menjauh dan lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.
Setelah beberapa menit Lena kembali keluar dari kamarnya dengan membawa koper dan tadi kecil, bagi Lena mungkin berpisah untuk sementara waktu akan lebih baik sampai hatinya benar-benar bisa sembuh dan menerima Calvin kembali.
"Lena, ini sudah malam kamu mau pergi kemana malam-malam begini?"
"Aku akan menginap di rumah Kia untuk menenangkan diriku, jadi aku minta kamu jangan ikutin atau temui aku dulu" ucap Lena sembari berjalan keluar untuk menghampiri taxi online yang dirinya pesan.
"Tapi Lena... Aku beneran sudah mencintai kamu seutuhnya"
Lena sama sekali tidak menghiraukan perkataan Calvin, dirinya tetap pergi ke rumah Kia dan meninggalkan Calvin sendirian di rumah.
"Aaaggghhhh, Lagi-lagi semua karena ayah! apa belum puas ayah memisahkan aku dari Alana dan sekarang mau memisahkan aku juga dari Lena?" ucap Calvin sembari mengacak rambutnya.
Kepala Calvin rasanya mau pecah, karena memikirkan sikap ayahnya yang selalu mengatur dan berbuat seenaknya sendiri.
__ADS_1
Demi menenangkan dirinya Calvin memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar dan menikmati angin malam, walaupun dirinya tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana Lena bisa memaafkan dirinya kembali?"