Pacar Tampanku Siluman Kucing

Pacar Tampanku Siluman Kucing
Tentang Calvin


__ADS_3

Sudah tiga hari Calvin tidak kembali ke rumah, karena Lena khawatir dengan keadaan Calvin akhirnya dia meminta bantuan Kia untuk membantunya mencari keberadaan Calvin.


Sayangnya mereka tidak dapat menemukan dimana Calvin berada, Calvin menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun. Walaupun begitu Lena tidak mau menyerah dan dia tetap berpikir optimistis kalau Calvin pasti akan ketemu tidak lama lagi.


"Lu masih mau cari Calvin Len?" tanya Kia sembari mengambil botol air di kulkas.


"Iya Ki, gue takut dia kenapa-kenapa" ucap Lena yang meletakkan kepalanya di atas meja makan.


"Len, mungkin engga sih kalau dia balik ke luar negeri?" tanya Kia yang duduk di samping Lena.


"Kayaknya engga mungkin deh Ki, soalnya dia pasti bilang dulu sama gue"


"Terus sekarang lu mau cari dia dimana lagi Len?"


"Hah, gue juga engga tau Ki"


Sudah dua kali Kia dihadapkan dengan kejadian seperti ini, hanya saja yang sekarang lebih rumit dari hilangnya Lena kemarin. Bahkan semua tempat sudah mereka datangi dan mereka juga menanyakan ke setiap orang yang mereka temui, tapi tetap saja hasilnya nihil.


"Gini deh! sekarang gue pulang dulu aja biar lu juga bisa istirahat, besok sepulang kerja baru kita cari Calvin lagi Len" ucap Kia sembari mengusap punggung Lena untuk menenangkannya.


"Iya Ki, makasih ya lu udah mau bantu gue cari Calvin. Lu hati-hati ya baliknya dan lu juga harus istirahat!" ucap Lena dengan senyum tipisnya.


"Sama-sama Len, ya udah gue pulang dulu ya Len dan ingat lu harus langsung istirahat!" langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Lena.


Setelah Kia pergi Lena tidak langsung istirahat, melainkan malah membuat coklat panas untuk menenangkan dirinya. Lena terus kepikiran Calvin dimana?, lagi apa?, dan apa saja yang di makan?.


karena terus melamun Lena sampai tidak sadar air yang dirinya masak sudah matang dan hampir mengering, kalau saja Lena tidak mendengar seperti suara Calvin mungkin akan menimbulkan bahaya untuk dirinya sendiri.


Lena yang sudah panik langsung mematikan kompornya dan tanpa sadar memegang panci tanpa menggunakan kain lap untuk menghindari panas.


"Awww...." ucap Lena yang melepaskan kembali pancinya dan langsung meniup tangannya dengan mulut.

__ADS_1


"Hah.... lain kali hati-hati makanya dan jangan keseringan melamun!" ucap Calvin sembari mengambil tangan Lena dan membawanya ke wastafel.


Lagi-lagi Lena melamun sembari melihat wajah Calvin yang sedang mencuci tangan dirinya, karena Lena berpikir kalau itu hanya imajinasi dirinya aja walaupun pada kenyataannya yang benar-benar berdiri di sampingnya adalah Calvin.


"Tangan sudah terluka kayak begini... masih aja suka melamun" ucap Calvin sembari mencubit hidung Lena.


Lena yang terkejut langsung tersadar dari lamunannya, bahkan dia juga menyadari kalau Calvin benar-benar nyata berada di sampingnya... karena rasa sakit yang Calvin berikan pada hidung Lena.


Karena terlalu bahagia Calvin kembali, Lena langsung memeluk Calvin dan bahkan dirinya sampai tidak sadar kalau pelukannya begitu erat sampai Calvin sulit bernafas.


"Akhirnya kamu kembali juga, aku pikir kamu bakalan pergi begitu aja ninggalin aku" ucap Lena yang masih memeluk Calvin.


"Mana mungkin aku pergi ninggalin kamu, tanpa bilang apa-apa dulu"


"Tapi kamu kemana aja sih? pergi engga bilang-bilang dulu, bikin orang khawatir aja tau engga!"


"Aku bakal jelasin dan kasih tau semuanya, asal kamu lepasin dulu pelukannya! aku udah engga bisa nafas Lena" ucap Calvin sembari menepuk pelan tangan Lena.


"Maaf ya" ucap Lena sembari menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah pada Calvin.


"Iya engga apa-apa, apa kamu senang aku kembali?" tanya Calvin yang mengacak rambut Lena.


"Iya aku senang, soalnya tiga hari ini aku cari kamu tapi engga ketemu. Sebenarnya kamu ada dimana sih?"


Calvin menjawab Lena hanya dengan senyum tipisnya dan langsung membawa Lena ke ruang tamu agar lebih nyaman untuk Calvin bercerita, juga untuk mendengarkan cerita Lena selama dirinya tidak ada.


Lena yang langsung duduk menghap Calvin, karena sudah tidak sabar ingin mendengarkan semua cerita Calvin, sedangkan Calvinnya sendiri duduk dengan posisi lurus ke depan.


"Hah... jadi gini, selama tiga hari ini aku ada di rumah ayah" Calvin yang mulai bercerita sembari menundukkan kepalanya.


"Ayah? kamu engga pernah cerita sama aku kalau kamu masih punya ayah, terus sekarang ayah kamu dimana?" tanya Lena yang antusias untuk mengetahui tentang ayah Calvin.

__ADS_1


"Iya aku masih punya ayah walaupun hubungan kami kurang baik, karena ada satu perbuatan ayah yang membuat aku sampai sekarang belum bisa memaafkannya! dan kalau untuk keberadaan ayah, beliau masih berapa di rumah kami" ucap Calvin yang langsung mengepalkan tangannya.


"Kalau aku boleh tau, apa masalah kalian? kenapa kamu sampai terlihat sebegitu bencinya dengan ayah kamu?"


"Dulu aku memiliki seorang kekasih dan kami sudah bersama cukup lama, tapi ayah dengan tega melenyapkannya di hadapan mataku dengan alasan yang tidak masuk akal" ucap Calvin berbarengan dengan tangannya yang memukul pahannya sendiri.


Melihat Calvin yang sudah tersulut emosi, akhinya Lena mencoba mengganti pertanyaannya walaupun dirinya masih sangat penasaran dengan kelanjutan masa lalu Calvin.


"Oh iya, kenapa waktu itu kamu bisa sama kakek yang bertemu aku di halte?"


"Waktu aku pergi dari rumah, aku tertabrak oleh mobil kakek dan akhirnya semenjak itu kakeklah yang merawat aku"


"Apa kakek tau kalau kamu bisa berubah jadi manusia?"


"Iya, kakek tau semuanya dan makanya saat kakek dinyatakan memiliki kanker otak stadium akhir, kakek langsung mencari penggantinya supaya aku tidak berada di jalanan".


"Terus kenapa kakek kasihnya ke aku? dan juga kenapa kakek tau tanggal lahir ku?"


"Kalau untuk itu aku yang meminta pada kakek, supaya memberikannya ke kamu dan masalah tanggal lahir... aku sudah menyelidiki semua tentang kamu, jauh dari sebelum kakek di nyatakan sakit keras.


Lena sekarang tau kenapa kakek itu tiba-tiba memberinya kucing dan tau tanggal lahirnya, karena semua itu perbuatan Calvin.


Tapi masih ada yang Lena bingung, kenapa Calvin memilihnya? di saat ada banyak orang di luaran sana yang mungkin akan lebih baik lagi untuk merawat Calvin.


"Eum... Calvin ada yang mau aku tanyakan lagi, boleh engga?"


"Nanti lagi ya Len, sekarang aku mau mandi dulu soalnya udah dari kemarin aku belum mandi" ucap Calvin yang sembari menciumi bau badannya sendiri.


"Jorok banget sih kamu tuh!" Lena memukul lengan Calvin dengan pelan, sedangkan Calvin mencoba menghindar dengan lari ke dalam kamar mandi.


Walaupun belum semuanya yang Lena tau tentang Calvin, tapi setidaknya dirinya mengetahui tentang ayah Calvin dan masalah kakek yang terus tersimpan di dalam otak Lena.

__ADS_1


__ADS_2