
Calvin menghampiri Lion yang masih setia menunggunya di ruang tamu sembari merebahkan dirinya di atas sofa dan memejamkan matanya, pada awalnya Calvin pikir Lion sedang tertidur makanya dia hanya duduk dan menunggu sampai Lion terbangun sendiri.
"Ada apa tuan muda? Apa ada masalah lain?" tanya Lion sembari masih memejamkan matanya.
"Bukankah kamu sedang tidur Lion? Bagaimana kamu bisa tau kalau saya ada di sini?" Calvin bertanya balik yang sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Saya tidak benar-benar tidur tuan muda, tadi saya hanya sedang menenangkan pikiran saya saja. Jadi apa yang saya bisa bantu untuk anda tuan muda?" ucap Lion sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
Calvin tidak langsung menjawab pertanyaan Lion, karena sebenarnya dia tidak yakin kalau Lion akan memiliki cara lain untuk menyembuhkan Lena. Walaupun dirinya masih sedikit ragu, tapi bagi Calvin tidak ada salahnya kalau mendiskusikan lagi dengan Lion
Lion masih menunggu perintah dari Calvin untuk hal apa yang harus dirinya lakukan, tapi sampai beberapa menit Calvin masih juga menundukkan kepalanya dan belum memberikan perintah apapun.
"Lion, ada yang ingin saya tanyakan pada kamu" ucap Calvin sembari melihat wajah Lion.
"Saya pikir ada hal penting yang saya harus lakukan, tapi ternyata tuan muda hanya ingin bertanya saja" ucap Lion dalam hatinya.
"Silahkan tuan muda, apa yang ingin anda tanyakan pada saya? Saya akan menjawab sebisa saya dan memberikan jawaban yang paling jujur untuk anda"
Sebelum mulai berbicara Calvin menghela nafasnya berkali-kali sampai dirasa dirinya siap untuk mendengar jawaban yang akan di berikan Lion untuknya nanti.
"Baik Lion... Pertama saya akan bertanya, apa ada cara lain agar Lena cepat pulih kembali?" tanya Calvin sembari melihat ke arah mata Lion.
"Maaf tuan muda... Seperti yang saya sudah bilang kemarin, nona Lena hanya bisa menunggu keajaiban datang karena kondisi tubuhnya sudah benar-benar lemah" ucap Lion dengan mata sayunya.
"Saat ini nona Lena hanya bertahan dengan semua alat-alat yang ada di tubuhnya saja, dan kalau alat itu sampai di cabut nona Lena akan....." Lion tidak melanjutkan perkataannya lagi, karena rasanya sangat susah mengeluarkan perkataan itu dari mulutnya.
Calvin langsung merubah posisi duduknya agar lebih dekat pada Lion dan dirinya juga menunggu Lion melanjutkan perkataannya lagi, walaupun pada akhirnya Lion tetap diam dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak melanjutkan ucapan mu? Memangnya Lena akan kenapa Lion?"
__ADS_1
"Nona Lena akan meninggal tuan" ucap Lion sembari masih menundukkan kepalanya.
"Engga... Itu engga mungkin mungkin terjadi Lion, karena saya tidak akan membiarkannya. Kenapa bisa-bisanya kamu bilang begitu Lion?" tanya Calvin dengan tangan yang sudah mengepal.
"Sebenarnya itu semua perkataan dokter Lita tuan" ucap Lion yang menatap mata Calvin ragu-ragu.
"Dokter Lita? Siapa dia? dan dimana dokter itu sekarang? biar saya yang bicara dengannya langsung" tanya Calvin yang sudah bangun dari duduknya dan bersiap untuk menemui dokter Lita.
Lion langsung menceritakan sedikit tentang dokter Lita dan memberitahu keberadaannya sekarang, tapi Lion belum menceritakan pada Calvin siapa yang memilih dokter Lita untuk menangani Lena dan siapa sebenarnya dokter Lita itu.
Setelah mendengar keberadaan dokter Lita, Calvin langsung bergegas pergi untuk menemuinya. Tapi belum sampai Calvin melangkahkan kakinya keluar dari pintu keluar, Lion sudah lebih dulu memegang bahu Calvin dan menahannya agar tetap berada di rumah itu sampai dokter Lita kembali.
Awalnya Calvin tetap pada pendiriannya dan menolak semua alasan yang di berikan Lion, tapi untungnya Lion bisa membujuk Calvin dengan bilang ingin menceritakan masalah rumah yang tadi Calvin tanyakan padanya dan juga menceritakan tentang dokter Lita lebih dalam lagi.
Akhirnya Calvin kembali duduk di tempat sebelumnya dan dirinya hanya menunggu Lion untuk mulai menceritakan semuanya, tapi sayangnya Lion bingung harus mulai dari mana dulu dan pada akhirnya Lion pun ikut diam.
"Jadi siapa sebenarnya pemilik rumah ini Lion? Dan kenapa kamu bawa Lena ke sini?" tanya Calvin yang memulai membuka pembicaraan, karena Calvin sudah membaca raut wajah Lion yang kebingungan.
"Ayah? Sejak kapan ayah punya rumah ini? Dan apa alasan ayah peduli dengan proses penyembuhan Lena?" ucap Calvin sembari mengubah posisi duduknya menjadi menyender dengan kaki yang di silangkan.
"Bukan ayah anda pemilik asli rumah ini tuan, tapi pemilik aslinya adalah nenek anda. Tapi untuk alasan tuan Ericson melakukan itu saya juga tidak tau tuan muda"
Sebelum melanjutkan pertanyaannya pada Lion, Calvin sempat berpikir sebentar tentang alasan ayahnya. Karena Calvin takut kalau nanti ayahnya akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi pada Lena.
Lion yang melihat Calvin melamun langsung menyadarkannya, karena Lion tau apa yang dipikirkan tuannya dan dirinya tidak mau kalau Calvin berpikir yang akan memancing keributan lagi dengan ayahnya.
"Pemilik asli rumah ini lalu siapa Lion?" tanya Calvin setelah sadar dari lamunannya.
"Pemiliknya adalah siluman kucing hitam tuan"
__ADS_1
"Siluman kucing hitam? Siapa dia?" Calvin mengulangi kembali perkataan Lion.
"Hah... Ternyata tuan muda benar-benar lupa ya" Lion menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan secara bersamaan.
"Kalau saya ingat tidak mungkin saya bertanya pada kamu! Jadi siapa siluman kucing hitam itu Lion?" Calvin kembali mengulangi pertanyaannya.
"Kakek anda tuan, siluman kucing hitam adalah kakek anda yang meninggal karena terbunuh waktu pertengkaran dengan siluman kucing putih tuan" ucap Lion dan langsung melanjutkan ceritanya pada Calvin.
Siluman kucing putih adalah keluarga dari ibu Calvin, sedangkan siluman kucing hitam adalah keluarga dari ayah Calvin. Pertengkaran antara mereka terjadi waktu ayah Calvin akan menikahi ibu Calvin, karena semua keturunan kucing hitam tidak setuju ayah Calvin menikahi wanita keturunan kucing putih.
Alasannya adalah kucing hitam menganggap kalau kucing putih itu lemah dan akan merepotkan kucing hitam nantinya, makannya kakek Calvin sangat menentang pernikahan itu demi menghindari hal yang mereka takutkan terjadi.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan ayah yang lebih memilih mengorbankan ibu untuk di serahkan pada penghianat?"
"Tidak tuan muda... Setau saya untuk hal itu murni keputusan nyonya sendiri, karena beliau tidak ingin anda yang menjadi korban ataupun ayah anda"
"Apa ayah tidak mencoba menyelamatkan ibu?"
"Semua cara sudah di lakukan oleh tuan Ericson termasuk dirinya akan memberikan jabatan dan seluruh harta kekayaannya, tapi sayang penghianat itu tidak mau dan anda pasti sudah taukan kenapa kutukan itu bisa ada didiri anda?" Calvin menjawab Lion dengan gelengan kepalanya.
"Penghianat itu mengirimkan penyihir ke castle dan memberikan kutukan itu pada anda, agar mereka ingin melihat kehancuran tuan Ericson secara perlahan dengan cara membuat orang yang paling disayang pergi satu persatu" tambah Lion sembari menatap wajah Calvin dengan serius.
Calvin tidak menyangka kalau Lion tau banyak tentang masa lalu Calvin, bahkan semua kebenaran yang selama ini Calvin tidak tau dan tidak pernah mendengarnya.
Setelah Calvin mengetahui semua kebenarannya, kini dirinya sadar bahwa apa yang Calvin lihat waktu dulu ternyata sangat berbeda jauh dengan kenyataannya.
Dahulu Calvin melihat kalau ayahnya seperti tidak memiliki hati karena diam saja saat melihat ibu Calvin meninggal di depan matanya, tapi setelah tau kebenarannya Calvin jadi menyesal sudah membenci ayahnya selama ini.
Calvin berniat untuk meminta maaf dan mengaku salah pada ayahnya nanti, setelah dirinya bisa menemukan cara untuk menyembuhkan Lena kembali.
__ADS_1
Lion tidak bisa melanjutkan ceritanya lagi, karena dokter Lita sudah kembali dan Calvin juga langsung berbicara pada dokter Lita untuk memintanya memikirkan cara lain membuat Lena kembali seperti sedia kala.